Kemiskinan bukanlah sekadar persoalan ekonomi yang diukur dengan angka pendapatan, akses terhadap pangan, pendidikan dan kesehatan.
Lebih dari itu kemiskinan merupakan persoalan yang menyentuh dimensi kemanusiaan yang paling mendalam.
Dalam perspektif ajaran sosial gereja, kemiskinan bahkan dapat dilihat sebagai persoalan iman.
Hal ini terutama berlaku ketika kemiskinan bukan hanya lahir dari keterbatasan individu, melainkan dipelihara oleh sistem sosial, politik, ekonomi, yang tidak adil yang disebut kemiskinan struktural.
Persoalan ini menuntut jawaban moral dan spiritual, bukan hanya solusi teknis, karena pada dasarnya kemiskinan struktural mengikis martabat manusia yang adalah citra Allah.
Kemiskinan struktural adalah kondisi dimana kemiskinan terjadi bukan semata-mata karena kurangnya usaha atau keterampilan individu melainkan karena adanya struktur sosial yang timpang.
Struktur itu meliputi kebijakan negara, sistem ekonomi pola kepemilikan sumber daya, hingga budaya dominasi yang menguntungkan kelompok tertentu dan merugikan yang lain.
Akibatnya, kelompok miskin terjebak dalam lingkaran ketidakberdayaan yang sulit ditembus.
Baca Juga: Melawan Hantu Tak Kasat Mata: Kemiskinan sebagai Musuh Negara Tanpa Senjata
Contohnya ketika akses Pendidikan berkualitas hanya bisa dijangkau oleh mereka yang mampu membayar mahal, maka anak-anak dari keluarga miskin kehilangan kesempatan untuk memperbaiki hidup.
Mengapa kemiskinan struktural bisa disebut persoalan? Karena iman selalu berbicara tentang keadilan, kasih, dan martabat manusia.
Gereja mengajarkan bahwa setiap orang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, sehingga tidak ada alasan bagi siapapun untuk diperlakukan secara tidak adil.
Dalam kitab suci, Allah selalu berpihak kepada orang kecil, lemah miskin,dan tertindas.
Nabi-nabi di Perjanjian Lama berulang kali menyerukan keadilan sosial. Sementara, Yesus sendiri berkata bahwa ia datang untuk mewartakan kabar baik bagi orang miskin.
Ajaran Sosial Gereja secara konsisten menegaskan bahwa kemiskinan harus dilihat dalam kaitan dengan keadilan sosial.
Ensiklik Rerum Novarum (1891) sudah menyoroti penderitaan kaum buruh akibat eksploitasi kapitalis.
Prinsip dasar yang ditegaskan adalah bahwa setiap manusia memiliki hak atas kehidupan yang bermartabat.
Baca Juga: Memahami Kemiskinan dan Diskriminasi dalam Terang Rerum Novarum
Oleh karena itu jika melihat urgensi dari persoalan ini, berdasarkan survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025, jumlah penduduk miskin di Indonesia sebanyak 23,85 juta orang.
Maka dari itu, perjuangan melawan miskin struktural tidak bisa dilepaskan dari perjuangan melawan ketidakadilan sistematik.
Dengan menghadapi realitas ini kita menyadari bahwa iman tidak bisa dipisahkan dari keterlibatan sosial.
Iman yang sejati menuntut tindakan konkret membela kaum miskin.
Seperti dikatakan Rasul Yakobus iman tanpa perbuatan adalah mati. Maka solidaritas dengan kaum miskin harus menjadi ciri khas orang beriman.
Solidaritas ini bisa diwujudkan dalam berbagai cara: membangun program pemberdayaan ekonomi di tingkat komunitas, mendorong akses pendidikan yang merata, serta mendukung kebijakan publik yang pro-rakyat miskin.
Selain itu, umat beriman juga dipanggil untuk berani bersuara menentang ketidakadilan.
Gereja tidak boleh hanya diam di balik tembok liturgi, melainkan harus hadir dalam perjuangan sosial sebagai tanda kasih Allah yang nyata.
Baca Juga: Kelas Menengah di Persimpangan: Antara Resiliensi dan Ancaman Kemiskinan
Melawan kemiskinan struktural juga menuntut pertobatan sosial. Artinya, bukan hanya individu yang diajak bertobat, melainkan juga struktur sosial dan budaya.
Budaya konsumtif yang hanya mementingkan keuntungan pribadi, politik uang yang melanggengkan korupsi serta mentalitas acuh tak acuh terhadap penderitaan sesama,semua itu perlu diubah.
Di sinilah iman berperan penting, iman menjadi sumber daya moral yang menggerakan perubahan.
Tanpa dasar iman, perjuangan melawan kemiskinan mudah berubah menjadi sekadar proyek politik atau ekonomi.
Tetapi dengan iman, perjuangan itu memiliki arah yang jelas, yakni membangun dunia yang lebih sesuai dengan kehendak Allah.
Kemiskinan struktural adalah cerminan sejauh mana bangsa ini setia pada nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.
Maka melawan bukan hanya soal kebijakan publik, tetapi juga panggilan iman yang mewujud dalam pertobatan pribadi, komunitas, dan struktur sosial.
Baca Juga: Gereja dan Pembatasan Kekuasaan Elit
Saya yakin bila iman benar-benar dijalankan dengan keberanian, kemiskinan struktural dapat perlahan diatasi.
Dengan demikian, iman tidak hanya menjadi pengakuan di bibir, tetapi nyata dalam tindakan kasih yang menghadirkan kabar gembira bagi kaum miskin sebagaimana dikehendaki kristus.
Penulis: Yasinta Daus
Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Katolik, Sekolah Tinggi Pastoral St. Sirilus Ruteng
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












