Lactasoy Minuman Thailand, Kini Jadi Tren Konsumsi Anak Muda Indonesia

Lactasoy Thailand
Lactasoy Minuman Thailand, Kini Jadi Tren Konsumsi Anak Muda Indonesia. Sumber: MMI.

Apakah kamu memperhatikan feed Tiktok atau Instagram beberapa bulan terakhir? Ada salah satu minuman yang sering sekali lewat di beranda penelusuran masyarakat, dan mungkin juga pernah lewat di beranda penelusuran kamu.

Lactasoy, susu kedelai asal Thailand yang tiba-tiba menjadi tren di kalangan pelajar, mahasiswa, dan pekerja kantoran muda. Fenomena meningkatnya konsumsi Lactasoy di kalangan anak muda Indonesia menunjukkan bahwa sebuah minuman dapat menjadi lebih dari sekadar kebutuhan fungsional.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Banyak kalangan anak muda dan pekerja memilih Lactasoy bukan hanya sekedar rasanya, tetapi Lactasoy bisa membawa nuansa lifestyle yang sehat, praktis, dan estetik. Di media sosial, terutama TikTok dan Instagram, minuman susu kedelai ini muncul dalam berbagai konten haul, rekomendasi diet, hingga daily vlog.

Ini menunjukkan bahwa Lactasoy telah menjadi bagian dari gaya hidup generasi yang ingin tampil minimalis namun tetap on trend, sekaligus hal ini dapat merefleksikan cara yang baru bagi anak muda untuk mengekspresikan identitas diri melalui pilihan produk.

Popularitas dari Lactasoy tidak bisa dilepaskan dari kedekatan budaya antara Thailand dan Indonesia yang semakin kuat. Dalam beberapa tahun terakhir, drama Thailand, kuliner Thailand, influencer Thailand, dan wisata ke Bangkok atau Phuket menjadi topik hangat di kalangan remaja dan dewasa muda Indonesia.

Citra Thailand sebagai negara yang ramah, estetik, dan penuh akan kreativitas membuat produk-produknya terasa akrab dan mudah diterima.

Apakah Lactasoy Aman untuk Dikonsumsi?

Pertanyaan mengenai keamanan Lactasoy untuk dapat dikonsumsi sering kali muncul karena sebagian orang meyakini bahwa makanan atau minuman sehat idealnya tidak bertahan lebih dari 24 jam.

Namun Lactasoy merupakan produk yang diproses dengan teknologi UHT (Ultra High Temparuture), yang memungkinkan susu dapat dipanaskan pada suhu tinggi secara singkat dan membunuh bakteri tanpa merusak komposisinya.

Produk ini kemudian dikemas dengan mode aseptic packaging, yang membuat produknya menjadi lebih steril dan kedap udara sehingga aman disimpan dalam jangka panjang.

Seluruh produk yang beredar di Indonesia juga telah melalui berbagai proses persetujuan BPOM, sehingga selama masa penyimpanan sesuai dengan aturan jika kemasan belum dibuka, Lactasoy aman dan layak dikonsumsi.

Baca Juga: Meningkatnya Tren Bisnis Import dari Thailand

Bagaimana Citra Thailand Dikonstruksi melalui Produk ini?

Jika memperhatikan iklan, kemasan, cara promosi, hingga bagaimana netizen membicarakan Lactasoy dan budaya Thailand, dapat terlihat bahwa Thailand sedang membangun citra yang sangat spesifik.

Tampak terlihat bahwa Thailand dapat dikonstruksi sebagai negara yang sehat dan natural, terlihat dari banyaknya produk makanan ringan berbahan sederhana. Selain itu, kesan ramah dan hangat muncul melalui konten-konten influencer Thailand yang dikenal sopan juga friendly.

Estetika cerah dan bersih juga membuat Thailand terlihat youthful serta modern. Kombinasi ini dapat menciptakan narasi bahwa Thailand adalah negara di Asia Tenggara yang berkembang kreatif, menyenangkan, dan mudah disukai, citra yang efektif ini tentu dapat menarik perhatian para generasi muda.

Lactasoy dapat membuktikan bahwa dalam sebuah produk sederhana dapat berubah menjadi medium dari pertukaran budaya. Dalam hal ini, Lactasoy dapat membawa potongan kecil identitas Thailand pada keseharian anak muda Indonesia, serta dapat memperkuat budaya tanpa adanya intervensi politik maupun diplomatik.

Lactasoy dapat menjadi simbol bagaimana pilihan konsumsi mampu membentuk persepsi masyarakat terhadap negara lain. Melalui kehadiran Lactasoy, generasi muda Indonesia tidak hanya dapat menikmati minuman sehat, tetapi juga dapat terhubung budaya Thailand yang belakangan ini sedang naik daun.

Hal ini menunjukkan bahwa diplomasi budaya tidak hanya bergerak lewat film atau musik, melainkan dapat juga melalui produk sehari-hari yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Penulis: Yovancha Renitha Angelitha Nussy
Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW)

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses