Mata Buram Akibat Diabetes dan Hipertensi: Apa Hubungannya?

Mata Buram
Ilustrasi Mata Buram (Sumber: MMI)

Banyak orang mengira penglihatan buram hanya disebabkan usia atau mata lelah. Padahal, diabetes dan hipertensi juga dapat mengganggu penglihatan. Kedua kondisi ini bahkan bisa mengubah bentuk bola mata dan menimbulkan berbagai masalah pada penglihatan.

 

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Apa Itu Gangguan Penglihatan Buram (Kelainan Refraksi)?

Gangguan penglihatan buram atau kelainan refraksi adalah kondisi ketika mata tidak dapat memfokuskan cahaya dengan benar ke retina, sehingga penglihatan terlihat kabur atau tidak jelas. Kondisi ini umum terjadi pada banyak orang dan bisa menyerang semua usia. Penyebabnya biasanya karena bentuk bola mata terlalu panjang, terlalu pendek, atau permukaan mata yang tidak rata.

Jenis-jenisnya meliputi:

  • Rabun jauh (miopia): sulit melihat objek yang jauh.
  • Rabun dekat (hipermetropia): sulit melihat objek yang dekat.
  • Silinder (astigmatisme): penglihatan buram atau tampak ganda karena bentuk mata tidak rata.
  • Presbiopia: kesulitan melihat dekat akibat proses penuaan, biasanya mulai setelah usia 40 tahun.

 

Bagaimana Diabetes Dapat Mempengaruhi Penglihatan?

Diabetes tidak hanya berbahaya karena tingginya kadar gula darah, tetapi juga karena dapat merusak mata. Salah satu komplikasi yang paling sering terjadi adalah retinopati diabetik, yaitu kerusakan pada pembuluh darah kecil di retina, bagian mata yang menangkap cahaya.

Jika gula darah tinggi dalam waktu lama, pembuluh darah retina bisa melemah, bocor, atau tersumbat sehingga aliran oksigen dan nutrisi berkurang. Akibatnya, sel-sel retina dapat rusak.

Baca juga: Mengenal Diabetes Melitus Lebih Awal: Yuk, Cek Gula Darah dan Kenali Gejalanya

Gejala awal yang sering muncul meliputi penglihatan kabur, bintik hitam, atau sulit melihat pada malam hari. Retinopati diabetik umum terjadi pada penderita diabetes tipe 2 dan termasuk salah satu penyebab kebutaan terbanyak di dunia.

Risiko kerusakan mata meningkat bila gula darah tidak terkontrol, tekanan darah atau kolesterol tinggi, obesitas, atau pada perokok. Karena itu, pemeriksaan mata secara rutin sangat penting untuk mendeteksi kerusakan sejak dini dan mencegah komplikasi lebih lanjut.

 

Bagaimana Hipertensi Mempengaruhi Struktur Mata?

Hipertensi yang berlangsung lama tidak hanya berbahaya bagi jantung dan otak, tetapi juga dapat merusak mata. Tekanan darah yang terlalu tinggi membuat pembuluh darah kecil bekerja lebih keras, termasuk pembuluh darah di retina yang menangkap cahaya. Jika kondisi ini terus terjadi, pembuluh darah retina bisa menebal, menyempit, atau menjadi kaku sehingga aliran darah yang membawa oksigen dan nutrisi berkurang.

Saat suplai oksigen tidak cukup, retina menjadi lebih mudah rusak. Kondisi ini dikenal sebagai retinopati hipertensi. Pada tahap awal biasanya tidak menimbulkan gejala, tetapi bila dibiarkan dapat muncul perdarahan kecil di retina atau pembengkakan saraf mata.

Dalam jangka panjang, kerusakan ini dapat mengganggu kemampuan mata memfokuskan cahaya, membuat penglihatan buram, dan pada kasus berat bisa menyebabkan gangguan penglihatan lebih serius. Karena itu, menjaga tekanan darah tetap stabil sangat penting untuk melindungi kesehatan mata.

 

Mengapa Ukuran Bola Mata Bisa Berubah?

Ukuran bola mata dapat berubah karena dipengaruhi oleh tekanan cairan di dalam mata, yang disebut tekanan intraokular. Tekanan ini bisa meningkat apabila terjadi gangguan pada jantung dan pembuluh darah, misalnya tekanan darah tinggi atau kenaikan berat badan. Pada penderita diabetes atau hipertensi, pengaturan cairan dan kondisi pembuluh darah sering terganggu sehingga tekanan di dalam mata lebih mudah naik.

Ketika tekanan mata berubah, bentuk dan panjang bola mata juga bisa ikut berubah. Perubahan kecil saja, bahkan kurang dari 1 mm, sudah cukup membuat mata sulit memfokuskan cahaya dengan tepat sehingga penglihatan bisa menjadi buram.

Karena itu, kondisi seperti hipertensi, diabetes, dan berat badan berlebih tidak hanya memengaruhi kesehatan tubuh secara umum, tetapi juga dapat memengaruhi tekanan mata, ukuran bola mata, dan kualitas penglihatan. Menjaga kesehatan tubuh berarti sekaligus menjaga kesehatan mata.

 

Bagaimana Cara Menjaga Kesehatan Mata?

Menjaga kesehatan mata penting untuk semua orang, terutama bagi penderita diabetes dan hipertensi. Kedua kondisi ini dapat memengaruhi fungsi dan struktur mata karena tekanan cairan tubuh dan pembuluh darah bisa berubah. Jika tidak dijaga, penglihatan bisa menjadi buram dan berisiko menimbulkan komplikasi yang lebih serius. Untuk itu, kesehatan mata perlu dirawat melalui kebiasaan sehari-hari yang baik.

Cara Menjaga Kesehatan Mata

1. Mengontrol gula darah dan tekanan darah secara rutin

Menjaga kedua hal ini tetap normal dapat mencegah atau memperlambat kerusakan mata, terutama pada penderita diabetes dan hipertensi.

2. Melakukan pemeriksaan mata minimal sekali setahun

Pemeriksaan rutin membantu dokter menemukan perubahan atau kerusakan mata sejak dini sehingga bisa segera ditangani.

3. Menggunakan kacamata sesuai resep dokter

Hindari membeli kacamata tanpa pemeriksaan karena dapat membuat mata lebih cepat lelah dan memperburuk penglihatan.

4. Mengonsumsi makanan bergizi

Pilih makanan kaya vitamin A, C, dan E seperti wortel, bayam, tomat, dan ikan. Antioksidan seperti lutein dan zeaksantin juga penting untuk menjaga sel-sel mata tetap sehat.

5. Menghindari merokok dan gaya hidup tidak sehat

Merokok dapat merusak pembuluh darah mata dan meningkatkan risiko gangguan penglihatan, terutama pada penderita diabetes.

Kesehatan mata bukan hanya dipengaruhi oleh usia atau keturunan, tetapi juga oleh kondisi tubuh. Diabetes dan hipertensi bisa mengubah bentuk bola mata, membuat penglihatan buram, dan bahkan merusaknya secara permanen. Karena itu, menjaga gula darah dan tekanan darah tetap stabil sangat penting untuk melindungi kesehatan mata.

 

Penulis:

  1. Rizka Suci Herawati
  2. Yemima Tio Aletheia Pasaribu
  3. Sururi Ramadani
  4. Adira Ramadhani

Mahasiswa Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia (UI)

 

Referensi

  1. World Health Organization. (2024, August 21). Eye care, vision impairment and blindness: Refractive errors. Retrieved from https://www.who.int/news-room/questions-and-answers/item/blindness-and-vision-impairment-refractive-errors
  2. Hartmann, A., Scholz, I., Hoffmann, E. M., Strzalkowska, A., Lackner, K. J., Münzel, T., Wicke, F. S., Schmidtmann, I., Tüscher, O., Schattenberg, J. M., Konstantinides, S., Wild, P. S., Pfeiffer, N., & Schuster, A. K. (2024). Change of Intraocular Pressure Over 5 Years and its Relationship to Cardiovascular Parameters: Results From the Gutenberg Health Study. Investigative Ophthalmology & Visual Science, 65(1), Article 12. https://doi.org/10.1167/iovs.65.1.12
  3. Made, G. S., Arista, D. K. D., Putra, I. G. N. S., & Wedri, N. M. (2018). Retinopati diabetik: Komplikasi mikrovaskular pada diabetes melitus. Jurnal Medika Udayana, 7(9). Retrieved from https://jurnal.undiksha.ac.id/
  4. Dziedziak, J., Zaleska-Żmijewska, A., Szaflik, J. P., & Cudnoch-Jędrzejewska, A. (2022, January 20). Impact of arterial hypertension on the eye: A review of the pathogenesis, diagnostic methods, and treatment of hypertensive retinopathy. Medical Science Monitor, 28, e935135. Retrieved from https://www.medscimonit.com/abstract/index/idArt/935135
  5. Do, D. V., Wang, X., Vedula, S. S., Marrone, M., Sleilati, G., Hawkins, B. S., & Frank, R. N. (2023). Blood pressure control for diabetic retinopathy. Cochrane Database of Systematic Reviews, (3), CD006127. https://doi.org/10.1002/14651858.CD006127.pub3
  6. Jeong, I. S., Kang, C. M., Lee, E. J., Kim, S. B., Seo, Y. K., Son, Y. S., & Kim, K. H. (2025). Factors associated with Hypertensive Retinopathy among People with Hypertension: A Systematic Review. Research in Community and Public Health Nursing, 36(1), 130–149. https://doi.org/10.12799/rcphn.2024.00857
  7. Thomson, K. B., Khalid, S. I., Sabherwal, N., & Heiferman, M. J. (2024). Association between tobacco smoking and the development of diabetic macular edema. Journal of Vitreo-Retinal Diseases, 8(6), 651–657. https://doi.org/10.1177/24741264241269479

 

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses