Terorisme Global dan Lingkar Kekerasan yang Tak Pernah Usai

Terorisme Global
Ilustrasi Terorisme Global (Sumber: MMI)

Setiap kali aksi teror terjadi, dunia serentak bereaksi dengan kecaman. Terorisme dikutuk sebagai musuh bersama umat manusia, ancaman terbesar bagi keamanan global, dan simbol kekerasan tanpa wajah. Namun, di balik hiruk-pikuk perang melawan teror, satu pertanyaan mendasar sering terabaikan: apakah terorisme benar-benar lahir dari kejahatan murni, atau justru tumbuh dari panggung kekerasan global yang terus dipelihara?

Sejak peristiwa 11 September 2001, terorisme mengalami transformasi besar. Ia tidak lagi hadir sebagai ancaman lokal, melainkan sebagai fenomena transnasional yang bergerak melalui jaringan global, propaganda digital, dan perang asimetris.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Kelompok seperti Al-Qaeda, ISIS, hingga Boko Haram menjelma menjadi aktor non-negara yang mampu menantang kekuatan negara dengan cara-cara yang tidak konvensional. Terorisme, dalam konteks ini, bukan hanya serangan fisik, tetapi juga perang psikologis yang menyasar rasa aman masyarakat dunia.

 

Terorisme dalam Bingkai Perang Irreguler

Dalam kajian strategi kontemporer, terorisme dipahami sebagai bagian dari perang irreguler (irregular warfare), yaitu bentuk konflik yang tidak mengandalkan pertempuran terbuka antarnegara, melainkan menggunakan taktik tekanan psikologis, serangan terhadap warga sipil, dan jaringan bawah tanah. Dalam perang jenis ini, ketakutan menjadi senjata utama.

Namun, kesalahan terbesar negara-negara dunia adalah melihat terorisme semata sebagai kejahatan terorganisir, tanpa membaca konteks struktural yang melahirkannya. Timur Tengah menjadi contoh paling nyata. Invasi Amerika Serikat ke Irak pada tahun 2003 dengan dalih memerangi terorisme justru membuka babak baru ketidakstabilan kawasan.

Runtuhnya negara, kekacauan politik, dan ketimpangan sosial menciptakan ruang subur bagi lahirnya ISIS. Dengan kata lain, perang melawan teror justru melahirkan teror baru dalam bentuk yang lebih kejam dan terorganisir.

Terorisme akhirnya bukan sekadar musuh eksternal, tetapi juga produk dari konflik yang gagal diselesaikan secara adil.

 

Ideologi, Luka Sejarah, dan Manipulasi Kekerasan

Terorisme kerap dibungkus dengan ideologi agama atau politik. Namun ideologi tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia disuburkan oleh ketidakadilan, trauma berkepanjangan, kemiskinan struktural, serta kegagalan negara dalam melindungi warganya. Di banyak wilayah konflik, generasi muda tumbuh dalam lingkar kekerasan, kehilangan harapan, dan akhirnya menemukan “makna” dalam ekstremisme.

Baca juga: Geopolitik di Pasifik: Makna Strategis Perjanjian Nakamal antara Vanuatu dan Australia

Lebih ironis lagi, terorisme juga sering dimanipulasi sebagai alat geopolitik. Ia dikutuk di satu sisi, namun dimanfaatkan di sisi lain sebagai legitimasi intervensi militer, perluasan pengaruh, dan kontrol wilayah strategis. Atas nama memerangi terorisme, banyak negara justru memperpanjang rantai kekerasan yang pada akhirnya melahirkan gelombang teror baru.

 

Ketika Keamanan Mengalahkan Kemanusiaan

Dunia pasca 9/11 memasuki era security-oriented world, di mana hampir seluruh kebijakan global dibingkai atas nama keamanan. Anggaran militer meningkat drastis, pengawasan digital diperluas, dan ruang kebebasan sipil semakin menyempit. Banyak negara mengesampingkan prinsip hak asasi manusia demi stabilitas semu.

Pendekatan keamanan yang terlalu militeristik sering gagal menyentuh akar persoalan. Teror dibalas dengan teror, bom dibalas dengan bom, dan kekerasan dibalas dengan kekuatan. Lingkar ini terus berulang tanpa pernah memutus sumber utamanya: ketidakadilan global, konflik berkepanjangan, dan politik kekuasaan yang mengabaikan kemanusiaan.

 

Dunia yang Mengutuk Teror, Tetapi Membesarkannya

Terorisme hari ini menjadi cermin buram peradaban global. Dunia ramai mengutuk pelaku teror, mengibarkan solidaritas untuk korban, tetapi sering kali menutup mata terhadap penderitaan sipil di wilayah konflik. Standar ganda dalam penegakan HAM, pembiaran terhadap kekerasan struktural, serta eksploitasi geopolitik atas wilayah konflik menjadi bahan bakar yang terus menghidupkan ekstremisme.

Selama kekerasan masih dipelihara sebagai alat politik, selama perang tetap dianggap solusi, dan selama keadilan hanya berpihak pada yang kuat, maka terorisme tidak akan benar-benar mati. Ia hanya akan berganti nama, jaringan, dan metode.

 

Terorisme dan Tanggung Jawab Moral Dunia

Terorisme memang tidak pernah bisa dibenarkan dalam bentuk apa pun. Namun memeranginya hanya dengan senjata, tanpa membongkar akar ketidakadilan global, adalah upaya yang timpang. Dunia tidak hanya membutuhkan sistem pertahanan yang kuat, tetapi juga keberanian moral untuk membangun keadilan, rekonsiliasi, dan perlindungan nyata bagi warga sipil.

Pada akhirnya, tantangan terbesar dunia bukan sekadar bagaimana menghancurkan terorisme, tetapi apakah dunia memiliki keberanian untuk berhenti menciptakan panggung bagi kelahirannya sendiri.

 

Penulis: Nasywa Dzakirah (07041182328025)
Mahasiswa Hubungan Internasional, Universitas Sriwijaya
Dosen Pengampu: Arina Nihayati

 

Referensi

Baylis, J., Wirtz, J. J., Cohen, E. A., & Gray, C. S. (2016). Strategy in the Contemporary World: An Introduction to Strategic Studies. Oxford: Oxford University Press.

Mearsheimer, J. J. (2001). The Tragedy of Great Power Politics. New York: W. W. Norton & Company.

Posen, B. R. (1984). The Sources of Military Doctrine: France, Britain, and Germany Between the World Wars. Ithaca: Cornell University Press.

Crenshaw, M. (2011). Explaining Terrorism: Causes, Processes, and Consequences. New York: Routledge.

Hoffman, B. (2006). Inside Terrorism. New York: Columbia University Press.

 

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses