Mengenal Sahabat Pustaka: Tim Kecil yang Menghidupkan Perpustakaan SDN Jajartunggal

Sahabat Pustaka
Ilustrasi Sahabat Pustaka (Sumber: MMI)

Di banyak sekolah dasar, perpustakaan sering kali menjadi ruangan sunyi yang dikunjungi hanya saat jam tugas atau ketika guru meminta siswa membaca. Namun pemandangan berbeda terlihat di SDN Jajartunggal 1/450 Surabaya. Perpustakaan sekolah ini hidup, ramai, dan menjadi ruang yang dekat dengan anak-anak—berkat kehadiran sebuah tim kecil bernama Sahabat Pustaka.

Program yang dibentuk oleh mahasiswa PSM 8.0 UNESA 2025 ini digagas oleh Najwa Aulia Putri Ditia dan Ismi Rahmawati Pasha Sanjaya. Sahabat Pustaka hadir bukan hanya sebagai pengurus perpustakaan, tetapi sebagai agen penggerak budaya literasi sejak dini.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

 

Sahabat Pustaka: Lebih dari Sekadar Pengurus Buku

Dalam dokumen programnya, Sahabat Pustaka dijelaskan sebagai kelompok siswa terpilih yang dipercaya untuk membantu menghidupkan suasana perpustakaan. Mereka bukan penjaga buku biasa; mereka adalah tim kecil yang menjalankan fungsi manajerial, administrasi, hingga pelayanan.

Mereka membantu merapikan buku, mencatat peminjaman, memandu teman-teman yang datang, sekaligus menjadi contoh kedisiplinan di lingkungan sekolah.

Program ini berangkat dari kebutuhan nyata: menciptakan perpustakaan yang rapi, nyaman, dan mudah diakses oleh seluruh siswa. Karena itu, Sahabat Pustaka memiliki tujuan yang sangat jelas:

  • Membuat perpustakaan lebih rapi dan menyenangkan
  • Mempermudah proses peminjaman dan pengembalian
  • Mengajarkan tanggung jawab dan kedisiplinan
  • Menjadi role model literasi bagi teman-teman di sekolah

 

Anggotanya: Siswa Kelas 5 yang dipilih Berdasarkan Sikap

Sahabat Pustaka merekrut siswa kelas 5 yang suka membaca, disiplin, ramah, dan bersedia membantu. Pendekatan ini membuat perpustakaan dikelola oleh anak-anak yang benar-benar memiliki minat dan kesadaran tanggung jawab, bukan sekadar tugas administratif.

Mereka dibekali dengan:

  • ID Card
  • SOP kerja
  • Alat tulis administrasi
  • Meja dan rak pelayanan

Profesionalisme kecil yang ditanam sejak dini.

 

Tata Tertib dan Sanksi: Belajar Tertib Sejak Usia Sekolah Dasar

Untuk menjaga kualitas layanan, Sahabat Pustaka menerapkan tata tertib lengkap, mulai dari sikap (ramah, sopan, menjaga ketenangan), jadwal kehadiran, hingga larangan seperti tidak membawa makanan dan tidak merusak buku.

Menariknya, pemberian sanksi dilakukan dengan pendekatan edukatif:

  • Melangkahi meja: push-up 5 kali
  • Terlambat mengembalikan buku: tidak boleh meminjam 1 minggu
  • Berisik: duduk tenang selama 5 menit
  • Tidak menjaga kebersihan: membersihkan area yang digunakan

Sanksi khusus untuk anggota Sahabat Pustaka juga dibuat agar menjaga profesionalisme mereka sebagai petugas cilik.

Baca juga: Resensi Buku: Rayuan Negeri Impian

 

Belajar Administrasi Perpustakaan Sejak Dini

Salah satu kekuatan program ini adalah orientasinya pada praktik nyata. Siswa belajar langsung mengelola perlengkapan administrasi perpustakaan seperti:

  • Kantong buku (book pocket)
  • Lidah buku (book card)
  • Kartu peminjaman buku
  • Slip tanggal kembali (date due slip)

Mereka memahami bagaimana data buku dicatat, bagaimana riwayat peminjaman disimpan, hingga bagaimana menggabungkan kartu anggota, kartu peminjaman, dan lidah buku menjadi arsip sementara.

Sebagian besar orang baru memahami manajemen perpustakaan ketika duduk di bangku kuliah, tetapi di SDN Jajartunggal siswa sudah mempraktikkannya secara langsung.

 

Tugas-tugas Kecil dengan Dampak yang Besar

Dalam kesehariannya, Sahabat Pustaka menjalankan berbagai tugas, seperti:

  • Menata buku sesuai nomor klasifikasi
  • Mencatat peminjaman dan pengembalian
  • Menjaga kebersihan ruang perpustakaan
  • Mengawasi ketertiban pengunjung
  • Mengisi buku kunjungan harian
  • Membantu membuat perlengkapan fisik buku

Tugas sederhana ini ternyata memiliki dampak besar: anak-anak menjadi lebih mandiri, lebih tertib, dan lebih menghargai fasilitas sekolah.

 

Warisan Literasi yang Ingin ditinggalkan

Di bagian akhir laporan program, tim PSM UNESA menuliskan harapan menyentuh:

“Kami berharap Sahabat Pustaka bisa terus berjalan dengan baik meskipun kami sudah selesai PSM. Tetap semangat, rawat perpustakaan seperti milik sendiri, dan jadikan perpustakaan tempat yang menyenangkan untuk semua.”
— Najwa & Ismi, PSM 8.0 UNESA

Sahabat Pustaka bukan hanya program sementara; ia menjadi warisan literasi, budaya tertib, dan rasa memiliki pada fasilitas publik.

 

Penutup: Literasi dimulai dari Ruang Kecil

Di tengah berbagai isu menurunnya minat baca anak, Sahabat Pustaka menunjukkan bahwa perubahan tidak harus dimulai dari kebijakan besar—cukup dari sebuah ruang kecil bernama perpustakaan, dihidupkan oleh sekelompok anak yang mau belajar dan peduli.

Program ini bukan hanya mengelola buku, tetapi mengelola masa depan: menanamkan disiplin, kerja sama, empati, dan cinta membaca sejak dini.

Sebuah inisiatif sederhana yang pantas menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain, sekaligus contoh nyata kontribusi mahasiswa terhadap penguatan literasi dasar.

 

Penulis: Ismi Rahmawati Pasha Sanjaya
Mahasiswa Administrasi Negara, Universitas Negeri Surabaya

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses