Planetary Health Diet: Makanan Masa Depan yang Selama Ini Telah Menjadi Makanan Tradisional Indonesia

Planetary Health Diet
Ilustrasi Sate (Sumber: MMI)

Pola makan manusia saat ini sangat berdampak terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Perubahan lingkungan yang terjadi pada bumi menjadi salah satu penyumbang kerusakan yang besar seperti emisi gas rumah kaca, degradasi tanah, deforestasi, dan penggunaan air akibat dari sistem produksi pangan. Sistem produksi pangan ini menjadi salah satu penyebab perubahan lingkungan, yang semakin lama akan menekan bumi hingga melewati batas aman bagi lingkungan (Aydoğdu dan Karadağ 2025).

Baru-baru ini komisi EAT-Lancet menekankan mengenai konsep “Planetary Health Diet” yang merupakan sustainable food system yang mengoptimalkan kesehatan manusia dan keberlanjutan planet untuk 30 tahun ke depan ketika populasi dunia diproyeksikan akan mencapai hampir 10 miliar populasi (Willett 2025).

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Jika populasi dunia terus bertambah, maka kesediaan pangan pun harus ditambah. Namun, hal tersebut bertentangan dengan bumi kita yang saat ini ada batasannya. Sehingga, diperlukan perubahan sistem pangan agar ketika mencapai tahun 2050 tetap bisa makan dengan cukup, sehat, enak, dan bergizi (Rockström et al. 2025).

 

Planetary Health Diet (PHD) Mirip dengan Makanan Tradisional Indonesia?

Planetary Health Diet (PHD) merupakan pola makan yang dapat mendukung hasil kesehatan yang optimal dengan variasi makanan yang berasal dari tanaman seperti biji-bijian utuh, buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, dan polong-polongan yang membentuk proporsi yang besar dari makanan yang dikonsumsi, disertai dengan protein dari daging dengan jumlah yang sedang atau kecil yang berasal dari ikan, produk susu, dan daging yang direkomendasikan (Rockström et al. 2025).

Pola makan tersebut relevan untuk diterapkan karena dapat meminimalisir dampak lingkungan dari pangsa sistem pangan yaitu dengan mengurangi emisi gas rumah kaca, pemanfaatan lahan, serta penggunaan nitrogen dan fosfor (Rockström et al. 2025).

Foto: Screenshoot Tiktok @naktekpang

Fenomena Planetary Health Diet belakangan ini banyak dibahas di media sosial. Dalam salah satu konten dari Dennis Guido – lulusan Teknologi Pangan yang merupakan kreator food technologist dengan username @naktekpang yang kerap memberikan edukasi mengenai sains pangan yang dikemas dengan menarik, sederhana, dan menghibur.

Dennis mengatakan bahwa makanan masa depan yang dikenal sebagai Planetary Health Diet (PHD) yang memiliki kesamaan dengan makanan-makanan tradisional yang sudah kita punya, tidak hanya Indonesia, di Asia, Eropa, dan negara lainnya, sudah memiliki makanan tinggi sayur, karbohidrat utuh, kacang-kacangan, dan sebagainya.

Intinya para scientist sepakat bahwa makanan masa depan itu adalah makanan tradisional yang sudah kita punya. Salah satu solusi dari EAT-Lancet untuk mengatasi krisis pangan dunia adalah dengan mencintai dan menjaga makanan tradisional yang masing-masing negara sudah miliki.

Konsep PHD yang lebih menekankan variasi makanan dari tumbuhan mirip dengan makanan tradisional Indonesia, contohnya gado-gado dengan komposisi yang kaya akan sayuran, kacang-kacangan sebagai sumber protein nabati, dan sering kali disertai penambahan telur ayam sebagai sumber protein hewani.

Contoh makanan tersebut dapat tetap selaras dengan diet berbasis tumbuhan yang telah dianjurkan. Makanan yang telah berkonsep PHD yaitu makanan tradisional dari Yogyakarta, yang dibuat dengan bahan-bahan lokal yang rendah lemak jenuh, serat tinggi, dan protein nabati serta karbohidrat dalam jumlah sedang dan tetap memberikan nilai gizi yang lengkap sehingga memenuhi asupan makanan yang dianjurkan.

Pecel yang berasal dari Yogyakarta merupakan campuran sayuran rebus, terutama wortel, bayam, taoge, lalu disajikan dengan saus kacang yang biasanya dicampur dengan pasta bawang putih, gula merah, cabai, daun jeruk nipis, asam jawa, dan garam. Pecel sering kali dilengkapi dengan nasi dan lauk seperti ikan rebus atau ikan asin (Harmayani et al. 2019).

Baca juga: Tabotu: Talas Bogor Tumbuk Instan dengan Topping Pecel Tempe

 

Peran Saya Untuk Masa Depan sebagai Food Scientist dalam STE(A)M (5-10 Tahun ke Depan)

Sebagai calon food scientist yang bergerak di bidang STE(A)M (Science, Technology, Engineering, Art, dan Mathematics), bahwa masa depan pangan ini diperlukan pendekatan lintas-disiplin. Peran saya untuk keberlanjutan pangan untuk 5-10 ke depan, saya ingin banyak berkontribusi dalam penelitian yang mampu mengembangkan pangan lokal yang sehat, memiliki gizi yang tinggi, dan dapat diterima oleh masyarakat di Indonesia.

Pengembangan pangan tersebut dapat melalui teknologi pengolahan dan rekayasa proses, sehingga ke depannya UMKM lokal dapat menghasilkan pangan tradisional yang lebih aman, tahan lama, dan yang terpenting lebih disukai oleh berbagai kalangan masyarakat, mulai dari anak kecil hingga orang dewasa, serta tanpa kehilangan identitas budaya Indonesia.

Saya juga ingin turut berpartisipasi dalam R&D di sektor pangan seperti menurunkan GGL (gula, garam, dan lemak) pada produk pangan agar tetap mendapatkan rasa yang enak dan dapat diterima oleh konsumen.

Terinspirasi dari konten-konten Dennis – Food Technologists dengan akun tiktok @naktekpang, sebagai scientist masa depan, saya pun ingin berkontribusi untuk turut membuat konten edukasi yang pendek dan menarik, meluruskan berbagai hoaks pangan yang sedang viral dengan berdasar pada sumber ilmiah, dan bahkan mungkin turut membagikan tips dan trik dalam pembuatan “makanan aman” yang beririsan dengan konsep PHD yang sedang digencarkan oleh scientist-scientist global.

Sementara itu, analisis data tetap diperlukan karena dapat membantu saya dalam memprediksi pola konsumsi pada konsumen, kebutuhan pangan masyarakat, dan dapat membantu dalam proses pengembangan pangan lokal agar menjadi lebih terpercaya.

 

Penulis: Riisyafa Ayuna Faikar (F0505251053)
Mahasiswa Ilmu Pangan, IPB University

 

Referensi

Aydoğdu GS, Karadağ MG. 2025. The Two Dimensions of Nutrition for the Planet : Environment and Health. Curr. Nutr. Rep. 14(49):1–17.doi:10.1007/s13668-025-00642-3.

Harmayani E, Anal AK, Wichienchot S, Bhat R, Gardjito M, Santoso U, Siripongvutikorn S, Puripaatanavong J, Payyappallimana U. 2019. Healthy food traditions of Asia : exploratory case studies from Indonesia, Thailand, Malaysia, and Nepal. J. Ethn. Foods. 6(1):1–18.doi:https://doi.org/10.1186/s42779-019-0002-x.

Rockström J, Thilsted SH, Willett WC, Gordon LJ, Herrero M, Hicks CC, Mason-D’Croz D, Rao N, Springmann M, Wright EC, et al. 2025. The EAT–Lancet Commission on healthy, sustainable, and just food systems. Lancet. 406(10512):1625–1700.doi:10.1016/S0140-6736(25)01201-2.

Willett W. 2025. Our Cultures, Our Meals: Cooking for Planetary Health. EAT-Lancet Comm. Food, Planet Heal.

 

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses