Mengenali Perang Rusia-Ukraina dan Dampaknya terhadap Perekonomian Global

Opini
Ilustrasi: pixabay.com

Peperangan adalah fenomena yang seolah-olah tidak pernah benar-benar hilang dari muka bumi ini. Setiap harinya, pasti ada satu peradaban di muka bumi yang tengah berseteru dengan yang lain. Salah satu contoh “perang” yang paling terkenal yang kita semua tahu adalah konflik Israel-Palestina.

Belum selesai konflik tersebut, pecahlah perang Rusia-Ukraina di tahun 2022 lalu. Arus globalisasi pun ikut berpengaruh karena adanya peperangan ini dan memberikan dampak yang nyata terhadap sektor perekonomian yang ada di dunia sehingga hal tersebut dapat mengganggu laju ekonomi antar negara.

Latar Belakang Perang Rusia-Ukraina

Konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina telah dimulai sejak tahun 2014, Presiden Ukraina kala itu, yang disebut sebagai pro-Rusia, Victor Yanukovich lebih memilih menerima bantuan dari Federasi Rusia ketimbang menandatangani kerjasama perjanjian perdagangan bebas dengan Eropa yang berakibat pada demonstrasi besar-besaran.

Bacaan Lainnya
DONASI

Baca Juga: Perang Rusia-Ukraina: Sejarah, Penyebab, dan Implikasinya terhadap Perekonomian Indonesia

Selain itu, perbedaan ideologi yang dimiliki oleh rakyat Ukraina Barat dengan Ukraina Timur, serta penggabungan Krimea ke Federasi Rusia setahun berikutnya, dan aneksasi Donbas di Ukraina Tenggara memicu pecahnya perang regional di kawasan tersebut, bahkan kerusuhan pun sempat terjadi sebelum adanya kesepakatan Minsk yang membuat Rusia-Ukraina berdamai pada tahun 2015.

Lalu, pada tahun 2021, hubungan Ukraina dan Rusia pun kembali memanas akibat dari North Atlantic Treaty Organization (NATO) yang mulai menyatakan dukungannya untuk Ukraina secara terbuka dan adanya hilal bahwa Ukraina akan bergabung dengan NATO.

Namun, Rusia tidak menyukai keberadaan NATO di wilayah Eropa Timur karena NATO dinilai mengekspansi Eropa Timur. Rusia tidak menyukai keberadaan NATO di Eropa Timur setelah Estonia, Latvia, Lithuania, dan Polandia bergabung ke dalamnya.

Padahal, Amerika Serikat (AS) sudah menjanjikan Rusia bahwa NATO tidak akan ekspansi ke kawasan Eropa Timur. Selain itu, garis sejarah yang dimiliki Rusia dan Ukraina sebagai negara yang dahulu merupakan Uni Soviet juga menjadi alasan Rusia tidak setuju dan menganggapp Ukraina sebagai pengkhianat apabila bergabung dengan NATO.

Pada tanggal 22 Februari 2022, Rusia mulai menginvasi Ukraina secara penuh dengan serangan militer. Selain itu, Rusia juga menyerang sistem informasi dan siber yang ada di Ukraina.

Presiden Rusia, Vladimir Putin menyatakan bahwa invasi tersebut terjadi karena adanya dukungan dari pemimpin kelompok separatis di wilayah timur Ukraina. Tindakan yang dilakukan Putin dinilai bertujuan untuk memaksa adanya perubahan pada Ukraina agar kepemimpinannya menjadi pro-Moskow.

Dampak Perang Rusia-Ukraina terhadap Ekonomi Global

Saat ini, tidak ada lagi batasan antar negara untuk dapat melakukan kegiatan ekonomi dan bertukar komoditas, hasil dari adanya kemungkinan tersebut ialah terdapat kegiatan ekspor dan impor. Kegiatan ekspor dan impor ini dapat membantu negara-negara memenuhi kebutuhannya.

Hal ini juga didukung oleh adanya perkembangan teknologi yang memudahkan pelaksanaan ekspor dan impor antar negara.

Baca Juga: Bantuan Teori Realisme Menghadirkan Penyebab dan Solusi bagi Perang Ukraina

Namun, dengan adanya konflik yang menimbulkan peperangan, seperti perang Rusia-Ukraina, tentunya dapat mengganggu jalannya laju perekonomian global pada negara yang terlibat peperangan dan pada negara-negara yang terdampak akan peperangan tersebut.

Di Ukraina sendiri, perang dengan Rusia mengakibatkan ekonomi negara tersebut untuk menyusut hingga 45%. Selain korban jiwa yang ditimbulkan, kerusakan pada infrastruktur, fasilitas publik, dan pemukiman juga turut membuat angka kerugian membengkak.

Setidaknya menurut Kompas.com (2022) ada lima aspek bagaimana perang Rusia-Ukraina turut mempengaruhi perekonomian global. Yang pertama, perusahaan multinasional berbondong-bondong menarik diri dari pasar Rusia atas dasar tekanan sanksi, tekanan politik, serta opini publik yang memburuk.

Beberapa perusahaan terkemuka seperti Apple, Ikea, H&M & McDonald’s mengundurkan diri dari pasar Rusia. Negara tersebut memiliki populasi yang besar, hengkangnya perusahaan-perusahaan tersebut mengurangi pendapatan mereka secara global.

Kedua, Sekretaris Jenderal Persatuan Bangsa-Bangsa (Sekjen PBB) memperingatkan bahwa perang ini dapat menyebabkan kelaparan dan kelangkaan pangan dalam jangka panjang. Hal ini karena Rusia dan Ukraina secara tergabung adalah salah satu penyumbang gandum, minyak jagung, dan minyak bunga matahari terbesar di dunia.

Ketiga, akibat dari poin di atas, harga komoditas gas alam dan minyak bumi juga turut terguncang. Harga kedua komoditas alam tersebut menjadi fluktuatif dan meraih rekor tertinggi selama 14 tahun.

Keempat, krisis moneter terjadi di Rusia yang ditandai oleh jatuhnya nilai kurs mata uang Rubel dan tutupnya bursa saham setempat. Selain itu, Rubel Rusia dan layanan perbankan Rusia juga semakin tidak diterima di luar Rusia, sehingga menghambat pertukaran valuta asing dari dan ke dalam Rusia.

Dan kelima, pertumbuhan ekonomi global menjadi melambat. Pertumbuhan ekonomi global memang sudah melambat akibat pandemi Covid-19, dan terus diperparah oleh perang Rusia-Ukraina. Bahkan, International Monetary Fund (IMF) terpaksa mematok pertumbuhan ekonomi global untuk tahun 2022 hanya di angka 4.4% saja.

Baca Juga: Dampak Global Akibat Konflik Rusia-Ukraina terhadap Indonesia

Apakah Perang Ini dapat Berakhir?

Penyebab dari peperangan ini ialah ketidaksukaan Rusia terhadap Ukraina yang ingin bergabung dengan NATO. Dengan garis sejarah yang ada, yaitu sebagai negara yang dahulu tergabung dalam Uni Soviet, Rusia merasa bahwa Ukraina telah berkhianat apabila Ukraina tergabung ke dalam NATO.

Pihak Rusia, Vladimir Putin, telah mengungkapkan ketidaksetujuannya terhadap hal tersebut. Namun, karena tidak terlihat tanda-tanda bahwa Ukraina akan mundur menjadi anggota NATO, Rusia melakukan invasi penuh terhadap Ukraina untuk melindungi negaranya.

Invasi yang dilakukan Rusia terjadi karena negara tersebut memiliki kekhawatiran apabila Ukraina menjadi anggota NATO. Peperangan ini dapat berakhir apabila Ukraina menyatakan bahwa negaranya tidak lagi menginginkan keanggotaan NATO karena hal itulah yang diinginkan oleh Rusia sampai saat ini.

Penulis: Salsabila Rin Suryanita
Mahasiswa Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Editor: Ika Ayuni Lestari     

Bahasa: Rahmat Al Kafi

Referensi

Atok, Fransiskus. (2022). Analisis Konflik Rusia dan Ukraina (Studi Kepustakaan Status Kepemilikan Krimea). Jurnal Poros Politik. Volume 4. No. 1 : 11-15.

CNBCIndonesia.com (2022, 06 Maret). Kronologi dan Latar Belakang Perang Rusia vs Ukraina. Dilansir dari https://www.cnbcindonesia.com/news/20220304133929-4-320041/kronologi-dan-latar-belakang-perang-rusia-vs-ukraina

Fandy. (n.d.) Garis Waktu dan Kronologi Penyebab Invasi Rusia ke Ukraina. Dilansir dari https://www.gramedia.com/literasi/invasi-rusia-ke-ukraina/#5_Eskalasi_21-23_Februari_2022

Kompas.com. (2022, 23 Maret).  5 Dampak Perang Rusia-Ukraina yang Mengubrak-abrik Ekonomi Global. Dilansir dari https://www.kompas.com/global/read/2022/03/23/210000170/5-dampak-perang-rusia-ukraina-yang-mengubrak-abrik-ekonomi-global?page=all#page2

Susetio et al. (2022). Perang Rusia-Ukraina: Mencari Keseimbangan Dunia Baru. Jurnal Abdimas. Volume 8. No. 5: 333-339.

Kirim Artikel

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI