Anak usia dini dengan rentang usia 0–6 tahun hingga 8 tahun, kerap dianggap tidak mampu dalam memecahkan suatu permasalahan.
Padahal, dengan melakukan suatu kegiatan yang sederhana, salah satunya hal yang mereka senangi, seperti berdongeng, dapat melatih anak untuk memiliki kemampuan dalam berpikir kritis serta, mencari solusi dari permasalahan yang mereka hadapi.
Dongeng bukan hanya sekedar pengantar tidur tetapi juga bisa sebagai hiburan, dan media pembelajaran di kelas.
Hal ini, menjadikan pendekatan ala George Polya sebagai salah satu pendekatan yang sangat relevan yang digunakan dalam pemecahan masalah.
George Polya dan Keempat Tahapannya dalam Pemecahan Masalah
George Polya menjelaskan bahwa pemecahan masalah terdapat empat tahapan yaitu:
- memahami permasalahan.
- menyusun rencana.
- menguji rencana.
- meninjau kembali solusi.
Keempat tahapan ini ternyata dapat diterapkan kepada anak usia dini melalui cerita fantasi yang sangat erat dengan dunia mereka di kelas maupun di rumah, seperti guru yang sedang menyampaikan salah satu dongeng di kelas seperti Malin Kundang yang durhaka kepada ibunya dan dikutuk menjadi batu.
Dongeng yang berasal dari provinsi Sumatera Barat ini sangat populer di kalangan anak-anak dari dulu sampai sekarang karena pesan moral yang disampaikan melalui sebuah cerita.
Baca Juga: Mengatasi Pikiran Negatif pada Anak Usia Dini dengan Menerapkan Teori Napoleon Hill
Ketika cerita sudah sampai pada konflik, guru tidak langsung melanjutkan ceritanya tetapi bisa melanjutkan dengan cara mengajak anak untuk berdiskusi terlebih dahulu secara tidak langsung, seperti menanyakan “apa masalah yang dihadapi tokoh tersebut dan apa solusinya?” Hal ini, anak dapat memahami masalah dan berpikir secara kritis tanpa disadari.
Berdongeng menjadikan media pembelajaran pada anak menjadi lebih bermakna karena anak usia dini sangat menyukai kegiatan bercerita.
Dengan kegiatan ini anak bisa belajar dari tokoh-tokoh cerita dongeng tersebut sebab anak dapat merasakan emosi dari sebuah cerita, contohnya ketika tokoh merasakan kesulitan seperti kehidupan Malin Kundang yang miskin dan ketika Malin Kundang durhaka kepada ibunya.
Anda dapat membayangkan suasana di pagi hari. Melihat anak-anak sudah duduk melingkar dengan rapi dalam keadaan hening dan guru duduk di antara anak-anak yang membentuk lingkaran untuk berdongeng Malin Kundang sambil melihat wajah antusias mereka. Betapa bahagianya melihat antusias mereka di pagi hari, bukan?
Kegiatan sederhana seperti ini akan menjadi titik awal proses anak usia dini untuk pemecahan masalah ala George Polya.
1. Tahap Pertama: Memahami Permasalahan Melalui Aktivitas Berdongeng
Pada tahapan pertama ini, guru bisa mengajak anak untuk memahami masalah seperti bertanya kepada anak tentang cerita Malin Kundang ketika konflik muncul.
Contohnya:
“Apa yang membuat ibunya Malin Kundang sedih?”
“Apa yang terjadi ketika Malin Kundang saat bertemu dengan ibunya?”
Dengan pertanyaan sederhana seperti ini, dapat membantu anak untuk memahami inti dari permasalahan.
Anak mungkin menjawab, “karena Malin Kundang tidak mengakui dan durhaka kepada ibunya, Bu Guru.”
Jawaban tersebut dapat menunjukkan kalau anak sudah bisa mengidentifikasi permasalahan dari dongeng tersebut.
Baca Juga: Memahami Masalah Emosi Anak Usia Dini melalui Pendekatan REBT Albert Ellis
2. Tahap Kedua: Menyusun Rencana Bersama Anak
Setelah anak memahami permasalahan, guru dapat mengajak anak untuk menyusun rencana bersama dengan memberikan pertanyaan umum, contohnya:
“Kalau kalian menjadi Malin Kundang, apa yang sebaiknya dilakukan ketika bertemu dengan ibu?”
Anak-anak akan mengumpulkan ide sesuai dengan imajinasi dari pengalaman atau yang pernah mereka lihat di lingkungannya dan mereka akan mencontohnya.
Tahapan ini sangat penting karena akan belajar bahwa satu masalah memiliki banyak sekali solusi.
Meskipun, jawabannya dari mereka tidak ada yang salah dan benar yang terpenting adalah anak sudah berani untuk memberikan pendapat sesuai pemikiran mereka tanpa rasa ragu dan takut.
3. Tahapan Ketiga: Menguji Rencana
Pada tahap ketiga, yaitu menguji rencana, guru dapat mengajak anak untuk melihat dan belajar bagaimana sebuah solusi dapat dijalankan pada alur cerita.
Pada saat mendongeng, guru dapat melanjutkan cerita sampai bagian ketika Malin Kundang menjadi seorang saudagar yang kaya lalu, ia kembali ke kampung halamannya.
Setelah bagian tersebut sudah diceritakan, guru dapat berhenti sejenak dan mengajak anak untuk mengingat rencana Malin sebelum menjadi seorang saudagar.
Contohnya:
“Kalau Malin sudah sukses, apa yang seharusnya ia lakukan ketika bertemu dengan ibunya?“
Mungkin dari sebagai anak akan menjawab, “memeluk “ atau “sayang sama ibunya”. Setelah itu, guru dapat melanjutkan cerita asli dari cerita di mana Malin Kundang tidak mau mengakui ibunya dan bersikap angkuh lalu, guru dapat memberikan pertanyaan sederhana lagi, seperti:
“Malin Kundang tidak mau mengakui ibunya karena miskin. Menurut kalian, perbuatan Malin ini baik atau tidak untuk ditiru?“
Baca Juga: Belajar dari Pengalaman: Pendekatan John Dewey dalam Mendukung Regulasi Emosi Anak
Dengan pertanyaan ini, anak akan memahami bahwa tindakan Malin Kundang tidak baik untuk ditiru.
Tahap ini dapat membantu anak untuk memahami bahwa pemecahan masalah tidak hanya diselesaikan dengan ide yang mereka miliki, tetapi bagaimana ide mereka dapat dijalankan dan apa dampak dari keputusan yang telah dipilih.
4. Tahap Keempat: Meninjau Kembali Solusi
Selanjutnya, ketika sudah selesai berdongeng, guru dapat mengajak anak untuk meninjau kembali solusi seperti, apa yang terjadi setelah Malin Kundang mengambil keputusan.
Hal ini, akan mengarahkan anak pada pemahaman sebab dan akibat secara sederhana. Guru dapat mengajukan pertanyaan reflektif seperti:
“Bolehkah, kita melawan kepada orang tua atau orang yang lebih tua?”
Dengan melalui pertanyaan ini, anak mungkin akan menjawab “tidak” setelah anak menjawab kita memberikan penjelasan seperti, “kalau kita sombongnya dan melawan kepada orang tua akan celaka serta tidak sukai oleh teman-teman, orang lain, terutama Allah, karena Allah tidak menyukai orang-orang yang seperti itu.”
Anak diajak untuk menyadari bahwa perbuatan Malin Kundang yang tidak mau mengakui ibunya akan membawa dampak yang tidak baik dan menyedihkan.
Oleh karena itu, anak bisa belajar bahwa setiap keputusan yang diambil memiliki konsekuensi, baik atau buruk.
Jadi, dengan kegiatan berdongeng ini dapat membantu anak untuk memahami pesan moral, seperti, menghargai, mencintai, menyayangi, dan hormat kepada orang tuanya.
Baca Juga: Peran Orang Tua dalam Pembentukan Karakter Anak di Lingkungan Keluarga
Peran Guru dalam Proses Pemecahan Masalah ala George Polya
Peran guru di sekolah menjadi jembatan untuk memberikan suasana kenyamanan dan keamanan yang menyenangkan bagi anak-anak agar anak bisa berani untuk menyampaikan pendapat dari pemikiran yang kritis mereka dan guru harus memiliki kepekaan pada respons mereka ketika menanggapi alur cerita tersebut.
Selain itu, guru juga dapat mengaitkan alur cerita Malin Kundang dengan kehidupan sehari-hari anak seperti, penjelasan dari keempat tahap dari pemecahan masalah. Dengan begitu, anak dapat mengaitkan konsep dari pemecahan masalah ala George Polya.
Mengapa Pendekatan ini Penting untuk Pendekatan pada Anak?
Kemampuan untuk pemecahan masalah tidak muncul secara instan. Kemampuan ini perlu ditanamkan sejak anak masih usia dini dengan melalui pengalaman yang berulang.
Kegiatan berdongeng ala George Polya ini anak dapat berlatih kemampuan mereka untuk berpikir kritis tanpa adanya paksaan dan tekanan.
Pendekatan ini dapat mendukung perkembangan anak seperti, mengajari anak tentang kedisiplinan, agar tidak sombong, tentang arti kejujuran, menghormati, menghargai, dan menyayangi terhadap orang tua ataupun dengan orang lain.
Selain itu, anak dapat belajar untuk memahami bahwa setiap permasalahan merupakan bagian dari kehidupan, dan setiap masalah memiliki solusi jika berusaha dan berpikir secara kritis.
Baca Juga: Mengubah Ketakutan Jadi Senyuman: Trik Jitu Dokter Gigi Membuat Kunjungan Ceria bagi Anak-Anak
Simpulan
Menumbuhkan kemampuan dalam pemecahan masalah pada anak usia dini tidak harus dengan kegiatan yang rumit tetapi Anda bisa menggunakan kegiatan yang sederhana dan menyenangkan bagi anak seperti berdongeng di kelas dengan menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh anak-anak.
Hal ini, guru dapat menerapkan pendekatan ala George Polya secara menyenangkan. Selain itu, guru dapat mengetahui karakter satu persatu dari setiap anak di kelas.
Anak dapat diajarkan untuk menyimak apa yang disampaikan oleh guru dari kegiatan berdongeng tersebut lalu, anak dapat bersosialisasi antar teman dan di lingkungan sekitarnya.
Dengan demikian, kegiatan berdongeng di kelas bukan sekedar pengantar tidur dan cerita biasa tetapi menjadi salah satu jembatan anak untuk bertumbuh menjadi seseorang yang berpikir kritis, mau bertanya, dapat mengutarakan pendapatnya serta, mudah untuk menemukan solusi di setiap permasalahan.
Penulis: Heizke Salju Firlana Fadhillah
Mahasiswa Prodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Referensi
Permatahati, S. R., Zulfa, S. I. ., & Zakiyyah, A. A. . (2022). Nilai Moral dalam Cerita Rakyat Malin Kundang. Edukasiana: Jurnal Inovasi Pendidikan, 1(4), 253–260. https://doi.org/10.56916/ejip.v1i4.197
Agusfianuddin, A., Muzaki, A., & Sabrun, S. (2025). Studi Profil Pemecahan Masalah Guru Matematika dalam Penyelesaian Soal Cerita Berbasis Strategi Heuristik Polya. Panthera : Jurnal Ilmiah Pendidikan Sains Dan Terapan, 5(4), 1516–1532. https://doi.org/10.36312/panthera.v5i4.789
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












