Hidup bagaikan air laut yang selalu ada guncangan dari ombak yang dia tidak tau saat kapan ombak itu akan datang. Waktu yang terus berjalan apakah kamu sudah mengenali diri kamu sendiri? Siapa diri kita merupakan jiwa yang kita bentuk dari kita masih kecil dan siapa diri kita merupakan hasil dari keturunan dan lingkungan.
Kesehatan mental merupakan aspek yang sangat penting bagi proses tumbuh kembangnya manusia. Pandangan masyarakat mengenai kesehatan mental tidak sepenting kesehatan fisik, padahal fisik dan mental merupakan dua aspek yang berjalan beriringan dan memberikan dampak masing-masing.
Menjaga kesehatan mental berdampak pula pada kesejahteraan dan kebahagiaan manusia. Manusia tidak dapat bahagia ketika mental tidak terjaga dengan baik. Mental harus dibentuk pada saat anak berusia 18 bulan-3 tahun, pada teori Erik-erikson tahap ini disebut dengan Otonomi Vs Rasa Malu.
Tahap ini merupakan awal anak mengembangkan rasa ingin tahu dan mengendalikan kemandiriannya, serta percaya pada kemampuan dirinya sendiri untuk melakukan tindakan dasar dan membuat pilihan sederhana. Kesehatan mental yang tidak diperhatikan dari kecil maka akan berdampak sampai kehidupan selanjutnya. Perkembangan psikologi pada manusia memiliki tahapan pada setiap proses perkembangannya dari bayi hingga dewasa.
Secara umum, perkembangan adalah pola perubahan yang dimulai pada saat konsepsi (pembuahan) dan berlanjut di sepanjang rentang kehidupan. Kebanyakan perkembangan melibatkan pertumbuhan, meskipun perkembangan juga meliputi penurunan (Santrock, 2009).
Masa kanak-kanak merupakan cikal bakal terbentuknya kepribadian manusia yang sesungguhnya, sedangkan masa remaja merupakan fase penting dalam kehidupan karena menjadi periode perkembangan individu. Pada tahap ini, remaja berada dalam masa transisi yang menentukan arah menuju kedewasaan yang sehat.
Baca juga: Macam-Macam Jenis Kepribadian Manusia
Kebahagiaan pada saat masa kanak-kanak dapat dilihat pada lingkungan di rumah. Anak yang memiliki kepribadian yang ceria kemungkinan besar anak tersebut berasal dari lingkungan keluarga yang cemara, namun anak yang mungkin terlihat murung anak tersebut berasal dari lingkungan keluarga yang kurang dalam hal kasih sayang.
Setiap manusia akan mengalami perkembangan jika saat di usia kanak-kanak mereka sangat merasakan kebahagian belum tentu di saat masa remaja dia mampu mempertankan kebahagian tersebut, karena masa remaja merupakan suatu periode terpenting dari rentang kehidupan, suatu periode transisional, masa perubahan, masa usia bermasalah, masa di mana individu mencari identitas diri, usia menyeramkan dan ambang menuju kedewasaan (Krori, 2011).
Secara psikologis, masa remaja merupakan individu yang sudah mampu banyak beriteraksi dan bersosial dengan banyak manusia, usia yang sudah tidak kanak-kanak lagi dan memiliki pola pikir yang abstrak dan memiliki sifat egosentrismre.
Pada masalah emosi, hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar remaja yaitu 92,9 % berada pada kategori normal. Hal ini menunjukkan bahwa remaja memiliki kemampuan dalam mengontrol emosi saat mengalami masalah.
Akan tetapi walaupun berada pada kategori normal, perlu adanya upaya untuk meningkatkan kemampuan remaja dalam mengelola emosi sebagai upaya promotif untuk mencegah munculnya masalah emosional pada remaja yang mengakibatkan remaja berada pada rentang borderline atau bahkan pada kategori abnormal (Aldam et al., 2019).
Gejala gangguan kesehatan mental pada remaja seringkali diabaikan, karena dianggap sebagai perubahan yang normal terjadi di masa pubertas. Padahal, jika tidak ditangani dengan baik sejak dini, gejala-gejala umum ini bisa bertambah parah dan menjadi gejala gangguan kejiwaan yang berat, yang bahkan bisa berujung pada perilaku menyakiti diri atau bunuh diri.
Setiap manusia memiliki strategi atau mekanisme coping (coping mechanism). Coping adalah sebuah proses, merujuk pada usaha kognitif seseorang untuk melakukan penilaian terhadap stimulus negatif, serta merujuk pada perilaku seseorang dalam merespon stimulus negatif tersebut (Mitrousi,Travlos, Kourkia, & Zyga, 2013).
Saat mengalami stress, keadaan tertekan atau emosi yang negatif. Mekanisme coping ini membantu remaja mengatasi ketidaknyamanan dari berbagai perasaan negatif yang dialaminya, agar keseimbangan emosional tetap terjaga dan remaja dapat belajar beradaptasi dengan setiap perubahan yang dihadapinya.
Banyak Kalangan manusia saat ini melakukan self diagnosis pada dirinya sendiri, padahal untuk mengetahui kesehatan mental yang kita alami harus dengan ketentuan dari yang professional. Adanya self diagnosis ini diakibatkan dari rasa malu dan takut terhadap stigma buruk yang akan diterima dari keluarga dan orang-orang lain, membuat remaja memilih untuk mencari informasi sendiri.
Di Indonesia, berdasarkan Data Riskesdas tahun 2007, diketahui bahwa prevalensi gangguan mental emosional seperti gangguan kecemasan dan depresi sebesar 11,6% dari populasi orang dewasa. Berarti dengan jumlah populasi orang dewasa Indonesia lebih kurang 150.000.000 ada 1.740.000 orang saat ini mengalami gangguan mental emosional (Depkes, 2007).
Memasuki usia dewasa, beban tanggung jawab dan tuntunan hidup semakin bertambah. Manusia tidak hanya fokus pada dirinya sendiri tetapi terhadap lingkungan pekerjaan, keluarga, serta ekonomi. Mempunyai mental yang sehat pada saat usia ini merupakan bentuk cinta terhadap diri sendiri, karena hidup tidak selalu tentang orang lain.
Kesehatan mental bukanlah sesuatu yang hanya ditunjukan saat merasa sakit, tetapi selalu harus dijaga sepanjang napas itu masih ada. Kesehatan mental merupakan kebutuhan dasar manusia sepanjang usia. Setiap rentan kehidupan manusia selalu butuh dukungan dalam hal apapun, hidup yang harus penuh dengan kasih sayang mampu membuat manusia menjalankan hari-harinya dengan perasaan yang sangat tenang, dan tidak merasa terbebani.
Self-love selalu membutuhkan kesadaran bahwa kita memiliki nilai. Self-love juga berarti memperlakukan dan menerima diri dengan baik dan apa adanya. Bila self-love diterapkan, kita akan merasa lebih mudah untuk berpikir jernih, termasuk saat marah atau kecewa (Septiana, 2022).
Menjaga kesehatan mental adalah perjalanan panjang yang memerlukan kesadaran, ketulusan, dan cinta terhadap diri sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari, kesehatan mental dapat dijaga dengan mulai mengenal dan menerima diri apa adanya.
Banyak orang merasa lelah bukan karena dunia terlalu keras, melainkan karena mereka terlalu sibuk menjadi seseorang yang bukan dirinya. Setiap manusia memiliki hak untuk merasakan sedih, marah, kecewa, ataupun takut. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana seseorang mampu memahami dan menyalurkan emosinya dengan bijak. Menangis bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kejujuran terhadap perasaan.
Kesehatan mental yang baik tidak hanya berdampak pada kehidupan pribadi, tetapi juga berkontribusi pada perkembangan sosial dan ekonomi masyarakat secara keseluruhan (American Psychiatric Association, 2013).
Menjaga hubungan sosial juga menjadi kunci utama dalam merawat kesehatan mental. Kehangatan dari keluarga, perhatian sahabat, dan empati dari orang- orang di sekitar memberi kekuatan yang tidak bisa dibeli dengan apapun. Hidup akan terasa lebih ringan ketika kita merasa didengar, dimengerti, dan diterima.
Oleh karena itu, penting untuk tetap terhubung dengan orang lain, saling berbagi cerita, dan memberikan waktu untuk orang yang kita sayangi. Pola hidup sehat juga memengaruhi kondisi mental seseorang.
Kesehatan mental juga dapat terjaga ketika seseorang mampu menetapkan batas bagi dirinya. Tidak semua hal harus diterima, dan tidak semua orang harus disenangkan. Belajar berkata tidak kepada hal-hal yang melelahkan jiwa adalah bentuk cinta terhadap diri sendiri.
Dengan menjaga batas antara kebutuhan pribadi dan tuntutan orang lain, seseorang dapat tetap tenang tanpa kehilangan jati dirinya. Selain itu, bersyukur atas hal-hal kecil dalam hidup menjadi obat yang luar biasa bagi kesehatan mental.
Ketika seseorang belajar menghargai hal sederhana—seperti udara yang dihirup, tawa keluarga, atau keberhasilan kecil yang sering terlewat—maka hatinya akan terisi dengan rasa cukup. Hidup yang disyukuri akan terasa lebih indah, meski tidak selalu sempurna.
Akhirnya, menjaga kesehatan mental berarti belajar hidup dengan kesadaran penuh. Berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, menarik napas dalam-dalam, dan benar-benar hadir di saat ini. Dengan hidup penuh kesadaran, seseorang dapat merasakan setiap detik kehidupan dengan lebih jernih dan damai.
Menjaga kesehatan mental bukanlah tugas yang mudah, namun ia adalah bentuk tanggung jawab tertinggi kepada diri sendiri. Jiwa yang tenang tidak selalu datang dari hidup tanpa masalah, melainkan dari hati yang mampu menerima dan bertumbuh dari setiap luka. Karena sejatinya, hidup yang bahagia bukan berarti hidup tanpa kesedihan, tetapi hidup yang terus berusaha menemukan cahaya meski dalam gelap.
Penulis: Nazwa Arinby Ramadhini
Mahasiswa Psikologi, Universitas Jambi
Dosen Pengampu:
- Agung Iranda, S.Psi., M.A.
- Annisa Dianesti Dewi, S.Psi., M.Psi.
- Dr. Nofrans Eka Saputra, S.Psi., M.A.
- Azkya Milfa Laensadi, S.Psi., M.Si. Ayu Ulivia, M.Pd.
Referensi
Santrock, J. W. (2019). Life-Span Development (Perkembangan Masa Hidup). Jakarta: Penerbit Erlangga.
Aldam, S. F. S., Keliat, B. A., Wardani, I. Y., Sulistiowati, N. M. D., & Florensa, M. V. A. (2019). Risk factors of mental health in adolescents: Emotional, behavioral, family, and peer relationship problems. Comprehensive Child and Adolescent Nursing, 42 (1) 284–290.
Sari, S. Y. (2017). Tinjauan perkembangan psikologi manusia pada usia kanak-kanak dan remaja.
Primary Education Journal (PEJ), 1(1), 46–50.
Tyas, D. M., Pertiwi, A., & Nisa, V. Z. (2023). Sosialisasi peningkatan pemahaman kesehatan mental pada remaja. Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa, 1(10), 2578–2585.
Idzni Azzura, A. (2023). Perancangan Buku Panduan Mencintai Diri Sendiri Sebagai Media Edukasi Bagi Remaja Putri (Doctoral dissertation, Institut Seni Indonesia Yogyakarta).
Sari, K. (2012). Kesehatan mental. Lembaga Pengembangan dan Penjaminan Mutu Pendidikan Universitas Diponegoro.
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












