Profesi Mulia dengan Beban Berat: Mengapa Dokter Hewan Rentan terhadap Masalah Mental?

Dokter Hewan
Profesi Dokter Hewan (Sumber: Media Sosial dari freepik.com)

Dokter hewan adalah salah satu profesi dengan tanggung jawab besar dalam menjaga kesehatan dan kesejahteraan hewan. Dokter hewan dituntut untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan klinis yang memadai, sekaligus menjunjung tinggi prinsip etika dalam interaksi antara manusia dan hewan.

Selain itu, mereka juga diharapkan memiliki empati yang tinggi untuk memahami kondisi pasien dan merangkul perasaan pemiliknya.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Banyaknya tuntutan profesional yang dihadapi, sering kali membuat kondisi kesehatan mental dokter hewan terabaikan. Kesehatan mental dalam profesi dokter hewan sangat penting untuk diperhatikan karena mereka sering menghadapi tekanan emosional yang berat.

Berbagai studi menunjukkan bahwa dokter hewan memiliki risiko tinggi mengalami stres berkepanjangan, burnout, bahkan sampai terkena gangguan mental serius, seperti depresi dan gangguan kecemasan. Kesehatan mental yang terjaga memiliki peran penting dan berpengaruh langsung pada kualitas pelayanan yang diberikan kepada hewan dan pemiliknya.

Oleh karena itu, artikel ini akan mengupas tuntas berbagai faktor yang mempengaruhi kesehatan mental dokter hewan, serta mengungkapkan solusi-solusi praktis untuk tetap menjaga keberlanjutan profesi dan kualitas hidup mereka.

 

Krisis Penghargaan: Apakah Profesi Dokter Hewan dihargai secara Layak?

Menjadi dokter hewan merupakan impian banyak orang, terutama bagi mereka yang mencintai hewan. Profesi ini memungkinkan seseorang untuk bekerja sambil berinteraksi langsung dengan hewan-hewan kesayangan, seperti anjing dan kucing.

Selain itu, dokter hewan juga merupakan profesi yang mulia karena peran pentingnya dalam menyelamatkan nyawa hewan. Tanpa kehadiran dokter hewan, hewan peliharaan kita mungkin tidak akan mendapatkan perawatan yang layak, keamanan pangan kita tidak terjamin, dan kesehatan manusia pun berisiko terkena penyakit zoonosis.

Meskipun profesi dokter hewan kerap dianggap bergengsi dan banyak diminati, apakah benar mereka yang menekuni profesi ini merasa puas dan bahagia terhadap profesinya? Data terbaru mengungkapkan realita yang cukup mengejutkan di balik layar kehidupan para dokter hewan.

Berdasarkan laporan Australian Associated Press pada peringatan Hari Dokter Hewan Dunia yang bertema World Veterinary Day pada 27 April 2024, salah satu perusahaan farmasi di Jerman, Boehringer Ingelheim, merilis hasil survei yang melibatkan 1.056 dokter hewan dari berbagai negara, seperti Amerika Serikat, Jepang, Inggris, Prancis, Brasil, dan Jerman.

Survei ini bertujuan untuk menggali seberapa besar rasa penghargaan yang dirasakan oleh dokter hewan dari pemilik hewan terhadap profesi mereka. Hasilnya menunjukkan bahwa hanya 49% dari 1.056 dokter hewan yang merasa profesi mereka dihargai secara umum.

Selain itu, sebuah penelitian lain yang membahas kondisi kesehatan mental dokter hewan juga dilaporkan melalui artikel yang diunggah oleh website resmi Royal Canin. Artikel tersebut menyebutkan tingkat kesejahteraan kerja para dokter hewan di Amerika Serikat.

Dari survei yang dilakukan di dua kongres dokter hewan, ditemukan bahwa 35% dokter hewan di Amerika Serikat memiliki kepuasan kerja yang rendah, 59% mengalami stres traumatik yang cukup parah, dan 70% dokter hewan mengalami burnout dalam 12 bulan terakhir.

Menariknya, masalah burnout ini lebih sering terjadi di klinik besar, seperti klinik korporasi (80%) dan institusi pendidikan, seperti universitas (83%), dibandingkan dengan klinik kecil atau mandiri (61%). Penyebab utamanya? Beban kerja yang berat dan upah yang tidak sebanding dengan tanggung jawab mereka.

 

Compassion Fatigue dan Burnout: Musuh dalam Selimut bagi Dokter Hewan

Compassion fatigue (kelelahan empati) dan burnout (kelelahan mental) adalah masalah yang sering dialami oleh dokter hewan. Setiap hari, dokter hewan harus menghadapi penderitaan yang dialami pasien serta ekspektasi tinggi dari para pemiliknya, sehingga meningkatkan risiko kelelahan yang dapat mempengaruhi kinerja maupun kesejahteraan mereka.

Beberapa faktor utama yang menyebabkan Compassion fatigue dan burnout pada dokter hewan meliputi:

1. Beban kerja yang berlebihan

Terlalu banyak pasien, jam kerja yang panjang, tugas yang harus diselesaikan dalam waktu yang terbatas, dan sering bekerja di bawah tekanan membuat dokter hewan cepat merasa kelelahan secara fisik dan mental.

2. Bertanggung jawab atas euthanasia

Euthanasia adalah tindakan mengakhiri hidup pasien secara sengaja untuk meringankan penderitaannya. Hal ini bisa menjadi pengalaman emosional yang sangat menantang dan membebani dokter hewan karena terus-menerus merasakan penderitaan pasien yang mereka rawat.

Kondisi ini bisa terjadi ketika dokter hewan terlalu banyak berfokus pada perasaan empati mereka terhadap pasien dan pemiliknya, sehingga mereka mudah merasa kehabisan energi untuk merawat diri mereka sendiri.

3. Keluhan dari pemilik hewan

Komunikasi yang tidak memadai atau harapan yang kurang realistis dari pemilik hewan dapat menyebabkan frustasi dan tekanan emosional bagi dokter hewan.

4. Lingkungan kerja yang tidak sehat

Kondisi lingkungan kerja yang tidak kondusif, baik itu berupa kurangnya dukungan dari rekan kerja dan masalah internal, juga dapat memperburuk kesehatan mental dokter hewan.

5. Kurangnya apresiasi kerja

Kurangnya apresiasi kerja dan dukungan dari pihak-pihak seperti rekan kerja, pemilik hewan, atau pemerintah dapat menurunkan motivasi dokter hewan dalam menjalankan profesinya. Hal ini akhirnya berdampak pada kinerja mereka dan mempengaruhi kesejahteraan secara keseluruhan.

Hasil wawancara yang saya lakukan di salah satu Klinik Hewan di Surabaya Timur, Pet’s Choice, juga mendukung hal ini. Dalam wawancara dengan Drh. Perina Theresia Sumaco, beliau menyatakan bahwa lingkungan kerja yang tidak sehat seperti terdapat konflik antar rekan kerja, jam kerja yang panjang, serta beban kerja yang melebihi kapasitas merupakan pemicu utama stres dan burnout.

Minimnya apresiasi, baik secara material maupun non-material, juga memperparah kondisi ini. Namun, Drh. Perina juga menekankan pentingnya menciptakan lingkungan kerja yang sehat, seperti manajemen konflik yang baik, jadwal kerja yang teratur, serta adanya penghargaan atas dedikasi dan kerja keras dokter hewan.

Melalui observasi dan wawancara ini, terlihat bahwa peran lingkungan kerja yang sehat sangat krusial dalam menjaga kesejahteraan mental dokter hewan.

Dengan mengelola faktor-faktor penyebab burnout serta meningkatkan apresiasi terhadap peran mereka, dokter hewan dapat lebih semangat dan produktif dalam menjalani profesinya. Edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya peran dokter hewan juga diperlukan agar mereka lebih memahami kontribusi besar profesi ini.

 

Solusi Praktis: Menjaga Keseimbangan Kesehatan Mental Dokter Hewan

Mengingat beratnya tantangan yang dihadapi dokter hewan, sangat penting untuk segera menemukan solusi agar mereka bisa terus memberikan perawatan terbaik tanpa harus mengorbankan kesejahteraan mental. Dengan langkah yang tepat, kita bisa membantu mereka tetap menjalani profesinya dengan semangat dan optimal.

Berikut merupakan solusi-solusi yang dapat diterapkan:

1. Menciptakan Tempat Kerja yang Sehat

Kesesuaian dengan misi, nilai, dan budaya tempat kerja adalah faktor penting yang mempengaruhi kenyamanan dan kepuasan dalam bekerja. Ketika semua anggota merasa terhubung dengan tujuan bersama, mereka akan merasa dihargai.

Hal ini akan meningkatkan kinerja, kualitas hidup di tempat kerja, dan mengurangi risiko stres. Tempat kerja yang sehat tidak hanya mendukung kesejahteraan pribadi, tetapi juga menciptakan suasana kerja yang lebih baik dan produktif.

2. Komunikasi di Tempat Kerja

Menjalin komunikasi yang baik antar rekan kerja sangat penting untuk menciptakan lingkungan kerja yang saling mendukung dan terinformasi. Ketika komunikasi terhambat, hal itu dapat menyebabkan ketidakharmonisan, hilangnya kepercayaan, peningkatan stres, dan pada akhirnya berisiko menimbulkan burnout.

Rekan di tempat kerja, yang dapat saling mendukung satu sama lain dalam menciptakan lingkungan kerja yang harmonis. Kolaborasi yang baik antar rekan kerja juga dapat mengurangi stres dan menciptakan suasana yang lebih positif.

3. Menyediakan Layanan Konsultasi Kesehatan Mental di Klinik Hewan

Klinik hewan sebaiknya bekerja sama dengan psikolog dan menyediakan layanan konsultasi kesehatan mental profesional. Tujuannya adalah untuk memberikan dukungan emosional dan membantu dalam mengelola stres serta tantangan yang mereka hadapi.

Dengan adanya layanan ini, para dokter hewan dan staf klinik dapat merasa lebih diperhatikan, meningkatkan kesejahteraan mereka, dan tetap semangat dalam menjalani tugas sehari-hari.

Dokter hewan memainkan peran yang sangat penting dalam menjaga kesehatan hewan dan mencegah penyebaran penyakit, namun mereka juga menghadapi tantangan besar yang bisa berdampak pada kesehatan mental mereka. Melihat pentingnya profesi ini, kita semua memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan kerja yang mendukung, memberikan dukungan yang cukup, dan menghargai kerja keras mereka.

Dengan menerapkan solusi seperti memilih tempat kerja yang sehat, membangun komunikasi yang baik, dan menyediakan fasilitas konsultasi kesehatan mental, kita bisa membantu para dokter hewan agar tetap menjalankan tugas mereka dengan semangat dan tanpa mengorbankan kesejahteraan mental.

Mari kita dukung para dokter hewan untuk terus memberikan perawatan terbaik bagi hewan peliharaan kita dan menjaga kesehatan mereka tetap terjaga. Dengan dukungan dan perhatian yang tepat, kita bisa memastikan mereka terus berfungsi dengan optimal dan penuh kebahagiaan dalam profesinya.

 

Harapan Mahasiswa Kedokteran Hewan: Masa Depan Dokter Hewan yang Lebih Baik

Sebagai mahasiswa Kedokteran Hewan di Universitas Airlangga, saya percaya bahwa kesehatan mental dokter hewan adalah fondasi penting untuk keberhasilan profesi ini.

Dalam menjalani peran yang penuh empati, kami sering dihadapkan pada situasi emosional yang tidak mudah. Namun, saya optimis bahwa dengan dukungan yang tepat, kami bisa mengatasi tantangan ini dan terus memberikan yang terbaik bagi pasien dan pemiliknya.

Membayangkan masa depan, saya berharap tempat kerja kami nanti tidak hanya menjadi ruang kerja, tetapi juga lingkungan yang mendukung. Komunikasi yang terbuka, fasilitas konseling, dan budaya yang peduli pada kesehatan mental bisa menjadi langkah kecil dengan dampak besar.

Kami tahu jalan ini penuh tantangan, tetapi keyakinan untuk bisa menjadi dokter hewan yang tangguh, sehat, dan berdedikasi tetap kuat. Dengan perubahan positif di tempat kerja, saya yakin masa depan profesi ini akan lebih cerah bukan hanya untuk kami, tetapi juga untuk semua makhluk yang kami rawat dengan sepenuh hati.

 

Penulis: Khairunnisa Faradina Elnoor
Mahasiswa Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga

 

Referensi

GlobeNewswire. (2024, April 25). Less than half of veterinary professionals feel their profession is appreciated. GlobeNewswire. https://www.aap.com.au/aapreleases/globenewswire1000946829/

Maessen, G. C., & Theunisse, L. T. (2023, July 11). A survey on workload and wellbeing. Royal Canin. https://vetfocus.royalcanin.com/en/practice-management/a-survey-on-workload-and-wellbeing

Rueckert, P. (n.d.). How to prevent veterinarian burnout and compassion fatigue among staff. Weave. https://www.getweave.com/preventing-veterinarian-burnout/

Drake, M. (2024, October 29). What is the real solution to fatigue and burnout in the veterinary industry? DVM360. https://www.dvm360.com/view/what-is-the-real-solution-to-fatigue-and-burnout-in-the-veterinary-industry-

(2024). Vet mental health. Animal Emergency Australia. https://animalemergencyaustralia.com.au/blog/vet-mental-health/#:~:text=By%20connecting%20with%20others%20who,when%20they%20need%20it%20most

 

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses