Tahukah kamu, mayoritas pelajar Indonesia masih mengalami kesenjangan pemahaman literasi keuangan? Survei OJK 2025 mencatat literasi keuangan remaja usia 15–17 tahun hanya sekitar 51,86%, menjadikannya yang terendah di antara kelompok usia lain.
Padahal, lebih dari setengah investor pasar modal nasional saat ini berasal dari generasi muda di bawah 30 tahun. Ironisnya, uang jajan Rp10.000 yang sering dianggap sepele sebenarnya bisa menjadi pintu masuk menuju kebebasan finansial jika dikelola dengan strategi dan edukasi yang tepat.
Tantangan dan Perilaku Konsumtif Pelajar
Perilaku konsumtif pelajar dan mahasiswa bukan sekadar mitos. Banyak dari kita terbiasa menghabiskan uang jajan untuk kebutuhan instan tanpa memikirkan dampak jangka panjang terhadap kondisi keuangan. Kurangnya akses dan minat pada edukasi keuangan memperbesar risiko financial ignorance, terutama di tengah gencarnya promo aplikasi dan tren konsumsi digital yang serba cepat.
Data KSEI 2025 menunjukkan terdapat lebih dari 19 juta investor pasar modal Indonesia, dan sekitar 54% di antaranya berusia di bawah 30 tahun. Namun peningkatan jumlah investor muda ini sering tidak diimbangi dengan pemahaman yang memadai tentang risiko, perencanaan keuangan, dan budaya investasi yang sehat.
Menurut penulis, inilah tantangan penting yang sering diabaikan. Investasi bukan sekadar memindahkan uang ke “tabungan digital” atau mengikuti tren penggunaan aplikasi keuangan. Lebih dari itu, investasi menuntut kedisiplinan, kemampuan analisis, serta pemahaman nyata terhadap risiko.
Tanpa bekal pengetahuan yang cukup, banyak pelajar berpotensi terjebak pada investasi impulsif, ikut-ikutan tren tanpa mengenali profil risiko, bahkan rentan terpapar hoaks dan penipuan keuangan di ruang digital.
Membedakan Menabung dan Berinvestasi
Ada perbedaan mendasar antara menabung dan berinvestasi. Menabung berarti menyimpan uang dalam bentuk relatif tetap, biasanya dengan pertumbuhan yang rendah dan cenderung tidak signifikan. Sementara itu, investasi bertujuan mengembangkan aset dengan potensi imbal hasil lebih tinggi serta manfaat efek bunga majemuk (compounding), meskipun selalu disertai risiko penurunan nilai.
Bayangkan seorang pelajar yang menyisihkan Rp10.000 per minggu ke produk reksa dana yang legal dan berizin, dengan asumsi rata-rata imbal hasil 7% per tahun. Dalam beberapa tahun, nilai investasinya berpotensi melampaui hasil menabung di celengan biasa atau saldo yang hanya mengendap di rekening.
Yang paling penting adalah perubahan pola pikir: keputusan keuangan tidak lagi diambil hanya karena tren atau ajakan teman, tetapi berdasarkan pengetahuan, perhitungan, dan tujuan jangka panjang.
Belajar dari Praktik Negara Lain
Pengalaman sejumlah negara menunjukkan bahwa edukasi finansial sejak di bangku sekolah dapat meningkatkan literasi keuangan generasi muda secara signifikan.
Di Jepang, edukasi finansial telah masuk ke dalam kurikulum nasional sejak 2022 melalui berbagai inisiatif, seperti J-FLEC, program Kids Money Station, dan kegiatan “Hands-on Finance and Securities” yang digerakkan oleh Japan Securities Dealers Association (JSDA). Program-program ini membantu pelajar memahami konsep uang, tabungan, investasi, dan risiko melalui pendekatan praktis dan interaktif.
Di Korea Selatan, literasi keuangan pelajar diperkuat melalui Korean Council for Investor Education (KCIE) dan integrasi materi finansial dalam kurikulum sosial-ekonomi di sekolah menengah. Berbagai program tersebut mendorong siswa untuk mengenal produk keuangan, memahami perencanaan keuangan pribadi, dan bersikap kritis terhadap tawaran investasi.
Jika dibandingkan, Indonesia masih tertinggal dalam penerapan kurikulum literasi keuangan yang menyeluruh, sehingga penting untuk mengadopsi dan menyesuaikan konsep edukasi yang telah terbukti efektif di negara lain.
Opini Kritis Penulis dan Gagasan InvestSiswa
Penulis meyakini bahwa investasi sejak masa pelajar merupakan investasi bagi masa depan, tidak hanya untuk keuangan pribadi, tetapi juga bagi daya saing bangsa di era digital. Kebiasaan mengelola uang, memahami risiko, dan merencanakan tujuan keuangan sejak dini akan membentuk generasi muda yang lebih rasional dan mandiri. Namun ada dua isu utama yang perlu dikritisi.
Pertama, edukasi investasi seharusnya menonjolkan pemahaman risiko, bukan sekadar slogan “ayo investasi” atau promosi keuntungan. Pelajar perlu memahami potensi kerugian, konsep risiko–imbal hasil, matematika dasar investasi, serta cara membedakan sumber informasi yang valid dan penipuan berkedok investasi. Dengan begitu, mereka tidak mudah terseret euforia sesaat atau janji keuntungan instan.
Kedua, pemerintah, sekolah, dan pengembang aplikasi perlu berkolaborasi menyediakan konten edukasi yang mudah diakses, simulasi risiko yang realistis, dan perlindungan yang memadai bagi investor muda.
Fasilitas teknologi jangan hanya berfokus pada kemudahan transaksi, tetapi juga pada pembentukan karakter keuangan yang bertanggung jawab. Tanpa ekosistem yang mendukung, pelajar akan kesulitan membedakan mana aplikasi yang edukatif dan mana yang hanya mendorong spekulasi.
Sebagai pelajar sekaligus calon inovator, penulis membayangkan hadirnya aplikasi InvestSiswa: sebuah platform investasi berbasis edukasi interaktif khusus untuk pelajar. Aplikasi ini dapat menggabungkan fitur gamifikasi, materi literasi keuangan, simulasi risiko, dan pemantauan progres investasi secara sederhana.
Dengan modal minimal Rp10.000 per minggu dan panduan yang terstruktur, pelajar dapat belajar berinvestasi secara aman, memahami risiko dan potensi, serta menumbuhkan budaya literasi keuangan di lingkungan sekolah dan komunitas.

Solusi Praktis dan Ajakan Konkret
Langkah awal tidak harus rumit atau mahal. Pelajar dapat mulai berinvestasi dengan nominal kecil, misalnya Rp10.000, melalui platform resmi yang berizin OJK, seperti aplikasi reksa dana atau investasi pasar modal yang legal, serta ke depannya melalui inovasi seperti InvestSiswa jika terwujud.
Kuncinya bukan sekadar memilih aplikasi, tetapi membangun kebiasaan: belajar, mengevaluasi, dan konsisten menyisihkan sebagian uang jajan untuk tujuan masa depan.
Masa depan cerah tidak hanya ditentukan oleh besarnya modal awal, melainkan oleh keberanian memulai, kedisiplinan dalam mengelola keuangan, dan pola pikir kritis dalam mengambil keputusan. Jadikan investasi sebagai rutinitas cerdas, jadikan inovasi dan edukasi sebagai budaya, dan biarkan satu langkah kecil hari ini berkembang menjadi aset berharga di masa depan bagi pelajar Indonesia.
Referensi Fakta
- Otoritas Jasa Keuangan (OJK). 2025. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan Indonesia 2025.
- Otoritas Jasa Keuangan (OJK). 2021. Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia 2021–2025.
- Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). 2025. Statistik Pasar Modal Indonesia (data investor muda dan jumlah SID).
- Japan Financial Literacy and Education Corporation (J-FLEC). Overview of the J-FLEC dan program edukasi keuangan anak.
- Artikel populer tentang perilaku keuangan remaja dan risiko keuangan digital di media Indonesia (misalnya Medcom, Media Indonesia, SWA).
Tentang Penulis

Dwi Ratna adalah mahasiswa S1 Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, dengan ketertarikan pada literasi keuangan, inovasi digital, dan pengembangan ekonomi generasi muda. Melalui tulisan dan kegiatan akademik, Dwi berupaya menumbuhkan kesadaran pentingnya mengelola uang sejak dini.
Baginya, pendidikan finansial tidak selalu dimulai dari modal besar, tetapi dari kebiasaan kecil yang konsisten, seperti mengubah uang jajan menjadi aset masa depan.
Penulis: Dwi Ratna (143251017)
Mahasiswa S1 Akuntansi, Universitas Airlangga
Aktif juga sebagai:
- Ketua dan Jurnalistik Redaksi Majalah INCREABLE SMAN 1 Gedangan Periode 2023-2024
- Koordinator Divisi Kaderisasi Organisasi Sie Kerohanian Islam SMAN 1 Gedangan Periode 2023-2024
- Sekretaris Karang Taruna RT.01/RW.02 Desa Gedangan, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur Periode 2021-2025
- Magang Sekretaris Kabinet Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Airlangga Periode September-November 2025.
Dosen Pengampu: Ervan Kus Indarto, S.IP., M.IP.
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












