Edible Insect sebagai Sumber Pangan Potensial di Masa Depan

Edible Insect
Ilustrasi Edible Insect (Sumber: MMI)

Ketahanan pangan merupakan tantangan global yang merupakan akibat dari perubahan iklim dan pertumbuhan populasi manusia. Berdasarkan data dari Food and Agriculture Organization (FAO) tahun 2009 diperkirakan bahwa populasi global akan mencapai sekitar 10 miliar pada tahun 2050 dan permintaan pangan akan meningkat sebesar 70%.

Sumber pangan alternatif menjadi salah satu solusi permasalahan terhadap kenaikan permintaan pangan seiring pertumbuhan populasi manusia di masa yang akan datang, Penemuan sumber protein baru sebagai alternatif telah menjadi fokus penelitian saat ini (Zhao et al. 2016).

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Serangga yang dapat dimakan (edible insect) memiliki kualitas gizi yang tinggi dan secara umum protein merupakan salah satu komponen utamanya (Santiago et al. 2024). Edible insect menjadi sumber protein alternatif setelah sebelumnya telah dikembangkan sumber protein berbasis tumbuhan (plant-based).

Penggunaan plant-based protein memiliki berbagai keterbatasan diantaranya keberadaan faktor anti-nutrisi, ketidakseimbangan asam amino, dan kandungan polisakarida non-pati (non-starch polysaccharide). Dengan keberadaanya yang lebih dari 1.900 spesies di seluruh dunia, serangga menjadi alternatif protein yang menjanjikan (Liang et al. 2024).

Serangga mengandung berbagai asam amino, seperti metionin, sistein, lisin, dan treonin. Serangga yang dapat dimakan (edible insect) merupakan serangga yang jika dikonsumsi secara rutin atau sesekali tidak memberikan efek buruk pada kesehatan sepanjang serangga tersebut dimasukkan dalam pola makan yang seimbang (Van Itterbeeck dan Pelozuelo 2022).

Kandungan asam amino esensial pada edible insect berkisar antara 10%-30%, sementara kandungan asam amino secara keseluruhan berkisar antara 35%-50%. Edible insect mengandung hingga 20% gula dan asam lemak serta diyakini sebagai sumber yang baik untuk karoten dan vitamin, seperti B1, B2, B6, D, E, K, dan C. Analisis unsur mineral menunjukkan bahwa edible insect merupakan sumber yang kaya akan fosfor, kalsium, mangan, tembaga, zinc, natrium, kalium, dan zat besi (Gumul et al. 2023).

Baca juga: Misi Makan di Antariksa: Teknologi Pangan di Luar Angkasa

Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian juga telah diberikan pada potensi edible insect yang tidak hanya sebagai sumber nutrisi, tetapi juga sebagai senyawa bioaktif, termasuk senyawa fenolik, tokoferol, dan fitosterol. Namun, penelitian tentang kandungan senyawa bioaktif, terutama senyawa fenolik masih terbatas.

Senyawa fenolik merupakan metabolit sekunder tumbuhan yang ditandai dengan adanya satu atau lebih cincin aromatik yang memiliki setidaknya satu kelompok hidroksil yang terikat pada struktur aromatik. Penelitian yang luas menunjukkan bahwa senyawa fenolik memiliki beberapa aktivitas bioaktif, termasuk aktivitas antioksidan, antiinflamasi, antimikroba, dan antikanker (Gumul et al. 2023).

Senyawa fenolik diserap ke dalam edible insect melalui proses yang disebut sclerotisasi, di mana epidermis serangga mengeras akibat serangkaian reaksi enzimatik yang mengintegrasikan polifenol tumbuhan dari diet serangga ke dalam epidermis induk, termasuk protein struktural dan kitin (Nino et al. 2021).

Hasil studi Cheseto et al. (2015) menunjukkan bahwa belalang gurun (Schistocerca gregaria) mengonsumsi fitosterol melalui diet berbasis tumbuhan, dan mengamplifikasi serta memetabolisme fitosterol tersebut menjadi derivat baru yang berpotensi memberikan manfaat kesehatan bagi manusia.

Fitosterol merupakan fraksi dari lipid yang tidak dapat dihidrolisis dan ditemukan dalam bentuk bebas atau sebagai ester asam lemak. Fitosterol dapat menurunkan kadar kolesterol darah dengan menghambat penyerapan kolesterol, mengatur fungsi endotel, serta menunjukkan efek antioksidan, anti-inflamasi, anti-kanker, dan regulasi sistem kekebalan tubuh (Cheseto et al. 2015).

Saat ini, Indonesia masih menghadapi kesenjangan konsumsi protein hewani yang tercatat hanya mencapai 8% dari total konsumsi pangan. Rendahnya konsumsi protein hewani tersebut dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan seperti stunting, anemia, dan juga wasting (Setyawati dan Magfirah 2024).

Berbagai serangga pangan yang ada di Indonesia antara lain jangkrik (Brachytrupes portentosus Lichtenstein), belalang (Valanga nigricornis Burmeister dan Patanga succincta L.), capung (Pantala flavescent F.), kumbang penggerek palem merah (Rhynchophorus ferrugineus F., Chalynchophorus F. Chalcosoma atlas L.), dan lebah (Xylocopa latipes Drury) banyak dikonsumsi oleh masyarakat pedesaan di Jawa (khususnya Jawa Timur dan Jawa Tengah) hingga Sumatra dan Kalimantan, sedangkan larva serangga yang dikonsumsi oleh masyarakat Papua adalah larva sagu (Rhynochoporus bilineatus) (Köhler et al. 2020; Paulin et al. 2020; Setyawati dan Magfirah 2024).

Serangga tersebut memiliki berbagai kandungan yang bermanfaat bagi tubuh misalnya belalang (Valanga nigricornis Burmeister) yang telah diolah menjadi tepung dilaporkan mengandung 407,34 kkal/100 g, karbohidrat 9,62%, total protein 76,69%, total lemak 6,9%, zat besi (Fe) 3,2 mg/100 g berat kering, dan kalsium (Ca) 31,2 mg/100 g berat kering (Kuntadi et al. 2018).

Selain itu, ulat sagu (Rhynochoporus bilineatus) dalam keadaan larva segar dilaporkan mengandung total protein 10,39%, total lemak 17,17%, vitamin E 51,44μg/g minyak, kalsium (Ca) 14,93 mg/100 g berat kering, zat besi (Fe) 0,77 mg/100 g berat kering, kalium (K) 204,6 mg/100 g berat kering, natrium (Na) 16,59 mg/100 g berat kering, dan zinc (Zn) 2,8 mg/100 g berat kering dan juga dilaporkan bahwa ulat sagu mengandung sembilan asam amino esensial lengkap (Köhler et al. 2020).

Kandungan nutrisi serangga dan persentasenya bervariasi tergantung pada spesies, tingkat perkembangan individu, jenis kelamin, jenis makanan, iklim, dan lokasi geografis (Setyawati dan Magfirah 2024).

Secara umum serangga mempunyai nilai gizi yang cukup untuk dijadikan sebagai sumber bahan pangan ditinjau dari kandungan protein, lemak, karbohidrat dan potensi energinya (Kuntadi et al. 2018). Meski demikian, faktor risiko endogen dan eksogen dari edible insect perlu diwaspadai.

Faktor risiko endogen terdiri dari zat antinutrien dan alergen. Faktor eksogen yang pernah terjadi misalnya kasus botulisme, parasitosis, dan keracunan pangan (foodborne illness). Hal ini menjadi perhatian khusus mengingat pentingnya keamanan pangan dan dekontaminasi serangga.

Selain itu, beberapa serangga dapat menyerap racun dan/atau mensintesis racun sebagai mekanisme pertahanan kimiawi terhadap insektivora. Konsumsi serangga dari jenis ini dapat menyebabkan mual, muntah, gangguan penglihatan, atau lebih buruk lagi.

Dari aspek mikrobiologi, bakteri pembentuk spora pada serangga mempunyai kemampuan untuk bertahan hidup dalam proses termal (misalnya perebusan) dan menjadi salah satu permasalahan entomofagi (Setyawati dan Magfirah 2024).

Orang yang alergi terhadap krustasea dan tungau juga mengalami reaksi alergi terhadap bahan pangan yang mengandung larva ulat bambu atau jangkrik (Jantzen da Silva Lucas et al. 2020).

 

Penulis: Hisyam Dany Al Daffa’ (F2501242101)
Mahasiswa Magister Ilmu Pangan, IPB University

 

Referensi

Kuntadi K, Adalina Y, Maharani KE. 2018. Nutritional Compositions of Six Edible Insects In Java. Indonesian Journal of Forestry Research. 5(1):57–68. doi:10.59465/IJFR.2018.5.1.57-68.

Cheseto X, Kuate SP, Tchouassi DP, Ndung’u M, Teal PEA, Torto B. 2015. Potential of the Desert Locust Schistocerca gregaria (Orthoptera: Acrididae) as an Unconventional Source of Dietary and Therapeutic Sterols. PLoS One. 10(5):e0127171. doi:10.1371/JOURNAL.PONE.0127171.

Gumul D, Oracz J, Kowalski S, Mikulec A, Skotnicka M, Karwowska K, Areczuk A. 2023. Bioactive Compounds and Antioxidant Composition of Nut Bars with Addition of Various Edible Insect Flours. Molecules. 28(8):3556. doi:10.3390/MOLECULES28083556/S1.

Van Itterbeeck J, Pelozuelo L. 2022. How Many Edible Insect Species Are There? A Not So Simple Question. Diversity (Basel). 14(2):143. doi:10.3390/D14020143/S1.

Jantzen da Silva Lucas A, Menegon de Oliveira L, da Rocha M, Prentice C. 2020. Edible insects: An alternative of nutritional, functional and bioactive compounds. Food Chem. 311:126022. doi:10.1016/J.FOODCHEM.2019.126022.

Köhler R, Irias-Mata A, Ramandey E, Purwestri R, Biesalski HK. 2020. Nutrient composition of the Indonesian sago grub (Rhynchophorus bilineatus). International Journal of Tropical Insect Science. 40(3):677–686. doi:10.1007/S42690-020-00120-Z.

Liang Z, Zhu Y, Leonard W, Fang Z. 2024. Recent advances in edible insect processing technologies. Food Research International. 182:114137. doi:10.1016/J.FOODRES.2024.114137.

Nino MC, Reddivari L, Osorio C, Kaplan I, Liceaga AM. 2021. Insects as a source of phenolic compounds and potential health benefits. J Insects Food Feed. 7(7):1077–1088. doi:10.3920/JIFF2020.0113.

Paulin IG, Goretti M, Purwanto M. 2020. Nutritional Characteristics of Teak Grasshopper (Valanga nigricornis Burmeister), Cricket (Brachytrupes portentosus L.), and Mealworm (Tenebrio molitor) as Alternative Food Sources in Indonesia. Indonesian Journal of Biotechnology and Biodiversity. 4(1):52–61. doi:10.47007/IJOBB.V4I1.62.

Santiago LA, Queiroz LS, Tavares GM, Feyissa AH, Silva NF, Casanova F. 2024. Edible insect proteins: how can they be a driver for food innovation? Curr Opin Food Sci. 58:101195. doi:10.1016/J.COFS.2024.101195.

Setyawati AR, Magfirah A. 2024. Potensi Serangga Sebagai Pangan Fungsional Untuk Peningkatan Kesehatan dan Ketahanan Pangan di Indonesia: Literature Review. Journal of Nutrition College. 13(4):347–358. doi:10.14710/JNC.V13I4.42107.

Zhao X, Vázquez-Gutiérrez JL, Johansson DP, Landberg R, Langton M. 2016. Yellow Mealworm Protein for Food Purposes – Extraction and Functional Properties. PLoS One. 11(2):e0147791. doi:10.1371/JOURNAL.PONE.0147791.

 

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses