Real or Online? Gen Z dan Cara Menunjukkan Emosi

Gen Z dan Cara Menunjukkan Emosi
Contoh mengungkapkan emosi melalui media sosial. sumber: dokumentasi pribadi.

Media sosial kini menjadi salah satu ruang utama bagi generasi Z dalam mengekspresikan diri, termasuk dalam menyalurkan berbagai bentuk emosi yang mereka rasakan.

Saat merasa senang, bangga, antusias, kecewa, sedih, maupun marah, mereka cenderung mengungkapkannya ke platform digital seperti Instagram, X, hingga TikTok, Facebook, dan lain-lain.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Ketika sedang berbahagia, mereka membagikan momen spesial melalui unggahan yang penuh euforia. Saat merasa terinspirasi, mereka membagikan kutipan atau pemikiran yang menyemangati.

Namun di sisi lain, saat sedang terluka, kecewa, atau merasa tidak dipahami, ekspresi emosi juga muncul melalui story yang menyentil, cuitan galau, hingga video dengan nuansa melankolis.

Menariknya, banyak dari ekspresi ini disampaikan secara tidak langsung. Unggahan mereka sering kali bersifat implisit, seolah ditujukan kepada “seseorang” tanpa menyebut nama.

Pola ini menunjukkan adanya pergeseran cara berkomunikasi dalam menyalurkan emosi: media sosial dianggap sebagai tempat yang aman, fleksibel, dan tidak mengharuskan interaksi langsung.

Ungkapan seperti “makasih ya udah nunjukin siapa lo sebenarnya” atau “akhirnya sampai juga di titik ini” sudah menjadi bahasa sehari-hari dalam ruang digital Gen-Z.

Di satu sisi, media sosial memberikan ruang yang luas bagi individu untuk mengekspresikan berbagai emosi secara spontan dan pribadi. Aktivitas ini dapat menjadi salah satu bentuk katarsis.

Namun, apabila media sosial dijadikan sebagai satu-satunya sarana pelampiasan emosi, hal tersebut justru dapat menyebabkan akumulasi perasaan yang tidak terselesaikan secara nyata.

Emosi yang tidak disampaikan secara langsung kepada pihak terkait berpotensi menimbulkan kesalahpahaman, bahkan memperlebar jarak dalam hubungan sosial. Jika individu mampu menyalurkan emosi yang tertahan dengan cara yang sehat dan membangun, maka proses pelepasan tersebut dapat memberikan efek terapeutik yang positif.

Pelepasan emosi seperti ini dikenal sebagai katarsis yaitu suatu kondisi ketika seseorang dapat meluapkan emosi yang tersimpan dengan cara mengungkapkannya secara tepat dan sesuai dengan apa yang dirasakan (Yuniasianti & Sari, 2023).

Sementara itu, dalam konteks digital, katarsis merujuk pada pelampiasan emosi melalui platform digital, baik sebagai bentuk pengurangan tekanan batin maupun sebagai sarana berbagi kebahagiaan.

Dengan kata lain, meskipun meluapkan emosi di media sosial dapat memberikan kelegaan sementara, penting juga untuk membangun kemampuan regulasi emosi yang sehat di dunia nyata.

Gen-Z perlu diarahkan agar dapat menyeimbangkan antara mengekspresikan perasaan secara digital dan menyampaikan emosi secara langsung dalam hubungan sosial yang sebenarnya.

Kecenderungan Gen-Z untuk memprioritaskan ekspresi digital dapat dijelaskan dengan Model Hyperpersonal Walther. Menurut teori ini, komunikasi online, seperti unggahan emosional di media sosial, memiliki karakteristik yang unik.

(1) Salah satu karakteristik tersebut adalah kontrol pesan. Gen Z dapat secara selektif menyusun ekspresi emosional mereka (misalnya, memfilter atau menghapus cerita). (2) Fleksibilitas waktu: Ada waktu untuk mempertimbangkan kembali sebelum berbagi, tidak seperti dalam interaksi tatap muka, di mana reaksi langsung diperlukan.

(3) Feedback yang terukur: Likes dan komentar memberikan validasi tanpa risiko penolakan langsung. Namun, justru karena “kenyamanan” inilah Gen Z sering terjebak dalam ilusi katarsis digital. Mereka percaya bahwa mereka telah “melampiaskan” emosi mereka, padahal pada kenyataannya, mereka hanya menunda atau memendamnya.

Baca Juga: Menjaga Kesehatan Mental Gen Z di Era Digitalisasi

Keseimbangan antara ekspresi digital dan komunikasi langsung, seperti memahami bahasa tubuh dan intonasi suara, adalah kunci untuk pengaturan emosi yang sehat (Maryani, 2006).

Fathiya (2023) menegaskan bahwa dunia maya dan nyata adalah dua ranah berbeda yang harus dipahami secara seimbang. Oleh karena itu, Gen-Z harus meningkatkan keterampilan komunikasi interpersonal, seperti memahami ekspresi wajah, bahasa tubuh dan intonasi suara, agar bisa mengekspresikan emosi secara langsung dengan efektif.

Selain itu, penting untuk mengembangkan sikap terbuka dan jujur dalam hubungan sosial di dunia nyata yang pada gilirannya dapat mengurangi rasa kesepian dan isolasi yang sering muncul akibat ketergantungan pada komunikasi digital. 

Adapun strategi yang dapat digunakan agar emosi yang dirasakan tidak terpendam di media sosial saja melainkan dapat disalurkan secara langsung dalam hubungan sosial yang sebenarnya yaitu mengurangi ketergantungan pada media sosial, lebih mengedepankan interaksi langsung dengan teman dekat atau keluarga, dan membatasi waktu dalam penggunaan media sosial adalah metode yang efisien untuk menghindari pemakaian dalam waktu yang lama (Apriyanti et al., 2024). 

Dengan berkembangnya penggunaan media sosial sebagai wadah ruang ekspresi emosi, penting untuk menumbuhkan kesadaran Gen-Z akan pentingnya memelihara regulasi emosi yang sehat dalam menghadapi kehidupan di dunia nyata.

Regulasi emosi merupakan proses mengenali emosi yang terus berkembang ke arah tujuan yang lebih positif (Andriyani, 2024).

Gen-Z yang memiliki regulasi emosi sehat, akan menunjukkan emosi yang stabil, tidak mudah marah, serta dapat mengontrol emosi. Namun sebaliknya, Gen-Z yang memiliki regulasi emosi tidak sehat, akan cenderung oversharing atau bahkan sampai ketergantungan untuk mendapatkan validasi. 

Untuk mencegah media sosial menjadi satu-satunya saluran untuk mengekspresikan emosi, Gen-Z perlu melakukan pendekatan terstruktur untuk menjaga keseimbangan antara dunia digital dan dunia nyata. Menurut Febri (2024) terdapat beberapa strategi yang dapat diterapkan:

  1. Batasi waktu penggunaan media sosial. Buatlah jadwal yang jelas untuk penggunaan media sosial dan tentukan waktu-waktu tertentu untuk berinteraksi dan bersantai. Hal ini membantu mengurangi beban kognitif dan emosional yang berlebihan.
  2. Ciptakan area bebas gadget. Tentukan ruang di rumah atau tempat kerja, seperti ruang makan atau kamar tidur, yang bebas dari media sosial. Hal ini bisa menjadikan untuk fokus dan menikmati momen tanpa gangguan elektronik.
  3. Lakukan detoks digital secara berkala. Beristirahatlah secara teratur dari media sosial dan gadget, seperti di akhir pekan atau liburan, untuk mengurangi stres dan mengembalikan keseimbangan emosional.
  4. Kelola informasi dengan bijak. Saring dan pilih informasi yang relevan dan berkualitas tinggi untuk menghindari informasi yang berlebihan, yang dapat memperburuk emosi dan stres.
  5. Batasi paparan berita negatif. Batasi konsumsi berita negatif karena dapat meningkatkan kecemasan dan emosi negatif. Alihkan perhatian ke sebuah solusi praktis.
  6. Gunakan aplikasi pengatur waktu. Gunakan aplikasi yang membatasi waktu bermain media sosial dan game untuk menjaga produktivitas dan keseimbangan emosi.
  7. Memperkuat dukungan sosial. Jalin interaksi yang mendalam dan dapatkan dukungan emosional dari keluarga, teman, atau komunitas untuk membantu mengelola emosi dan stres.
  8. Terlibat dalam kegiatan relaksasi dan hobi. Kegiatan yang menyenangkan dan santai dapat berfungsi sebagai mekanisme koping, mengurangi penumpukan emosi dan meningkatkan kesejahteraan.

Baca Juga: Pentingnya Perceived Social Support pada Gen Z dalam Menghadapi Fenomena Mental Health dan Tindakan Bunuh Diri

Media sosial boleh jadi ruang ekspresi, tetapi jangan biarkan ia menggantikan kedalaman hubungan manusia sesungguhnya. Bagaimana jika kita mulai dengan tantangan kecil: tanpa mengunggah emosi negatif, dan alihkan energi tersebut untuk mengobrol langsung dengan seseorang yang peduli.

Penulis:
1. ⁠Diana Kristati Goring (2022011048)
2. ⁠Elfiya Khoirunisa (2022011042)
3. ⁠Afifah Dwi Falah (2022011043)
4. ⁠Khairunnisa Salsabila (2022011045)
Mahasiswa Psikologi Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta

Pengampu: Hartosujono, S.E., S.Psi., M.Si.

Editor: Ika Ayuni Lestari

Bahasa: Rahmat Al Kafi

Referensi

Andriyani, R. R. (2024). Peran Regulasi Emosi terhadap Resiliensi Diri pada Remaja: Sistematic Literature Review. Innovative: Journal of Social Science Research, 4(6), 4676-4689

Apriyanti, H., Aeni, I. S., Kinaya, R. S., Nabilla, N. H., Laksana, A., & Latief, L. M. (2024). Keterlibatan Penggunaan Media Sosial pada Intesitas Sosial di Kalangan Gen Z. Sosial Simbiosis: Jurnal Intesitas Ilmu Sosial dan politik, 1(4), 229-237. 

Fathiyah. (2023). TikTok dan Kebebasan Berekspresi di Ruang Digital Bagi Generasi Z. Medialog: Jurnal Ilmu Komunikasi, 6(1), 166-177.

Febri, H. (2024). Stres No More: Strategi Efektif Mengelola Stres di Tengah Kehidupan Digital. Coram Mundo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, 6(2), 54-71.

Maryani, A. (2006). Karakteristik Hyperpersonal Communication dalam Internet Relay Chat sebagai Bagian dari Computer Mediated Comunication. Mediator, 7(1), 95-102.

Yuniasanti, Reni., & Sari, Dian Sartika. (2023). Katarsis pada Mahasiswa Melalui Media Sosial: Psikoedukasi Meningkatkan Self Disclosure. DedikasiMU: Journal of Community Service, 5(3), 291-300

 

 

Ikuti berita terbaru di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses