Indonesia menjadi salah satu negara dengan perokok aktif paling tinggi di dunia. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, tercatat ada 70 juta perokok dewasa.
Menurut proyeksi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), proporsi penduduk Indonesia yang merokok diperkirakan mencapai 38,7% pada tahun 2025, tertinggi ke 5 dunia untuk jumlah perokok dan tertinggi ke 1 dunia untuk perokok pria. Angka tersebut bukanlah angka yang membanggakan, terlebih ancaman terhadap kesehatan masyarakat dan dampak lainnya.
Ironisnya, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sekitar 7,8 juta perokok berasal dari kelompok masyarakat berpenghasilan rendah/kurang mampu, yang lebih mengutamakan membeli rokok daripada memenuhi kebutuhan pangan bergizi.
Rokok bukan hanya ancaman bagi kesehatan masyarakat, tetapi juga beban ekonomi yang sangat besar bagi Indonesia. Dampak negatif konsumsi rokok terlihat dari biaya kesehatan, produktivitas kerja, hingga pengeluaran rumah tangga yang menekan kesejahteraan masyarakat.
Rokok membawa dampak yang sangat besar bagi kesehatan masyarakat dan beban ekonomi nasional. Konsumsi tembakau berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit serius seperti kanker, penyakit jantung, stroke, dan gangguan pernapasan-yang kemudian memerlukan biaya pengobatan dan perawatan yang tidak sedikit.
Di tingkat nasional, biaya kesehatan akibat penyakit terkait rokok tergolong sangat tinggi: menurut riset, pada tahun 2019, total biaya ekonomi dari penyakit akibat merokok diperkirakan antara Rp 184,36 triliun sampai Rp 410,76 triliun, setara dengan sekitar 1,16% hingga 2,59% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Kerugian dari rokok juga menyentuh aspek sosial-ekonomi rumah tangga: pengeluaran besar untuk rokok mengurangi alokasi dana untuk kebutuhan penting seperti kesehatan, gizi, dan pendidikan, sehingga merokok turut berkontribusi pada kemiskinan.
Baca juga: 7 Pengaruh Buruk Rokok Terhadap Daya Tahan Tubuh Mahasiswa yang Harus Kamu Ketahui
Akibatnya, bukan hanya perokok yang menderita, tetapi juga keluarga dan masyarakat luas ikut menanggung dampaknya, baik dari sisi meningkatnya biaya kesehatan, menurunnya produktivitas, maupun terganggunya kesejahteraan rumah tangga. Sebagai upaya penyelesaian persoalan ini, diperlukan tindakan terencana dan kerja sama yang solid antara pemerintah, tenaga kesehatan, institusi pendidikan, dan masyarakat.
Pemerintah perlu memperkuat regulasi pengendalian tembakau melalui peningkatan tarif cukai rokok secara signifikan dan berkelanjutan, pembatasan iklan dan promosi rokok, perluasan kawasan tanpa rokok, serta penerapan kemasan polos (plain packaging) dan peringatan kesehatan bergambar yang lebih besar.
Masyarakat juga perlu meningkatkan kesadaran akan dampak rokok terhadap kesehatan dan keuangan keluarga, serta mewujudkan lingkungan sosial yang mendukung perilaku hidup tanpa rokok. Jika langkah-langkah tersebut dijalankan secara konsisten dan terintegrasi, Indonesia dapat menekan angka perokok, mengurangi beban ekonomi dan kesehatan yang ditimbulkan, dan menciptakan generasi masa depan yang lebih sehat, produktif, dan sejahtera.
Sumber: Berbagai sumber media elektronik.
Penulis: Fahmi Arif
Mahasiswa S2 Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia Maju
Dosen Pengampu: Rizky Kusuma Hartono, SKM., MKM., PhD.
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












