Tak Selalu Berwarna, Namun Berbahaya: Edukasi Limbah Batik dan Inovasi SPAMCAT UNS Berbasis SDGs di MTA TV

Pengolahan Limbah Cair Batik
Dr. Maria Ulfa hadir sebagai narasumber dalam program on air BIM di stasiun televisi MTATV. (Foto: Dok. Penulis)

Surakarta, MMIDosen Pendidikan Kimia Universitas Sebelas Maret (UNS), Dr. Maria Ulfa, S.Si., M.Si., hadir sebagai narasumber dalam program on air Berbagi Ilmu dan Manfaat (BIM) di stasiun televisi MTATV. Kehadirannya untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai persoalan limbah cair industri batik, baik dari Industri maupun UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah), yang kerap tidak disadari bahayanya (14/01/2026),

Dalam kesempatan itu, Dr. Maria Ulfa menyampaikan, bahwa limbah cair batik tidak selalu ditandai oleh perubahan warna yang mencolok, namun tetap berpotensi memiliki tingkat toksisitas yang tinggi.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

“Fenomena ini kerap menimbulkan persepsi keliru di masyarakat, seolah-olah limbah yang tampak jernih atau tidak berwarna telah aman bagi lingkungan perairan. Padahal, secara kimiawi limbah tersebut masih dapat mengandung senyawa berbahaya yang mengancam ekosistem akuatik dan kesehatan manusia,” jelas perempuan yang juga jadi reviewer Journal of Chemistry ini lebih lanjut.

 

Pengolahan Limbah Cair Batik
Dr. Maria Ulfa sedang memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai persoalan limbah cair industri batik, baik dari Industri maupun UMKM di MTATV. (Foto: Dok. Penulis)

Ia juga mengkritisi praktik pengolahan limbah yang selama ini banyak diterapkan, seperti adsorpsi menggunakan karbon aktif atau lumpur. Menurutnya, metode tersebut pada hakikatnya hanya memindahkan zat warna beserta sifat toksiknya ke media lain, tanpa benar-benar menghilangkan atau menetralkan senyawa berbahaya itu.

“Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pengolahan yang lebih berkelanjutan, yakni teknologi yang mampu mendegradasi zat warna hingga terurai menjadi senyawa yang lebih ramah lingkungan,” imbuhnya menyarankan.

Baca juga: Fast Fashion sebagai Ancaman Lingkungan: Analisis Limbah Tekstil dan Strategi Manajemen Berkelanjutan

Upaya ini sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta SDG 14 (Ekosistem Laut). Dalam konteks ini, peran universitas sangat strategis sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi teknologi pengolahan limbah yang efektif dan berkelanjutan. Pemerintah berperan dalam penyusunan regulasi, pengawasan, serta pemberian insentif kebijakan agar industri menerapkan teknologi ramah lingkungan. Sektor industri, khususnya pelaku usaha batik, diharapkan berkomitmen mengadopsi sistem pengolahan limbah yang lebih aman dan bertanggung jawab. Sementara itu, masyarakat memiliki peran penting dalam meningkatkan kesadaran, melakukan pengawasan sosial, serta mendukung praktik produksi yang berwawasan lingkungan. Sinergi keempat pihak itu menjadi kunci utama dalam upaya penyelamatan dan keberlanjutan lingkungan perairan.

Pengolahan Limbah Cair Batik
Dr. Maria Ulfa memperkenalkan SPAMCAT (Smart Pelletized Sulfonated Mesoporous Silica Catalyst) sebagai inovasi teknologi pengolahan limbah yang efektif dan berkelanjutan. (Foto: Dok. Penulis)

Sebagai jawaban atas keresahan itu, Dr. Maria Ulfa memperkenalkan SPAMCAT (Smart Pelletized Sulfonated Mesoporous Silica Catalyst), sebuah inovasi katalis yang dirancang untuk membantu proses degradasi zat warna dalam limbah cair batik. SPAMCAT bekerja dengan mempercepat reaksi pemecahan molekul pewarna sehingga tidak hanya menghilangkan warna, tetapi juga menurunkan tingkat toksisitas limbah.

Dalam sesi edukasi ini, Dr. Maria Ulfa juga memaparkan tahapan pengembangan riset SPAMCAT yang saat ini tengah difokuskan pada pengembangan reaktor fotokatalis. Reaktor ini dirancang untuk mendukung kinerja SPAMCAT agar proses degradasi berlangsung lebih optimal dan aplikatif. Sehingga produk SPAMCAT ke depan dapat digunakan secara lebih efektif oleh pelaku UMKM maupun industri batik.

Pengolahan Limbah Cair Batik
Diskusi edukatif melalui program BIM di MTATV. (Foto: Dok. Penulis)

Melalui program BIM, MTATV kembali menghadirkan diskusi edukatif yang menjembatani hasil riset akademik dengan permasalahan nyata di masyarakat. Diharapkan, edukasi ini dapat meningkatkan kesadaran publik mengenai bahaya limbah batik yang tersembunyi serta mendorong penerapan teknologi pengolahan limbah yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.


Penulis: Dr. Maria Ulfa, S.Si, M.Si.
Dosen Pendidikan Kimia, Universitas Sebelas Maret


Dosen Pengampu: Dr. Maria Ulfa, S.Si, M.Si


Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses