Tantangan Pola Hidup di Era Digital terhadap Pengelolaan Keuangan Mahasiswa

Pengelolaan Keuangan Mahasiswa
Ilustrasi Keuangan di Era Digital (Sumber: Unsplash, Morgan Housel)

Di era digital saat ini, aktivitas berbelanja semakin banyak dilakukan melalui media platform online seperti Tiktok Shop, Shopee, Tokopedia, Lazada, dan aplikasi serupa. Perubahan ini terjadi karena hanya dengan menggunakan ponsel saja, calon pembeli dapat mencari produk, memeriksa harga, hingga menyelesaikan pembayaran dalam waktu singkat.

Kenyamanan tersebut membuat belanja online menjadi bagian dari rutinitas hidup sehari-hari. Hal yang sama juga mempengaruhi pola hidup mahasiswa, termasuk Generasi Z, yang lebih memilih sesuatu dengan cepat dan praktis.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Kehadiran berbagai platform belanja online memang menawarkan berbagai kemudahan yang membawa sejumlah dampak positif seperti banyaknya promo, akses kebutuhan sehari-hari yang lebih praktis, dan pilihan produk yang semakin beragam.

Namun, di balik manfaat tersebut, terdapat pula dampak negatif yang perlu diperhatikan. Kemudahan berbelanja hanya dengan satu sentuhan layar dapat mendorong munculnya perilaku konsumtif dan kecenderungan berbelanja impulsif.

Tak hanya itu, kemudahan digital juga perlahan membentuk pola konsumsi baru di kalangan mahasiswa. Rekomendasi produk yang terus bermunculan di beranda, algoritma yang menyesuaikan minat pengguna, serta tren belanja yang kini dianggap sebagai hiburan, membuat mahasiswa kerap membeli sesuatu bukan karena kebutuhan, melainkan terpengaruh oleh konten yang muncul berulang kali, sehingga menyebabkan dorongan untuk membeli barang yang tidak direncanakan.

Kebiasaan ini membuat perilaku berbelanja menjadi lebih spontan dan sulit dikendalikan apabila tidak dibarengi dengan kesadaran finansial yang kuat. Bahkan tanpa disadari, pola konsumsi ini dapat menimbulkan kebiasaan boros yang berdampak pada kemampuan mereka mengelola uang jangka panjang.

Tekanan sosial baru juga muncul seiring berkembangnya gaya hidup digital yang dibentuk oleh media sosial. Mulai dari tren penggunaan produk tertentu, gaya hidup para selebriti dan influencer, hingga dorongan untuk selalu tampil “up to date”.

Akhirnya, terciptalah standar sosial yang tidak selalu realistis. Kondisi seperti ini membuat banyak mahasiswa sulit membedakan antara kebutuhan dan keinginan yang hanya muncul karena pengaruh lingkungan digital.

Di era digital saat ini, kemudahan dalam mengakses berbagai platform belanja online membuat proses transaksi menjadi semakin jauh lebih cepat dan praktis. Namun di balik kenyamanan tersebut, terdapat risiko yang perlu diperhatikan, khususnya bagi mahasiswa.

Baca juga: Manajemen Keuangan Mahasiswa: Pentingnya Hidup Hemat bagi Anak Kost

Akses belanja yang serba instan seringkali memicu kecenderungan untuk berperilaku konsumtif dan melakukan pembelian secara impulsif. Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal EMBA (2023), kemudahan transaksi digital terbukti meningkatkan peluang seseorang membeli barang tanpa perencanaan karena prosesnya tidak membutuhkan banyak usaha atau pertimbangan.

Hal serupa juga disampaikan oleh Mengga dkk. dalam Jurnal Riset Ekonomi dan Akuntansi (2022). Mereka menjelaskan bahwa kemudahan akses digital mulai dari pembayaran nontunai hingga rekomendasi produk otomatis berhubungan erat dengan meningkatnya perilaku konsumtif pada mahasiswa, terutama ketika kurang disertai kemampuan mengontrol diri.

Dengan kata lain, semakin mudah proses berbelanja dilakukan, semakin besar pula potensi seseorang membeli barang karena dorongan sesaat, bukan berdasarkan kebutuhan.

Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Psychopreneur (2021) oleh Rahmawati dan Suyanto, perilaku konsumtif mahasiswa meningkat seiring tingginya paparan digital. Mereka menyatakan bahwa, “media sosial berperan sebagai pemicu munculnya keinginan membeli yang tidak direncanakan, terutama pada mahasiswa dengan penggunaan platform digital yang intens”.

Temuan tersebut menegaskan bahwa pilihan konsumsi mahasiswa kini lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal dari konten online yang mereka lihat setiap harinya. Selain itu, paylater juga menjadi faktor yang memperburuk keadaan.

Studi Putri & Pratama dalam Jurnal Ekonomi Perilaku Konsumen (2023) menemukan bahwa mahasiswa pengguna paylater memiliki risiko finansial yang lebih tinggi. Dalam laporannya, mereka menjelaskan bahwa “paylater menciptakan persepsi keliru mengenai kemampuan finansial, sehingga mahasiswa merasa seolah-olah masih punya dana, padahal yang terjadi adalah penundaan kewajiban yang justru menumpuk di bulan berikutnya”.

Kebiasaan ini sering disebut juga sebagai pola “gali lubang tutup lubang”, seperti meminjam uang demi menutup cicilan atau membeli barang lain yang tidak diperlukan. Jika tidak dikendalikan sejak dini, pola ini dapat melemahkan kemampuan mereka dalam mengelola keuangan ketika sudah memasuki dunia kerja dan memiliki tanggung jawab finansial yang besar

Selain memengaruhi kondisi finansial, perilaku belanja impulsif juga membawa dampak psikologis yang cukup signifikan. Banyak mahasiswa mengalami perasaan menyesal setelah melakukan pembelian yang tidak direncanakan, terutama ketika barang tersebut ternyata tidak dibutuhkan. Perasaan menyesal ini sering berkembang menjadi stres ringan hingga kecemasan, terutama Ketika menyadari bahwa pengeluaran menjadi tidak terkendali.

Penelitian Nugroho (2021) dalam Jurnal Psikologi Remaja menambahkan bahwa konten promosi di media sosial meningkatkan kecemasan FOMO (Fear of Missing Out). Ia mencatat bahwa “remaja dan mahasiswa merasa takut tertinggal tren tertentu sehingga terdorong membeli barang yang sebenarnya tidak memiliki urgensi”. Faktor psikologis inilah yang membuat perilaku konsumtif semakin sulit dikendalikan.

Tidak hanya dari sisi emosional, fitur digital yang ada di aplikasi belanja ikut mempengaruhi pola konsumsi mahasiswa. Algoritma yang menampilkan rekomendasi produk berdasarkan aktivitas pengguna membuat mahasiswa lebih sering melihat barang-barang yang sebelumnya tidak mereka butuhkan. Akibatnya, intensitas melihat produk meningkatkan, dan peluang terjadinya pembelian impulsif pun semakin besar.

Selain itu, sistem notifikasi, flash sale, dan diskon berbatas waktu juga menjadi pemicu kuat. Studi Yuliani (2022) dalam Jurnal Pemasaran Digital menyebutkan bahwa “fitur promosi berbatas waktu menciptakan urgensi semu yang memicu perilaku belanja impulsif”.

Fitur-fitur digital tersebut bekerja secara psikologis maupun perilaku sehingga mahasiswa cenderung sulit menahan diri. Untuk menekan perilaku konsumtif, diperlukan kesadaran finansial yang dibangun sejak dini. Mahasiswa dapat memulai dengan membuat anggaran bulanan yang realistis, menetapkan prioritas kebutuhan, serta membatasi akses terhadap fitur-fitur yang memicu pembelian impulsif.

 

Simpulan

Secara keseluruhan, perilaku konsumtif pada mahasiswa tidak hanya berdampak pada kondisi finansial, tetapi juga mempengaruhi aspek psikologis dan relasi sosial. Faktor penyebabnya beragam, mulai dari gaya hidup, tekanan sosial, hingga kemudahan akses teknologi.

Karena itu, diperlukan literasi finansial yang memprioritaskan kebutuhan. Dengan menerapkan langkah-langkah tersebut, mahasiswa dapat membangun kebiasaan keuangan yang lebih sehat dan bertanggung jawab.

 

 

Referensi

Rahmawati, S., & Suyanto, A. (2021). Pengaruh Media Sosial terhadap Perilaku Konsumtif Mahasiswa. Jurnal Psychopreneur.

Mengga, G. S., dkk. (2022). Pengaruh Kemudahan Akses Digital terhadap Perilaku Konsumtif Mahasiswa. Jurnal Riset Ekonomi dan Akuntansi.

Putri, A. D., & Pratama, R. (2023). Dampak Penggunaan Paylater terhadap Risiko Finansial Mahasiswa. Jurnal Ekonomi Perilaku Konsumen.

Nugroho, R. (2021). Pengaruh Konten Media Sosial terhadap Kecemasan FOMO pada Remaja dan Mahasiswa. Jurnal Psikologi Remaja.

Yuliani, M. (2022). Efektivitas Fitur Promosi Berbatas Waktu dalam Mendorong Impulsive Buying pada Generasi Z. Jurnal Pemasaran Digital.

 


Penulis: Khirania Putri Raharjo (202510160110196)
Mahasiswa Manajemen, Universitas Muhammadiyah Malang


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses