Transformasi Pendidikan Tinggi, Integrasi Dengan Pusat Keunggulan

Ismail Suardi Wekke

Bersama-sama dengan Merdeka Belajar, Kementerian Pendidikan RI melaksanakan Sekolah Menengah Kejuruan Pusat Keunggulan (SMK-PK). Program ini juga berjalan sampai ke pelosok, termasuk di Papua Pegunungan.

Sekalipun berada di daerah terpencil, dengan perjalanan pesawat ditempuh dengan tujuh jam, di luar waktu transit dan boarding, Wamena juga menjadi rumah bagi program SMK-PK.

Itu satu hal. Sementara itu, kita nyaris kehilangan budaya gotong royong. dalam satu kesempatan seminar yang dilaksanakan Kementerian Dalam Negeri di Jakarta, delegasi Korea Selatan menyampaikan bahwa di tahun 1970-an Korea Selatan mengutus akademisi dan peneliti untuk belajar ke Indonesia.

Bacaan Lainnya
DONASI

Tahun yang sama, Indonesia dan Korea Selatan merdeka. Hanya saja, kemajuan Indonesia berada di depan Korsel. Bahkan saat itu Indonesia sudah memenuhi kebutuhan pangan, dan juga dengan kondisi politik yang relatif stabil.

Ketika pulang kembali ke Seoul, delegasi ini mendapati satu budaya Indonesia yaitu gotong royong. Kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Korea dengan kosakata Semaul Undeng. Dengan program pembangunan berbasis semaul undeng ini, kemudian Korsel memacu pembangunan.

Hasilnya, kita bisa lihat sekarang. Tidak bisa dibandingkan sama sekali dengan Indonesia. Bahkan untuk pelatih timnas sepakbola perlu didatangkan dari Korsel untuk mengalahkan Korea.

Begitu pula dengan lem, kita perlu mengimpornya dari Korea. Sebagaimana dahulu kala, kita mengimpor urusan buah-buahan dari Bangkok, seperti jambu, pepaya, dll.

Apa hubungannya antara SMK-PK dan gotong royong?. Mari kita teruskan.

Dengan program yang dilaksanakan selama empat tahun terakhir menjadi kesempatan untuk penguatan kapasitas SMK. Sehingga alumnus sekolah menengah kejuruan ini, pada saatnya akan berada di perguruan tinggi.

Maka, dengan adanya SMK-PK djalinhubungkan dengan pendidikan tinggi vokasional, maka inilah yang menjadi wujud manifestasi gotong royong. Sebuah program tidak berhenti di satu jenjang tersendiri. tetapi dilanjutkan dan sekaligus menjadi daya dorong bagi program yang lebih luas.

Dengan adanya penyiapan tenaga kerja terampil sejak sekolah menengah, maka perguruan tinggi akan mendapatkan peserta didik yang sudah menguasai level tertentu pada jenjang KKNI.

Ini perlu diperhatikan. Mari sejenak mmeperhatikan problematika jikalau tidak adanya penyiapan lulusan sekolah menengah yang siap duduk di perguruan tinggi. Energi, daya, dan juga biaya akan terkuras pada sesuatu yang mestinya sudah selesai sejak jenjang pendidikan sebelumnya.

Betapa perguruan tinggi keagamaan Islam direpotkan dengan urusan baca-tulis Alquran. Mahasiswa yang menduduki bangku kuliah, diantara mereka masih ada yang bahkan tidak mengenali huruf hijaiyah. Maka, ini akan menjadi masalah tersendiri sehingga menjadi kurikulum poco-poco. Kita maju selangkah, kemudian justru perlu mundur untuk dua langkah.

Lagi-lagi, Gotong Royong menjadi kata kunci juga dalam pendidikan sekalipun. Tidaklah memungkinkan untuk membedakan kerja-kerja perguruan tinggi dengan sekolah yang ada di tingkatan sebelumnya.

Justru dengan adanya gotong royong yang dimulai dengan komunikasi, dan penyamaan persepsi kemudian menetapkan visi bersama, akan menjadi kesempatan dalam mewujudkan pendidikan bagi generasi emas yang akan datang.

Kalau kemudian setiap elemen pendidikan bangsa bekerja sendiri-sendiri, jangan sampai yang akan lahir justru adalah generasi cemas. Kemampuan yang tidak sesanding dengan bangsa lain. Pada akhirnya, hanya menjadi buruh, dan kacung bagi kemajuan negara lain.

Begitu pula dengan pendidikan kita, setakat hanya menjadi rutinitas, dan seremonial belaka. Tanpa menghasilkan sumber daya yang memadai untuk menjadi tenaga terampil, dan sekaligus menjadi warga memberdayakan yang dimulai dari dirinya sendiri.

Tentu saja, itu hanya mitigasi agar tidak terjadi. Maka, kita perlu kembali ke akar budaya kita. Sekaligus meneguhkan satu persatu tradisi yang tergerus. Salah satunya adalah gotong royong sebagai instrumen tranformasi pendidikan melalui kerja-kerja terpadu yang terintegrasi. Semoga.

Penulis: Ismail Suardi Wekke
Dosen Pascasarjana IAIN SorongĀ Papua Barat Daya

Kirim Artikel

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI