Alasan Mahasiswa Semester Awal di Jogja Seringkali Merasakan Homesick

Melanjutkan pendidikan setelah selesai dari bangku SMA merupakan impian bagi semua siswa.

Kota yang menjadi tujuan dari banyaknya siswa untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi  salah satunya adalah kota jogja, yang dikenal juga sebagai kota pelajar dengan banyaknya universitas yang ada baik universitas negeri maupun swasta.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Saya merupakan mahasiswa baru angkatan 2024 yang memiliki kesempatan untuk berkuliah di jogja.

Saat mulai berkuliah dan merasakan pertama kali merantau dan jauh dari keluarga menimbulkan perasaan yang sangat rindu, dan kecemasan karena semua hal yang biasanya dilakukan oleh orangtua kini dilakukan sendiri.

Baca juga: Akibat Homesick dan Peran Dukungan Sosial terhadap Mahasiswa Baru

Saat memasuki awal perkuliahan, saya belum merasakan homesick dikarenakan saya sangat disibukkan dengan segala kegiatan ospek yang diadakan oleh universitas.

Di awal perkuliahan saya sangat merasa senang, dikarenakan saya memiliki banyak sekali teman dari berbagai daerah, tentu saja dengan prodi yang berbeda-beda, dan hal tersebut membuat saya lupa akan segala hal yang bersangkutan dengan rumah.

Namun setelah memasuki kuliah yang sebenarnya, seperti banyaknya praktikum yang dijalani dan juga laporan praktikum yang sangat menumpuk, saya mulai merasakan perasaan homesick, disaat itulah saya juga merasakan perbedaan yang sangat signifikan antara SMA dan dunia perkuliahan.

Perasaan tersebut sejujurnya sangatlah mengganggu saya, karena saya seringkali tidak fokus saat melakukan kegiatan perkuliahan.

Hal yang sangat saya rindukan saat berada di perantauan sebenarnya adalah hal-hal yang sangat sederhana, seperti rindu suara ibu dan bapak, rindu kehangatan keluarga, dan juga saya sangat merindukan rasa masakan ibu saya.

Rasa homesick ini seringkali datang saat saya sedang sendirian di dalam kos dan setelah saya melakukan kegiatan seharian full.

Disaat itulah saya merasakan bahwa saya sedang berada di suasana baru yang asing, merasakan tugas praktikum yang sangat menumpuk, sehingga membuat saya lelah. Homesick

Serta adanya tekanan beradaptasi dengan segala hal membuat saya merasakan tertekan. Saya merasa seolah-olah berada di dunia yang berbeda, antara keinginan untuk mandiri dan kebiasaan lama yang sulit untuk ditinggalkan.

Tidak jarang juga rasa homesick justru datang pada saat saya setelah pulang dari rumah dan harus kembali lagi ke perantauan dengan segala aktivitasnya.

Pada saat baru datang ke kos dan saya memakan bekal yang dibawakan ibu saya, disaat itulah saya merasakan homesick yang sangat menyiksa.

Baca juga: 7 Cara Mengatasi Homesick Mahasiswa Baru yang Terbukti Efektif

Setelah kembali ke kos saya merasa seperti awal mula saya merantau.

Walaupun begitu saya sangat bersyukur bisa pulang ke rumah disela-sela libur yang tidak terlalu panjang.

Banyak teman saya yang tidak bisa pulang dan melepas kerinduannya karena jarak dan waktu yang tidak terjangkau.

Menghadapi homesick merupakan hal yang tidak mudah untuk dilakukan, namun saya belajar meyakini bahwa homesick merupakan sebagian proses dari adaptasi.

Selain itu saya juga memiliki tips and tricks yang dapat saya lakukan untuk mengatasi homesick, diantaranya, saya selalu bertukar kabar dengan keluarga saya setiap malam, menceritakan segala hal yang terjadi pada hari tersebut, mengikuti kegiatan yang telah disediakan oleh universitas, dan juga saya seringkali menguatkan diri saya dengan cara meyakini dan harus bertanggung jawab dengan apa yang telah saya pilih.

Selain itu, saya juga sering kali mengelilingi jogja tanpa tujuan bersama teman-teman saya untuk menghilangkan rasa homesick yang datang secara tiba-tiba. Saya meyakini bahwa segala hal yang dilakukan saya saat ini merupakan jembatan untuk menuju kesuksesan.

Pengalaman homesick mengajarkan saya tentang berbagai hal, mulai dari diri sendiri dan juga kehidupan.

Saya belajar bahwa mandiri bukan berarti harus menolak perasaan rindu, melainkan harus mampu mengelolanya dengan baik dan bijak.

Saya juga menyadari pentingnya membangun jaringan dukungan sosial di lingkungan baru agar tidak merasa sendirian.

Selain itu, homesick membuat saya lebih menghargai keluarga dan rumah sebagai tempat yang penuh kasih sayang dan kenyamanan.

Rasa rindu yang saya alami menjadikan motivasi untuk terus berusaha dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan perkuliahan.

Baca juga: Fenomena Bunuh Diri pada Mahasiswa: Peran Kesehatan Mental dan Dukungan Sosial

Homesick bagi saya adalah pengalaman yang umum dan wajar dialami oleh mahasiswa yang merantau untuk berkuliah.

Meskipun perasaan ini terkadang membuat kita merasa sedih dan kesepian, namun dengan sikap positif dan profesional homesick tetap bisa ditangani  langkah-langkah yang tepat, homesick dapat diatasi dan bahkan menjadi sumber kekuatan.

Melalui pengalaman saya, saya belajar bahwa menjaga komunikasi dengan keluarga, aktif dalam lingkungan kampus, dan membuat rutinitas yang sehat adalah kunci untuk melewati masa-masa sulit tersebut.

 

Penulis: Zahwa Nashibatul Fajriah

Mahasiswa Jurusan Farmasi, Univeraitas Islam Indonesia

 

Editor: Anita Said
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses