Pernahkah Anda mengalaminya? Seorang anak, mungkin putra atau putri Anda, atau murid di kelas Anda, yang di awal tahun ajaran tampak ceria dan penuh semangat. Namun, seiring berjalannya minggu dan bulan, sebuah perubahan subtil terjadi. Senyumnya meredup setiap kali kata sekolah disebut.
Ia mulai sering mengeluh sakit perut di pagi hari, sebuah penyakit misterius yang ajaibnya sembuh tepat pukul dua siang. Puncaknya, ia menangis, berteriak, dan menolak keras untuk memakai seragamnya, bersembunyi di balik sofa, dan memohon untuk diizinkan bolos sehari saja.
Reaksi pertama kita sebagai orang dewasa seringkali bisa ditebak. Kita mungkin menghela napas, frustrasi, dan memberi label malas, cengeng, manja, atau mencari perhatian. Kita mungkin membujuk, lalu mengancam, lalu menghukum, meyakini bahwa ini adalah masalah kedisiplinan yang harus segera ditangani dengan ketegasan.
Namun, bagaimana jika kita salah? Bagaimana jika penolakan keras itu bukanlah sebuah pilihan sadar? Bagaimana jika rasa takut dan cemas yang ia rasakan itu sama nyatanya dengan sakit perut yang ia keluhkan?
Dari kacamata psikologi, fenomena ini bisa jadi bukanlah cerminan karakter anak, melainkan sebuah respons emosional yang telah diprogram secara tidak sadar. Mari kita telusuri kemungkinan adanya ulah dari seorang ilmuwan Rusia dan eksperimen terkenalnya: Ivan Pavlov dan teori Classical Conditioning.
Baca juga: Fenomena Perilaku Menyimpang Siswa: Menilik Teori Behavioristik
Ivan Pavlov bukanlah seorang psikolog, ia adalah seorang ilmuwan besar dan ahli fisiologi asal Rusia. Pada awal 1900-an, ia sebenarnya sedang sibuk meneliti sistem pencernaan pada anjing, sebuah penelitian yang bahkan memenangkan Hadiah Nobel. Namun, di tengah penelitiannya, ia menemukan sebuah keanehan.
Pavlov dan asistennya mengamati bahwa anjing-anjing di laboratoriumnya tidak hanya mengeluarkan air liur (salivasi) ketika makanan disajikan. Anehnya, sang anjing akan mulai mengeluarkan air liur bahkan sebelum makanan tiba, misalnya ketika mereka baru mendengar langkah kaki asisten yang biasa memberinya makan.
Bagi Pavlov, air liur ini seharusnya merupakan respons alami atau refleks terhadap makanan. Namun, langkah kaki jelas bukan makanan.
Ini menyadarkan Pavlov bahwa ia telah menemukan sesuatu yang jauh lebih besar: sebuah proses pembelajaran fundamental. Ia menyebutnya pembiasan klasikal atau Classical Conditioning. Ini adalah sebuah prosedur penciptaan refleks baru dengan cara mendatangkan stimulus sebelum terjadinya refleks tersebut.
Dalam bahasa yang lebih sederhana, ini adalah proses belajar melalui asosiasi; dua rangsangan yang berbeda dihubungkan bersama untuk menghasilkan sebuah respons baru yang dipelajari.
Untuk membuktikannya, Pavlov merancang eksperimen terkenalnya. Prosesnya dapat dibagi menjadi tiga tahap jelas:
1. Tahap 1: Sebelum Pengondisian
Pada tahap ini, ada dua elemen terpisah. Pertama, ada ‘Stimulus Tak Terkondisi’, yaitu stimulus yang secara alami dan otomatis memicu respons tanpa perlu dipelajari. Dalam kasus ini, makanan membuat anjing mengeluarkan air liur secara alami (stimulus dan respons tak terkondisi), sedangkan bunyi bel tidak menimbulkan reaksi apa pun (stimulus netral).
2. Tahap 2: Selama Pengondisian
Ini adalah fase asosiasi. Pavlov mulai menyajikan Stimulus Netral (bunyi bel). Pavlov membunyikan bel sebelum memberikan makanan secara berulang. Anjing mulai mengaitkan bunyi bel dengan datangnya makanan.
3. Tahap 3: Setelah Pengondisian
Setelah asosiasi terbentuk, Pavlov melakukan tes. Ia membunyikan bel (yang tadinya netral) tetapi kali ini ia tidak menyajikan makanan. Hasilnya, anjing mengeluarkan air liur hanya dengan mendengar bel, meski tanpa makanan. Bel menjadi stimulus terkondisi, dan air liur menjadi respons terkondisi. Sebuah refleks baru telah tercipta.
Sekarang, mari kita ganti laboratorium Pavlov dengan ruang kelas, anjing dengan seorang siswa, dan makanan dengan pengalaman emosional. Apa yang terjadi pada anjing Pavlov adalah respons fisiologis (air liur). Apa yang terjadi pada siswa seringkali merupakan respons emosional (rasa takut).
Teori Pavlov memiliki pengaruh besar pada dunia psikologi aliran behaviorisme, yang meyakini bahwa perilaku dapat dijelaskan melalui pola stimulus dan respons dari lingkungan.
Fenomena fobia sekolah atau kecemasan terhadap pelajaran tertentu adalah contoh sempurna dari Classical Conditioning di dunia nyata. Mari kita terapkan tiga tahap yang sama pada siswa yang tiba-tiba benci sekolah:
1. Tahap 1: Sebelum Pengondisian
Awalnya, seorang siswa masuk ke lingkungan baru. Sekolah, gedung, guru, seragam, atau bahkan mata pelajaran spesifik seperti Matematika, pada dasarnya adalah ‘Stimulus Netral’ yang tidak menimbulkan rasa takut. Namun, jika siswa mengalami hal buruk seperti dibentak, dipermalukan, dibully, atau gagal ujian, pengalaman itu menjadi `Stimulus Tak Terkondisi` yang memicu `Respons Tak Terkondisi` berupa rasa takut, cemas, atau malu.
2. Tahap 2: Selama Pengondisian
Di sinilah asosiasi fatal itu terbentuk. Ketika pengalaman buruk terjadi berulang di sekolah, otak siswa mulai mengaitkan tempat itu dengan perasaan takut. Misalnya, jika setiap kali masuk kelas Matematika ia dimarahi atau dibully, maka sekolah atau pelajaran itu akhirnya dianggap menakutkan.
3. Tahap 3: Setelah Pengondisian
Asosiasi itu kini telah mengakar kuat. Lingkungan yang tadinya netra sekolah, guru, atau pelajaran Matematika kini telah menjadi ‘Stimulus Terkondisi’. Akibatnya, siswa tidak perlu lagi mengalami pengalaman buruk untuk merasa takut.
Hanya dengan memikirkan sekolah, melihat gedung sekolah dari kejauhan, atau bahkan hanya mendengar kata Matematika, siswa tersebut kini secara otomatis merasakan gelombang kecemasan, sakit perut, dan keinginan untuk lari. Ini adalah ‘Respons Terkondisi’. Rasa takut itu telah terkondisikan.
Di sinilah letak inti masalahnya. Ketika anak itu menangis di pagi hari, ia tidak sedang berakting atau memilih untuk menjadi malas. Ia sedang mengalami sebuah respons fisiologis dan emosional yang nyata, sebuah refleks yang telah dipelajari di luar kendali sadarnya.
Dalam teori behaviorisme, pendekatan ini bersifat deterministik. Ini berarti teori tersebut tidak memberi ruang bagi kehendak bebas individu atas reaksi yang telah dipelajari. Sama seperti anjing Pavlov yang tidak bisa memilih untuk tidak mengeluarkan air liur saat mendengar bel, siswa ini juga tidak bisa memilih untuk tidak merasa cemas saat memikirkan sekolah.
Menyalahkan anak, memarahinya, atau menghukumnya karena menunjukkan respons terkondisi ini adalah tindakan yang sia-sia dan kontraproduktif. Itu sama saja dengan memarahi anjing Pavlov karena mengeluarkan air liur.
Tindakan menghukum ini justru berisiko menjadi ‘Stimulus Tak Terkondisi’ negatif yang baru. Anak itu tidak hanya mengasosiasikan sekolah dengan rasa takut pada guru, kini ia juga mengasosiasikan sekolah dengan rasa takut pada kemarahan orang tuanya di rumah.
Rantai asosiasi negatif ini menjadi semakin kuat dan rumit. Guru dan lingkungan memiliki peran sentral dalam merancang stimulus. Mereka secara tidak sadar bertindak sebagai pelatih yang memasangkan stimulus-stimulus di benak siswa.
Jika respons ini dipelajari, kabar baiknya adalah respons ini juga bisa dilupakan atau diganti. Teori Pavlov menawarkan dua jalur untuk ini.
Jalur pertama disebut ‘Extinction’ atau Penghilangan. Extinction adalah proses menghilangkan rasa takut dengan memutus hubungan antara hal yang menakutkan dan pengalaman buruknya.
Dalam contoh ini, siswa perlu terus datang ke sekolah (stimulus terkondisi) tanpa mengalami hal buruk lagi. Jika lingkungan sekolah sudah aman dan tidak ada guru yang mempermalukan atau bullying, lama-kelamaan otak siswa belajar bahwa sekolah bukan tempat berbahaya, dan rasa takutnya pun hilang.
Jalur kedua, yang mungkin lebih proaktif, adalah ‘Rekondisi’ atau ‘Penghilangan Kebiasaan Buruk’. Ini adalah proses mengganti respons negatif yang lama dengan respons positif yang baru.
Caranya adalah dengan secara aktif mengasosiasikan stimulus yang sebelumnya menimbulkan respons buruk dengan stimulus lain yang netral atau positif.
Jika sebelumnya sekolah atau guru membuat siswa takut, kini guru perlu menciptakan pengalaman positif, misalnya dengan memberi pujian, hadiah, atau kegiatan belajar yang menyenangkan. Dengan pengulangan, siswa akan belajar bahwa guru dan sekolah bukan lagi hal yang menakutkan, melainkan menyenangkan.
Pada akhirnya, kasus anak yang tiba-tiba benci sekolah jauh lebih kompleks daripada sekadar label malas. Fenomena ini adalah pengingat kuat bahwa peserta didik adalah manusia utuh, yang respons emosionalnya sama pentingnya dengan kemampuan kognitifnya.
Ruang kelas adalah sebuah laboratorium psikologis yang kuat. Setiap hari, guru dan lingkungan sekolah secara konstan, sadar atau tidak sadar, sedang mengondisikan siswa mereka. Mereka memasangkan pelajaran dengan rasa ingin tahu, atau dengan rasa takut.
Mereka mengasosiasikan proses belajar dengan kegembiraan, atau dengan kecemasan. Teori Ivan Pavlov, yang dimulai dari air liur anjing, memberi kita tanggung jawab besar: untuk menjadi pelatih yang bijaksana, yang secara sadar menciptakan asosiasi positif yang akan membentuk kecintaan siswa pada proses belajar seumur hidup mereka.
Penulis: Marta Septiana Kristin
Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Universitas Kristen Satya Wacana
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












