Attention Deficit Hyperactivity Disorder pada Anak

ADHD
Ilustrasi ADHD (Sumber: Media Sosial dari freepik.com)

Gangguan Attention Deficit Hyperactivity Disorder  pada anak-anak zaman sekarang semakin meningkat.

Berdasarkan National Survey of Children’s Health (NSCH) kasus ADHD pada anak tahun 2016 dari hasil wawancara terhadap orang tua, anak pada rentang usia 2 sampai 17 tahun mencapai sekitar 8,4% atau 5,4 juta  dari jumlah total populasi anak di Amerika Serikat (Danielson, dkk dalam Jacob & Watini, 2022).

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Sedangkan prevalensi kejadian ADHD di Indonesia belum dapat dipastikan, namun berdasarkan data Diagnostic and Statistical Manual 5 (DSM-5) yang dikutip oleh Badan Pusat Statistik Nasional (BPSN), sekitar 3-7% anak menderita ADHD.

Pada tahun 2007, sedikitnya 16 juta dari 82 juta anak dan remaja di bawah usia 18 tahun di Indonesia dengan perbandingan 1:5 mengalami masalah kejiwaan termasuk gangguan ADHD (Awiria & Dariyanto, dalam Natarezwa et al., 2023).

Dengan demikian, diperlukan perhatian terhadap fenomena ini yang tampaknya meningkat dari tahun ke tahun walaupun tidak jarang publik masih asing dengan istilah ADHD disebabkan oleh penyebaran informasi yang tidak merata.

Menurut Paternotte dan Buitelaar (dalam Natarezwa et al., 2023) menyebutkan bahwa peningkatan ini terlihat dari semakin seringnya ditemukan kegiatan seminar maupun tulisan-tulisan yang tersebar di media massa seperti artikel dan poster digital tentang ADHD, juga semakin banyaknya sekolah-sekolah yang menerima dan memberikan perlakuan khusus untuk anak ADHD.

Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah perilaku anak-anak yang menggambarkan tiga jenis masalah utama, yaitu: perilaku terlalu aktif (hiperaktif), perilaku impulsif, dan kesulitan memperhatikan/ konsentrasi (Mirnawati & Amka, 2019).

Gangguan ini timbul karena fungsi kognitifnya anak terganggu, sehingga anak mengalami penurunan prestasi belajar dalam membaca, mengeja, berhitung dan menulis, penurunan kemampuan mengingat, gangguan orientasi waktu, dan gangguan kemampuan berbahasa.

Selain itu juga anak akan mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi, mudah marah dan mudah frustasi.

Gejala ADHD di tahun pertama anak ditandai dengan adanya kesulitan anak dalam mempertahankan kontak mata lebih dari 2 detik saat mereka berusia 3 bulan keatas dan dan juga anak baru dapat mengucapkan kata pertamanya di usia 2, 5-3 tahun keatas dengan kalimat yang tidak berstruktur atau tidak jelas (Utami et al., 2021).

Pengetahuan keluarga khususnya orang tua sangat penting bagi perkembangan anak ADHD. Orang tua berperan sebagai kunci utama dalam mendeteksi, menangani, dan merawat anak (Adiputra, dalam Natarezwa et al., 2023).

Anak ADHD tentu memerlukan perhatian khusus dalam penanganannya agar dapat diterima di masyarakat.

Lahirnya seorang anak ADHD tentu bukan suatu hal yang mudah, apalagi orang tua dan keluarga dalam hal pendampingan.

Peran keluarga sangatlah penting bagi kesuksesan masa depan seorang anak. Kondisi lingkungan dan pendampingan yang baik dapat membantu anak menjadi berani dan siap menghadapi lingkungannya.

Bagi masyarakat umum yang mengetahui ADHD, sudah selayaknya lebih menerima perilaku anak tersebut dibandingkan dengan mereka yang kurang mengetahui, seperti menunjukkan sikap ramah dan sabar jika mereka mengetahui anak tersebut memiliki gangguan ADHD (Kahmed et al., 2023).

Bagian dari upaya pengamatan khusus terhadap ADHD dapat melalui deteksi dini. Model deteksi dini dilakukan dengan instrumen untuk mengetahui tanda-tanda permasalahan berupa gambaran dan gejala gangguan baik fisik maupun psikis.

Kemudian berkonsultasi dengan ahli dan juga melakukan diagnosis serta informasi terkait dengan pemberdayaan anak, selanjutnya dilakukan konferensi kasus antara tenaga profesional, guru, dan orang tua untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Oleh karena itu, manfaat dari model ini adalah orang tua dan guru akan mendapatkan pengetahuan tentang ABK, keterampilan deteksi dini, dan pengetahuan pemberdayaan ABK (Suryaningrum et al., 2016).

Pendidikan dan pola asuh yang diberikan kepada anak ADHD berbeda dengan anak-anak normal lainnya. Menangani dan membantu anak dengan ADHD dapat melalui bantuan untuk dapat memusatkan perhatian dan konsentrasi mereka dengan Brain gym.

Pembuatan mind mapping dalam setiap materi pelajaran dan problem solving Diagnosis pada beberapa anak ADHD baru diketahui saat ia berumur 12 tahun.

Hal ini dikarenakan faktor-faktor yang dapat mengkompensasi misalnya: anak-anak memiliki kecerdasan di atas rata-rata, orang tuanya berhasil memberikan suasana yang nyaman serta stabil tetapi saat di sekolah lanjutan dapat mengalami kegagalan.

Belum ada tes yang dapat mendiagnosis secara akurat jenis gangguan ini, karena gejala ADHD pada anak bervariasi tergantung pada usia, kondisi, serta lingkungannya (Adiputra et al., 2018).

Banyak pakar kesehatan berusaha untuk mengembangkan intervensi untuk mengatasi masalah anak ADHD. Terapi bagi penderita ADHD haruslah bersifat komprehensif.

Intervensi yang dapat dilakukan untuk mengatasi kurangnya konsentrasi pada anak ADHD ialah dengan diet makanan, terapi obat-obatan dan play therapy (Hatiningsih, 2013).

Orang tua, guru dan tenaga ahli harus berkomunikasi secara terbuka tentang perilaku anak mereka yang mengidap gangguan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) sehingga dosis dan jadwal pengobatan teratur dan anak bisa tampil optimal di lingkungan akademik dan sosialnya, namun tetap memperhatikan segala macam bahaya yang dapat terjadi kapan saja.

Jika ditentukan bahwa anak harus menerima pengobatan selama hari sekolah, penting untuk membuat rencana untuk memastikan obat diminum sesuai jadwal.

Selain itu, sekolah harus memastikan bahwa hak-hak anak dan orang tua untuk kerahasiaan medis harus tetap dijaga kerahasiaannya (Wahidah, 2018).

Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) pada anak adalah gangguan neurologis yang mempengaruhi banyak aspek kehidupan anak-anak.

Dengan pemahaman yang lebih baik tentang ADHD dan pendekatan yang komprehensif dalam penanganannya, kita dapat membantu anak-anak dengan ADHD untuk mengatasi tantangan mereka dan mencapai potensi penuh mereka.

Dalam upaya bersama untuk memberikan dukungan, informasi, dan pemahaman yang lebih baik tentang ADHD, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan mendukung bagi semua anak.

Penulis: Siska Prifiantari
Mahasiswi Pandidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD), Universitas Pendidikan Indonesia

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

Referensi:

Adiputra, I. M. S., Trisnadewi, N. W. T., & Parlin, G. A. K. U. (2018). Gambaran Tingkat Pengetahuan Keluarga Tentang Adhd Di Paud Kecamatan Denpasar Utara. Bali Medika Jurnal, 5(1), 8–20. https://doi.org/10.36376/bmj.v5i1.15

Hatiningsih, N. (2013). PLAY THERAPY UNTUK MENINGKATKAN KONSENTRASI PADA ANAK ATTENTION DEFICIT HYPERACTIVE DISORDER (ADHD) Nuligar. JIPT: Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan, 01(02), 324–342. https://doi.org/https://doi.org/10.22219/jipt.v1i2.1586

Jacob, A. M., & Watini, S. (2022). Penerapan Model Atik dalam Pengembangan Motorik Kasar pada Anak ADHD di TK Global Persada Mandiri. JIIP – Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 5(9), 3281–3287. https://doi.org/10.54371/jiip.v5i9.841

Kahmed, M., Natarezwa, R., Nurcintame, N. P., Imelda, C., Anggela, K., & Heng, P. H. (2023). MENINGKATKAN PEMAHAMAN PUBLIK TERHADAP ANAK ADHD MELALUI KEGIATAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT. Jurnal Serina Abdimas, 1(2), 1005–1017. https://doi.org/https://doi.org/10.24912/jsa.v1i2.26124

Mirnawati, & Amka. (2019). Pendidikan Anak ADHD (ATTENTION DEFICIT HYPERACTIVITY DISORDER) (D. Novidiantoko & C. M. Sartono (eds.); Pertama). deepublish.

Suryaningrum, C., Ingarianti, T. M., & Anwar, Z. (2016). PENGEMBANGAN MODEL DETEKSI DINI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) PADA TINGKAT PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) DI KOTA MALANG Cahyaning. JIPT: Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan, 4(1), 62–74. https://doi.org/https://doi.org/10.22219/JIPT.V4I1.2878

Utami, R. D. L. P., Safitri, W., Bumi Pangesti, C., & Rakhmawati, N. (2021). Pengalaman Orang Tua Dalam Merawat Anak Dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (Adhd). Jurnal Kesehatan Kusuma Husada, 12(2), 222–230. https://doi.org/10.34035/jk.v12i2.772

Wahidah, E. Y. (2018). Identifikasi dan Psikoterapi terhadap ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) Perspektif Psikologi Pendidikan Islam Kontemporer. Millah: Journal of Religious Studies, 17(2), 297–318. https://doi.org/10.20885/millah.vol17.iss2.art6

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses