Anemia masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama di dunia, khususnya pada kelompok wanita usia subur (WUS) yaitu perempuan berusia 15–49 tahun.
Berdasarkan data World Health Organization (WHO), sekitar 20,9% wanita usia subur mengalami anemia, dengan mayoritas kasus disebabkan oleh kekurangan zat besi (anemia defisiensi besi).
Di Indonesia sendiri, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 mencatat prevalensi anemia pada wanita usia subur mencapai 32,2% untuk usia 15-24 tahun dan <14th sebesar 26,8%. angka yang cukup tinggi dan mengkhawatirkan.
Anemia pada kelompok ini sangat penting untuk diperhatikan karena berdampak langsung pada kesehatan reproduksi, kualitas hidup, produktivitas kerja, hingga kesehatan generasi berikutnya.
Artikel ini akan membahas bahaya anemia pada wanita usia subur, gejala yang perlu diwaspadai, penyebab, serta langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan.
Apa Itu Anemia?
Anemia adalah kondisi ketika kadar hemoglobin (Hb) dalam darah berada di bawah normal. Hemoglobin berperan membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh.
Pada wanita, anemia didefinisikan sebagai kadar hemoglobin kurang dari 12 g/dL. Kekurangan hemoglobin menyebabkan pasokan oksigen ke jaringan tubuh terganggu sehingga menimbulkan berbagai gejala.
Jenis anemia paling sering pada wanita usia subur adalah anemia defisiensi besi, namun ada juga anemia akibat kekurangan vitamin (seperti asam folat atau vitamin B12) dan anemia akibat penyakit kronis.
Mengapa Wanita Usia Subur (WUS) Rentan Anemia?
Wanita usia subur memiliki risiko lebih tinggi terkena anemia dibanding kelompok lain karena beberapa faktor:
1. Kehilangan Darah Saat Menstruasi
Siklus menstruasi bulanan menyebabkan wanita kehilangan darah secara rutin. Pada wanita dengan menstruasi berat (menorrhagia), risiko anemia semakin tinggi.
2. Kebutuhan Zat Besi Lebih Tinggi
Wanita usia subur memerlukan lebih banyak zat besi untuk menggantikan kehilangan darah menstruasi dan mempersiapkan tubuh menghadapi kehamilan.
3. Kehamilan dan Menyusui
Selama kehamilan, kebutuhan zat besi meningkat drastis untuk mendukung pertumbuhan janin, plasenta, dan volume darah ibu. Jika cadangan zat besi tidak cukup, ibu hamil sangat rentan anemia.
4. Asupan Gizi yang Kurang
Pola makan yang tidak seimbang, diet ketat, atau kurangnya konsumsi makanan sumber zat besi juga memperparah risiko anemia pada wanita.
Bahaya Anemia pada Wanita Usia Subur!
Anemia yang tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan dampak serius, baik pada kesehatan individu maupun masyarakat. Berikut beberapa bahaya anemia pada WUS:
1. Penurunan Produktivitas
Kadar oksigen yang rendah akibat anemia membuat tubuh cepat lelah, lemas, sulit konsentrasi, dan mengantuk. Hal ini berdampak pada penurunan kinerja di sekolah, pekerjaan, maupun aktivitas sehari-hari.
2. Gangguan Kesuburan
Anemia yang berat dapat mempengaruhi keseimbangan hormon reproduksi, sehingga berpotensi menyebabkan gangguan kesuburan atau siklus menstruasi tidak teratur.
3. Risiko Kehamilan Bermasalah
Wanita usia subur yang mengalami anemia sebelum atau selama kehamilan berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi seperti: Keguguran, Bayi lahir prematur, Berat badan lahir rendah (BBLR), Pendarahan postpartum.
Selain itu, anemia pada ibu hamil dapat menyebabkan anemia pada bayi yang dikandungnya hingga gangguan pertumbuhan yang berujung pada masalah stunting pada anak.
Menurunnya kualitas hidup
anemia kronis menyebabkan penderita merasa lemah terus-menerus, mudah sakit, dan kurang bersemangat. Kondisi ini berdampak pada kesehatan mental dan sosial.
Bagaimana Gejala Anemia pada Wanita Usia Subur (WUS)?
Gejala anemia sering tidak disadari karena berkembang perlahan. Gejala yang umum antara lain:
1. Mudah lelah dan lemah
2. Wajah pucat
3. Pusing atau sakit kepala
4. Sesak nafas saat aktivitas ringan
5. Jantung berdebar-debar
6. Tangan dan kaki dingin
7. Sulit konsentrasi
8. Rambut rontok dan kuku rapuh.
Jika mengalami beberapa gejala tersebut, sebaiknya segera memeriksakan kadar hemoglobin ke fasilitas kesehatan.
Pencegahan Anemia pada Wanita Usia Subur (WUS)
Anemia pada WUS sebenarnya dapat dicegah dengan langkah-langkah sederhana:
1. Konsumsi Makanan Bergizi
Perbanyak makanan kaya zat besi, seperti: Daging merah (sapi, kambing), Hati
ayam/sapi, Sayuran hijau (bayam, brokoli), Kacang-kacangan dan biji-bijian
Kombinasikan dengan sumber vitamin C (jeruk, tomat) untuk membantu penyerapan zat besi.
2. Suplemen Zat Besi
WHO menganjurkan wanita usia subur mengkonsumsi tablet tambah darah (TTD) 1 tablet per minggu untuk mencegah anemia, terutama di daerah dengan prevalensi anemia tinggi.
3. Cegah Menstruasi Berat
Jika mengalami perdarahan menstruasi berlebihan, segera konsultasi ke dokter untuk mendapatkan penanganan.
4. Edukasi Kesehatan Reproduksi
Penyuluhan mengenai anemia, gizi seimbang, dan pentingnya pemeriksaan Hb secara berkala perlu digencarkan, terutama pada remaja putri.
5. Pemeriksaan Rutin
Rutin cek kadar hemoglobin, khususnya bagi wanita yang berencana hamil, ibu hamil, atau memiliki gejala anemia.
Baca juga: Cantik (Cegah Anemia dengan Tingkatkan Kesehatan)
Penutup
Anemia pada wanita usia subur adalah masalah kesehatan yang sering diabaikan, namun dampaknya sangat luas bagi kesehatan reproduksi, kualitas hidup, dan generasi mendatang.
Dengan pola makan bergizi, konsumsi suplemen zat besi, serta pemeriksaan rutin, anemia dapat dicegah dan diatasi sejak dini.
Mari tingkatkan kesadaran tentang pentingnya mencegah anemia agar wanita usia subur tetap sehat, produktif, dan siap melahirkan generasi yang lebih sehat.
Penulis: Indah Sari Putri, S.Gz
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Profesi Dietisien, Universitas Esa Unggul
Editor: Anita Said
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













