Peran seorang Breadwinner atau pencari nafkah utama yang harus mengurus banyak anak di keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah sering kali memberi beban fisik dan psikologis yang sangat berat. “For many families in a variety of economic circumstances the dependence on a male earner preceded industrialization.” (Horrell & Humphries, 1997).
“The quality of family relationships, including social support (e.g., providing love, advice, and care) and strain (e.g., arguments, being critical, making too many demands), can influence well-being through psychosocial, behavioral, and physiological pathways.” (Thomas et al., 2017).
Beban yang terlalu banyak ini bisa menyebabkan stres berkepanjangan, yang memengaruhi kualitas pengasuhan serta kesejahteraan keluarga secara keseluruhan. Stres ini tidak hanya menimpa kepala keluarga saja, tetapi juga bisa memengaruhi hubungan dalam keluarga dan perkembangan anak-anaknya.
“Nasib kurang beruntung dialami pasangan suami istri Choirul Anam (37) dan Yunita Puji Lestasti (37). Warga Bulak Rukem Timur II Nomor 14 B, Surabaya ini harus berdesak-desakan dengan 6 anaknya di sebuah rumah berukuran 1×2,5 meter. Karena faktor ekonomi juga, 4 anaknya pun terpaksa harus putus sekolah.” (detikcom, 2023).
Kenyamanan dan kelayakan tempat tinggal serta akses pendidikan menjadi salah satu faktor yang mendukung kesejahteraan dalam keluarga. Walaupun keluarga mendapatkan bantuan dari Pemkot Surabaya, dengan jumlah anak yang banyak dan tempat tinggal yang tidak layak, hal ini bisa memberikan tekanan kepada keluarga, baik kepala keluarga maupun istri dan anak-anaknya, jika kondisi yang sama terus berlanjut.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengusulkan kebijakan yang mewajibkan prosedur vasektomi sebagai syarat mendapatkan bantuan sosial bagi keluarga menengah ke bawah. Tujuannya adalah untuk mengendalikan jumlah anak dan mengurangi risiko kemiskinan sistemik.
Dengan menekan jumlah anak, diharapkan beban ekonomi keluarga bisa berkurang, sehingga kesejahteraan keluarga bisa meningkat. Selain itu, pendekatan ini juga bisa mengurangi tekanan psikologis yang dirasakan oleh kepala keluarga, sehingga meningkatkan kualitas perhatian dan pengasuhan terhadap anak.
Beban bagi keluarga yang memiliki banyak anak sering kali memperlebar kesenjangan kemiskinan, terutama ketika akses ke pekerjaan dengan gaji yang layak, layanan kesehatan, pendidikan, dan perlindungan sosial masih kurang memadai, dan hal ini dapat memicu terjadinya Poverty Cycle.
Sejarawan Michael Katz menulis, “The idea that poverty is a problem of persons—that it results from moral, cultural, or biological inadequacies—has dominated discussions of poverty for well over two hundred years and given us the enduring idea of the undeserving poor.” (Katz, 2013).
Risiko dari Poverty Cycle bersifat sistemik karena dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti ekonomi, budaya, kebijakan, dan struktur lembaga yang saling berkaitan. Untuk mengurangi risiko ini, diperlukan pendekatan yang melibatkan berbagai sektor dengan fokus pada pencegahan, perlindungan, dan pemberdayaan bagi semua anggota keluarga.
Mengurus banyak anak di bawah kondisi ekonomi yang terbatas membutuhkan energi dan perhatian yang sangat besar dari kepala keluarga. Beban yang berlebihan tidak hanya melelahkan secara fisik, tetapi juga bisa menciptakan stres yang berkelanjutan, yang menyebabkan orang tua kesulitan dalam menjalankan peran pengasuhan secara optimal.
Akibatnya, kesejahteraan keluarga secara keseluruhan bisa terganggu karena kurangnya perawatan yang memadai serta kurangnya perhatian terhadap kebutuhan psikologis dan emosional anggota keluarga.
Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang tidak hanya memperhatikan aspek ekonomi, tetapi juga kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis kepala keluarga. Intervensi yang holistik dan humanis bisa membantu kepala keluarga mengelola beban yang mereka hadapi dengan lebih baik, sehingga meningkatkan kualitas hidup serta kesejahteraan seluruh anggota keluarga.
Kesimpulannya, kepala keluarga yang bertindak sebagai Breadwinner di keluarga kelas menengah ke bawah, terutama yang memiliki banyak anak, sering menghadapi beban fisik dan mental yang berat. Hal ini bisa menyebabkan stres berkepanjangan, yang berdampak negatif terhadap cara pengasuhan dan kesejahteraan seluruh keluarga.
Situasi ini semakin diperumit oleh kondisi ekonomi yang kurang memadai, tempat tinggal yang tidak layak, serta akses pendidikan yang terbatas, yang dapat memperkuat siklus kemiskinan atau Poverty Cycle.
Kebijakan seperti wajib melakukan vasektomi sebagai syarat mendapatkan bantuan sosial yang diusulkan bertujuan untuk mengurangi jumlah anak guna mengurangi beban ekonomi dan tekanan psikologis. Namun, intervensi yang efektif harus melibatkan pendekatan holistik yang tidak hanya menangani aspek ekonomi, tetapi juga kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis keluarga.
Dibutuhkan pendekatan yang melibatkan beberapa sektor, dengan fokus pada pencegahan, perlindungan, dan pemberdayaan, agar bisa memecahkan siklus kemiskinan dan meningkatkan kualitas hidup seluruh anggota keluarga secara berkelanjutan.
Penulis: Fathur Rahman Rofiq
Mahasiswa Psikologi, Universitas Jambi
Dosen Pengampu: Ayu Ulivia, M.Pd.
Referensi
detikcom. (2023, Juni 14). Cerita sedih keluarga miskin di Surabaya, punya 6 anak-4 putus sekolah. detikcom.
Horrell, S., & Humphries, J. (1997). The origins and expansion of the male breadwinner family: The case of nineteenth-century Britain. International Review of Social History, 42(Supplement), 25–64.
Thomas, P. A., Liu, H., & Umberson, D. (2017). Family relationships and well-being. Innovation in Aging, 1(3), 1–11.
B. Katz, The Undeserving Poor: America’s Enduring Confrontation With Poverty: Fully Updated and Revised (Oxford Univ. Press, ed. 2, 2013).
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













