Belanja merupakan suatu aktivitas di mana seseorang mengeluarkan aset untuk membeli keperluan hidupnya baik itu primer, sekunder maupun tersier. Saat ini, belanja secara online sudah menjadi kebiasaan dalam lingkup masyarakat. Hal tersebut dirasakan oleh berbagai kalangan dan generasi, salah satunya Gen Z.
Saat bermain media sosial terkadang muncul suatu konten produk yang menarik dan rasanya kita ingin sekali membelinya.
Padahal sebenernya, konten produk yang muncul belum tentu sesuai dengan keadaan aslinya atau produknya engga begitu dibutuhkan banget. Hal tersebut bisa jadi salah satu pengaruh Shoppertainment loh, kira-kira apa alasannya ya?
Shoppertainment sebagai Daya Tarik
Shoppertainment merupakan gabungan konsep antara “Shopping” yang berarti belanja dan “Entertainment” yang berarti hiburan. Istilah ini merujuk pada strategi pemasaran dan penjualan yang memberikan pengalaman menarik saat berbelanja karena terdapat unsur hiburan di dalamnya.
Tujuan utama dari konsep ini yaitu mengubah kegiatan berbelanja yang semula berfokus pada kegiatan transaksi menjadi kegiatan yang lebih menyenangkan. Ibarat sebuah pepatah yaitu “Sambil Menyelam Minum Air” konsep ini memberikan keuntungan serupa bagi para pengguna yang senang bermain media sosial dan belanja online.
Di mana kegiatan ini bisa dilakukan secara bersamaan. Bagi Gen Z kegiatan ini bisa menjadi hal yang asyik. Selain mengefesienkan waktu, mereka juga mendapat keuntungan instan dari kebutuhan hiburan dan belanja yang terpenuhi.
Dengan dikenalkannya konsep ini perspektif Gen Z akan berubah menjadi lebih terbuka akan tren-tren yang sedang booming.
Pengaruh Shoppertainment bagi Gen Z
Di balik kemudahan Shoppertainment. Konsep ini ternyata punya pengaruh besar bagi kehidupan Gen Z. Contohnya ialah budaya FOMO. FOMO sendiri adalah singkatan dalam bahasa Inggris yaitu “Fear of Missing Out” yang berarti takut ketinggalan.
Atau secara garis besarnya ialah terganggunya kondisi psikologis seseorang seperti rasa khawatir/cemas akibat menyadari bahwa ada orang lain yang sedang menikmati pengalaman menarik atau memiliki kebahagiaan tertentu, dan timbul kecemasan karena dirinya tidak menjadi bagian dari momen tersebut.
Bagi sebagian Gen Z FOMO bukan sekadar perasaan aja tapi pondasi utama untuk menjaga eksistensi mereka di komunitas digital.
Hal ini sangat nyata dirasakan Gen z sebab ketika tren yang sedang naik daun viral, maka timbul keinginan kuat untuk bisa berkecimpung langsung dalam tren tersebut. Entah itu tren fashion, makanan, kecantikan atau gaya hidup, semua tren tersebut bisa menjadi salah satu pengaruh besar bagi kehidupan para Gen Z.
Baca Juga: Penerapan AI Shopee: Inovasi Teknologi Kecerdasan Buatan di Dunia E-Commerce
Contoh lainnya yaitu meningkatnya kegiatan konsumtif yang tidak diperlukan. Setelah seseorang merasa fomo, maka secara otomatis akan ada hal yang dipertaruhkan. Untuk ikut serta membeli produk dalam suatu tren, pengguna secara otomatis akan mengeluarkan biaya.
Biaya tersebut bisa dikategorikan sebagai biaya yang tidak diperlukan karena tren yang sedang terjadi bukan menjadi suatu kewajiban yang harus diikuti oleh setiap orang.
Namun, karena timbulnya perasaan fomo dan didukung oleh partisipasi sesama generasi maka kegiatan tersebut akan selalu diupayakan. Hal tersebut menjadi konsumtif yang tidak diperlukan dan dapat memperburuk kondisi keuangan para gen z sebab tidak adanya manajemen yang terstruktur.
Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa alasan seringnya para gen z tergoda untuk membeli sesuatu produk atau ikut serta dalam tren viral padahal kegiatan tersebut gak dibutuhkan banget karena adanya pengaruh budaya FOMO serta perilaku konsumtif yang gak diperlukan.
Kedua pengaruh tersebut memberikan dampak yang begitu besar dalam aktivitas belanja dan hiburan para Gen z. Selain itu, daya tarik yang diberikan konsep Shoppertainment memudahkan aktivitas masyarakat terkhusus gen z dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Penulis: Seni Melina Paujiah (251010502138)
Mahasiswa Manajemen S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












