Deepfake dan Ketimpangan Gender di Era Digital

deepfake artinya
Deepfake dan Ketimpangan Gender di Era Digital. Sumber: Penulis.

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah membawa banyak perubahan dalam kehidupan manusia. Salah satu teknologi yang berkembang pesat adalah deepfake, yaitu teknologi yang mampu memanipulasi wajah, suara, dan gerakan seseorang sehingga terlihat sangat nyata.

Teknologi ini awalnya dianggap sebagai inovasi modern yang bermanfaat dalam dunia hiburan, pendidikan, dan industri kreatif. Namun dalam kenyataannya, deepfake juga menghadirkan ancaman baru, terutama terhadap perempuan.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Dari sudut pandang isu gender, deepfake menunjukkan bahwa ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan kini tidak hanya terjadi di dunia nyata, tetapi juga di ruang digital.

Deepfake pertama kali dikenal luas pada tahun 2017 ketika seorang pengguna anonim di forum Reddit mengunggah video manipulasi wajah selebritas menggunakan AI. Sejak saat itu, teknologi ini semakin berkembang dan mudah diakses.

Sayangnya, perkembangan tersebut lebih banyak dimanfaatkan untuk tujuan negatif, khususnya pembuatan pornografi digital tanpa persetujuan korban. Dalam banyak kasus, perempuan menjadi target utama.

Fenomena ini terlihat jelas di Korea Selatan. Berdasarkan analisis perusahaan keamanan siber Security Hero, Korea Selatan menjadi negara dengan tingkat kerentanan tertinggi terhadap pornografi deepfake. Sebanyak 99% korban dalam konten pornografi deepfake adalah perempuan, sedangkan hanya 1% yang melibatkan laki-laki.

Bahkan lebih dari setengah video pornografi deepfake di internet menampilkan perempuan Korea Selatan, mulai dari artis K-pop, aktris, mahasiswa, hingga anak di bawah umur.

Dari perspektif gender, data tersebut menunjukkan bahwa perempuan masih dipandang sebagai objek seksual yang dapat dieksploitasi, bahkan melalui teknologi modern. Tubuh dan identitas perempuan dijadikan sasaran manipulasi demi kepuasan, hiburan, atau keuntungan pihak lain tanpa persetujuan korban.

Hal ini memperlihatkan bagaimana budaya patriarki tetap bekerja di era digital. Teknologi yang seharusnya menjadi alat kemajuan justru digunakan untuk memperkuat kontrol dan kekerasan terhadap perempuan.

Kasus deepfake juga memperlihatkan bentuk baru kekerasan berbasis gender. Jika dahulu kekerasan terhadap perempuan banyak terjadi secara fisik atau verbal, kini kekerasan dapat dilakukan secara digital dengan dampak yang sama besarnya.

Korban deepfake sering mengalami rasa takut, malu, trauma, hingga kehilangan rasa aman karena video atau gambar palsu mereka dapat tersebar luas kapan saja. Dalam banyak kasus, masyarakat juga cenderung menyalahkan korban dibanding pelaku, sehingga perempuan mengalami tekanan sosial yang lebih berat.

Baca Juga: Kejahatan Deepfake dalam Perspektif Asas Legalitas Hukum Pidana: Kajian Normatif dan Perbandingan Hukum Internasional

Data dari BBC menunjukkan bahwa kejahatan seksual berbasis deepfake di Korea Selatan meningkat lebih dari 670% selama 2021–2024. Angka tersebut membuktikan bahwa kemajuan teknologi belum diimbangi dengan perlindungan gender yang memadai.

Perempuan muda menjadi kelompok paling rentan karena mereka lebih aktif di media sosial dan lebih sering menjadi sasaran eksploitasi digital.

Pemerintah Korea Selatan sebenarnya telah berupaya menangani masalah ini melalui berbagai regulasi dan sistem penghapusan konten ilegal.

Pada tahun 2025, pemerintah membentuk Pusat Nasional untuk Respons Kejahatan Seksual Digital yang beroperasi selama 24 jam untuk membantu korban dan mempercepat penghapusan konten deepfake ilegal.

Selain itu, Korea Selatan juga mulai menerapkan Undang-Undang Dasar AI pada tahun 2026 guna mengatur penggunaan teknologi AI secara lebih aman dan bertanggung jawab.

Namun, penyelesaian masalah deepfake tidak cukup hanya dengan teknologi dan hukum. Dibutuhkan perubahan cara pandang masyarakat terhadap perempuan dan isu gender.

Selama perempuan masih dianggap sebagai objek dan ketimpangan gender masih terjadi, teknologi seperti deepfake akan terus digunakan untuk mengeksploitasi perempuan. Oleh karena itu, pendidikan tentang kesetaraan gender, etika digital, dan keamanan teknologi harus diperkuat sejak dini.

Baca Juga: Deepfake sebagai Alat Kejahatan Siber

Pada akhirnya, kasus deepfake di Korea Selatan menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak selalu netral. Teknologi dapat memperbesar ketidakadilan gender jika digunakan dalam budaya yang masih memandang perempuan secara tidak setara.

Karena itu, perlindungan terhadap perempuan di ruang digital harus menjadi perhatian utama agar kemajuan teknologi benar-benar membawa manfaat bagi semua orang, bukan justru menjadi alat kekerasan baru terhadap perempuan.


Penulis:

Ashly Thomson Awi (NIM: 2023031054128)
Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Cenderawasih Jayapura


Dosen Pengampu: Melpayanti Sinaga, S.IP., M.St., DLB


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Referensi:

https://lens.monash.edu/the-paradox-of-digital-safety-deepfakes-ai-and-gendered-risk-in-south-korea/https://www.securityhero.io/state-of-deepfakes/#appendix

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses