Ringkasan
Peningkatan kualitas hidup lansia dapat dicapai melalui strategi promotif dan preventif yang menitikberatkan pada edukasi gizi dan aktivitas fisik. Seiring bertambahnya usia, lansia mengalami penurunan fungsi tubuh yang dapat meningkatkan risiko penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, dan osteoporosis. Oleh karena itu, pemenuhan gizi yang seimbang menjadi penting, dengan memperhatikan asupan protein, kalsium, vitamin D, serat, dan cairan. Pola makan yang teratur dan bervariasi dapat membantu mempertahankan kesehatan dan mencegah kekurangan nutrisi. Selain itu, aktivitas fisik yang rutin seperti jalan kaki, senam ringan, atau peregangan dapat menjaga kekuatan otot, meningkatkan keseimbangan, dan mencegah risiko jatuh serta penyakit degeneratif. Kombinasi antara gizi yang tepat dan aktivitas fisik yang sesuai kondisi fisik lansia akan sangat bermanfaat dalam menjaga kesehatan secara menyeluruh. Pendekatan ini juga perlu didukung oleh peran aktif keluarga dan masyarakat agar lansia tetap sehat, mandiri, dan sejahtera di usia lanjut.
Kekurangan gizi dapat menyebabkan kelelahan, penurunan massa otot (sarkopenia), gangguan imunitas, hingga meningkatkan risiko jatuh dan komplikasi penyakit kronis seperti diabetes atau hipertensi. Oleh karena itu, pola makan sehat yang disesuaikan dengan kondisi fisik, ditambah dengan aktivitas fisik ringan secara rutin seperti jalan kaki atau senam lansia, sangat dianjurkan untuk menjaga kebugaran, kemandirian, dan kesejahteraan hidup lansia
Selain itu, lansia juga sering mengalami penurunan nafsu makan akibat faktor psikologis, gangguan penciuman atau pengecapan, serta masalah kesehatan gigi dan mulut. Hal ini dapat menyebabkan kekurangan gizi yang berdampak serius, seperti kelelahan, penurunan daya tahan tubuh, hingga mempercepat proses penuaan dan menurunkan kualitas hidup. Oleh karena itu, penting untuk memberikan perhatian khusus pada pola makan lansia, baik dari segi variasi makanan, tekstur, maupun frekuensi makan. Di samping itu, menjaga kesehatan fisik melalui aktivitas ringan seperti jalan kaki, senam lansia, atau berkebun juga sangat dianjurkan untuk mempertahankan fleksibilitas tubuh, meningkatkan keseimbangan, serta mengurangi risiko jatuh dan depresi. Kombinasi antara pola makan yang bergizi dan aktivitas fisik yang sesuai akan membantu lansia menjalani masa tua dengan lebih sehat, mandiri, dan bahagia
Edukasi yang komprehensif bagi lansia mengenai pemenuhan gizi dan penjagaan kesehatan fisik sangat penting untuk mendukung kualitas hidup yang optimal di usia lanjut. Banyak lansia yang belum sepenuhnya memahami kebutuhan nutrisi tubuhnya yang telah berubah seiring dengan proses penuaan, sehingga mereka sering kali mengonsumsi makanan yang kurang sesuai atau tidak seimbang. Edukasi yang tepat dapat membantu lansia mengenali pentingnya asupan protein, kalsium, vitamin, serta cairan yang cukup untuk menjaga kekuatan otot, kesehatan tulang, dan fungsi tubuh lainnya. Selain itu, edukasi juga mencakup pemahaman tentang pentingnya aktivitas fisik ringan, seperti berjalan kaki atau senam lansia, guna mencegah kekakuan sendi, meningkatkan keseimbangan, dan menjaga kebugaran secara umum. Dengan pendekatan edukasi yang mudah dipahami dan disesuaikan dengan kondisi serta latar belakang masing-masing individu, lansia akan lebih termotivasi untuk menjalani gaya hidup sehat. Edukasi ini juga dapat melibatkan keluarga dan tenaga kesehatan agar tercipta dukungan yang menyeluruh, sehingga lansia tidak hanya mendapatkan informasi, tetapi juga dorongan dan bimbingan dalam menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Metode yang digunakan dalam pengabdian masyarakat ini adalah metode ceramah berupa pemberian edukasi dan diskusi seputar gizi dan aktifitas fisik pada lansia. Pelaksanaan pengabdian masyarakat ini akan dilakukan di pada tanggal 12 April 2025. Adapun target luaran dari pengabdian masyarakat ini yaitu media online/ media cetak.
Kata Kunci
Lansia, Gizi, Aktifitas, Fisik, Edukasi.
Pendahuluan
Lansia merupakan kelompok usia yang mengalami berbagai perubahan fisiologis dan psikologis seiring bertambahnya usia. Penurunan fungsi organ, berkurangnya massa otot, serta menurunnya kemampuan metabolik menjadikan lansia lebih rentan terhadap berbagai penyakit degeneratif seperti hipertensi, diabetes melitus, osteoporosis, dan gangguan kognitif. Oleh karena itu, upaya menjaga kesehatan lansia tidak hanya bertumpu pada pengobatan, tetapi juga harus diarahkan pada pendekatan promotif dan preventif (1).
Pendekatan promotif-preventif menekankan pentingnya pencegahan sebelum penyakit berkembang serta peningkatan kesadaran lansia terhadap perilaku hidup sehat. Salah satu bentuk intervensi yang efektif adalah edukasi terkait gizi dan aktivitas fisik. Edukasi ini bertujuan untuk membekali lansia dengan pengetahuan dan keterampilan dalam memilih makanan sehat serta melakukan aktivitas fisik yang sesuai dengan kondisi tubuh mereka (2).
Gizi yang tepat sangat berperan dalam menjaga status kesehatan lansia. Asupan nutrisi yang seimbang dapat membantu memperkuat sistem kekebalan tubuh, menjaga massa otot, serta mencegah defisiensi mikronutrien yang sering dialami pada usia lanjut. Pemahaman yang benar tentang pola makan sehat sangat diperlukan untuk menghindari kebiasaan makan yang tidak sesuai atau kurang bernutrisi yang dapat memperburuk kondisi kesehatan lansia (3).
Di samping itu, aktivitas fisik yang teratur terbukti mampu memberikan berbagai manfaat bagi lansia. Aktivitas seperti berjalan kaki, senam ringan, atau yoga dapat membantu menjaga kebugaran tubuh, memperkuat otot dan tulang, meningkatkan keseimbangan, serta mengurangi risiko jatuh yang umum terjadi pada lansia. Aktivitas fisik juga memiliki dampak positif terhadap kesehatan mental, seperti mengurangi risiko depresi dan kecemasan (4).
Namun, kesadaran lansia terhadap pentingnya gizi dan aktivitas fisik masih tergolong rendah. Hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya akses informasi, keterbatasan fisik, serta rendahnya dukungan dari lingkungan sekitar. Oleh karena itu, perlu adanya program edukasi yang berkelanjutan dan mudah diakses untuk meningkatkan pemahaman dan partisipasi lansia dalam menjaga kesehatannya secara mandiri (5).
Dengan mengintegrasikan edukasi gizi dan aktivitas fisik dalam strategi promotif-preventif, diharapkan kualitas hidup lansia dapat meningkat secara signifikan. Pendekatan ini bukan hanya bertujuan untuk memperpanjang harapan hidup, tetapi juga memastikan bahwa lansia dapat menjalani masa tuanya dengan sehat, mandiri, dan produktif. Oleh karena itu, peran tenaga kesehatan, keluarga, dan masyarakat sangat penting dalam mendukung pelaksanaan strategi ini secara optimal (6).
Penerapan strategi edukasi gizi dan aktivitas fisik sebagai bagian dari program promotif-preventif juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan pelayanan kesehatan berbasis masyarakat. Melalui pendekatan ini, lansia tidak hanya menjadi objek pelayanan, tetapi juga subjek yang aktif dalam menjaga kesehatannya sendiri. Intervensi yang dilakukan dapat bersifat individual maupun kelompok, seperti melalui posyandu lansia, kelas kebugaran lansia, atau penyuluhan yang melibatkan kader kesehatan dan keluarga (7).
Dengan memperkuat literasi kesehatan pada lansia, diharapkan beban penyakit kronis dapat ditekan dan angka ketergantungan lansia terhadap fasilitas kesehatan menurun. Hal ini tentunya berkontribusi pada sistem kesehatan nasional yang lebih efisien dan berkelanjutan. Oleh karena itu, penting untuk terus mengembangkan model edukasi yang adaptif, interaktif, dan berbasis kebutuhan lokal agar strategi promotif-preventif ini benar-benar memberikan dampak positif bagi kesejahteraan lansia di Indonesia (8).
Baca Juga: Fisioterapi pada Lansia
Solusi Permasalahan
Permasalahan utama dalam upaya menjaga kesehatan lansia melalui edukasi gizi dan aktivitas fisik adalah rendahnya kesadaran dan pengetahuan lansia terhadap pentingnya pola hidup sehat. Banyak lansia yang masih belum memahami hubungan langsung antara pola makan dan aktivitas fisik dengan kondisi kesehatan mereka. Selain itu, keterbatasan informasi, minimnya akses terhadap layanan edukasi, serta kurangnya pendampingan membuat banyak lansia tetap menjalankan kebiasaan yang kurang sehat (9).
Rendahnya pemahaman lansia mengenai gizi dan aktivitas fisik merupakan tantangan serius yang berdampak langsung terhadap kualitas hidup mereka. Lansia yang tidak memahami pentingnya pola makan sehat cenderung mengalami berbagai gangguan kesehatan seperti malnutrisi, hipertensi, diabetes, hingga osteoporosis. Di sisi lain, minimnya kesadaran terhadap pentingnya aktivitas fisik membuat mereka rentan terhadap penurunan fungsi fisik, penambahan berat badan, serta isolasi sosial. Kondisi ini bukan hanya memengaruhi kesejahteraan individu, tetapi juga meningkatkan beban keluarga dan sistem pelayanan kesehatan(10).
Keterlibatan keluarga sangat penting. Keluarga merupakan lingkungan terdekat yang berperan besar dalam membentuk kebiasaan makan dan gaya hidup lansia. Dengan memberikan pemahaman kepada anggota keluarga, mereka bisa lebih sadar untuk membantu lansia mengatur pola makan, mengingatkan untuk berolahraga ringan, dan menciptakan suasana yang mendukung hidup sehat di rumah. Pelatihan singkat untuk caregiver atau anggota keluarga mengenai kebutuhan nutrisi lansia dan aktivitas fisik yang sesuai juga bisa menjadi langkah konkret yang efektif (11).
Pengembangan komunitas lansia aktif juga merupakan solusi strategis. Komunitas ini bisa berfungsi sebagai wadah berbagi informasi, motivasi, serta sarana kegiatan bersama seperti senam lansia, jalan pagi, atau kebun bersama. Adanya komunitas membuat lansia merasa lebih bersemangat, dihargai, dan tidak merasa sendiri. Ketika kegiatan fisik dikemas secara menyenangkan dan dilakukan bersama teman sebaya, lansia lebih termotivasi untuk berpartisipasi secara rutin (12).
Peningkatan akses terhadap makanan bergizi juga menjadi langkah penting. Banyak lansia, terutama di pedesaan atau dari kalangan ekonomi rendah, sulit memperoleh makanan bergizi karena keterbatasan biaya atau pengetahuan. Pemerintah daerah bisa menggagas program subsidi pangan sehat untuk lansia, atau menyediakan paket makanan sehat gratis bagi mereka yang kurang mampu. Selain itu, penyuluhan tentang cara mengolah bahan makanan lokal menjadi menu sehat dan seimbang dapat membantu lansia dan keluarganya menyusun pola makan yang lebih baik (13).
Media massa dan teknologi juga bisa menjadi jembatan informasi yang efektif. Radio lokal, televisi komunitas, hingga aplikasi ponsel yang ramah lansia dapat digunakan untuk menyebarkan pesan-pesan kesehatan. Video pendek tentang resep sehat, pentingnya minum air, atau panduan senam ringan bisa dibuat dalam versi sederhana dan menarik. Bagi lansia yang belum familiar dengan teknologi, bisa dilakukan pelatihan ringan atau pendampingan oleh kader kesehatan maupun relawan muda (14).
Penting juga dilakukan monitoring dan evaluasi berkala terhadap program yang dijalankan. Petugas kesehatan seperti bidan, perawat, atau kader posyandu perlu mencatat perubahan kondisi kesehatan lansia dan tingkat partisipasi mereka dalam program. Dengan data ini, program bisa terus disesuaikan agar lebih tepat sasaran. Jika ditemukan kendala, misalnya ketidaktertarikan lansia atau minimnya dukungan keluarga, perlu dicari pendekatan yang lebih personal dan humanis.
Solusi utama yang dapat diterapkan adalah edukasi kesehatan secara berkelanjutan. Pemerintah bersama instansi kesehatan dan organisasi sosial perlu merancang program edukasi gizi dan olahraga yang disesuaikan dengan karakteristik lansia. Edukasi ini dapat dilakukan melalui posyandu lansia, kelompok pengajian, pertemuan RT/RW, maupun kunjungan rumah. Penyampaian informasi sebaiknya dilakukan dengan bahasa yang sederhana, visual yang menarik, dan menggunakan pendekatan empatik agar lebih mudah dipahami dan diterima (15)
Dengan menggabungkan berbagai solusi di atas secara terintegrasi, permasalahan rendahnya pemahaman lansia terhadap gizi dan aktivitas fisik dapat diatasi secara bertahap. Pendekatan yang bersifat edukatif, partisipatif, dan berkelanjutan akan membangun kesadaran serta kebiasaan baru yang lebih sehat di kalangan lansia. Pada akhirnya, hal ini akan meningkatkan kualitas hidup lansia, memperpanjang usia harapan hidup yang sehat, serta menciptakan masyarakat yang lebih peduli terhadap kelompok usia lanjut (15).

Baca Juga: Mengenal Manfaat Pijat Refleksi bagi Kesehatan dan Tubuh
Metode Pelaksanaan
Prinsip utama kegiatan yang ditawarkan adalah pemahaman Lansia tentang gizi dan katifitas fisik. Diharapkan dengan pemberian edukasi, wawasan dan keterampilan dan pengalaman yang diperoleh dapat dimanfaatkan sampai kapanpun dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari hari. Oleh sebab itu kegiatan ini akan didukung oleh sumber daya manusia yang ahli dalam bidang kebidanan. Adapun metode pelaksanaan pengabdian ini antara lain:
Tahap awal
Pada tahap awal prinsip utamanya adalah adanya kesadaran setiap pihak untuk mensukseskan kegiatan pengabdian ini. Aktivitas yang dilakukan adalah,
- Sosialisasi program pengabdian ini kepada stakeholder dan Stakeholder disini adalah Kepala Desa dan jajajran yang terkait, bagian akademik dan kemahasiswaan. Diharapkan Kepala Desa dan jajajran yang terkait, bagian akademik dan kemahasiswaan memahami konten program dan memberi ijin pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini. Selain itu juga meminta dukungan stakeholder untuk memfasilitasi tempat pelaksanaan kegiatan yang berada di lingkungan di Desa Padang Brahrang melalui sosialisasai ini diharapkan memberikan dukungan untuk terlaksananya kegiatan ini.
- Orientasi program pemberdayaan lansia. Kegiatan ini dilakukan untuk membuka wawasan dan pandangan para lansia agar dapat meningkatkan kesehatannya dengan edukasi yang akan dilaksanakan. Keseluruhan aktivitas akan dilakukan langsung oleh ketua pengabdian masyarakat beberap anggota untuk membantu kegiatan ini. Ketua pelaksana akan turun langsung melakukan kegiatan karena pengabdian masyarakat ini merupakan tanggung jawab ketua pengabdian sehingga lebih baik dilakukan langsung oleh ketua.
Tahap Pelaksanaan
Prinsip utama pada tahap ini adalah meningkatkan pengetahuan, wawasan pemahaman mengenai gizi dan aktifitas fisik pada lansia . Salah satu strategi untuk perubahan perilaku adalah dengan pemberian informasi guna meningkatkan pengetahuan sehingga timbul kesadaran yang pada akhirnya orang akan berperilaku sesuai dengan pengetahuannya tersebut. Salah satu cara pemberian informasi adalah dengan melakukan penyuluhan kepada lansia mengenai gizi dann aktifitas fisik. Pemberian informasi dalam bentuk pendidikan ini tidak terlepas dari metode dan media yang digunakan.
Pendidikan kesehatan lansia ini merupakan bagian dari pendidikan kesehatan, dimana Pendidikan kesehatan adalah kegiatan yang membantu individu, kelompok dan masyarakat untuk meningkatkan kemampuan berupa pengetahuan, sikap dan psikomotor untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal. Untuk mendukung kegiatan tersebut maka dibutuhkan kompetensi yang mendukung antara lain:
Bd. Pratiwi Nasution, SST, M.Kes sebagai ketua dan Anggota Bd. Ramadhani Syafitri, SST, MKM serta Safrina Ramadhani, SKM, MKM selain memiliki kompetensi di bidang kebidanan dan pendidikan juga dapat memberikan edukasi kepada lansia mengenai kesehatan reproduksi melalui pemahaman gizi dan aktifitas fisk.
Tahap Akhir
Tahap akhir dari kegiatan ini adalah membangun kesepakatan antara Kepala Desa dan jajajran yang terkait, bagian akademik dan kemahasiswaan dan lansia selaku peserta pengabdian masyarakat untuk sepakat melanjutkan program ini secara berkelanjutan agar dapat diterapkan dalam kehidupan sehari hari agar memperoleh kesehatan yang maksimal.

Baca Juga: Membangun Desa Rembun Aktif dan Bugar Lewat Inovasi Pembelajaran PJOK dan Senam Lansia
Hasil dan Luaran yang Dicapai (Output)
Kegiatan ini menghasilkan luaran berupa media tentang pelaksanaan kegiatan pemberian edukasi dan diskusi dengan para lansia seputar gizi dan aktifitas fisik. Pendidikan kesehatan mengenai gizi dan aktifitas fisik bertujuan agar lansia mengetahui pentingnya asupan nutrisi yang tepat sesuai usia mereka, serta mampu memilih makanan yang sehat dan bergizi untuk menjaga kesehatan tubuh dan mencegah penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi.
Memberikan pemahaman bahwa gaya hidup sehat, termasuk makan teratur dan seimbang serta aktivitas fisik ringan yang rutin, sangat berpengaruh terhadap kualitas hidup dan kebugaran tubuh lansia. Selain itu Edukasi ini bertujuan untuk membantu lansia mengelola kondisi kesehatan yang umum terjadi di usia lanjut, seperti osteoporosis, tekanan darah tinggi, dan nyeri sendi, melalui pola makan sehat dan olahraga teratur
Manfaat yang Dicapai (Outcome)
Setelah mendapatkan edukasi mengenai gizi dan aktivitas fisik, lansia memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang cara menjaga kesehatan tubuhnya secara mandiri. Mereka menjadi lebih sadar akan pentingnya asupan makanan bergizi seimbang, seperti konsumsi protein, serat, vitamin, dan mineral yang sesuai dengan kebutuhan usia lanjut. Lansia juga belajar menghindari makanan tinggi garam, gula, dan lemak jenuh yang dapat memicu penyakit degeneratif. Dengan pemahaman tersebut, mereka cenderung memiliki pola makan yang lebih teratur dan sehat, sehingga mampu mengurangi risiko malnutrisi, anemia, diabetes, hipertensi, serta menjaga berat badan ideal.
Selain itu, edukasi yang diberikan juga mendorong lansia untuk tetap aktif secara fisik, misalnya melalui senam ringan, jalan kaki, atau aktivitas harian seperti berkebun. Aktivitas fisik yang teratur membantu memperkuat otot dan sendi, menjaga keseimbangan tubuh, serta meningkatkan daya tahan fisik dan mental. Manfaat lainnya termasuk menurunnya rasa cemas dan stres, meningkatnya kualitas tidur, serta memperbaiki suasana hati. Secara keseluruhan, edukasi ini memberikan dampak positif terhadap kualitas hidup lansia, membuat mereka merasa lebih berdaya, mandiri, dan memiliki harapan hidup yang lebih sehat dan bahagia
Pengabdian masyarakat berjalan dengan baik dan lancar. para lansia sangat antusias dalam mendengarkan dan memperhatikan penjelasan yang disampaikan terlihat dari banyaknya pertanyaan dan respon yang baik selama kegiatan.
Faktor Penghambat dan Pendukung dalam Pengabdian Masyarakat
Berdasarkan evaluasi pelaksanaan kegiatan, dapat di identifikasi faktor pendukung dan penghambat dari kegiatan ini sehingga dapat berjalan dengan baik dan lancar antara lain dapat dukungan dari Kepala Desa yang bersedia diajak bekerja sama dan mendukung program pengabdian masyarakat. Serta antusiasme dari para lansiaa sebagai peserta dalam pengabdian masyarakat ini. Sedangkan faktor penghambat tidak dijumpai pada pengabdian kali ini.
Kesimpulan dan Saran
Adapun kesimpulan yang dapat diperoleh dari kegiatan ini, menunjukkan adanya perbedaan peningkatan pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan mengenai gizi dan aktifitas fisik di Desa Padang Brahrang. Rangkaian kegiatan pengabdian yang dilakukan meliputi tahap persiapan mitra, tahap pelaksanaan kegiatan meliputi penyuluhan yang keseluruhan kegiatan berjalan dengan lancar. Bagi para lansia diharapkan pengabdian ini dapat menumbuhkan kesadaran pentingnya menjalankan pola hidup sehat.
Penulis:
1. Bd. Pratiwi Nasution, SST, M.Kes (Dosen)
2. Bd. Ramadhani Syafitri Nasution, SST, MKM (Dosen)
3. Safrina Ramadhani, SKM, MKM (Dosen)
4. Anastsya (Mahasiswa)
5. Mei Sarah (Mahasiswa)
Mahasiswa S1 Kebidanan dan Profesi Bidan Institut Kesehatan Helvetia
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Daftar Pustaka
- Sudargo T, Aristasari T, Prameswari AA, Ratri FA, Putri SR. Asuhan Gizi Pada Lanjut Usia. Ugm Press; 2021.
- Maliangkay KS, Rahma U, Putri S, Istanti ND. Analisis Peran Promosi Kesehatan Dalam Mendukung Keberhasilan Program Pencegahan Penyakit Tidak Menular Di Indonesia. J Med Nusant. 2023;1(2):108–22.
- Mifta Novikasari SP. Menua Bugar dan Sejahtera, Mewujudkan Kesejahteran Lansia agar Kualitas Hidup Terjaga (Disertai Resep & Menu Sehat Cukup Gizi). Elex Media Komputindo; 2024.
- Dwisetyo B. Strategi Holistik Peningkatan Kualitas Hidup Lansia. Amerta Media; 2024.
- Sunandar K, Ardiwinata JS, Suryadi A, Shantini Y. Pemberdayaan Lansia Kunci Perilaku Hidup Sehat Di Usia Senja. J Ris Kesehat Poltekkes Depkes Bandung. 2025;17(1):316–30.
- Taufiqa Z. Gizi Dan Kelompok. Gizi dan Kesehat Masy. 2024;51.
- Gandhi DW, Pabidang S, Febrianti L, Monalisa D, Putri AAS, Sija A, et al. Lansia Ceria: Pendekatan Preventif dalam Meningkatkan Kesehatan Lansia. J Med Med. 2025;4(2):97–107.
- Indah R. Promosi Kesehatan Dalam Berbagai Perspektif. Syiah Kuala University Press; 2022.
- Que BJ, Lekatompessy JC, Taihuttu YMJ, Noya FC, Huwae LBS, Rahawarin H, et al. Edukasi pola Makan Sehat Sebagai Upaya Pencegahan Penyakit Degeneratif. Budimas J Pengabdi Masy. 2025;7(1).
- Togodly A, Tingginehe RM. Balanced Nutrition Education and Quality of Life Assessment for the Elderly at Posyandu Kampung Yahim, Jayapura Regency. J Pengabdi Masy Formosa. 2025;4(2):109–26.
- Rayhani S. Peran Day Care Lansia Dalam Upaya Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Lansia Mandiri Di Sasanatresna Werdha Karya Bakti Ria Pembangunan Cibubur, Jakarta Timur. Falkultas Dakwah Dan Ilmu Komunikasi;
- Priastana IKA, Wirya IMS, Widiantara IGAB. Pendampingan Lansia Tangguh pada Komunitas Perkotaan. Bhakti Patrika. 2025;1(1):14–9.
- Farhani A. Strategi Pemerintah Kabupaten Dalam Mengatasi Kemiskinan Ekstrem Di Kabupaten Bener Meriah. UIN Ar-Raniry Banda Aceh; 2024.
- Andayani Q, Winarti Y, Ridwan ES, Budiarti T, Alvyanto C. Promosi Kesehatan.
- Anis Ervina SST, SKM AC, Indra Domili SKM. Transformasi Gizi Dan Kesehatan: Solusi Berbasis Data Untuk Generasi Emas.
Ikuti berita terbaru di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












