Gagal Ginjal Kronik pada Anjing

Gagal Ginjal Kronik
Ilustrasi Anjing (Sumber: MMI)

Abstrak

Gagal ginjal pada anjing merupakan kondisi penurunan fungsi ginjal yang dapat terjadi secara akut maupun kronik. Gagal ginjal akut (GGA) adalah gangguan fungsi ginjal yang muncul secara mendadak dan biasanya disebabkan oleh paparan toksin. Sedangkan gagal ginjal kronik (GGK) adalah kondisi penurunan fungsi ginjal yang berlangsung lama, bersifat progresif, dan ireversibel.

Oleh karena itu, tujuan dari penulisan ini adalah agar pemahaman yang komprehensif mengenai definisi, perbedaan dengan gagal ginjal akut, faktor risiko, dan dampak klinis penyakit ginjal kronis pada anjing dapat dipahami dengan baik. Metode penelitian dilakukan dengan studi kasus literatur.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Hasil yang didapatkan adalah pada penyakit gagal ginjal kronis, tidak dapat disembuhkan namun bisa dikontrol dan dapat dicegah. Sehingga manajemen pengobatan yang baik dan pola hidup yang tepat pun dibutuhkan agar dapat memperbaiki kualitas hidup dan memperpanjang hidup hewan.

Kata Kunci: gagal ginjal kronis, gagal ginjal akut, anjing.

 

Pendahuluan

Gagal ginjal pada anjing merupakan kondisi penurunan fungsi ginjal yang dapat terjadi secara akut maupun kronik. Gagal ginjal akut (GGA) adalah gangguan fungsi ginjal yang muncul secara mendadak dan biasanya disebabkan oleh paparan toksin seperti etilen glikol (antifreeze), obat-obatan tertentu, infeksi berat, trauma, atau penurunan aliran darah ke ginjal akibat tekanan darah rendah atau penyakit sistemik.

GGA ditandai oleh nekrosis tubulus ginjal yang terjadi secara cepat, dan jika ditangani segera, fungsi ginjal masih memiliki kemungkinan untuk pulih (Clinical Application, The Urinary System, 2022).

Sebaliknya, gagal ginjal kronik (GGK), atau Chronic Kidney Disease (CKD), adalah kondisi penurunan fungsi ginjal yang berlangsung lama, bersifat progresif, dan ireversibel. GGK lebih umum terjadi pada anjing usia lanjut dan berkembang perlahan selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.

Kerusakan ginjal pada GGK menyebabkan hilangnya kemampuan ginjal dalam menjaga homeostasis tubuh, termasuk mengatur keseimbangan cairan, elektrolit, asam-basa, serta membuang sisa metabolisme.

Menurut Yanuartono, Nururrozi, dan Indarjulianto (2020), CKD pada anjing dan kucing adalah gangguan fungsi ginjal yang progresif dan tidak dapat kembali normal, serta sering kali tidak menunjukkan gejala klinis sampai lebih dari dua pertiga nefron telah rusak.

Dalam laporan kasus oleh Pradnyani, Widiastuti, dan Erawan (2021), CKD dipandang sebagai bentuk akhir dari berbagai penyakit ginjal, baik akibat infeksi kronis, gangguan metabolik, kelainan kongenital, paparan toksin, maupun obstruksi saluran kemih.

IRIS (2019) mendefinisikan CKD sebagai kondisi penurunan fungsi ginjal jangka panjang yang tidak dapat kembali normal, dengan tahapan klinis yang ditentukan berdasarkan kadar kreatinin serum dan tanda klinis yang muncul.

VCA Animal Hospitals (2022) menekankan bahwa CKD bukan berarti ginjal berhenti memproduksi urin, melainkan kehilangan kemampuan untuk menyaring darah secara efisien, sehingga limbah metabolisme menumpuk dalam tubuh.

Karakteristik utama CKD pada anjing meliputi sifatnya yang multifaktorial dan berdampak sistemik. Dampak klinis yang sering ditemukan antara lain polidipsia, poliuria, penurunan berat badan, anoreksia, muntah, diare, dehidrasi, serta anemia akibat berkurangnya produksi eritropoietin. Selain itu, gangguan metabolisme tulang dan mineral juga sering terjadi, yang semakin memperburuk kondisi kesehatan anjing.

Konsekuensi dari CKD pada anjing tidak hanya memengaruhi kesehatan fisik, tetapi juga kualitas hidup secara keseluruhan. Penanganan jangka panjang berupa terapi medis, diet khusus, dan monitoring rutin diperlukan untuk memperlambat progresivitas penyakit. Namun, pada kasus lanjut, prognosis biasanya buruk sehingga CKD dipandang sebagai salah satu masalah kesehatan utama dalam bidang kedokteran hewan.

Oleh karena itu, pemahaman yang komprehensif mengenai definisi, perbedaan dengan gagal ginjal akut, faktor risiko, dan dampak klinis penyakit ginjal kronis pada anjing sangat penting untuk mendukung upaya diagnosis dini dan penatalaksanaan yang lebih efektif.

Baca juga: Analisis Deskriptif Status Vaksinasi Rabies pada Hewan Peliharaan dan Persepsi Masyarakat tentang Pentingnya Vaksin Rabies di Bali 

 

Penyebab

Gagal Ginjal Kronik (CKD) pada anjing adalah kondisi klinis yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal yang progresif, ireversibel, dan berlangsung setidaknya selama tiga bulan. Penyakit ini memiliki etiologi yang kompleks dan sering kali sulit diidentifikasi secara definitif karena kerusakan ginjal telah terjadi dalam jangka waktu lama.

Secara umum, penyebab CKD dapat dikelompokkan menjadi kerusakan struktural primer, penyakit imun dan inflamasi, toksisitas, dan faktor risiko yang mempercepat progresi penyakit.

Salah satu kelompok penyebab utama CKD adalah kelainan genetik, kongenital, dan struktural. Kelainan perkembangan seperti Renal Dysplasia-di mana ginjal gagal berkembang menjadi struktur dewasa yang normal- sering kali menyebabkan CKD pada anjing muda dari ras yang rentan seperti Lhasa Apso dan Shih Tzu.

Selain itu, Amyloidosis Herediter, yang melibatkan penumpukan protein amyloid abnormal di glomerulus atau medula, adalah penyebab CKD yang signifikan pada ras seperti Shar Pei. Kelainan struktural bawaan ini menyebabkan hilangnya nefron secara bertahap sejak awal kehidupan.

Penyebab kedua yang dominan adalah penyakit imunologis dan inflamasi kronis. Kondisi ini sering kali dimulai sebagai respons terhadap penyakit sistemik lain.

Glomerulonefritis adalah penyebab CKD yang paling umum dan melibatkan pengendapan kompleks antigen-antibodi di membran filtrasi ginjal. Deposisi ini memicu peradangan yang merusak glomerulus, mengakibatkan kebocoran protein yang signifikan (proteinuria) dan, seiring waktu, fibrosis ginjal.

Selain itu, infeksi bakteri kronis pada ginjal, seperti Pielonefritis Kronik, menyebabkan peradangan jangka panjang dan pembentukan jaringan parut yang merusak struktur nefron.

Ketiga, CKD dapat berasal dari kerusakan akut yang gagal pulih sepenuhnya, sering kali disebabkan oleh nefrotoksisitas atau iskemia. Paparan zat racun ginjal (nefrotoksin), seperti Ethylene Glycol (antibeku) atau obat-obatan tertentu (misalnya, NSAID dosis tinggi atau antibiotik aminoglikosida), dapat menyebabkan Acute Kidney Injury (AKI).

Jika kerusakan pada tubulus dan nefron terlalu luas, ginjal tidak dapat meregenerasi sel yang hilang, dan fungsi yang tersisa akan memburuk menjadi CKD. Infeksi bakteri sistemik seperti Leptospirosis juga termasuk dalam kategori ini, karena dapat menyebabkan nefritis interstisialis akut yang parah dan melanjut menjadi kronis.

Terakhir, CKD sangat erat kaitannya dengan faktor risiko demografis dan penyakit komorbiditas. Faktor risiko terpenting adalah usia lanjut; penurunan fungsi ginjal adalah bagian alami dari penuaan (senescence).

Penyakit penyerta seperti Hipertensi Sistemik (tekanan darah tinggi), Diabetes Melitus, dan Penyakit Jantung Kronik secara signifikan mempercepat progresi CKD. Hipertensi, khususnya, merusak pembuluh darah kecil ginjal, memperburuk sklerosis glomerulus dan fibrosis, menciptakan lingkaran setan di mana ginjal yang sakit memperburuk tekanan darah, dan tekanan darah yang tinggi lebih lanjut merusak ginjal.

 

Gejala

Gagal ginjal kronik adalah penurunan fungsi ginjal yang terjadi secara bertahap dan bersifat permanen (irreversible) akibat kerusakan nefron yang progresif selama berbulan‑bulan hingga bertahun‑tahun. Anjing biasanya tidak akan mengalami gejala apapun sampai ginjal kehilangan sekitar 75% dari kapasitas fungsinya.

Semakin tinggi stadium, semakin banyak gejala yang dapat ditunjukkan. IRIS membagi CKD menjadi empat stadium berdasarkan kadar kreatinin atau SDMA, dengan pertimbangan adanya proteinuria dan hipertensi. Stadium 1 menunjukkan gangguan fungsi ginjal minimal, sedangkan stadium 4 menandakan kerusakan ginjal parah dengan gejala klinis berat.

Pada tahap awal, kerusakan pada struktur filtrasi glomerulus menyebabkan gangguan filtrasi sehingga molekul besar seperti protein dapat masuk ke dalam filtrat tubulus. Salah satu tanda paling awal dari kondisi ini adalah proteinuria, atau adanya protein dalam urine. Sayangnya, pada tahap ini, tidak ada tanda klinis yang dapat diamati.

Proteinuria ini hanya dapat dideteksi melalui urinalisis (pemeriksaan urine) yang sering kali tidak dilakukan apabila hewan tidak menunjukkan gejala klinis.

Seiring dengan memburuknya kondisi ginjal, jumlah nefron fungsional terus menurun hingga kapasitas kompensasi ginjal mencapai batasnya. Penurunan nefron fungsional menyebabkan laju filtrasi glomerulus (GFR) menurun signifikan, yang berakibat pada turunnya klirens kreatinin dan meningkatnya kadar kreatinin serum.

Akumulasi toksin uremik ini menimbulkan gangguan pada saluran pencernaan, sehingga muncul anoreksia, mual, dan muntah. Pada kadar yang lebih tinggi, toksin uremik dapat memengaruhi sistem saraf pusat dan menyebabkan gangguan neurosensorik.

Penurunan GFR juga menyebabkan fosfat tidak dapat diekskresikan secara adekuat, sehingga terjadi peningkatan fosfat serum. Fosfat yang tinggi mengikat kalsium bebas dalam darah, menyebabkan penurunan kadar kalsium serum.

Hipokalsemia ini merangsang peningkatan sekresi parathormon dari kelenjar paratiroid, yang dalam jangka panjang dapat menyebabkan perubahan metabolisme tulang. Pada gagal ginjal kronik yang berlanjut, kerusakan glomerulus semakin berat sehingga proteinuria meningkat, dan aktivasi sistem renin–angiotensin–aldosteron (RAAS) menyebabkan hipertensi.

Tanda‑tanda gagal ginjal kronik sering kali muncul perlahan dan pada tahap awal bisa tidak terlihat jelas. Gejala yang umum meliputi peningkatan rasa haus (polidipsia), peningkatan frekuensi buang air kecil (poliuria), penurunan nafsu makan, penurunan berat badan, muntah, kelemahan, dan kondisi bulu yang tampak kusam.

Ketika penyakit memasuki stadium lanjut, hewan dapat mengalami dehidrasi, anemia akibat penurunan produksi eritropoietin, hipertensi, serta gejala neurologis yang muncul akibat penumpukan racun uremik di dalam tubuh. Kombinasi gejala‑gejala ini mencerminkan progresi penyakit dan menunjukkan bahwa kerusakan ginjal telah mencapai tingkat yang signifikan.

 

Pengobatan

Penyakit ginjal kronis pada anjing merupakan kondisi yang dapat dikontrol namun tidak dapat disembuhkan, karena kerusakan ginjal yang terjadi bersifat irreversible. Artinya, jaringan ginjal yang telah rusak tidak dapat tumbuh kembali atau kembali berfungsi seperti semula.

Oleh karena itu, tujuan pengobatan gagal ginjal kronik bukanlah untuk menyembuhkan, melainkan memperlambat progresi penyakit, mengurangi tanda klinis, dan mempertahankan kualitas hidup pasien.

Secara umum, terapi gagal ginjal kronik dibagi menjadi dua fase, yaitu fase pertama berfokus pada pembersihan ginjal dan pengeluaran racun yang menumpuk dalam darah, sedangkan fase kedua bertujuan mengelola penyakit jangka panjang dan memperlambat perkembangannya.

Pada fase pertama, cairan intravena dosis tinggi diberikan untuk membantu membersihkan ginjal dan aliran darah. Proses ini disebut diuresis dan bertujuan menghilangkan metabolit beracun serta menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi sel ginjal yang masih tersisa untuk berfungsi kembali.

Jika jumlah nefron fungsional yang tersisa masih memadai, ginjal mungkin dapat kembali memenuhi kebutuhan tubuh dalam filtrasi dan pembuangan limbah. Terapi cairan juga mencakup koreksi ketidakseimbangan elektrolit, terutama kalium. Selain itu, dukungan nutrisi dan pemberian obat untuk mengatasi mual, muntah, atau diare menjadi bagian penting dari perawatan awal.

Terdapat tiga kemungkinan hasil dari fase ini, yaitu ginjal dapat kembali berfungsi selama beberapa minggu hingga beberapa tahun, ginjal kembali berfungsi selama terapi namun kembali gagal segera setelah terapi dihentikan (biasanya dalam 3–14 hari), atau fungsi ginjal tidak kembali sama sekali.

Sayangnya, tidak ada pemeriksaan yang dapat memprediksi hasil tersebut secara pasti, sehingga setiap kasus harus ditangani secara agresif dan dipantau ketat.

Tahap kedua pengobatan bertujuan mempertahankan fungsi ginjal selama mungkin. Pendekatan ini dapat melibatkan satu atau beberapa terapi berikut, tergantung kondisi masing‑masing pasien.

1. Diet Khusus

Diet untuk anjing dengan gagal ginjal kronik stadium lanjut umumnya rendah protein, rendah fosfor, dan tidak bersifat mengasamkan. Formulasi ini membantu mengurangi produksi limbah metabolik yang dapat memicu mual dan kelesuan, serta menurunkan beban kerja ginjal.

2. Penggunaan Obat Pengikat Fosfat

Diperlukan ketika fosfor darah meningkat akibat penurunan kemampuan ekskresi ginjal. Kadar fosfor yang tinggi dapat menyebabkan kelesuan dan penurunan nafsu makan. Obat seperti aluminium hidroksida, lanthanum, atau kalsium karbonat dengan kitosan bekerja dengan mengikat fosfat di saluran cerna sehingga mencegah penyerapannya ke dalam darah.

3. Cairan Subkutan

Setelah kondisi pasien stabil, terapi cairan dapat dilanjutkan di rumah melalui pemberian cairan subkutan (pemberian cairan di bawah kulit). Terapi ini membantu mencegah dehidrasi, mendukung pembuangan racun, dan menjaga keseimbangan elektrolit.

Frekuensi pemberian dapat berkisar dari dua kali sehari hingga sekali seminggu, tergantung tingkat keparahan gagal ginjal kronik, namun sebagian besar anjing menunjukkan respons terbaik ketika menerima cairan dalam jumlah kecil setiap hari.

4. Terapi untuk Protein dalam Urin (Proteinuria)

Penanganan proteinuria juga penting karena keberadaan protein dalam urin meningkatkan risiko progresi gagal ginjal kronik. Penghambat enzim pengubah angiotensin (ACE‑inhibitor) seperti benazepril dan enalapril digunakan untuk menurunkan tekanan intraglomerulus sehingga mengurangi kehilangan protein melalui urin.

5. Obat untuk Mengatur Kelenjar Paratiroid dan Kadar Kalsium

Kalsium dan fosfor harus tetap pada rasio sekitar dua banding satu (2:1) dalam darah. Peningkatan kadar fosfor darah sekunder karena gagal ginjal merangsang kelenjar paratiroid untuk meningkatkan kadar kalsium darah dengan mengeluarkannya dari tulang. Ini dapat membantu demi menormalkan rasio kalsium terhadap fosfor, tetapi dapat membuat tulang rapuh dan mudah patah.

Calcitriol dapat digunakan untuk mengurangi fungsi kelenjar paratiroid dan untuk meningkatkan penyerapan kalsium dari saluran usus. Obat ini diperlukan jika ada bukti fungsi kelenjar paratiroid yang tidak normal.

6. Obat untuk Merangsang Sumsum Tulang untuk Menghasilkan Sel Darah Merah Baru

Ginjal memproduksi hormon (eritropoietin) yang merangsang sumsum tulang untuk membuat sel darah merah. Oleh karena itu, banyak anjing dengan gagal ginjal tidak akan dapat memproduksi eritropoietin dan memiliki anemia atau jumlah sel darah merah yang rendah.

Eritropoietin sintetis dapat merangsang sumsum tulang untuk membuat sel darah merah dan memperbaiki anemia pada sebagian besar anjing. Sayangnya bagi beberapa anjing, obat ini tidak dapat digunakan dalam jangka panjang karena sistem kekebalan tubuh mengenali obat tersebut sebagai ‘asing’ dan akan membuat antibodi terhadapnya.

Pilihan yang lebih baik mungkin adalah hormon alternatif darbepoetin, yang cenderung menyebabkan antibodi tersebut terbentuk atau setidaknya tidak secepat itu. Perawatan ini direkomendasikan jika anjing mengalami anemia persisten.

 

Pencegahan

Gagal ginjal kronik (Chronic Kidney Disease/CKD) adalah kondisi ketika fungsi ginjal menurun secara bertahap dan permanen. Penyakit ini sering terjadi pada anjing usia lanjut, tetapi bisa juga muncul lebih dini akibat pola makan, infeksi, genetik, atau keracunan. Mencegah jauh lebih baik daripada mengobati, karena CKD tidak dapat disembuhkan, hanya dapat diperlambat. Pencegahannya dapat dilakukan sebagai berikut:

1. Kontrol Nutrisi Makanan

Berikan makanan yang berkualitas tinggi seperti kaya asam lemak omega-3, protein terkontrol  dan hindari memberi makanan yang tinggi natrium secara berlebihan, karena garam dapat membuat ginjal bekerja keras.

Ginjal adalah organ yang bertanggung jawab mengatur keseimbangan kadar natrium dalam tubuh. Ketika natrium masuk terlalu banyak, ginjal harus bekerja ekstra untuk menjaga agar tubuh tidak mengalami kelebihan garam dan tekanan darah tetap normal.

2. Pastikan Anjing Tidak Dehidrasi

Pastikan anjing memiliki akses terus-menerus ke air bersih dan segar. Jika anjing susah minum, bisa menyediakan water fountain atau menambah sedikit air pada makanan basah.

3. Pemeriksaan Kesehatan Rutin

Lakukan pemeriksaan rutin dengan dokter hewan, seperti tes urin dan tes darah. Pada anjing yang umurnya dibawah 7 tahun dapat melakukan tes sekali setahun dan anjing yang umurnya diatas 7 tahun dapat melakukan tes dua kali setahun. Tes rutin dapat membantu mendeteksi masalah ginjal sejak dini, terutama pada anjing yang lebih tua atau berisiko.

4. Vaksinasi

Pastikan anjing mendapatkan vaksinasi lengkap, terutama untuk penyakit leptospirosis yang merupakan bakteri dari urine tikus yang dapat menyebabkan kerusakan ginjal akut.

 

Studi kasus

1. Latar Belakang Chronic Renal Failure pada Anjing

Chronic Renal Failure (CRF) merupakan gangguan ginjal progresif dan irreversible yang umumnya terjadi pada hewan geriatrik. Kondisi ini disebabkan oleh kerusakan struktural dan fungsional ginjal yang berlangsung lebih dari tiga bulan, ditandai dengan albuminuria, proteinuria, azotemia, dan penurunan laju filtrasi glomerulus.

CRF dapat menyebabkan komplikasi pada berbagai organ, termasuk sistem hematologi, gastrointestinal, dan neuromuskular. Prevalensinya meningkat seiring usia, serta lebih sering terjadi pada hewan dengan penyakit penyerta seperti penyakit jantung, diabetes melitus, dan obesitas.

Karena gejala awal sering tidak spesifik—seperti penurunan berat badan, muntah, nafsu makan menurun, dan poliuria—CRF sering terdiagnosis pada stadium lanjut ketika kerusakan ginjal sudah berat.

Kasus Ahoy menggambarkan perjalanan klinis CRF yang parah pada anjing berusia lanjut dengan komorbiditas, sehingga menyoroti pentingnya deteksi dini dan penanganan suportif yang konsisten.

2. Presentasi dan Riwayat Pasien Ahoy

Ahoy, seekor anjing mix breed betina berusia 15 tahun dengan bobot badan awal 8,2 kg, dibawa ke Highland Vet Bandung dengan keluhan muntah, pilek, dan riwayat kejang. Pemilik telah memberikan primperan dan Decolgen sebelum datang ke klinik, namun gejala tidak membaik.

Empat hari setelah kunjungan awal, Ahoy kembali dalam kondisi lebih buruk dengan keluhan lemas, penurunan berat badan menjadi 7,7 kg, dan urinasi berlebihan meskipun ia tidak minum. Sebagai hewan geriatri dengan riwayat penyakit jantung, kondisi ini menimbulkan kecurigaan terhadap gangguan ginjal kronis yang mengalami perburukan akut.

Gejala seperti kejang, anoreksia, muntah, dan poliuria menunjukkan kemungkinan adanya uremia berat akibat penurunan fungsi ginjal yang sudah berlangsung lama.

3. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik awal menunjukkan suhu tubuh 37,8°C, kondisi tubuh lemas, adanya discharge serous dari hidung, serta heart murmur dan peningkatan suara vesikular pada auskultasi.

Pada kunjungan selanjutnya, suhu meningkat menjadi 38°C, berat badan turun signifikan, dan ditemukan dehidrasi, mukosa pucat, serta bau ureum dari mulut—tanda klasik uremia pada CRF. Perubahan ini menunjukkan progresivitas penyakit dalam waktu singkat, terutama pada pasien dengan kapasitas kompensasi organ yang sudah rendah akibat usia lanjut.

4. Diagnostik Awal dan Diagnosis Banding

Pemeriksaan darah menunjukkan anemia normositik normokromik, leukositosis, dan trombositosis. Leukositosis dapat mengindikasikan infeksi sekunder yang sering menyertai pasien uremia, sementara anemia mencerminkan menurunnya produksi eritropoietin dan tingginya tingkat hemolisis akibat toksisitas ureum.

Pemeriksaan biokimia darah menunjukkan peningkatan kreatinin hingga 11 mg/dL dan BUN lebih dari 126 mg/dL, yang merupakan indikasi pasti azotemia berat dan penurunan fungsi ginjal kronis. Diagnosis banding meliputi acute kidney injury (AKI), keracunan obat, infeksi sistemik, atau komplikasi penyakit jantung, namun progresi kronis serta nilai kreatinin dan BUN yang ekstrem lebih mengarah pada CRF stadium lanjut.

5. Tes Konfirmasi dan Diagnosis Pasti

Hasil pemeriksaan biokimia dan hematologi memberikan bukti kuat bahwa Ahoy mengalami CRF. Kreatinin yang meningkat drastis menjadi parameter paling penting, karena berkorelasi dengan penurunan GFR yang signifikan.

Uremia yang parah juga dapat menyebabkan stomatitis, gastritis, hingga iritasi sistem saraf pusat, yang menjelaskan terjadinya kejang pada pasien. Kombinasi anemia, leukositosis, dan nilai azotemia ekstrem menyingkirkan diagnosis lain, sehingga CRF menjadi diagnosis pasti. Prognosis ditetapkan sebagai infausta mengingat usia hewan, komorbiditas, dan kondisi metabolik yang sudah sangat buruk.

6. Pengobatan

Pada kunjungan awal, Ahoy diberikan terapi cairan berupa infus Ringer Laktat yang ditambahkan Megavit untuk mendukung fungsi metabolik. Untuk menangani gejala respirasi, diberikan cetirizine dan bromhexine, sedangkan Norit digunakan untuk mengatasi kemungkinan toksisitas akibat konsumsi Decolgen.

Doxycycline diberikan untuk menangani potensi infeksi, dan ondansetron digunakan sebagai antiemetik untuk mengurangi muntah. Ketika kondisi semakin memburuk dan hewan harus dirawat inap, terapi cairan dilanjutkan secara intravena, dan pakan dicampur dengan Ipakitine, yang berfungsi sebagai phosphate binder untuk mengurangi hiperfosfatemia.

Meskipun terapi suportif telah diberikan secara optimal, kondisi Ahoy terus menurun dan ia mengalami kejang hebat hingga akhirnya tidak dapat bertahan setelah dua hari perawatan.

7. Diskusi

Kasus Ahoy menunjukkan perjalanan klinis CRF yang berat pada hewan geriatrik. Faktor usia merupakan predisposisi utama, karena degenerasi ginjal meningkat seiring bertambahnya umur. Riwayat penyakit jantung pada Ahoy turut memperburuk kondisi, mengingat ginjal dan jantung memiliki hubungan fungsional yang erat.

Pada pasien ini, peningkatan kreatinin dan BUN menunjukkan kerusakan ginjal yang sangat parah, sementara tanda uremia seperti bau ureum dan kejang menunjukkan bahwa toksin metabolik telah memengaruhi seluruh sistem tubuh.

Meskipun telah diberikan terapi cairan dan obat-obatan pendukung, kerusakan ginjal pada stadium lanjut umumnya tidak dapat diperbaiki. Suplemen seperti Ipakitine® dapat membantu mengurangi fosfat dan memperbaiki gejala, namun tidak dapat menghentikan progresi penyakit.

Kasus ini sejalan dengan laporan literatur yang menyebutkan bahwa hewan dengan CRF stadium akhir memiliki tingkat mortalitas tinggi meskipun terapi optimal telah diberikan. Oleh karena itu, deteksi dini dan pemantauan rutin sangat penting terutama pada hewan tua, agar terapi dapat diberikan sebelum kerusakan ginjal mencapai tahap irreversible.

 

Penulis:

  1. Keysa Ayucendika Damanik
  2. Gusti Ayu Citra Perwira Dewi
  3. Naura Fathyarahma
  4. Farahdiba Aura Majid
  5. Dhiya Dwinov Sahrani

Mahasiswa Kedokteran Hewan, Universitas Udayana
Dosen Pengampu: Eirenne Pridari Sinsya Dewi, S.S., M.Ed.

 

Referensi

VCA Animal Hospitals. (2023). Chronic kidney disease in dogs. https://vcahospitals.com/know-your-pet/kidney-failure-chronic-in-dogs

Kearley, M. (2025). Chronic kidney disease in dogs. PetMD. https://www.petmd.com/dog/conditions/urinary/chronic-kidney-disease-ckd-dogs

HaloVet. (2025, August 13). Chronic kidney disease (CKD) pada anjing dan kucing. https://halovet.id/chronic-kidney-disease-ckd-pada-anjing-dan-kucing/

Yanuartono, Nururrozi, A., & Indarjulianto, S. (2020). Manajemen terapi dan diet penyakit ginjal kronis pada anjing dan kucing. Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Gadjah Mada. https://journal.ugm.ac.id/jsv/article/view/29284

Pradnyani, G. A. P. I., Widiastuti, S. K., & Erawan, I. G. M. K. (2021). Laporan kasus: Penyakit ginjal kronis pada anjing peranakan Pomeranian. Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana. https://ojs.unud.ac.id/index.php/imv/article/view/69493

International Renal Interest Society (IRIS). (2019). IRIS staging of chronic kidney disease in dogs and cats. https://iris-kidney.com

Nurfazri, F. A., Mihardi, A. P., & Hartanto, Y. (2022). Chronic renal failure pada anjing mix breed di Highland Vet Bandung. ARSHI Veterinary Letters, Vol. 6, No. 2, 23–24. https://doi.org/10.29244/avl.6.2.23-24

 

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses