Implementasi Teknologi Filterisasi di Desa Plaosan: Air Bersih Skala Rumah Tangga

Air Bersih
Ilustrasi Air Bersih (Sumber: Media Sosial dari freepik.com)

Air bersih adalah hak dasar manusia, namun bagi sebagian masyarakat pedesaan, akses terhadap air layak konsumsi masih menjadi perjuangan harian.

Bayangkan jika setiap kali Anda membutuhkan air untuk diminum, warna kuningnya tetap menetap, meninggalkan noda di gelas, dan keraguan di hati—apakah ini benar-benar aman untuk tubuh saya?

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Inilah kenyataan yang dihadapi oleh warga Desa Plaosan, Kabupaten Lamongan, setiap hari, di mana air bersih bukan hanya sebuah kebutuhan, tetapi juga sebuah tantangan yang harus dihadapi dengan berbagai solusi inovatif.

Air Bersih Masih Jadi Masalah Nyata

Di Indonesia, akses terhadap air bersih masih menjadi masalah yang signifikan, terutama di daerah pedesaan. Menurut data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik pada tahun 2024, sekitar 8.3% penduduk di desa-desa terpencil masih menggunakan sumber air yang tidak layak, dan angka ini mencapai 3.07% di provinsi Jawa Timur.

Meskipun berbagai infrastruktur sudah menjangkau desa-desa di Indonesia, kebutuhan akan air bersih masih menjadi tantangan utama di sejumlah wilayah. Desa Plaosan, Kabupaten Lamongan, adalah salah satu contoh daerah yang menghadapi tantangan ini.

Air sumur yang menjadi sumber utama warga di sana memiliki tampilan keruh kekuningan, bahkan setelah dimasak. Kadar mangan dan zat besi yang tinggi tak hanya menimbulkan kekhawatiran kesehatan, tetapi juga memengaruhi kualitas hidup secara keseluruhan.

Masalah ini tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga memengaruhi kesehatan mental warga yang setiap hari harus berhadapan dengan ketidakpastian mengenai kualitas air yang mereka konsumsi.

 

Sebuah Inisiatif: Teknologi Filterisasi Air Berbasis Energi Surya

Melihat persoalan tersebut, tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Program Studi Fisika UPN “Veteran” Jawa Timur tergerak untuk bertindak. Dipimpin oleh Nenni Mona Aruan dan didampingi oleh dua dosen—Akbar Sujiwa dan Fajar Timur—serta dua mahasiswa, mereka memperkenalkan teknologi filter air rumah tangga dengan sistem 4 housing 5 tahap, yang uniknya didukung oleh energi terbarukan: panel surya.

Baca juga: Pendataan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di Desa Cilimusari Kecamatan Cilebak Kabupaten Kuningan

Sosialisasi dan implementasi sistem ini dilakukan pada tanggal 18 Juli 2025 dengan melibatkan warga secara langsung. Proses ini tidak hanya melibatkan teknologi, tetapi juga membangun kesadaran di kalangan warga tentang pentingnya air bersih dan bagaimana teknologi dapat menjadi solusi.

 

Suara Warga: Air Kuning yang Membekas

Dalam wawancara dengan ketua RT setempat, Bapak Slamet Budiono menyampaikan, “Air di desa kami ini kalau dimasak tetap kuning, kadang-kadang meninggalkan bekas di gelas. Meski sudah disimpan di toren, beberapa minggu tetap saja berubah warna.

Pernyataan ini menggambarkan urgensi permasalahan dan kebutuhan akan solusi yang tidak hanya efisien, tetapi juga berkelanjutan. Rasa frustrasi ini mencerminkan harapan masyarakat akan perubahan yang nyata, di mana air bersih bukan lagi sekadar impian, tetapi sebuah kenyataan yang dapat mereka nikmati.

Solusi Inovatif: 5 Tahap Penyaringan dan Energi Mandiri

Sistem filter yang diperkenalkan terdiri dari 4 housing dengan 5 tahap penyaringan, yang masing-masing memiliki fungsi khusus untuk mengatasi permasalahan kualitas air secara menyeluruh. Setiap tahap dirancang untuk mengatasi berbagai kontaminan yang terdapat dalam air sumur:

1. Tahap 1: Filter Sedimen

Tahap pertama berfungsi untuk menyaring partikel kasar seperti lumpur, pasir, dan kotoran fisik lainnya yang sering kali terbawa dalam air sumur. Proses ini penting untuk memastikan bahwa air yang akan disaring lebih bersih dan tidak mengandung partikel besar yang dapat merusak sistem filter berikutnya.

2. Tahap 2: Filter Campuran Manganese Greensand dan Ferolite

Inilah kunci dalam menyaring zat besi (Fe) dan mangan (Mn) yang menjadi penyebab utama air berwarna kekuningan dan berbau logam. Kedua media ini bekerja secara kimia dan fisik untuk mengendapkan dan menyerap logam berat. Proses ini tidak hanya meningkatkan kualitas air, tetapi juga mengurangi risiko kesehatan yang disebabkan oleh konsumsi logam berat.

3. Tahap 3: Filter Karbon Aktif

Bertugas menyerap bau tak sedap, zat kimia organik, serta klorin dan senyawa lain yang berpotensi merugikan kesehatan. Karbon aktif dikenal luas dalam industri air bersih karena kemampuannya dalam menghilangkan kontaminan yang tidak diinginkan, sehingga memastikan air terasa lebih segar dan layak untuk dikonsumsi.

4. Tahap 4: CTO (Chlorine, Taste, Odor) Filter

Bertindak sebagai pemurni akhir rasa dan bau, memastikan air terasa lebih segar dan layak dikonsumsi. Ini adalah langkah terakhir yang sangat penting, karena sering kali air yang telah melalui proses penyaringan masih memiliki bau atau rasa yang tidak sedap.

5. Tahap 5: Resin Softener

Mengurangi kesadahan air atau kandungan kalsium dan magnesium yang tinggi. Kesadahan yang tinggi bisa menyebabkan kerak pada alat masak dan memengaruhi rasa air. Dengan menggunakan resin softener, kualitas air tidak hanya diperbaiki untuk konsumsi, tetapi juga untuk penggunaan sehari-hari dalam memasak dan mencuci.

Semuanya disusun dalam sistem tertutup yang dioperasikan oleh pompa air mini bertenaga listrik. Keunggulan utama dari sistem ini adalah penggunaan panel surya sebagai sumber energi utama.

Panel surya tidak hanya membuat sistem ini hemat biaya, tetapi juga menjadikannya mandiri dari ketergantungan terhadap pasokan listrik PLN yang belum tentu stabil di daerah pedesaan. Dengan demikian, warga tidak hanya mendapatkan akses terhadap air bersih, tetapi juga belajar tentang penggunaan energi terbarukan yang ramah lingkungan.

 

Dampak Nyata dan Potensi Luas

Dengan diterapkannya sistem ini, air yang semula keruh berubah menjadi lebih jernih, tidak berbau, dan lebih layak konsumsi. Teknologi ini juga meminimalkan ketergantungan terhadap energi fosil, sejalan dengan prinsip keberlanjutan dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 6 (air bersih dan sanitasi) dan poin 7 (energi bersih dan terjangkau).

Dampak positif ini tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga oleh komunitas secara keseluruhan, di mana kualitas hidup meningkat dan kesehatan masyarakat terjaga.

Meski demikian, tantangan tetap ada. Salah satunya adalah bagaimana warga dapat merawat dan mengganti media filter secara berkala. Selain itu, perlu pelatihan lanjutan agar sistem ini bisa direplikasi mandiri oleh masyarakat sekitar tanpa ketergantungan terus-menerus pada pihak luar.

Baca juga: Pesan-Pesan Al-Qur’an terhadap Lingkungan Hidup

Oleh karena itu, penting untuk melakukan program edukasi yang berkelanjutan agar warga dapat memahami cara kerja sistem dan merawatnya dengan baik. Dengan pendekatan ini, masyarakat dapat merasakan manfaat jangka panjang dari teknologi yang telah diterapkan.

Desa Plaosan telah menunjukkan bahwa teknologi tidak harus rumit dan mahal untuk berdampak besar. Dengan semangat gotong royong dan kolaborasi antara akademisi dan masyarakat, secercah solusi bisa menjadi aliran harapan.

Air bersih bukan lagi mimpi, tetapi sebuah kenyataan yang bisa diwujudkan—setetes demi setetes. Melalui inisiatif ini, kita belajar bahwa bukan soal teknologi canggih, tetapi keberanian untuk peduli dan bergerak bersama yang membuat perubahan nyata.

Kesadaran akan pentingnya air bersih dan keberlanjutan lingkungan harus terus ditanamkan, agar generasi mendatang dapat menikmati sumber daya alam dengan bijak dan bertanggung jawab.

 

Penulis:

  1. Nenni Mona Aruan
  2. Akbar Sujiwa
  3. Fajar Timur
  4. Nia Dwi Puspitasari
  5. Adinda Isabella
  6. Musafa Akbar

Mahasiswa Prodi Fisika , UPN Veteran Jawa Timur

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses