Inflasi Menaikkan Harga BBM (Bahan Bakar Minyak) yang Mempengaruhi Kondisi Ekonomi

Inflasi
Ilustrasi: istockphoto

Pertumbuhan ekonomi tidak mungkin terlepas dari namanya inflasi. Hal yang paling memungkinkan bila inflasi terus berlanjut maka harga barang pasar akan melonjak tinggi dan kebutuhan hidup dapat tidak terpenuhi dengan adanya kelonjakan harga yang sulit untuk dijangkau oleh masyarakat menengah ke bawah.

Dampak dari inflasi salah satunya mempengaruhi harga BBM (Bahan Bakar Minyak). Kenaikan harga BBM telah menjadi perbincangan hangat di Indonesia. Pemerintah berusaha menjaga kesejahteraan masyarakat dengan menambah anggaran subsidi, namun hal ini akan mempengaruhi belanja negara. Dampak kenaikan ini berlawanan dengan alokasi anggaran yang semakin membengkak.

Para ahli dan masyarakat sama-sama sedang mendiskusikan kenaikan harga bahan bakar di Indonesia. Pemerintah sebagai tokoh kunci dalam mengatur urusan negara, telah menganjurkan langkah-langkah untuk menjaga kesejahteraan warga negaranya. Dampaknya, anggaran subsidi BBM mengalami kenaikan.

Bacaan Lainnya
DONASI

Sayangnya, kenaikan harga bensin mengganggu anggaran subsidi energi BBM, sehingga menyebabkan dana membengkak. Perekonomian Indonesia yang kini terbebani oleh kenaikan harga bahan bakar, mengalami konflik dengan alokasi anggaran subsidi bahan bakar.

Kenaikan harga BBM memiliki dampak signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Karena harga bahan bakar merupakan komoditas utama, maka harga komoditas lainnya tentu akan terkena dampak kenaikan harga bahan bakar.

Inflasi dan tingkat kemiskinan akan naik akibat meningkatnya biaya transportasi dan barang, sehingga daya beli masyarakat akan turun. Pertumbuhan ekonomi yang mulai membaik belakangan ini juga dapat terganggu. Kenaikan harga BBM merupakan kebijakan yang selalu menjadi perhatian publik.

Pemerintah telah mengambil langkah awal dengan menaikkan anggaran subsidi BBM dari Rp152 triliun pada APBN 2022 menjadi Rp502,4 triliun sesuai Peraturan Presiden Nomor 98 Tahun 2022. BBM bersubsidi sangatlah penting untuk petani dan usaha kecil lainnya yang bergantung pada transportasi murah untuk mengedarkan produk mereka.

Untuk memasarkan hasil panennya, petani memerlukan bahan bakar bersubsidi agar konsumen dapat membelinya. Dengan BBM lebih mahal, biaya produksi akan meningkat sehingga harga jual pangan juga harus naik. Rakyat yang hidup pas-pasan akan kesulitan membeli kebutuhan pokok.

Namun pemerintah berusaha menjaga subsidi agar masyarakat tidak terkena dampak kenaikan yang besar. Analisis perubahan harga BBM perlu mempertimbangkan berbagai dampak ekonomi sehingga kebijakannya tepat dan dapat mengurangi beban masyarakat.

Untuk memahami pentingnya mempelajari variasi harga bahan bakar dalam kondisi perekonomian, kita harus memahami konsekuensi kenaikan harga terhadap anggaran subsidi energi yang akan meningkat. Selain itu, kita juga harus mengkaji bagaimana kenaikan harga bahan bakar akan mempengaruhi perekonomian makro Indonesia secara keseluruhan.

Dalam jangka pendek, kenaikan harga BBM dapat menurunkan daya beli masyarakat karena dampak pendapatan yang mengalami penurunan. Baru-baru ini, pihak berwenang memutuskan untuk membuat harga bahan bakar lebih masuk akal secara ekonomi. Namun, hal ini menimbulkan tekanan pada komunitas skala kecil dan dunia usaha.

Menghindari praktik subsidi silang yang berdampak negatif terhadap sektor riil dan masyarakat miskin adalah kunci dalam menetapkan harga bahan bakar dalam kaitannya dengan kondisi pasar dan biaya produksi.

Dengan adanya subsidi silang, pajak, dan harga bahan bakar yang lebih tinggi dikenakan pada konsumen dan importir, sementara produsen bahan bakar dan eksportir menerima kenaikan harga yang lebih rendah.

Hal ini tidak hanya meningkatkan ketimpangan pendapatan, namun juga merupakan pendekatan yang tidak efisien dan tidak adil. Menetapkan harga bahan bakar yang tepat adalah hal yang terpenting.

Pemerintah harus mengambil langkah-langkah cermat untuk melawan dampak kenaikan harga BBM pada inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Mereka perlu memantau dampak dari harga BBM bersubsidi yang lebih tinggi dan melakukan penyesuaian secara teratur.

Selain itu, pemerintah juga dapat membatasi konsumsi BBM RON 90 dibandingkan menaikkan harga. Dampak kenaikan harga bahan bakar terhadap masyarakat kecil dan dunia usaha juga perlu diperhatikan. Dengan demikian, pemerintah mampu menentukan kebijakan tepat untuk menghadapi dampak kenaikan harga BBM terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi.

Oleh karena itu, pemerintah perlu mengambil tindakan untuk mengendalikan inflasi, seperti dengan menekan tingkat inflasi serendah mungkin dan mengurangi pengeluaran.

Pemerintah menyediakan bantuan sosial dan kompensasi bagi masyarakat yang rentan akibat kenaikan harga BBM. Beras, gula, minyak goreng, dan subsidi listrik diprioritaskan untuk melindungi daya beli. Kompensasi ini ditujukan terutama kepada masyarakat berpenghasilan rendah agar mereka tidak terlalu terbebani.

Agar dapat membantu secara tepat, transparan, dan tidak membuat ketergantungan, pemerintah harus menyalurkan bantuan ini dengan sangat hati-hati dan akuntabel.

Memanfaatkan sumber energi alternatif, termasuk listrik, biofuel, dan gas, adalah kunci untuk meminimalkan ketergantungan pada bahan bakar tradisional dan tidak terbarukan yang mahal dan berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan.

Pilihan energi alternatif tersebut tidak hanya mendorong diversifikasi dan keamanan energi, namun juga menciptakan peluang ekonomi baru bagi dunia usaha dan pencari kerja. Untuk mendorong transisi ini, langkah-langkah kebijakan seperti insentif pajak, perizinan, subsidi, dan inisiatif peraturan diperlukan untuk menghilangkan hambatan yang menghalangi.

Maka kenaikan harga BBM bersubsidi sekitar 26% akan mendorong kenaikan biaya produksi, yang pada gilirannya akan menaikkan harga barang dan jasa di pasaran. Kenaikan harga bahan bakar juga dapat menyebabkan turunnya nilai mata uang, hilangnya investasi, dan meningkatkan pengangguran.

Pemahaman hubungan antara BBM dan ekonomi sangat penting di berbagai sektor bagi pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat itu sendiri. Bagi pemerintah pemahaman ini dapat membantu dalam merumuskan kebijakan yang tepat dan efektif.

Pelaku usaha menyesuaikan strategi bisnisnya meningkatkan energi efisiensi, mencari energi alternatif terbarukan. Masyarakat luas memanfaatkan pemahaman ini dalam mengelola anggaran rumah tangga lebih bijak dengan mengurangi konsumsi BBM beralih ke transportasi umum.

Penulis:
1. Febriliana Mutiara Balqis
2. Bela Aulia Sari
3. Nur Laila
Mahasiswa D3 Akuntansi Universitas Tidar

Editor: Ika Ayuni Lestari

Bahasa: Rahmat Al Kafi

Ikuti berita terbaru di Google News

Kirim Artikel

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI