Abstrak
UMKM Basreng Lancar Jaya di Dusun Kluwih masih mengandalkan proses produksi manual, khususnya dalam pemotongan bahan baku basreng, sehingga menghasilkan bentuk yang tidak seragam dan memperlambat proses produksi. Program ini bertujuan untuk menerapkan teknologi tepat guna berupa alat pemotong pipih sebagai solusi peningkatan efisiensi dan inovasi produk. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa alat pemotong pipih mampu mempercepat proses pemotongan, menghasilkan bentuk basreng yang lebih tipis dan seragam, serta menciptakan varian baru yang lebih renyah dan menarik secara visual. Inovasi ini tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga membuka peluang pasar yang lebih luas melalui diversifikasi produk. Penerapan alat ini diharapkan menjadi langkah awal dalam transformasi produksi UMKM yang berkelanjutan serta memperkuat daya saing produk lokal.
Kata Kunci: TTG, UMKM, Basreng, Alat Pemotong.
Abstract
Basreng Lancar Jaya, a home-based small business located in Dusun Kluwih, still relies on manual production processes, especially in slicing the raw basreng dough, resulting in inconsistent shapes and slower production. This program aims to apply an appropriate technology in the form of a flat-cutting tool to improve production efficiency and create product innovation. The results show that the tool successfully accelerates the cutting process, produces thinner and more uniform shapes, and creates a new variant, flat basreng with a crispier texture and more appealing appearance. This innovation not only increases production capacity but also opens broader market opportunities through product diversification. The implementation of this tool is expected to be the initial step in sustainable UMKM production transformation and to enhance the competitiveness of local products.
Keywords: TTG, UMKM, Basreng, Cutting Tool.
Baca Juga: Kolaborasi PKM Gantari dan Surya Ndadari dalam Branding Produk Cemilan Kekinian
I. PENDAHULUAN
Camilan basreng (bakso goreng) menjadi salah satu makanan ringan yang semakin populer di kalangan masyarakat Indonesia karena cita rasanya yang gurih dan mudah dikreasikan dengan berbagai varian rasa pedas dan gurih khas lokal. Produk ini banyak diproduksi oleh pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), terutama di daerah-daerah yang menjadi sentra produksi makanan ringan. UMKM memainkan peran vital dalam perekonomian nasional karena menjadi tulang punggung penyedia lapangan kerja dan penggerak ekonomi lokal, termasuk dalam industri makanan ringan seperti basreng (Putra & Kurnia, 2025). Meskipun demikian, banyak UMKM masih menghadapi kendala dalam proses produksi, seperti penggunaan peralatan manual dan minimnya inovasi produk, yang berimbas pada rendahnya efisiensi dan daya saing usaha (Gustalika & Suryani, 2023). Untuk mengatasi hal ini, pendampingan serta penerapan teknologi tepat guna diperlukan agar UMKM dapat meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas produk secara berkelanjutan.
Produk basreng pada umumnya memiliki bentuk potongan yang tebal dan tidak seragam karena dipotong secara manual menggunakan pisau atau gunting dapur. Keterbatasan dalam variasi bentuk dan tekstur produk seperti ini dapat menjadi hambatan dalam memperluas pangsa pasar, terutama di segmen konsumen yang mengutamakan keunikan visual dan kenyamanan konsumsi. Proses pemotongan manual tidak hanya menghasilkan bentuk yang tidak konsisten, tetapi juga memperlambat laju produksi serta meningkatkan kelelahan tenaga kerja, sehingga menurunkan efisiensi usaha secara keseluruhan (Hendra, et al, 2024). Penerapan teknologi tepat guna seperti mesin pemotong atau pencetak otomatis terbukti mampu meningkatkan efisiensi produksi dan menjaga konsistensi kualitas produk pada UMKM sejenis.
Alat pemotong pipih sebagai bentuk teknologi tepat guna hadir untuk menjawab permasalahan klasik dalam produksi basreng, yaitu ketidakkonsistenan bentuk, lambatnya proses, dan keterbatasan inovasi produk. Dengan alat ini, potongan basreng dapat dibuat lebih tipis, seragam, dan menarik secara visual, menghasilkan varian baru yang disebut “basreng pipih”. Inovasi ini tidak hanya memberikan keunggulan dari sisi estetika, tetapi juga mempercepat proses penggorengan, meningkatkan kerenyahan, dan memperpanjang daya simpan produk karena kadar air yang lebih rendah. Potensi ini menjadikan basreng pipih sebagai alternatif produk yang dapat meningkatkan daya tarik di pasar, khususnya di kalangan konsumen muda yang lebih menyukai tampilan produk yang unik dan praktis.
UMKM Basreng Lancar Jaya yang berlokasi di Dusun Kluwih merupakan salah satu pelaku usaha yang memiliki potensi untuk berkembang namun masih mengandalkan proses produksi manual. Produksi dilakukan secara rumahan dengan kapasitas terbatas dan pemasaran yang sebagian besar bersifat lokal. Meskipun sudah memiliki pelanggan tetap, UMKM ini menyadari pentingnya melakukan inovasi produk sebagai strategi untuk memperluas pasar dan meningkatkan keuntungan. Namun, keterbatasan akses terhadap alat produksi dan informasi teknologi menjadi kendala utama. Oleh karena itu, intervensi berupa penerapan alat pemotong pipih diharapkan dapat menjadi solusi nyata dalam membantu UMKM ini bertransformasi secara bertahap menuju proses produksi yang lebih modern dan efisien.
Menanggapi kebutuhan tersebut, tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya melaksanakan program pendampingan berbasis teknologi tepat guna dengan memperkenalkan dan menerapkan alat pemotong pipih pada proses produksi basreng di UMKM Basreng Lancar Jaya. Program ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi kerja, mempercepat proses produksi, serta menciptakan inovasi produk baru yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Lebih dari sekadar bantuan alat, program ini juga mencakup pelatihan penggunaan, perawatan, dan peluang pengembangan usaha berbasis produk inovatif. Diharapkan, penerapan alat ini tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek dari sisi produksi, tetapi juga membuka peluang jangka panjang dalam penguatan kapasitas usaha, perluasan pasar, serta kemandirian UMKM dalam mengelola inovasi produk secara berkelanjutan.
Berdasarkan kajian literatur sebelumnya yang membahas pentingnya inovasi produk, penerapan teknologi tepat guna, serta tantangan efisiensi dan daya saing di sektor UMKM pangan, maka pengembangan hipotesis dalam program ini mengacu pada dua aspek utama, yaitu: efisiensi proses produksi dan diferensiasi produk.
UMKM Basreng Lancar Jaya selama ini masih memproduksi basreng secara manual, terutama pada tahap pemotongan bahan baku. Proses manual ini cenderung menghasilkan bentuk yang tidak seragam, waktu produksi yang lebih lama, dan meningkatkan kelelahan tenaga kerja. Sementara itu, tren pasar menunjukkan bahwa konsumen semakin tertarik pada produk yang memiliki bentuk menarik, konsisten, dan mudah dikemas.
Penggunaan alat pemotong pipih sebagai bentuk teknologi tepat guna (TTG) diyakini dapat menyelesaikan dua persoalan tersebut secara bersamaan: meningkatkan efisiensi kerja serta menghasilkan bentuk baru basreng yang lebih menarik dan potensial meningkatkan nilai jual.
Baca Juga: Dari Mangrove ke Makanan Ringan: Inovasi Brilian PT Roves Global Food
II. METODE PENELITIAN
Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan di Dusun Kluwih, Desa Simbaringin, Kecamatan Kutorejo, oleh Tim KKN Sub Kelompok 7 Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dengan mitra UMKM Basreng Lancar Jaya Setia sebagai sasaran program. Metode yang digunakan adalah observasi lapangan dan praktik langsung (hands-on training) melalui aktivitas pengolahan serta penjualan produk keripik basreng berbahan dasar bakso ayam yang diolah menjadi camilan kekinian.
Modifikasi dan inovasi dilakukan pada aspek bentuk, rasa, dan tampilan produk agar berbeda dari basreng konvensional, sesuai dengan kebutuhan konsumen akan variasi produk pangan yang lebih menarik. Sebelum intervensi, proses pemotongan bahan baku masih dilakukan secara manual menggunakan pisau, sehingga bentuk produk tidak seragam, waktu produksi lama, dan tenaga kerja cepat lelah, sesuai temuan serupa pada UMKM pangan lain (Kholis, et al, 2024). Sebagai solusi, tim KKN menghadirkan inovasi berupa alat pemotong pipih sebagai bentuk penerapan teknologi tepat guna untuk mempercepat proses produksi, menjaga konsistensi bentuk, serta menciptakan varian produk baru berupa basreng pipih. Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi waktu dan energi tenaga kerja serta meningkatkan nilai jual produk melalui diferensiasi visual.
2. 1 TAHAPAN METODE
Metode penelitian ini dirancang untuk memahami secara mendalam tantangan dan strategi yang dihadapi oleh pelaku UMKM basreng di lokasi mitra, serta untuk mengidentifikasi praktik terbaik yang dapat menjadi model untuk UMKM di wilayah lain. Kegiatan dirancang dengan beberapa tahap:
1. Observasi Awal
Mengidentifikasi alur produksi dan tantangan teknis yang dihadapi mitra.
2. Wawancara Mendalam dengan Pemilik Usaha
Menggali informasi rinci terkait permasalahan, kebutuhan, dan strategi usaha.
3. Identifikasi Permasalahan
Mengidentifikasi titik kritis, seperti alat manual yang kurang efisien dan terbatasnya variasi produk.
4. Penyusunan dan Penerapan Solusi Inovatif
Melakukan perancangan dan pembuatan alat pemotong basreng pipih berbahan stainless steel.
5. Praktik Produksi
Proses pemotongan bakso menjadi irisan pipih untuk kemudian digoreng dan diuji hasil tekstur serta kerenyahannya.
6. Evaluasi dan Dokumentasi
Dilakukan untuk mengetahui kesan dan efektivitas alat dan melihat perbandingan proses produksi sebelum dan sesudah penggunaan alat.
Baca Juga: Turut Andilnya “Basreng Ghibah” di Tengah Usaha UMKM
2.2 RUANG LINGKUP KEGIATAN
Ruang lingkup kegiatan dalam penerapan alat pemotong basreng ini meliputi pelatihan penggunaan alat pemotong kepada pemilik dan karyawan UMKM, serta demonstrasi pembuatan “Basreng Pipih” mulai dari proses pemotongan hingga penggorengan menggunakan alat inovasi dari kelompok kami. Selanjutnya dilakukan uji coba produksi dalam skala kecil untuk melihat tingkat kerapian, ketipisan, dan kecepatan pemotongan, serta penghitungan waktu penggorengan untuk membandingkan efisiensi antara basreng konvensional dan basreng pipih. Kegiatan ini juga mencakup strategi pemasaran awal untuk mengenalkan inovasi “Basreng Pipih” kepada konsumen sebagai varian baru dari UMKM Basreng Lancar Jaya, serta monitoring penggunaan alat secara berkelanjutan dan evaluasi hasil produksi untuk pengembangan lebih lanjut.
2.3 BAHAN DAN ALAT UTAMA
Bahan-bahan dan alat utama yang digunakan dalam kegiatan meliputi:
Tabel 1: alat dan bahan yang digunakan selama kegiatan
| No | Kegiatan/Komponen | Jumlah | Fungsi/Kegunaan |
| 1 | Kayu Mahoni | 3 lonjor | Bahan utama rangka alat pemotong basreng |
| 2 | Pipa Aluminium | 3 pcs | Penyangga dan dudukan bilah pemotong |
| 3 | Bilah Pisau Stainless | 3 pcs | Sebagai pemotong utama basreng dalam bentuk pipih |
| 4 | Mur, Baut, Ring | 1 pack | Penyambung dan penguat antar komponen alat |
| 5 | Politur Vernis (0,5 ml) | 1 pcs | Finishing kayu agar tampak rapi dan tahan lama |
| 6 | Kuas Sedang | 1 pcs | Alat bantu untuk mengoleskan vernis pada permukaan kayu |
| 7 | Amplas (10 cm) | 2 pcs | Menghaluskan permukaan kayu sebelum dan sesudah perakitan |
| 8 | Lem Kayu | 1 pcs | Merekatkan bagian kayu yang tidak menggunakan baut |
| 9 | Cetak Label Kemasan (A4) | 1 pcs | Memberi identitas merek pada kemasan produk |
| 10 | Kemasan Standing Pouch (10×17) | 1 pack | Wadah akhir produk basreng pipih untuk distribusi atau penjualan |
2.4 ANALISIS DATA KUALITATIF
Data yang diperoleh dari survei lapangan kemudian dianalisis dengan pendekatan kualitatif menggunakan metode deduktif-induktif. Peneliti mengidentifikasi tema-tema umum yang muncul dari data, seperti keterbatasan alat produksi, efisiensi waktu, strategi pengembangan produk, dan hambatan lainnya. Dari temuan tersebut, dikembangkan kerangka konseptual untuk mengorganisir dan menganalisis data secara sistematis. Selama proses analisis, peneliti mencari pola-pola dan hubungan antar faktor yang muncul dari data, serta insight-insight yang relevan untuk mengembangkan inovasi yang aplikatif, seperti alat pemotong basreng pipih yang dapat mempercepat proses produksi sekaligus menciptakan varian produk baru yang lebih menarik dan kompetitif di pasar.
2.5 METODE PENGUMPULAN DATA
Survei lapangan ini menggunakan beberapa metode pengumpulan data, termasuk wawancara langsung dengan pemilik usaha untuk menggali informasi mendalam seputar proses produksi, strategi pemasaran, kendala usaha, serta rencana pengembangan ke depan. Selain itu, pengamatan langsung juga dilakukan terhadap praktik produksi dan pemasaran yang diterapkan oleh UMKM di lokasi basreng lancar jaya setia.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Kegiatan pengabdian ini dilakukan oleh Tim KKN Sub Kelompok 7 Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya bekerja sama dengan mitra UMKM Basreng Lancar Jaya Setia, yang berlokasi di Dusun Kluwih, Desa Simbaringin, Kecamatan Kutorejo. Tujuan utama kegiatan ini adalah membantu mitra dalam mengatasi permasalahan proses produksi yang masih bersifat manual, khususnya pada tahap pemotongan adonan basreng yang masih menggunakan pisau dapur biasa. Proses pemotongan manual tersebut menghasilkan potongan berbentuk lonjong yang kurang menarik secara visual dan tidak seragam ukurannya, sehingga produk terlihat kurang profesional di mata konsumen.
Berdasarkan hasil observasi lapangan dan wawancara dengan pemilik UMKM, diketahui bahwa proses pemotongan manual tidak hanya menyebabkan waktu produksi menjadi lebih lama, tetapi juga menghasilkan potongan yang tidak konsisten, baik dari segi ketebalan maupun bentuknya. Kondisi ini berpengaruh pada proses penggorengan karena potongan yang tebal memerlukan waktu penggorengan lebih lama, sedangkan potongan yang tipis lebih cepat matang sehingga menyebabkan hasil akhir tidak seragam. Selain itu, kecepatan kerja menjadi terhambat karena pekerja mengalami kelelahan akibat harus memotong secara manual dalam jumlah banyak setiap hari, sebagaimana juga ditemukan dalam studi terkait UMKM pangan lainnya (Trihastuti et al., 2023).
Kondisi ini menjadi hambatan utama dalam upaya pengembangan usaha dan inovasi produk. Mitra UMKM Basreng Lancar Jaya Setia memiliki keinginan untuk meningkatkan kapasitas produksi dan variasi produk, namun keterbatasan peralatan menjadi kendala dalam mencapai target tersebut. Mitra juga menyadari bahwa tren pasar saat ini menunjukkan konsumen lebih tertarik pada produk makanan ringan yang memiliki bentuk unik, seragam, dan menarik secara visual karena memudahkan dalam pengemasan dan pemasaran. Selain itu, proses produksi yang masih konvensional berdampak pada keterbatasan waktu, tenaga, dan biaya produksi sehingga menyulitkan mitra dalam meningkatkan volume produksi yang stabil dan berkualitas. Hal ini juga membatasi UMKM dalam memenuhi permintaan pasar yang lebih luas, mengingat permintaan konsumen mengalami peningkatan pada periode tertentu seperti bulan Ramadan, Lebaran, dan musim liburan sekolah. Menurut Syata (2025), UMKM memerlukan inovasi proses produksi sebagai upaya meningkatkan efisiensi kerja dan kualitas produk agar dapat bersaing di pasar.

Melalui kegiatan pengabdian ini, Tim KKN berupaya memfasilitasi penerapan teknologi tepat guna dengan menghadirkan alat pemotong pipih untuk produksi basreng sebagai solusi nyata atas permasalahan mitra. Diharapkan, penggunaan alat ini dapat membantu mitra dalam mempercepat proses pemotongan adonan secara signifikan, menghasilkan potongan yang lebih tipis, seragam, dan menarik, serta membuka peluang pengembangan produk varian baru seperti basreng pipih yang lebih renyah, praktis, dan memiliki nilai jual lebih tinggi. Dengan demikian, kegiatan ini bukan hanya berfokus pada penyelesaian kendala teknis dalam produksi, tetapi juga membuka peluang perluasan pasar dan peningkatan keberlanjutan usaha mitra secara jangka panjang.
Selanjutnya, kegiatan yang dilakukan tim KKN berupa pendampingan dan pelatihan kepada mitra dan karyawannya dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman dalam penggunaan alat pemotong basreng pipih. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan memperkenalkan teknik produksi yang lebih efisien serta mendorong keterampilan inovatif dalam pengembangan produk agar lebih variatif dan memiliki nilai jual lebih tinggi di pasaran, sebagaimana disarankan oleh Apriyanti et al. (2022) terkait pentingnya inovasi dalam meningkatkan daya saing UMKM. Dan pelatihan meliputi demonstrasi penggunaan alat, teknik pemotongan yang tepat agar menghasilkan irisan yang seragam, serta praktik langsung untuk memastikan mitra dan karyawan dapat mengoperasikan alat secara mandiri. Kegiatan ini juga diikuti dengan diskusi tentang manajemen waktu produksi, teknik pengemasan, dan potensi pemasaran produk basreng pipih sebagai varian baru untuk memenuhi tren konsumen yang menyukai camilan praktis dengan bentuk menarik.

Hasil uji produk bersama konsumen menunjukkan respon positif terhadap inovasi ini. Konsumen menyatakan bahwa basreng dengan bentuk pipih terlihat lebih menarik karena bentuknya yang seragam dan tipis, dengan warna abu cerah yang konsisten serta bumbu yang merata pada setiap permukaan potongan. Meskipun tidak ada perubahan pada rasa, cita rasa ikan yang khas dengan nuansa gurih tetap menjadi daya tarik utama bagi konsumen. Produk ini juga mempertahankan aroma ikan segar tanpa aroma tengik yang terkadang ditemukan pada produk sejenis, yang menjadi keunggulan kompetitif tersendiri. Dari aspek tekstur, basreng pipih memperoleh apresiasi karena tetap renyah namun lebih mudah dikonsumsi dibandingkan bentuk lonjong sebelumnya yang lebih tebal dan keras, sehingga lebih nyaman untuk semua segmen konsumen, termasuk anak-anak dan lansia. Umpan balik positif ini menunjukkan bahwa inovasi bentuk produk memberikan nilai tambah nyata tanpa mengubah kualitas rasa, aroma, dan tekstur yang telah disukai konsumen, sesuai dengan prinsip inovasi produk pada UMKM pangan (Herdiani 2024).
Baca Juga: Strategi Pengembangan Pasar melalui Inovasi Produk pada UMKM Buah Segar
Pemilik UMKM Basreng Lancar Jaya Setia tetap menunjukkan komitmen dalam menjaga standar kualitas tinggi, menggunakan bahan baku ikan segar, serta melakukan pengawasan ketat pada setiap tahap produksi untuk memastikan cita rasa dan keamanan produk tetap terjaga. Konsistensi dalam menjaga kualitas ini menjadi faktor penting dalam mempertahankan loyalitas konsumen, sekaligus membedakan produk mereka dari pesaing di pasar. Di samping itu, pengembangan bentuk produk menjadi bagian dari strategi inovasi untuk mengikuti tren pasar dan meningkatkan daya saing di tengah persaingan yang semakin ketat (Pratama et al., 2024). Dengan demikian, kegiatan pendampingan ini bukan hanya membantu mitra dalam mengoptimalkan proses produksi secara efisien, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan kapasitas inovasi, nilai jual produk, serta kesiapan UMKM untuk berkembang secara berkelanjutan dalam menghadapi dinamika pasar.
Tabel 2: Ringkasan Hasil dan Dampak Alat Pemotong Basreng Pipih
| Aspek | Sebelum Inovasi | Sesudah Inovasi (Dengan Alat Pemotong Pipih) |
| Metode Pemotongan | Manual menggunakan pisau dapur | Menggunakan alat pemotong pipih ekonomis dan efisien |
| Bentuk Produk | Lonjong, tidak seragam | Pipih, lebih seragam dan menarik secara visual |
| Waktu Produksi | Lebih lama karena pemotongan dilakukan satu per satu | Lebih cepat, proses pemotongan dilakukan secara efisien |
| Jumlah Produksi | Terbatas karena keterbatasan waktu dan tenaga kerja | Kapasitas produksi meningkat |
| Efisiensi Kerja | Rendah, tenaga kerja cepat lelah | Lebih efisien dan ringan dalam proses produksi |
| Variasi Produk | Hanya 1 bentuk (lonjong) | Ada inovasi produk baru (basreng pipih) yang lebih menarik |
| Nilai Jual Produk | Kurang menarik dari segi tampilan | Lebih bernilai karena bentuk unik dan kemasan lebih baik |
| Keterampilan Karyawan | Belum mengenal teknik produksi inovatif | Meningkat setelah pendampingan dan pelatihan penggunaan alat |
| Daya Saing UMKM | Terbatas di pasar lokal | Lebih kompetitif karena produk lebih variatif dan proses produksi lebih efisien |
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 KESIMPULAN
Kegiatan pengabdian yang dilakukan oleh tim KKN Sub Kelompok 7 di UMKM Basreng Lancar Jaya Setia menunjukkan bahwa penerapan alat pemotong basreng pipih sebagai teknologi tepat guna memberikan dampak positif yang signifikan terhadap proses produksi dan pengembangan produk. Sebelum inovasi, proses pemotongan dilakukan secara manual, menghasilkan bentuk basreng yang tidak seragam, memakan waktu lama, dan menghambat peningkatan kapasitas produksi. Setelah alat pemotong pipih diterapkan, proses produksi menjadi lebih cepat, efisien, dan hasil potongan lebih menarik secara visual. Inovasi ini juga mendorong terciptanya varian baru berupa basreng pipih yang memiliki keunggulan dari segi tampilan, kerenyahan, dan daya tarik pasar tanpa mengubah cita rasa asli yang sudah disukai konsumen. Kegiatan pelatihan dan pendampingan yang dilakukan turut meningkatkan keterampilan mitra dan karyawannya dalam penggunaan alat serta membuka peluang pengembangan usaha yang lebih luas dan kompetitif di pasar lokal maupun regional.
4.2 SARAN
Berdasarkan hasil kegiatan dan pembahasan yang telah disampaikan, terdapat beberapa saran yang dapat dipertimbangkan untuk pengembangan usaha dan keberlanjutan inovasi di masa mendatang. Saran-saran ini diharapkan dapat memberikan arahan yang konstruktif bagi mitra UMKM maupun pihak-pihak lain yang tertarik mengadopsi model serupa.
1. Pengembangan Lanjutan Produk
UMKM disarankan untuk terus mengeksplorasi inovasi lain dalam bentuk dan kemasan agar dapat memenuhi selera pasar yang dinamis dan meningkatkan daya saing produk.
2. Pemanfaatan Teknologi Secara Berkelanjutan
Penggunaan alat pemotong pipih perlu terus dioptimalkan dengan perawatan rutin dan evaluasi berkala agar manfaatnya dapat dirasakan secara jangka panjang.
3. Peningkatan Kapasitas Produksi
Dengan meningkatnya efisiensi, UMKM dapat mempertimbangkan peningkatan volume produksi dan perluasan jaringan distribusi di luar daerah lokal.
4. Peningkatan Promosi dan Branding
Inovasi bentuk basreng pipih yang unik perlu didukung dengan strategi pemasaran yang tepat, termasuk branding visual dan pemanfaatan media sosial untuk menarik konsumen baru.
5. Replikasi Model ke UMKM Lain
Inovasi alat pemotong pipih yang berhasil di UMKM Basreng Lancar Jaya dapat dijadikan model dan direplikasi pada UMKM serupa di wilayah lain yang memiliki permasalahan produksi sejenis.
Dengan mempertimbangkan saran-saran di atas, diharapkan UMKM Basreng Lancar Jaya Setia dapat terus berkembang secara berkelanjutan, meningkatkan daya saing produknya, serta menjadi inspirasi bagi pelaku UMKM lainnya dalam memanfaatkan teknologi tepat guna sebagai strategi peningkatan produktivitas dan inovasi produk.
Penulis:
1. Dr. (Cand.) Fiky Two Nando, S.T., M.T.
2. Abel Salsabilla Hilza Infarani
3. Theola Caesar Aisyah Sidik
4. Aristoteles Achmad Choir Haqiqie
5. Amalia Devi Wulandari
6. Muhammad Sofyan Hamid
Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Referensi
Apriyanti, E., Chasanah, U., & Kiswati, S. (2022). Penerapan teknologi tepat guna autoclave pada industri tempe sebagai upaya peningkatan produktivitas UKM di Desa Sumurrejo Gunung Pati Semarang. Merdeka Indonesia Jurnal International, 2(1), 18-24.
Gustalika, M. A., Suryani, R. I., & Prasetyo, N. A. (2025). Penerapan teknologi tepat guna dan digital marketing pada UMKM. Jurnal Inovasi Hasil Pengabdian Masyarakat (JIPEMAS), 8(1), 97-109.
Hendra, J., Supraptiningsih, L. K., Hakim, L., & Avrylina, N. (2024). PERAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA DALAM PENINGKATAN PRODUKTIVITAS DAN KEBERLANJUTAN USAHA BAGI KELOMPOK UMK KERIPIK TUMBASO DI PROBOLINGGO. Jurnal Abdi Panca Marga, 5(2), 265-272.
Herdiani, H. (2024). Strategi Pemasaran Umkm Dalam Menjangkau Pasar Modern Studi Kasus Pada Bandeng Inn. Jurnal Adijaya Multidisplin, 2(05), 135-144.
Kholis, N., Respati, S. M. B., Mustagfirin, M., Prasetyo, S., & Sarwono, E. (2024). PENERAPAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA UNTUK MENINGKATKAN KAPASITAS PRODUKSI KUE TRADISIONAL PADA UMKM DI DESA METESEH. Abdi Masya, 5(2), 157-165.
Pratama, B. H. S., Maghfiroh, S., Sifa, A., Rohmah, K. N., Ridwan, M., & Sofiah, U. (2024). Peran Pemerintah dan Strategi Penguatan Ekonomi Kerakyatan dalam Pemberdayaan UMKM Go Digital di Purwokerto. Jurnal Ekonomi, Bisnis dan Manajemen, 3(4), 382-401.
Putra, R. I. M., & Kurnia, A. C. (2025). Peran pendampingan UMKM terhadap penguatan strategi bisnis lokal di era digital. AKSIOMA: Jurnal Sains Ekonomi dan Edukasi, 2(4), 789-794.
Syata, W. M. (2025). Peran Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dalam Mendorong Pertumbuhan Ekonomi. Ekopedia: Jurnal Ilmiah Ekonomi, 1(2), 63-70.
Ikuti berita terbaru di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












