Jajanan Viral vs Kesadaran Halal: Sejauh Mana Mahasiswa Peduli Kehalalan Produk?

Kesadaran Halal Mahasiswa
Banyak mahasiswa terlihat lebih tertarik pada aspek visual, rasa, harga, dan popularitas suatu produk dibandingkan dengan keberadaan label halal. Hal ini dapat diamati dari ramainya antrean di berbagai tenant makanan yang sedang viral, meskipun beberapa di antaranya belum mencantumkan sertifikasi halal secara jelas. (Ilustrasi: Dok. MMI)

Perkembangan industri makanan dan minuman saat ini tidak dapat dipisahkan dari pengaruh media sosial. Berbagai produk jajanan viral dengan cepat menarik perhatian masyarakat, khususnya kalangan mahasiswa. Mulai dari minuman kekinian, makanan impor, hingga street food yang sedang populer di platform digital, semuanya menjadi bagian dari gaya hidup konsumsi generasi muda. Namun, di tengah derasnya arus tren tersebut, muncul pertanyaan yang cukup mendasar: sejauh mana mahasiswa mempertimbangkan aspek kehalalan dalam memilih produk yang mereka konsumsi?

Sebagai mahasiswa yang hidup di lingkungan mayoritas muslim, isu halal seharusnya menjadi salah satu pertimbangan utama dalam aktivitas konsumsi sehari-hari. Label halal bukan hanya sekadar simbol, tetapi juga bentuk jaminan bahwa suatu produk telah memenuhi standar tertentu, baik dari segi bahan baku, proses produksi, hingga distribusi. Dalam konteks industri halal, keberadaan sertifikasi halal juga mencerminkan kualitas dan keamanan produk yang dikonsumsi oleh masyarakat.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Baca juga: Peran Sertifikasi Halal dalam Meningkatkan Kepercayaan Konsumen

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di lingkungan sekitar kampus, fenomena konsumsi jajanan viral di kalangan mahasiswa menunjukkan dinamika yang cukup menarik. Banyak mahasiswa terlihat lebih tertarik pada aspek visual, rasa, harga, dan popularitas suatu produk dibandingkan dengan keberadaan label halal. Hal ini dapat diamati dari ramainya antrean di berbagai tenant makanan yang sedang viral, meskipun beberapa di antaranya belum mencantumkan sertifikasi halal secara jelas.

Tidak jarang, keputusan pembelian dilakukan secara impulsif, dipengaruhi oleh tren yang sedang berkembang di media sosial. Rekomendasi dari teman, konten kreator, atau ulasan di platform digital seringkali menjadi faktor utama yang mendorong mahasiswa untuk mencoba suatu produk. Dalam situasi seperti ini, pertimbangan mengenai kehalalan cenderung berada di posisi kedua, bahkan terkadang terabaikan.

Fenomena tersebut menunjukkan, adanya pergeseran pola pikir dalam perilaku konsumsi mahasiswa. Jika sebelumnya aspek kehalalan menjadi prioritas utama, kini sebagian mahasiswa mulai lebih fleksibel dalam menentukan pilihan. Hal ini tidak berarti bahwa mereka mengabaikan sepenuhnya konsep halal, tetapi lebih kepada adanya kompromi antara keinginan untuk mengikuti tren dan kesadaran terhadap nilai-nilai yang dianut.

Baca juga: Di Balik Ramainya Jajanan Viral, Apakah Kita Masih Peduli Halal?

Di sisi lain, masih terdapat kelompok mahasiswa yang tetap konsisten menjadikan label halal sebagai faktor utama dalam memilih produk. Kelompok ini cenderung lebih selektif dan berhati-hati, terutama ketika dihadapkan pada produk baru atau yang belum familiar. Mereka biasanya akan mencari informasi tambahan, baik melalui label kemasan, media digital, maupun bertanya langsung kepada penjual. Sikap ini mencerminkan tingkat kesadaran halal yang lebih tinggi serta pemahaman yang lebih baik mengenai pentingnya konsumsi produk yang terjamin kehalalannya.

Perbedaan perilaku ini menunjukkan bahwa tingkat literasi halal di kalangan mahasiswa masih belum merata. Sebagian mahasiswa telah memiliki kesadaran yang cukup baik, sementara sebagian lainnya masih perlu mendapatkan edukasi lebih lanjut. Dalam konteks ini, literasi halal tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan mengenai label atau sertifikasi, tetapi juga mencakup pemahaman tentang proses dan pentingnya menjaga prinsip halal dalam kehidupan sehari-hari.

Dari sudut pandang industri halal, fenomena ini menjadi tantangan sekaligus peluang. Di satu sisi, rendahnya perhatian terhadap label halal pada sebagian konsumen dapat menjadi hambatan dalam mendorong pertumbuhan industri halal secara optimal. Namun, di sisi lain, meningkatnya tren konsumsi di kalangan mahasiswa juga membuka peluang besar bagi pelaku usaha untuk mengembangkan produk halal yang inovatif dan sesuai dengan selera generasi muda.

Pelaku usaha, khususnya Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah di sektor makanan dan minuman, perlu menyadari bahwa sertifikasi halal dapat menjadi nilai tambah yang signifikan. Dengan memiliki label halal yang jelas, produk tidak hanya lebih dipercaya oleh konsumen, tetapi juga memiliki daya saing yang lebih kuat di pasar. Selain itu, di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup halal, produk yang telah tersertifikasi memiliki potensi untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Baca juga: Label Halal: Standar Mutu atau Sekadar Strategi Pemenang Pasar? Menimbang Peran Sertifikasi Halal dalam Membangun Kepercayaan dan Daya Saing Produk

Tidak hanya dari sisi pelaku usaha, peran institusi pendidikan dan lingkungan kampus juga penting dalam meningkatkan kesadaran halal di kalangan mahasiswa. Melalui berbagai kegiatan edukatif, seperti seminar, diskusi, atau kampanye literasi halal, mahasiswa dapat diberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai pentingnya konsumsi produk halal. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga agen pengubahan yang dapat mendorong berkembangnya industri halal di Indonesia.

Secara keseluruhan, fenomena konsumsi jajanan viral di kalangan mahasiswa mencerminkan adanya dinamika antara mengikuti tren dan mempertahankan prinsip kehalalan. Di satu sisi, mahasiswa sebagai bagian dari generasi muda memiliki kecenderungan untuk eksploratif dan terbuka terhadap hal-hal baru. Namun, di sisi lain, nilai-nilai yang berkaitan dengan kehalalan tetap perlu dijaga sebagai bagian dari identitas dan tanggung jawab sebagai konsumen muslim.

Melalui refleksi ini, dapat disimpulkan bahwa kesadaran terhadap pentingnya label halal di kalangan mahasiswa masih bersifat fluktuatif. Oleh karena itu, diperlukan upaya yang lebih terintegrasi dari berbagai pihak untuk meningkatkan literasi halal, baik melalui edukasi, regulasi, maupun inovasi produk. Dengan demikian, di tengah maraknya tren konsumsi yang terus berkembang, prinsip kehalalan tetap dapat menjadi landasan utama dalam setiap keputusan konsumsi yang dilakukan.


Penulis: Agnia Kayla Putri
Mahasiswa Program Studi Ilmu Ekonomi Syariah, Institut Pertanian Bogor University


Dosen Pengampu: Dr. Deni Lubis S.Ag., M.A.


Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses