Bahasa Walikan sudah lama dikenal sebagai ciri khas Kota Malang. Kata “Malang” yang dibalik menjadi “Ngalam” bukan hanya permainan bunyi, tetapi simbol identitas Arek Malang yang diwariskan lintas generasi.
Namun kini, di tengah derasnya arus bahasa gaul modern, slang internet, hingga campuran bahasa Inggris, muncul pertanyaan penting: apakah bahasa Walikan masih relevan di kalangan anak muda masa kini?
Dalam berbagai ruang mulai dari tongkrongan, media sosial, hingga interaksi komunitas bahasa Walikan ternyata masih terdengar.
Meskipun tidak seaktif masa kejayaannya pada era 2000-an, bahasa ini tetap memiliki tempat tersendiri dalam dinamika komunikasi anak muda Malang.
Bahasa Walikan Masih Ada, Meski Tidak Seaktif Dulu
Saat ini, bahasa Walikan tidak lagi menjadi bahasa pergaulan utama, tetapi tetap muncul dalam konteks-konteks santai.
Anak muda masih menggunakannya saat nongkrong, bercanda, atau membuat komentar di media sosial.
Walikan sering dipakai sebagai bumbu humor dan keakraban, bukan sebagai bahasa formal atau komunikasi inti.
Di tengah komunikasi modern yang serba cepat dipenuhi singkatan, emoji, dan campuran bahasa Inggris bahasa walikan justru memberi “ruang napas”.
Ia menawarkan kesegaran linguistik yang unik, menghadirkan nuansa santai, akrab, sekaligus playful.
Baca Juga: Mengenal Bahasa Arab sebagai Bahasa Internasional: Huruf dan Keunikannya
Namun tidak bisa dipungkiri, generasi sekarang juga sangat dekat dengan bahasa gaul lain seperti “healing”, “bestie”, “gaskeun”, hingga istilah khas internet seperti “random”, “cringe”, dan “skibidi”.
Tren-tren tersebut membuat penggunaan Walikan tidak sebanyak dulu, tetapi tidak berarti menghilang.
Identitas Lokal yang Tidak Hilang Ditelan Waktu
Salah satu alasan utama Walikan tetap bertahan adalah identitas lokal. Bagi masyarakat Malang, walikan bukan hanya bahasa, tetapi bagian dari sejarah, kultur, dan kebanggaan daerah. Penggunaan Walikan sering menjadi penanda ke-arek-an seseorang.
Ketika seseorang menyapa dengan “sam”, menulis “Kera Ngalam” di bio media sosial, atau berkomentar “nakam oskab disik”, itu bukan sekadar kata yang dibalik itu pernyataan bahwa ia bagian dari kultur kota ini.
Identitas ini bahkan tidak hanya terlihat dalam percakapan, tetapi juga dalam berbagai ekspresi visual yang tersebar di ruang publik:
- Mural bertuliskan “Kera Ngalam” di dinding-dinding kota, stiker dan poster dengan kata-kata walikan.
- Produk creative economy, seperti kaos, totebag, dan gantungan kunci, konten kreator lokal yang rutin menyelipkan walikan dalam video mereka.
Walikan hidup dalam keseharian masyarakat, menjadi ornamen budaya yang memperkuat karakter Malang sebagai kota yang kreatif dan egaliter.
Baca Juga: Manisnya Hujan di Kota Apel: Makna dan Simbol dari Kota Batu Malang Raya
Mengapa Bahasa Walikan Tetap Bertahan?
Meski tren bahasa berubah sangat cepat, bahasa Walikan tetap eksis karena beberapa alasan penting:
1. Identitas Daerah yang Kuat
Penggunaan Walikan menunjukkan keterikatan emosional pada Malang. Ini menjadi cara Arek Malang menegaskan jati diri, terutama saat berada di perantauan atau di ruang pergaulan yang multikultural.
2. Solidaritas dan Keakraban
Bahasa Walikan menciptakan suasana guyub dan egaliter. Ketika seseorang mulai menggunakan walikan, seolah ada “kode tidak tertulis” bahwa percakapan sedang berada dalam mode santai.
3. Kreativitas Bahasa
Proses membalik kata adalah bentuk kreativitas linguistik yang khas. Tidak semua daerah memiliki tradisi bahasa semacam ini, sehingga walikan terasa unik dan menyenangkan dipelajari.
4. Elemen Humor
Banyak punchline dan plesetan yang hanya lucu jika diucapkan dalam Walikan. Inilah yang membuat bahasa ini tetap menjadi “bahasa candaan” favorit di tongkrongan.
Dengan fungsi budaya dan sosial yang kuat, Walikan tetap hidup meski penggunaannya menurun.
Walikan di Media Sosial: Terselip, tapi Tetap Eksis
Di era digital, Walikan memang tidak mendominasi percakapan online seperti bahasa gaul nasional, tetapi tetap hadir dalam berbagai bentuk:
- Caption Instagram seperti “Nakam disik ben strong”, stiker WhatsApp bertema walikan
- Hashtag komunitas (#nerekngalam, #ayasngalam), nama akun atau branding lokal, meme dengan kata-kata khas Malang
Media sosial bahkan memperluas jangkauan walikan ke luar Malang. Banyak orang dari luar daerah mengenal istilah “sam”, “mbois”, atau “nakam”, meski hanya sebagai kosakata lucu yang mereka temui online.
Dengan demikian, digitalisasi tidak menghapus Walikan. Justru memperkenalkan bahasa ini ke audiens yang lebih luas, meski dalam bentuk yang lebih ringan dan estetis.
Baca Juga: Table Manner dalam Bahasa Inggris: Soft Skill yang Tak Bisa diabaikan di Dunia Kerja
Pandangan Orang Luar: Aneh tapi Menarik
Bagi orang yang bukan berasal dari Malang, bahasa Walikan sering dianggap aneh sekaligus menarik.
Mereka mungkin merasa bingung di awal, tetapi setelah memahami konsep dasar pembalikannya, Walikan dipandang sebagai fenomena yang unik.
Sebagian dari mereka hanya memahami beberapa kata populer, tetapi jarang menggunakannya karena merasa tidak natural atau takut salah mengucap.
Meski begitu, apresiasi mereka menunjukkan bahwa Walikan memiliki daya tarik budaya yang kuat dan tidak mudah dilupakan.
Apakah Walikan Akan Punah? Tampaknya Tidak. Walikan Akan Beradaptasi.
Meski penggunaan Walikan menurun, tanda-tanda kepunahannya tidak terlihat, yang terjadi hanyalah perubahan fungsi.
Jika dulu Walikan digunakan sebagai bahasa pergaulan utama, kini lebih berfungsi sebagai:
- Ikon budaya Malang
- Simbol identitas Arek Ngalam
- Bahasa humor dan permainan kata
- Elemen kreatif dalam konten digital
Dengan peran baru ini, walikan tidak perlu bersaing dengan slang modern. Ia memiliki ruangnya sendiri—ruang yang berkaitan dengan kebanggaan lokal, sejarah, dan kreativitas.
Baca Juga: Merayakan Perbedaan Logat di Indonesia
Dari berbagai dinamika yang muncul, bahasa Walikan terbukti masih hidup dan relevan, bukan karena frekuensi pemakaiannya, tetapi karena nilai budaya yang melekat di dalamnya.
Walikan telah menjadi bagian dari DNA kota Malang—sebuah simbol kebanggaan dan cermin kreativitas Arek Malang.
Selama masyarakat Malang masih merawat identitasnya, dan selama humor serta kreativitas tetap menjadi bagian dari kehidupan anak muda, bahasa Walikan tidak akan hilang.
Ia akan terus berevolusi, mengikuti zaman, tetapi tetap menjaga jati dirinya sebagai bahasa khas Ngalam.
Walikan mengajarkan bahwa sesuatu yang “kebalik-balik” pun bisa menjadi “asyik”, penuh makna, dan menjadi identitas sebuah kota.
Penulis:
1. Kafil Ahmad Syahabi (255050107111269)
2. Indra Jati Dharmawan (255050100111013)
3. Kaysa Bintan Nuzula (255050100111091)
4. Ilma Kurnia Ramadhani (255050100111094)
5. Jason Nathaniel Tanujaya (255050100111136)
Mahasiswa Prodi Peternakan, Universitas Brawijaya
Dosen Pengampu: Dini Putri Ratna Meritasaru, S.Pd., M.Pd.
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












