Kenapa Tamparan Kepala Sekolah Gagal Mendisiplinkan?

Kenapa Tamparan Kepala Sekolah Gagal Mendisiplinkan?
Sumber: Facebook.

Kasus kepala sekolah yang menampar siswa karena kedapatan merokok di salah satu SMA di Cimarga, Lebak, Banten, sempat memicu reaksi publik. Kejadian itu bukan hanya memancing kritik masyarakat, tetapi juga berujung pada aksi mogok ratusan siswa.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa kekerasan, meski sering dibungkus sebagai bentuk “pendisiplinan”, tidak pernah menyelesaikan masalah.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Dari sudut pandang psikologi pendidikan, insiden tersebut membuka pertanyaan penting tentang bagaimana perilaku siswa terbentuk dan bagaimana lingkungan sekolah ikut mempengaruhi respons mereka terhadap aturan.

Dalam psikologi perkembangan, perilaku berisiko seperti merokok tidak muncul tiba-tiba. Perilaku itu dipelajari, ditiru, dan diperkuat oleh lingkungan sosial. Karena itu, analisis yang hanya berfokus pada pelanggaran aturan dan hukuman tidak cukup.

Kita perlu melihat dua hal: bagaimana konsekuensi membentuk perilaku siswa (perspektif Behavioristik B.F. Skinner) serta bagaimana sistem lingkungan saling berhubungan membentuk moral dan karakter siswa (Teori Ekologi Urie Bronfenbrenner).

Mengapa Hukuman Fisik Gagal? (Perspektif Behavioristik)

Menurut Skinner, perilaku manusia dipengaruhi oleh konsekuensi yang mengikuti tindakan tersebut. Perilaku yang membawa rasa senang akan diulang, sementara perilaku yang membawa ketidaknyamanan cenderung dihindari. Dalam konteks ini, merokok merupakan operant behavior—perilaku yang dipelajari dan diperkuat oleh faktor sosial.

Ada dua penguatan utama yang membuat perilaku merokok bertahan. Pertama, positive reinforcement: siswa merasa lebih diterima, terlihat dewasa, atau dianggap “keren” oleh kelompoknya. Penguatan sosial ini menjadi hadiah yang membuat perilaku berulang.

Kedua, negative reinforcement: merokok membantu mengurangi stres atau kecemasan. Ketika rokok memberi sensasi lega, perilaku itu dianggap bermanfaat dan terus dilakukan.

Ketika kepala sekolah menampar siswa, ia menerapkan positive punishment, yaitu memberikan rangsangan tidak menyenangkan agar perilaku berhenti. Namun Skinner menegaskan bahwa hukuman fisik tidak mengubah akar perilaku. Hukuman hanya menekan perilaku untuk sementara, tetapi tidak memberi alternatif solusi.

Siswa memang tahu merokok itu salah, tetapi mereka tidak diajarkan cara mengelola tekanan sosial atau stres dengan cara yang sehat.

Selain itu, hukuman fisik menimbulkan emosi negatif seperti takut, malu, marah, bahkan dendam. Emosi ini dapat berubah menjadi perilaku balasan yang lebih destruktif. Aksi mogok ratusan siswa menjadi bukti bahwa hukuman tidak menghasilkan kepatuhan, melakukan perlawanan.

Dari sudut pandang behavioristik, kekerasan tidak menciptakan disiplin; ia hanya memunculkan rangkaian perilaku baru yang lebih sulit dikendalikan.

Baca Juga: Tamparan di Cimarga dan Krisis Adab dalam Dunia Pendidikan Kita

Ketika Sistem Lingkungan Ikut Terganggu (Perspektif Bronfenbrenner)

Bronfenbrenner melihat perkembangan anak sebagai hasil interaksi berbagai sistem lingkungan. Ketika satu sistem terganggu, efeknya merambat ke sistem lain. Insiden tamparan ini menunjukkan bagaimana gangguan kecil di satu titik dapat memicu kegaduhan lebih besar.

Pertama, gangguan terjadi pada Mikrosistem, yaitu lingkungan terdekat siswa, seperti sekolah dan relasi dengan guru. Kekerasan mengubah sekolah dari ruang aman menjadi ruang yang menakutkan, membuat siswa merasa tidak dihargai dan tertekan.

Kedua, Mesosistem, yaitu hubungan antara sekolah dan keluarga, ikut terdampak. Seharusnya kedua pihak bekerja sama menangani perilaku siswa, namun kekerasan justru memicu ketegangan antara orang tua dan sekolah. Komunikasi yang ideal berubah menjadi kecurigaan dan konflik.

Ketiga, Eksosistem, seperti Dinas Pendidikan dan aparat hukum, juga terseret. Kepala sekolah diperiksa, media menyoroti kasus, dan suasana sekolah menjadi tidak stabil. Dampak ini muncul meski siswa tidak berinteraksi langsung dengan institusi tersebut.

Keempat, Makrosistem, yaitu nilai budaya, menunjukkan adanya pergeseran. Sebagian masyarakat menolak kekerasan dan mendukung perlindungan anak, sementara sebagian lain masih membenarkan disiplin keras. Benturan nilai ini memperlihatkan adanya ketidakkonsistenan dalam praktik pendidikan kita.

Kasus Cimarga membuktikan bahwa kekerasan tidak hanya melukai siswa, tetapi juga merusak ekosistem pendidikan secara menyeluruh.

Baca Juga: Kasus Tamparan Kepsek SMAN 1 Cimarga, Efek dari Gentle Parenting VS VOC Parenting?

Menuju Disiplin yang Mendidik

Insiden ini menjadi pengingat bahwa pendekatan disiplin perlu berubah. Hukuman fisik tidak efektif dan justru kontraproduktif. Sekolah perlu membangun disiplin positif, yang menekankan pembelajaran, bukan ketakutan.

Guru dan kepala sekolah perlu dibekali kemampuan manajemen emosi, komunikasi empatik, dan strategi penegakan aturan tanpa kekerasan.

Kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat juga penting. Dukungan moral dan komunikasi terbuka menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pembentukan karakter.

Pada akhirnya, disiplin sejati tidak lahir dari ketakutan, tetapi dari pemahaman. Pendidikan yang manusiawi membantu siswa bukan hanya menghindari kesalahan, tetapi memilih berbuat benar.

Penulis: Inkun Yulia Ton
Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Kristen Satya Wacana

Dosen Pengampu: Trivena Wijayanti

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses