Tamparan di Cimarga dan Krisis Adab dalam Dunia Pendidikan Kita

Dunia Pendidikan
Source: Unsplash non Copyright Image

“Education is not the filling of a pail, but the lighting of a fire”. – William Butler Yeats

Belakangan ini, dunia pendidikan kita tengah menjadi sorotan tajam. Kasus di SMAN 1 Cimarga, Lebak, Banten, begitu ramai diperbincangkan diberbagai media baru-baru ini. Pada kasus ini seorang siswa kedapatan merokok di area sekolah yang kemudian diberi teguran keras berupa tamparan oleh kepala sekolah. Ratusan siswa lain pun mogok sekolah sebagai bentuk protes setelah kejadian tersebut.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Kasus ini bukan sekadar soal rokok. Kasus ini menjadi salah satu refleksi kita terhadap krisis Pendidikan adab di Indonesia. Dari kasus ini kita dapat melihat bahwa pendidikan kita mulai kehilangan arah antara “nilai” dan “nilai-nilai”. Dunia Pendidikan kita sering kali cenderung mengejar angka di rapor namun lupa menanamkan adab yang menjadi inti dari pendidikan itu sendiri.

 

Lalu Siapa yang Salah dalam Kasus Ini?

Jawabannya tidak sesederhana menunjuk jari. Siswa jelas melanggar aturan dengan merokok di lingkungan sekolah. Tindakan ini menunjukkan lemahnya kesadaran akan tanggung jawab dan hormat terhadap aturan. Namun di sisi lain, perlakuan kepala sekolah yang menampar siswa juga tetap tidak bisa dibenarkan. Kekerasan dalam bentuk apa pun, tidak pernah menjadi bagian dari solusi dalam pendidikan yang berkualitas.

Salah satu point dari Sustainable Development Goals 4: Quality Education menekankan bahwa pada tahun 2030, semua peserta didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk meningkatkan pembangunan berkelanjutan.

Pernyataan tersebut menggarisbawahi bahwa pendidikan tidak hanya pengejar nilai dan angka namun juga membangun kesadaran akan hak asasi manusia, kesetaraan gender, promosi budaya damai dan non kekerasan, dan penghargaan terhadap keanekaragaman budaya dan kontribusi budaya.

Baca juga: Membangun Generasi Berintegritas melalui Pendidikan Karakter

Namun ironis pada faktanya, anak-anak kita tumbuh dalam sistem yang mengajarkan bahwa berhasil itu berarti dapat nilai tinggi, bukan menjadi pribadi yang beretika.

Ketika salah langkah, hukuman datang dalam bentuk bentakan atau kekerasan, bukan pembinaan. Di sinilah letak kehilangan terbesar kita: pendidikan berubah dari proses memanusiakan manusia menjadi sekadar mekanisme penilaian angka.

Kita perlu mengembalikan makna pendidikan sebagai proses membentuk adab dan karakter, bukan hanya kemampuan akademis.

Seorang siswa yang tahu rumus fisika tapi tak bisa menghormati gurunya, atau pintar matematika tapi tak jujur dalam ujian, jelas belum “terdidik” sepenuhnya. Begitu pula seorang pendidik yang memiliki gelar tinggi tapi tidak mampu menahan emosi, sesungguhnya juga sedang kehilangan makna pendidikan itu sendiri.

 

Lalu Bagaimana Seharusnya?

Pendidikan berbasis adab bukan berarti tanpa aturan. Tapi aturan ditegakkan dengan pendekatan yang mendidik, bukan menakut-nakuti. Ketika siswa melakukan pelanggaran, seharusnya mereka diajak berdialog dalam bentuk refleksi diri. Mengapa perbuatannya salah, apa dampaknya, dan bagaimana memperbaikinya. Sekolah perlu menghidupkan kembali pendekatan disiplin positif yang menekankan tanggung jawab, bukan rasa takut.

Guru dan kepala sekolah juga harus menjadi teladan. Anak-anak meniru, bukan mendengar. Jika mereka melihat orang dewasa di sekolah memperlakukan sesama dengan hormat, mereka pun akan belajar hal yang sama. Begitu pula orang tua, orang tua seringkali menyerahkan sepenuhnya urusan moral kepada sekolah, padahal pendidikan karakter pertama lahir dari rumah.

Pendidikan berkualitas juga berarti menciptakan lingkungan belajar yang aman dan penuh empati. Anak-anak harus merasa bahwa sekolah bukan tempat untuk dihakimi, tapi ruang untuk tumbuh. Ketika mereka salah, mereka tidak butuh tamparan, melainkan bimbingan.

Kita harus berani mengakui bahwa saat ini pendidikan kita sedang kehilangan arah. Bukan karena kurangnya fasilitas atau kurikulum, tapi karena kita kehilangan inti pendidikan itu sendiri: adab. Sekolah menjadi kaku, guru terbebani, siswa kehilangan semangat, dan hubungan antarkeduanya penuh jarak.

Jika kita ingin mewujudkan pendidikan berkualitas seperti yang dicita-citakan dalam SDGs, maka langkah pertama adalah mengembalikan keseimbangan antara nilai dan nilai-nilai. Angka di rapor memang penting, tapi tidak lebih penting dari kejujuran, tanggung jawab, dan rasa hormat.

Pendidikan sejati adalah ketika seorang anak tahu apa yang benar, bahkan ketika tidak ada yang mengawasi. Dan itu hanya bisa lahir jika adab kembali menjadi inti dari pendidikan kita.

Karena sesungguhnya, tanpa adab, ilmu kehilangan arah. Tanpa karakter, kecerdasan hanya menjadi alat yang dingin dan kosong. Saatnya kita menyalakan kembali api itu, bukan untuk membakar amarah, tetapi untuk menerangi jalan generasi yang beradab.

 

Penulis: Alya Indra Ramadhani
Mahasiswa Desain Grafis, Universitas Brawijaya
Aktif di Himpunan Mahasiswa Desain

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses