Kang Dedi Mulyadi atau yang biasa dikenal dengan KDM, merupakan mantan Bupati Purwakarta juga merupakan tokoh politik yang berasal dari Jawa Barat.
Ia kerap dipandang sebagai pemimpin yang memiliki figur kharismatik, dekat dengan rakyatnya, dan memiliki model kepemimpinan yang mirip dengan era Joko Widodo (Jokowi) pada saat di awal kepemimpinan beliau.
Kang Dedi Mulyadi ini kerap melakukan gaya yang “blusukan” juga memiliki kesederhanaan secara simbolik.
Gaya kepemimpinan Kang Dedi Mulyadi kerap menggunakan pendekatan yang berbudaya lokal, di mana menjadikannya khas dan menguatkan citra dari Kang Dedi Mulyadi.
Gaya kepemimpinan yang dimiliki oleh Kang Dedi Mulyadi juga Jokowi, di mana dekat dengan rakyat pada masa awal kepemimpinannya, sangat relevan dengan teori kepemimpinan karismatik yang dikemukakan oleh Max Weber.
Teori kepemimpinan karismatik merupakan gaya kepemimpinan yang dimana kepemimpinan yang dimiliki tersebut dapat mempengaruhi masyarakat melalui pesona pribadi yang dimilikinya, visi yang dapat menginspirasi, juga kemampuan yang dimiliki dimana dapat membangkitkan emosi dan loyalitas.
Max Weber juga menyebutkan bahwa karisma adalah suatu bentuk kewenangan yang asalnya dari keyakinan masyarakat bahwa suatu pemimpin tersebut mempunyai kemampuan yang mumpuni dan layak untuk diikuti.
Gaya kepemimpinan Kang Dedi Mulyadi tentunya memiliki kemiripan dengan mantan Presiden Indonesia yaitu Joko Widodo, hingga Kang Dedi Mulyadi memiliki julukan “Jokowi Kedua”.
Tentunya, upaya menarik simpati rakyat melalui gaya kepemimpinan yang “blusukan” saja tidak cukup ketika berbicara dalam bidang tata kelola lingkungan.
Pada saat seorang pemimpin menjabat diperlukan yang namanya kritik yang dilakukan secara berkala agar dapat lebih berkembang juga memperbaiki kesalahan dan tidak mengulanginya lagi.
Kritik yang diberikan tentunya demi kemajuan negara agar berkembang pada arah yang lebih efektif dan akuntabel.
Selain kritik mengenai gaya kepemimpinan yang “blusukan”, Kang Dedi Mulyadi juga kerap mengusulkan kebijakan yang bisa dinilai tidak masuk akal hingga menerima kritikan yang berasal dari berbagai kalangan.
Kebijakan yang dikeluarkan oleh Kang Dedi Mulyadi yang dinilai tidak memiliki dasar, antara lain:
Pengiriman Siswa ke Barak Militer
Kebijakan ini dinilai akan melanggar hak asasi manusia juga tidak sesuai dengan prinsip pendidikan yang memiliki asas humanis.
Banyak yang berpendapat bahwa masalah perilaku anak yang “nakal” harusnya diselesaikan dengan pendekatan yang psikologis juga edukatif, bukan diselesaikan dengan gaya militer.
Tidak ada dasar data yang jelas, di mana menunjukkan bahwa adanya efektivitas jangka panjang dalam penyelesaian masalah perilaku anak dengan gaya yang militer.
Banyak yang khawatir ketika menggunakan gaya militer untuk menangani masalah perilaku anak dinilai tidak mempertimbangkan latar belakang dan kebutuhan yang unik pada setiap anak.
Penghapusan Tugas Pekerjaan Rumah (PR) bagi Siswa
Pada kebijakan penghapusan PR dari siswa, menurut KDM bahwa tugas yang dimiliki oleh siswa harus diselesaikan di sekolah, tetapi banyak yang menilai bahwa kebijakan ini dinilai “gimmick”, juga mempertanyakan dasar ilmiah dan kajian yang dalam di dalamnya.
Banyak kekhawatiran yang disebabkan oleh kebijakan ini, di mana dinilai dapat mengurangi kesempatan untuk memperdalam materi pelajaran yang diberikan di sekolah pada jam di luar sekolah.
Pemberlakuan Jam Malam bagi Pelajar dan Juga Jam Masuk Sekolah Jam 06.00 WIB
Kebijakan ini dibuat bertujuan untuk membuat siswa disiplin, tetapi malah menuai kritik.
Pihak banyak yang mengkritik kebijakan ini dikarenakan khawatir akan mempengaruhi tumbuh kembang anak, kesehatan fisik dan mental, juga menurunkan potensi akan motivasi dan kualitas belajar.
Banyak kritikus mempertanyakan kepentingan dan dasar yang ilmiah akan kebijakan yang dikeluarkan oleh Kang Dedi Mulyadi ini.
Apakah kebijakan ini sudah melibatkan pertimbangan akan psikologis anak dan kondisi sosial ekonomi keluarga sang anak yang bisa saja terbebani.
Larangan Study Tour dan Adanya Wisuda
Larangan akan adanya kegiatan study tour bertujuan untuk mencegah kecelakaan dan mengurangi beban dari orang tua, juga larangan adanya kegiatan wisuda kelulusan yang dianggap seremonial tanpa ada makna akademik di dalamnya.
Kritik ini muncul dengan adanya kaitan mengenai hilangnya pengalaman belajar yang dilaksanakan di luar kelas dan momen penting bagi siswa lagi-lagi tanpa ada dasar yang logis bahwa larangan ini membawa dampak yang positif terhadap kualitas pendidikan secara keseluruhan.
Hal yang menjadikan Kang Dedi Mulyadi mirip hingga diberi julukan “Jokowi Kedua” adalah gaya kepemimpinan yang “blusukan” atau langsung hadir ditengah masyarakat.
Gaya kepemimpinan yang dimiliki oleh Kang Dedi Mulyadi ini sangat tercermin pada saat ia tidak segan untuk langsung bersinggungan dengan tukang becak yang langsung ia sapa.
Tak hanya itu saja Kang Dedi Mulyadi juga menyambangi rumah-rumah milik warga yang sudah tak layak huni, bahkan ia pernah membersihkan got secara langsung bersama masyarakat.
Gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh Kang Dedi Mulyadi ini sangatlah mirip dengan Jokowi pada saat menjabat sebagai Walikota Solo kala itu, di mana ia lebih mengedepankan pendekatan secara langsung terjun di tengah masyarakat dan non-elitis.
Hal yang menjadi pembeda antara Kang Dedi Mulyadi dengan Jokowi adalah Kang Dedi Mulyadi tetap menyelipkan aksen budaya di dalam kegiatan yang bersinggungan langsung dengan masyarakat.
Kang Dedi menyelipkan aksen budaya melalui berbusana mengenakan pakaian adat, menggunakan bahasa daerah, dan tetap menyelipkan filosofi lokal dalam aspek kebijakannya.
Kang Dedi Mulyadi melakukan hal yang bagus dengan menyelipkan aksen budaya sebagai dasar dalam pembangunan.
Pada hal bermain media sosial Kang Dedi Mulyadi juga cukup mahir, di mana ia sering membagikan video interaksi pada saat membantu warga miskin, memberikan uang tunai kepada pedagang, atau pada saat menyelesaikan konflik secara langsung di tengah masyarakat.
Gaya yang dilakukan oleh Kang Dedi ini merupakan gaya yang sederhana, tidak kaku, juga haru. Tentunya gaya ini mirip dengan gaya yang dimiliki oleh Jokowi, yaitu kepemimpinan yang terbuka dan humanis.
Tentunya gaya yang mirip dengan Jokowi ini terdapat kritik, di mana pendekatan yang dilakukan dengan gaya tersebut fokus jangka pendek dan formalitas saja atau benar ingin memperbaiki secara jangka panjang.
Netizen juga kerap mempertanyakan apakah kebijakan yang dilakukan ini akan secara berkelanjutan dan terukur atau hanya sesaat saja.
Selama menjabat, Kang Dedi Mulyadi juga ikut mempercantik kota, yang mana hal tersebut dampaknya langsung diterima oleh masyarakat.
Langkah yang diambil oleh Kang Dedi ini dimulai dengan menambah aksen budaya Sunda, membangun taman-taman yang tematik, juga melakukan revitalisasi ruang publik.
Mempercantik kota juga pernah dilakukan oleh Jokowi, di mana ia sadar bahwa mempercantik kota adalah suatu hal yang penting menandakan simbol dari perubahan juga kemajuan.
Kebijakan dengan melakukan percantik kota ini memunculkan kritik, di mana pembaharuan yang dilakukan masih berhenti di mempercantik saja hingga belum menyentuh hal yang krusial, seperti pada sektor pendidikan, kesehatan masyarakat, atau daya saing masyarakat kecil di mana masih diperlukan pengembangan dan juga perbaikan untuk menuju lebih baik lagi kedepannya.
Kesederhanaan juga ditonjolkan oleh Kang Dedi Mulyadi pada kehidupannya sehari-hari. Dalam kesehariannya ia kerap mengenakan pakaian yang sederhana bahkan tradisional, kerap menolak fasilitas yang mewah, juga mengedepankan pendekatan yang secara personal pada saat memimpin.
Tentunya dengan menggunakan pakaian yang sederhana juga gaya hidup yang sederhana dapat menarik masyarakat, di mana dengan tampilan tersebut sangat berbeda dengan pejabat atau politisi lain yang kerap menggunakan gaya hidup yang mewah.
Kritik pun tetap didapatkan, apakah gaya hidup yang sederhana dan apa adanya ini benar untuk mendekatkan diri kepada masyarakat atau hanya sebatas formalitas untuk mengambil hati rakyat dengan kata lain hanya sebatas pencitraan semata.
Penulis: Muhammad Hanif Annabawi
Mahasiswa Prodi Psikologi, Universitas Brawijaya
Referensi
Conger, J. A., & Kanungo, R. N. (1987). Toward a behavioral theory of charismatic leadership in organizational settings. Academy of Management Review, 12(4), 637–647. https://doi.org/10.5465/amr.1987.4306715
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














