Pertumbuhan ekonomi sering dijadikan ukuran utama keberhasilan pembangunan suatu negara. Produk Domestik Bruto (PDB) menjadi indikator yang paling banyak digunakan untuk menilai kinerja ekonomi secara agregat.
Di Indonesia, data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa ekonomi nasional pada tahun 2025 tumbuh sebesar 5,11%, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 5,03%, dengan nilai PDB mencapai sekitar Rp23.821 triliun. Angka tersebut menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia mengalami perkembangan yang stabil.
Namun demikian, pertumbuhan ekonomi tidak selalu mencerminkan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara merata. PDB hanya menunjukkan besarnya aktivitas ekonomi, tanpa menjelaskan bagaimana hasilnya didistribusikan.
Oleh karena itu, penting untuk membedakan antara pertumbuhan yang bersifat kuantitatif dan pertumbuhan yang memiliki kualitas dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Keterbatasan PDB dalam Mengukur Kualitas Pertumbuhan
Secara konsep, PDB mengukur total nilai barang dan jasa yang dihasilkan dalam suatu negara dalam periode tertentu. Indikator ini berfokus pada jumlah produksi, sehingga mencerminkan pertumbuhan dari sisi kuantitas.
Selama output meningkat, ekonomi dianggap mengalami kemajuan, meskipun tidak selalu diikuti oleh peningkatan kesejahteraan secara merata.
Kondisi ini menunjukkan bahwa PDB memiliki keterbatasan dalam menggambarkan realitas ekonomi secara utuh. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dapat saja hanya dinikmati oleh sebagian kelompok masyarakat, sementara kelompok lainnya tidak mengalami perubahan signifikan.
Dalam situasi seperti ini, PDB berpotensi menciptakan gambaran yang kurang akurat mengenai kondisi kesejahteraan masyarakat.
Selain itu, PDB juga tidak mampu menunjukkan apakah pertumbuhan ekonomi bersifat berkelanjutan. Aktivitas ekonomi yang meningkatkan PDB dalam jangka pendek, seperti eksploitasi sumber daya alam, dapat menimbulkan dampak negatif dalam jangka panjang. Hal ini menunjukkan bahwa PDB belum mampu menilai kualitas pertumbuhan dari sisi keberlanjutan.
Baca Juga: Tumbuh Tanpa Merusak: Bisakah Ekonomi Hijau Menjadi Jalan Kesejahteraan dalam Islam?
Perspektif Ekonomi Syariah terhadap Kualitas Pertumbuhan
Dalam perspektif ekonomi syariah, pertumbuhan ekonomi tidak hanya bertujuan meningkatkan produksi, tetapi juga untuk mencapai kesejahteraan yang menyeluruh (falah). Pertumbuhan harus selaras dengan tujuan maqashid syariah, seperti perlindungan harta dan terciptanya keseimbangan sosial dalam masyarakat.
Ekonomi syariah menekankan bahwa pertumbuhan yang baik adalah pertumbuhan yang adil dan merata. Oleh karena itu, distribusi kekayaan menjadi aspek penting dalam menilai keberhasilan ekonomi. Salah satu instrumen yang digunakan adalah zakat.
Data dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) menunjukkan bahwa penghimpunan zakat nasional telah mencapai sekitar Rp40 triliun, sementara potensi zakat di Indonesia diperkirakan melebihi Rp300 triliun.
Perbedaan antara potensi dan realisasi tersebut menunjukkan bahwa masih terdapat peluang besar untuk meningkatkan pemerataan ekonomi. Jika dikelola secara optimal, zakat dapat berperan dalam mengurangi ketimpangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Hal ini menegaskan bahwa kualitas pertumbuhan tidak hanya ditentukan oleh besarnya output, tetapi juga oleh bagaimana hasil ekonomi tersebut didistribusikan.
Kesimpulan
PDB tetap memiliki peran penting dalam mengukur aktivitas ekonomi, tetapi tidak cukup jika digunakan sebagai satu-satunya indikator. PDB hanya merepresentasikan pertumbuhan dari sisi kuantitas, sementara kualitas pertumbuhan sering kali terabaikan.
Dalam perspektif ekonomi syariah, pertumbuhan yang ideal adalah pertumbuhan yang tidak hanya tinggi secara angka, tetapi juga adil, merata, dan berkelanjutan.
Oleh karena itu, perbedaan antara kualitas dan kuantitas dalam pertumbuhan ekonomi menjadi hal yang penting untuk diperhatikan agar pembangunan benar-benar memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat.
Penulis: Mutiara Qurrotu’aini Haerudin
Mahasiswa Ilmu Ekonomi Syariah Institut Pertanian Bogor (IPB)
Dosen Pengampu: Mutiara Probokawuryan, S.E., M.Mgt. (Econ)
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












