Membangun Karakter Pemuda melalui Rasa Insecure

Membangun Karakter Pemuda Insecure

Era informasi membuat teknologi informasi semakin berkembang pesat. Komunikasi pun bisa berjalan dengan mudah menggunakan teknologi. Media-media yang digunakan dalam penyampaian pesan pada komunikasi massa dapat disebut sebagai media massa. Hadirnya media yang beragam dan berkembang mengiringi perkembangan jaman. Media digital menjadi alat komunikasi yang mudah diakses oleh semua orang.

Media sosial salah satu alat komunikasi berbasis media digital. Paradigma berkomunikasi berubah sebab kehadiran media sosial saat ini pada masyarakat. Dengan media sosial menjadikan cara baru dalam berkomunikasi. Dan hampir bisa dipastikan saat ini setiap orang memiliki smartphone. Yangtentunya juga memiliki akun media sosial untuk berinteraksi antar pengguna media sosial lainnya. Segala fasilitas yang disediakan media sosial mampu membawa kemudahan penggunanya untuk beraktivitas baik hal yang bersifat hiburan seperti game, untuk hal yang bersifat sosial maupun untuk berbisnis.

Baca Juga: Peran Pemuda Milenial dalam Perekonomian Indonesia

Bacaan Lainnya
DONASI

Pengguna media sosial kini lebih mudah untuk berinteraksi baik membuat atau membagikan suatu pesan atau informasi. Media sosial yang mayoritas masyarakat gunakan untuk berinteraksi seperti Facebook, Instagram, Twitter, Line, YouTube, Path, Whatsapp, dan sebagainya. Di dalam media sosial, masyarakat dapat berkomunikasi dengan orang lain tanpa batas ruang dan waktu. Biasanya anak muda menggunakan media sosial untuk mengunggah kegiatan sehari-harinya, curhat, mengunggah foto dirinya, dan yang lain sebagainya.

Media sosial memiliki dampak yang luar biasa bagi pemuda dan membawa pengaruh yang besar. Mudahnya memperluas pergaulan dengan berinteraksi kepada orang banyak, jarak dan waktu tak menjadi masalah yang rumit, lebih cepat penyebaran informasi, serta dapat digunakan untuk mengekspresikan diri merupakan dampak positif dari media sosial.

Tentunya media sosial juga mempunyai hal buruk yang terjadi pada masyarakat. Dampak negatif dari media sosial seperti berkurangnya kedekatan antara orang-orang yang sudah dekat dan begitu juga sebaliknya bisa saja mendekatkan orang-orang yang jauh, berkurangnya interaksi sosial secara tatap muka, dapat membuat penggunanya kecanduan, bahkan dapat menimbulkan konflik yang membawa hal buruk kepada orang lain. 

Baca Juga: LEPPAMI HMI Peringati Hari Sumpah Pemuda

Mayoritas orang menggunakan media sosial untuk berinteraksi dengan orang lain, menyebarkan informasi, mengekspresikan diri. Hal tersebut memungkinkan terjadinya konflik antar pengguna media sosial lain. Konflik ini terjadi karena perbedaan pendapat. Perbedaan pendapat memungkinkan adanya saling hina, saling mencaci maki, sehingga memunculkan konflik di media sosial.

Akibat konflik tersebut sebagian orang merasakan kehilangan rasa kepercayaan diri atau insecure sebagai ungkapan perasaan diri di media sosial. Munculnya rasa insecure ini karena ada sesuatu yang kurang dari diri sendiri. Serta melihat orang lain lebih berkemampuan dibandingkan diri sendiri. Misalnya dalam mengunggah foto di media sosial. Mayoritas perempuan, dia akan insecure ketika menerima hinaan terkait penampilannya.

Untuk mengekspresikan rasa insecure sebagian pengguna media sosial ada yang cuek saja tidak memperdulikan hinaan orang lain pada dirinya, ada juga yang membalas dengan hinaan kembali, ada yang melaporkan ke pihak berwajib. Bahkan yang paling parah ada yang menghapus semua akun pribadi miliknya dan hendak melakukan tindakan bunuh diri.

Baca Juga: Refleksi Pemuda Merdeka di Tengah Pandemi Covid-19

Hal-hal yang bisa dilakukan untuk menyiasati agar kita dapat mencegah dari perasaan insecure seperti mengetahui apakah itu mengkritik dengan tujuan menjatuhkan atau kritikan yang membangun, menahan diri agar tidak terlalu sensitif dan mengerti apa yang orang lain katakan, berhenti beralasan untuk membela diri meskipun itu sulit, mengetahui apa motif orang lain mengatakan itu. Dan yang terakhir untuk pesannya yaitu tetaplah percaya diri untuk jadi diri sendiri, perbaikilah hal apa yang perlu diubah pada diri sendiri, selalu berpikiran positif dan tidak mudah terpengaruh dengan orang lain.

Dengan memahami arti dan tujuan dari kritikan atau hujatan orang lain, anak muda seharusnya bisa lebih menguatkan rasa kepercayaan diri dan membuat memiliki karakter dalam diri sendiri. Lebih berpikiran positif dan bisa memosisikan diri sebagai pribadi yang percaya diri dan tidak mudah terpengaruh orang lain.

Muhammad Miftahus Shidqi
Mahasiswa Universitas IAIN Pekalongan Jawa Tengah

Editor: Diana Pratiwi

Kirim Artikel

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI