Revolusi Pendidikan Vokasi: Modifikasi On Job Training (OJT) Bertingkat pada Jurusan Farmasi SMK

Farmasi

Pendidikan Menengah Kejuruan (SMK) merupakan pilar utama dalam mencetak sumber daya manusia yang siap terjun ke dunia kerja. Fokus utamanya bukan sekadar memberikan ijazah, melainkan membekali peserta didik dengan kemampuan adaptasi di lingkungan profesional, jeli melihat peluang pasar, serta memiliki daya saing untuk mengembangkan diri secara berkelanjutan. Namun, realita di lapangan seringkali menunjukkan adanya skills gap atau jurang pemisah antara apa yang diajarkan di bangku sekolah dengan kebutuhan nyata di Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI).

Khusus pada Jurusan Farmasi, tantangan ini semakin kompleks. Bidang farmasi menuntut presisi tinggi, etika profesi yang ketat, serta pemahaman teknis terhadap regulasi kesehatan yang dinamis. Metode pembelajaran konvensional yang hanya mengandalkan teori di kelas atau praktik laboratorium sekolah yang terbatas seringkali membuat siswa “gagap” saat pertama kali diterjunkan dalam Praktik Kerja Lapangan (PKL). Oleh karena itu, diperlukan sebuah terobosan dalam bentuk Modifikasi Belajar melalui On Job Training (OJT) yang terstruktur, bertahap, dan terintegrasi.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

ADS: Jika tertarik mengetahui tentang Poltekkes Kota Sengeti, Anda dapat mengunjungi situs: poltekkeskotasengeti.org

Konsep Modifikasi OJT: Bukan Sekadar Magang Biasa

On Job Training (OJT) dalam konteks Pendidikan Sistem Ganda (PSG) biasanya dipahami sebagai program magang di akhir masa sekolah. Namun, dalam model modifikasi ini, OJT ditarik lebih awal dan dibagi menjadi tiga fase strategis yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan psikologis dan kompetensi siswa.

Modifikasi ini bertujuan memberikan gambaran utuh mengenai ekosistem farmasi—mulai dari pelayanan di apotek, manajemen logistik di rumah sakit, hingga proses manufaktur di industri obat. Dengan pendekatan ini, siswa tidak langsung “diceburkan” ke lingkungan industri yang keras, melainkan dibimbing melalui tangga kompetensi yang sistematis.

Tahap 1: OJT Laboratorium – Menanamkan Benih Minat dan Orientasi Dini

Tahap pertama ini bersifat preventif dan promotif terhadap minat calon siswa. Berbeda dengan program sekolah pada umumnya, OJT Laboratorium menyasar peserta didik kelas IX SMP/MTs yang sedang dalam masa pencarian jati diri karier.

Tujuan dan Pelaksanaan

OJT ini berfungsi sebagai orientasi untuk memperkenalkan sarana dan prasarana kesehatan yang tersedia di laboratorium farmasi SMK. Di sini, siswa SMP diajak untuk berinteraksi langsung dengan peralatan dasar kefarmasian, mengenal simplisia, hingga mencoba simulasi pembuatan sediaan sederhana.

Relevansi Strategis

Secara psikologis, tahap ini membangun kebanggaan profesi sejak dini. Bagi sekolah, ini adalah strategi branding yang kuat untuk menunjukkan kualitas fasilitas. Dari sisi edukasi, kurikulum yang disesuaikan dengan kondisi laboratorium nyata membantu calon siswa memahami bahwa farmasi bukan sekadar menghafal nama obat, melainkan ilmu presisi yang memadukan seni dan logika.

Tahap 2: OJT Apotek – Jembatan Menuju Profesionalisme Lapangan

OJT Apotek diposisikan sebagai “Pra-PKL”. Fase ini sangat krusial karena merupakan transisi pertama siswa dari lingkungan sekolah yang terkontrol menuju lingkungan pelayanan kesehatan yang sesungguhnya.

Mekanisme Pelaksanaan

Dilaksanakan pada semester 2 kelas X selama 14 hingga 30 hari. Tempat pelaksanaannya adalah mitra DUDI seperti Apotek, Klinik, dan Rumah Sakit yang telah memiliki MoU dengan pihak sekolah. Sebelum terjun, siswa wajib mendapatkan pembekalan intensif mengenai etika komunikasi pasien, administrasi farmasi, dan dasar-dasar perundang-undangan kesehatan.

Materi Pembelajaran

  1. Observasi Kelayakan: Siswa dinilai kesiapannya secara mental dan teknis sebelum mengikuti PKL yang lebih panjang di kelas XI.
  2. Budaya Kerja: Mengenal ritme kerja di apotek, mulai dari shift kerja, kerapihan seragam, hingga manajemen stok obat (FIFO/FEFO).
  3. Pelayanan Kefarmasian: Mengamati cara asisten apoteker melayani resep, memberikan edukasi obat ringan, dan melakukan pencatatan kartu stok.

Dampak Positif

Dengan OJT di kelas X, siswa memiliki waktu untuk melakukan refleksi diri. Jika mereka merasa kurang dalam kemampuan komunikasi, mereka masih memiliki waktu satu tahun di kelas XI untuk memperbaikinya sebelum terjun ke PKL utama.

Tahap 3: OJT Goes To Campus – Mengintip Dapur Industri Obat

Tantangan terbesar SMK Farmasi adalah ketersediaan alat industri skala besar. Mesin cetak tablet, alat uji disolusi, atau fasilitas sterilisasi standar industri memerlukan biaya investasi yang sangat tinggi. OJT Goes To Campus hadir sebagai solusi cerdas dan inovatif.

Sinergi Akademisi dan Vokasi

Dilaksanakan pada semester 5 (kelas XII), program ini melibatkan kerja sama dengan laboratorium standar di Perguruan Tinggi Kesehatan. Siswa dibawa ke lingkungan kampus yang memiliki peralatan lebih lengkap untuk melakukan simulasi produksi obat.

Fokus Kompetensi

  1. Sediaan Padat: Simulasi praktik pembuatan tablet, mulai dari granulasi basah/kering hingga proses pengujian fisik tablet (kekerasan, keregasan, waktu hancur).

  2. Sediaan Steril: Praktik pembuatan infus atau sediaan injeksi dalam lingkungan yang mendekati standar Clean Room industri.

  3. Quality Control (QC): Memahami alur pengujian mutu yang ketat sebelum sebuah produk obat dinyatakan layak edar.

Tahap ini memberikan wawasan bahwa peluang lulusan farmasi tidak hanya terbatas di apotek atau rumah sakit, tetapi juga terbuka lebar di sektor industri manufaktur obat dan kosmetika.

Analisis Evaluasi: Bukti Keberhasilan Program

Berdasarkan evaluasi komprehensif yang dilakukan pada tahun 2022, program modifikasi OJT ini menunjukkan hasil yang signifikan terhadap perkembangan keterampilan siswa. Indikator keberhasilan ini terlihat dari:

Respon Positif Stakeholder

Apotek BUMN dan jaringan apotek swasta memberikan testimoni bahwa siswa yang melalui program OJT bertingkat ini jauh lebih siap kerja. Mereka tidak lagi canggung dalam menghadapi pasien dan memiliki inisiatif yang lebih tinggi dalam manajemen operasional apotek.

Kompetensi Teknis

Skor uji kompetensi siswa di kelas XI meningkat drastis dibandingkan angkatan sebelumnya yang hanya mengandalkan praktik sekolah. Siswa memiliki “jam terbang” yang lebih banyak dalam menangani resep nyata.

Kesiapan Mental

Angka pengunduran diri atau keluhan dari tempat PKL menurun tajam karena siswa sudah melewati fase “kejutan budaya” (culture shock) di kelas X melalui OJT Apotek.

Sinergi Link and Match dalam Kurikulum Merdeka

Modifikasi OJT ini sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka yang dicanangkan pemerintah. Kurikulum ini menuntut sekolah untuk lebih fleksibel dalam merancang pengalaman belajar yang bermakna. Link and Match bukan lagi sekadar tanda tangan di atas materai, melainkan kolaborasi aktif dalam penyusunan kurikulum, pengajaran oleh praktisi industri, hingga validasi kompetensi lulusan.

Untuk memaksimalkan dampak program ini, SMK perlu memperhatikan beberapa aspek pendukung:

  1. Sertifikasi Kompetensi: Hasil dari setiap tahap OJT sebaiknya didokumentasikan dalam bentuk sertifikat atau logbook yang diakui oleh mitra DUDI sebagai nilai tambah saat mencari kerja.
  2. Digitalisasi Farmasi: Di masa depan, OJT juga harus mencakup penguasaan perangkat lunak manajemen apotek (Point of Sale) dan sistem informasi rumah sakit (SIMRS) guna menjawab tantangan digitalisasi kesehatan.
  3. Pelatihan Guru: Guru kejuruan harus secara rutin melakukan magang industri agar standar yang diajarkan di sekolah tetap relevan dengan standar industri terbaru.

Penutup: Mencetak Farmasis Muda yang Tangguh

Modifikasi Belajar melalui On Job Training (OJT) bertingkat adalah sebuah investasi masa depan bagi pendidikan vokasi. Dengan memecah proses belajar menjadi tahap Laboratorium (Minat), Apotek (Etika & Pelayanan), dan Goes To Campus (Industri), kita sedang membangun fondasi yang kokoh bagi calon tenaga teknis kefarmasian Indonesia.

Lulusan SMK Farmasi tidak boleh lagi dipandang sebelah mata. Dengan sistem OJT yang tepat, mereka adalah garda terdepan dalam pelayanan kesehatan masyarakat yang kompeten, beretika, dan siap beradaptasi dengan perubahan zaman. Inovasi ini adalah bukti bahwa dengan kolaborasi yang kuat antara sekolah, industri, dan perguruan tinggi, pendidikan vokasi dapat menjadi mesin utama penggerak kemajuan bangsa.

 

Penulis: Ria Rahmawati
Jurusan: Farmasi SMK Muhammadiyah 2 Kuningan
Email: riarahmawati45@guru.smk.belajar.id

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses