Ojol dan Guru Bahasa di Ujung Jalan

Ojol dan guru
Ojek Online dan Guru (Foto: Pexels)

Fenomena generasi sandwich akhir-akhir ini melonjak lebih tajam dari isu lainnya. Sebuah fenomena yang menjadi titik dimana seorang anak yang harus menghidupi 2 generasi sekaligus dan menjadi wajar bahkan dituntut.

Seharusnya orang tua memahami apa yang diperlukan anak dan tidak selalu menuntut, namun dengan kondisi ekonomi menjadi tekanan yang mendalam.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Apalagi anak pertama dan sebagai mahasiswa dia harus membiayai kuliah kebutuhan dan keluarganya yang menjadi tanggungan yang menguras pikiran serta fisik.

Dari hal ini ojol menjadi jalan lain selain parttime lain yang tidak sefleksibel ojol.

Dengan padatnya jadwal kuliah dan beban kerja membuat salah satu kerja yang menarik tanpa tuntutan dan bisa sambil mengerjakan tugas.

Penyusuran rute resto dan bertemu driver lain adalah hal menyenangkan bagi yang menjalani profesi ini.

Area heat map adalah favorit tempat ngelesot sambil menunggu orderan, rutinitas berulang dalam menjalani sangat didukung dengan suasana kota.

Baca Juga: Aksi Anarkis, Mengubur Tuntutan Rakyat

Memutuskan menjadi driver sendiri awalnya bukan hal mudah apalagi untuk orang introvert, driver dituntut berinteraksi dengan banyak orang yang menjadi tekanan yang harus diatasi dengan keteguhan hati.

Selain itu juga ini adalah langkah awal tantangan hidup terutama calon guru yang harus berhadapan dengan berbagai sifat anak didik.

Teori tentang bahasa yang dipelajari dalam kelas tidak hanya menjadi pajangan tetapi diterapkan langsung dalam kehidupan, misal kita berkomunikasi dengan customer dan driver yang kita temui.

Dari sini perbedaan bahasa yang digunakan akan semakin jelas mulai dari tutur kata dan nada. Lebih jauh, pengalaman menjadi driver ojol adalah semacam praktikum intensif dalam memahami karakter manusia.

Sebagai calon pendidik, kemampuan untuk membaca situasi dan berempati adalah keterampilan yang krusial.

Tanpa berkuliah psikologi sebenarnya driver sudah memahami teori dasarnya. Interaksi yang kerap terjadi menjadi teori dasar.

Semua interaksi ini adalah pelajaran berharga tentang bagaimana bahasa tidak hanya sekadar alat untuk menyampaikan informasi, tetapi lebih dalam lagi, sebagai jembatan untuk membangun hubungan dan pengertian antarmanusia.

Baca Juga: Pengaruh Aplikasi Ojek Online terhadap Ekonomi Masyarakat Kelas Bawah

Tidak berhenti di situ, peran ganda sebagai driver ojol juga memberikan sebuah keuntungan unik: akses langsung kepada bahan riset linguistik yang kaya dan dinamis.

Peran ganda sebagai driver ojol juga memberikan sebuah keuntungan unik: akses langsung kepada bahan riset linguistik yang kaya dan dinamis.

Sebagai pengamat bahasa yang berada di lapangan, mereka menjadi saksi hidup bagaimana bahasa Indonesia tumbuh dan berkembang dalam percakapan sehari-hari.

Mereka mendengar percampuran bahasa gaul, serapan dari bahasa daerah, hingga istilah-istilah teknis yang digunakan oleh kalangan tertentu.

Semua data empiris ini menjadi bekal yang sangat berharga ketika nanti mereka harus mengajar di kelas.

Mereka tidak hanya akan menjadi guru yang bisa menyampaikan teori, tetapi juga bisa menghadirkan contoh-contoh nyata dan kontekstual tentang bagaimana bahasa bekerja dalam masyarakat, sehingga pembelajaran menjadi lebih hidup dan relevan bagi peserta didik.

Namun, tentu saja, pilihan ini bukan tanpa tantangan. Menjembatani antara tuntutan akademik, jadwal kerja, dan kelelahan fisik adalah sebuah ujian tersendiri.

Baca Juga: Makna Generasi Sandwich yang Mempengaruhi Pola Pikir Keuangan

Butuh manajemen waktu dan disiplin yang tinggi untuk bisa tetap berkonsentrasi pada studi sambil memenuhi target penghasilan.

Namun, justru dalam kesulitan inilah karakter sebagai seorang calon pendidik ditempa.

Mereka belajar tentang tanggung jawab, ketekunan, dan arti pentingnya mengelola energi—kualitas-kualitas yang juga sangat dibutuhkan dalam profesi guru.

Pada akhirnya, jaket dan helm driver ojol yang dikenakan oleh mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia adalah lebih dari sekadar seragam kerja.

Mereka adalah simbol dari perjuangan dan komitmen untuk belajar tidak hanya dari buku, tetapi juga dari kehidupan.

Dalam peran ganda ini, mereka tidak hanya menemukan solusi untuk kebutuhan finansial, tetapi juga menemukan pemahaman yang lebih mendalam tentang esensi dari bahasa itu sendiri: bahwa pada akhirnya, bahasa adalah tentang manusia dan caranya terhubung dengan sesama.

Mereka pulang dari setiap perjalanan tidak hanya dengan penghasilan, tetapi dengan cerita, pelajaran, dan perspektif baru yang akan membentuk mereka menjadi guru yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kaya akan empati dan pengalaman hidup.

Baca Juga: Guru Pembelajar Sepanjang Hayat: Menghadapi Tantangan Era Digital dalam Pembelajaran Bahasa Asing

Selain pengalaman di lapangan, menjadi driver ojol juga mengajarkan nilai-nilai tanggung jawab sosial yang sering kali luput dari pembelajaran formal.

Mahasiswa yang menjalani peran ganda ini belajar untuk menghargai waktu, memahami pentingnya pelayanan, serta menyadari bahwa setiap pekerjaan memiliki nilai yang sama mulianya ketika dijalankan dengan kejujuran dan dedikasi.

Mereka belajar menahan emosi ketika menghadapi pelanggan yang kurang sabar, dan tetap bersikap sopan meskipun situasi tidak menyenangkan.

Hal-hal sederhana inilah yang menumbuhkan kedewasaan emosional dan kepekaan sosial. Di sisi lain, pekerjaan ini juga melatih keterampilan komunikasi lintas budaya.

Setiap pelanggan datang dari latar belakang berbeda, memiliki gaya bicara dan kebiasaan yang beragam.

Mahasiswa belajar menyesuaikan diri dengan cepat, memilih kata yang tepat, dan memahami konteks komunikasi agar tidak menimbulkan salah paham.

Ini merupakan kemampuan penting bagi calon guru bahasa, karena mengajarkan bahasa sejatinya tidak hanya soal tata bahasa, tetapi juga bagaimana menyesuaikan bahasa dengan lawan bicara dan situasi.

Lebih dari itu, kehidupan sebagai driver ojol membuka pandangan baru tentang arti kerja keras dan perjuangan.

Ketika sebagian mahasiswa mungkin menghabiskan waktu luangnya untuk bersantai, para driver mahasiswa harus menyeimbangkan antara kuliah, tugas, dan pekerjaan.

Kelelahan fisik yang dirasakan menjadi bagian dari proses pendewasaan.

Dari sinilah mereka belajar bahwa keberhasilan tidak datang secara instan, tetapi melalui pengorbanan dan ketulusan.

Mereka yang pernah menjadi driver ojol akan membawa pengalaman ini seumur hidup.

Ketika nanti mereka berdiri di depan kelas, mereka tidak hanya mengajarkan teori bahasa, tetapi juga menyampaikan nilai kehidupan yang didapat di jalanan: kesabaran, empati, tanggung jawab, dan rasa hormat terhadap sesama.

Nilai-nilai inilah yang menjadikan mereka bukan hanya guru yang cerdas, tetapi juga manusia yang bijaksana.

Dengan demikian, kisah mahasiswa yang menjadi driver ojol bukan sekadar cerita perjuangan ekonomi, tetapi juga kisah pembelajaran karakter dan kemanusiaan.

Dari helm, jaket, dan perjalanan panjang yang ditempuh, lahirlah calon-calon pendidik yang matang secara mental dan spiritual.

Mereka membuktikan bahwa belajar tidak hanya dilakukan di ruang kelas, tetapi juga di jalanan kehidupan yang sesungguhnya.

 

Muhammad Zakinur Wahab

Biodata Penulis

Muhammad Zakinur Wahab seorang mahasiswa semester 3 di Uinsaid. Dalam pandangannya, setiap pengalaman hidup adalah proses pembelajaran yang berharga untuk membentuk karakter dan kedewasaan diri.

Mulai dari hal kecil maupun masalah pekerjaan yang dilalui. Sebagai generasi muda, saya berpendapat bahwa seseorang harus memiliki tujuan yang jelas dan kemauan untuk terus berkembang.

Ia percaya bahwa pendidikan, kerja keras, dan keikhlasan adalah kunci utama untuk mencapai kesuksesan.

Dalam kesehariannya, ia berusaha menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain, baik melalui tindakan kecil maupun dalam lingkungan sosial yang lebih luas.

 

Penulis: Muhammad Zakinur Wahab
Mahasiswa Prodi Tadris Bahasa Indonesia, UIN Raden Mas Said Surakarta

Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses