Indonesia melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi memiliki Visi Pendidikan Indonesia yaitu mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila.
Visi ini diwujudkan dalam bentuk kebijakan Kurikulum Merdeka. Salah satu karakteristik Kurikulum Merdeka yaitu adanya proyek Penguatan Profil Pancasila. Kurikulum Merdeka menitikberatkan pada upaya pembentukan karakter bangsa berupa Profil Pelajar Pancasila bagi setiap peserta didik pada satuan pendidikan (Sari et al., 2022).
Profil Pelajar Pancasila merupakan karakter yang harus dimiliki peserta didik meliputi enam dimensi dalam Profil Pelajar Pancasila yaitu:
- Beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia;
- Mandiri;
- Bergotong-royong;
- Berkebhinekaan global;
- Bernalar kritis;
- Kreatif (Pendidikan Dasar dan Menengah et al., n.d.).
Untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila maka dibutuhkan integrasi kegiatan intrakurikuler, projek penguatan Profil Pelajar Pancasila (kokurikuler), dan kegiatan ekstrakurikuler.
Beberapa penelitian terkait tentang projek penguatan Profil Pelajar Pancasila dilakukan secara kolaboratif, dan guru-guru tidak melaksanakan berdasarkan satu mata pelajaran tetapi lintas mata pelajaran. Belajar dan bekerja secara kolaboratif menjadi kekuatan dalam pelaksanaan projek ini sesuai dengan profil (kompetensi) yang dimiliki (Ninla Elmawati Falabiba et al., 2014).
Penelitian mengenai implementasi Kurikulum Merdeka pada sekolah penggerak yang membahas mengenai Penerapan Proyek Penguatan Profil Pancasila sudah pernah dilakukan oleh Nugraheni Rahmawati, dengan penelitian berjudul Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dalam Impelementasi Kurikulum Prototipe di Sekolah Penggerak Jenjang Sekolah Dasar (Rachmawati).
Selain itu, penelitian mengenai Penerapan Proyek Penguatan Profil Pancasila telah dilakukan oleh Andiyani Safitri, Dkk dengan penelitian berjudul Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila: Sebuah Orientasi Baru Pendidikan dalam Meningkatkan Karakter Siswa Indonesia tahun 2022.
Hasil penelitian menyebutkan bahwa pengembangan Profil Pelajar Pancasila ini melakukan kegiatan pembelajaran dengan berbasis proyek. Sehingga, diharapkan ke depannya peserta didik menjadi masyarakat yang mempunyai nilai karakter yang sesuai dengan nilai-nilai karakter yang tertanam di tiap butir sila-sila pada Pancasila (Andriani Safi tri, n.d.).
Beberapa peneliti terdahulu mengenai implementasi Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila hanya berfokus pada satu sekolah dan satu indikator yaitu meneliti dimensi karakter.
Sedangkan penelitian yang kami lakukan fokus pada implementasi Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila ditinjau dari semua dimensi pada sekolah penggerak Angkatan ke-1 dari semua jenjang pendidikan, meliputi PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah di wilayah Provinsi DKI Jakarta.
Profil Pelajar Pancasila merupakan visi yang ingin diwujudkan Kemendikbudristek sebagaimana amanah Permendikbud Nomor 22 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2020-2024.
Renstra ini berfokus pada Kebijakan Merdeka Belajar sebagai pedoman bagi pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam menata dan memaksimalkan bonus demografi yang menjadi kunci tercapainya bangsa maju yang berkeadilan sosial, seperti yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa (Kemendikbud, n.d.).
Proyek yang dilaksanakan harus memuat dimensi yang terdapat dalam Profil Pelajar Pancasila. Sebagai contoh, satuan pendidikan tingkat SMP melaksanakan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila kelas VII dan VIII dengan alokasi jam proyek yang dialokasikan per tahun adalah 360 JP. Sedangkan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila untuk kelas IX adalah 320 JP (Salinan Permendikbud No 22 Tahun 2020, n.d.)
Saat ini Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila pada 54 Sekolah Penggerak Angkatan I di Provinsi DKI Jakarta telah memasuki tahun kedua. Sebagai kebijakan baru karena berbagai kondisi di lapangan menyebabkan belum terlaksananya tahapan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila secara keseluruhan.
Pemahaman mengenai Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila yang masih kurang menjadi alasan mengapa perlu kiranya dilakukan penelitian mengenai implementasi Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Selain itu, apakah semua Sekolah Penggerak tahap I di wilayah DKI Jakarta dapat mengimplementasikan dengan baik kegiatan tersebut?
Menurut Istianah dkk (2021), (dalam Samsul, 2021) Ia berpendapat bahwa dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila melakukan beberapa penanaman nilai-nilai karakter Pancasila dalam membangun pribadi bangsa yang Pancasilais yang dapat memenuhi sikap profesionalisme lulusan pada program studi, serta pembudayaan dan juga penyesuaian terhadap nilai-nilai karakter Pancasila yang diharapkan dapat menciptakan diri mahasiswa yang mempunyai etika serta moral yang sesuai dengan nilai yang terdapat pada ideologi Pancasila, norma agama serta tata nilai akademis juga perlu dikembangkan dalam aktivitas di lingkungan kampus dan tindakan mahasiswa dalam mempraktikkan nilai-nilai Pancasila dengan menjalani organisasi maupun kegiatan mahasiswa yang disediakan oleh kampus.
Selain itu, Kemendikbud (dalam Istianah dkk., 2021) menyebutkan bahwa terdapat 6 indikator dari Profil Pelajar Pancasila. Adapun yang termasuk ke dalam enam indikator tersebut tercantum dalam Kemendikbud RI (2020) serta dijelaskan kembali oleh Mendikbud, enam indikator tersebut antara lain:
1. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta memiliki akhlak yang mulia
Pada point tersebut membahas bahwa peserta didik yang memiliki iman, takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta juga mempunyai akhlak yang luhur. Dengan akhlak yang luhur peserta didik akan memiliki akhlak dalam berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa.
Peserta didik juga memahami mengenai ajaran agama dan keyakinan dan dilakukan dengan pengetahuan yang dimilikinya pada kehidupannya sehari-hari. Pada Profil Pelajar Pancasila juga memahami arti dari moralitas, keadilan sosial, spiritual, serta juga memiliki kecintaan terhadap agamanya, hubungan manusia dan juga alam.
Diketahui bahwa terdapat 5 unsur dalam beriman serta bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak yang baik di antaranya adalah akhlak dalam beragama, akhlak individu atau pribadi, akhlak kepada manusia lainnya, akhlak kepada alam semesta dan akhlak kepada bangsa dan negaranya.
Baca Juga: Profil Pelajar Pancasila pada Generasi TikTok
2. Berkebhinekaan global
Maksud dari kebhinekaan global ini yaitu peserta didik menjaga budaya-budaya yang ada, budaya tersebut di antaranya adalah budaya bangsa, lokal dan juga jati dirinya, serta senantiasa untuk memperhatikan sikap terbuka ketika mempererat suatu ikatan dengan budaya lain sebagai wujud dari cara dalam menciptakan suatu perasaan dalam menghormati budaya leluhur yang positif dan juga tidak menyimpang dari budaya leluhur bangsa Indonesia.
Arti dari kebhinekaan global sendiri adalah perasaan untuk saling menghargai terhadap keberagaman serta perbedaan yang ada, berarti bahwa kita dapat menghargai adanya suatu perbedaan yang ada tanpa merasa terpaksa maupun merasa dihakimi maupun menghakimi atau merasa etnosentrisme.
Adanya kebhinekaan ini bukan hanya berlaku di negara kita saja tetapi ini dapat menjadi dasar pemahaman serta penghormatan terhadap kebudayaan antar lintas budaya.
3. Bergotong royong
Maksudnya adalah peserta didik memiliki keterampilan dalam bekerjasama, yaitu kemampuan dalam melakukan suatu kegiatan secara tulus serta ikhlas sehingga suatu kegiatan tersebut dapat terselenggara dengan lancar dan ringan.
Sebagai pelajar Pancasila, kita mengerti bagaimana bekerjasama itu, bagaimana kerjasama dengan teman yang lain. Apalagi seperti yang kita ketahui bahwa kita berada pada industri 4.0 di mana bekerjasama ini menjadi bagian penting.
Adapun unsur dari bergotong royong ini di antaranya lain yaitu adanya kolaborasi, adanya rasa saling peduli satu sama lain, serta adanya rasa mau berbagi.
4. Mandiri
Mandiri di sini adalah bahwa peserta didik yang berada di Indonesia merupakan peserta didik yang mempunyai kemandirian. Di mana siswa yang memiliki rasa tanggung jawab terhadap suatu proses maupun hasil dari kegiatan belajarnya.
Adapun bagian dari mandiri itu sendiri yaitu pemahaman diri maupun pemahaman terhadap keadaan yang dihadapi dan bagaimana cara pengaturan diri yang ia lakukan.
5. Bernalar kritis
Bahwa peserta didik dapat melakukan penalaran kritis dan objektif ketika ketika diminta untuk menggarap suatu informasi baik secara kualitatif maupun juga dengan cara kuantitatif, menyatukan hubungan dengan berbagai informasi yang diterimanya, mengkaji informasi, serta mengevaluasi serta menarik kesimpulan.
Adapun unsur dari bernalar kritis ini antara lain adalah menerima informasi dan memproses suatu informasi serta gagasan, mengkaji serta mengevaluasi penalaran, dan merefleksikan pemikiran dan proses dalam berpikir, serta menciptakan keputusan.
Baca Juga: Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila sebagai Upaya Penguatan Karakter Pelajar Indonesia
6. Kreatif
Kreatif di sini adalah peserta didik yang memiliki kreativitas dapat menyesuaikan dan menciptakan hal yang bersifat orisinal, memiliki makna, bermanfaat, serta berdampak.
Pelajar Pancasila juga memiliki kapabilitas dalam memecahkan suatu permasalahan serta memiliki kemampuan dalam menciptakan serta menghasilkan suatu yang pro aktif dan juga mandiri demi untuk memperoleh metode-metode yang inovatif.
Adapun unsur dari kreatif ini di antaranya adalah menciptakan suatu ide yang orisinil serta menciptakan suatu karya dan juga kegiatan yang orisinal.
Dengan motivasi belajar yang tinggi, peserta didik cenderung lebih bersemangat dan aktif dalam belajar serta menyelesaikan tugas yang diberikan guru, yang kemudian dapat menghasilkan hasil yang positif dan sesuai dengan harapan selaras dengan pendapat Nurul Hidayah & Fikki Hermansyah (dalam Sunarti Rahman, 2021) yang menuliskan bahwa motivasi belajar merupakan dorongan internal dan eksternal pada peserta didik yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku.
Selain itu, dengan memiliki motivasi belajar yang tinggi, peserta didik akan cenderung memiliki hasrat dan keinginan untuk berhasil juga akan melakukan lebih banyak upaya dalam belajar dan berusaha lebih keras untuk menyelesaikan tugas dan memiliki semangat yang tinggi untuk mencapai tujuan dan cita-cita yang harus dicapai di masa depan, yang mana hal tersebut adalah faktor intrinsik yang dapat diciptakan pada diri peserta didik.
Selain faktor intrinsik, faktor ekstrinsik juga mempengaruhi motivasi belajar peserta didik yang tinggi. Hal tersebut dapat berupa pemberian penghargaan kepada peserta didik dan adanya kegiatan yang menarik. Pemberian penghargaan yang diberikan kepada peserta didik seperti pujian, hadiah, atau pengakuan, yang dapat membuat peserta didik merasa dihargai dan termotivasi untuk belajar lebih baik.
Adanya kegiatan menarik dalam belajar yang menerapkan outdoor learning dengan pemberian tugas proyek menjadi salah satu indikator yang berpengaruh dalam penelitian ini. Hal tersebut ditunjukkan dengan hasil belajar peserta didik yang meningkat.
Karena dengan adanya pemberian proyek, peserta didik melakukan kegiatan di luar kelas yang mana kegiatan ini menawarkan variasi dan interaksi yang lebih beragam, sehingga peserta didik tidak merasa jenuh dan kebosanan dalam belajar.
Hal tersebut selaras dengan salah satu penelitian yang menuliskan bahwa peserta didik menyukai outdoor learning khususnya di mata pelajaran matematika, karena mereka lebih suka pembelajaran yang terbuka dan menyenangkan yang mana kegiatan tersebut sangat berpengaruh terhadap hasil belajar yang diperoleh peserta didik (Lubis et al., 2023).
Menjadi indikator yang berpengaruh pada model pembelajaran yang diterapkan pada penelitian ini, adanya pemberian kegiatan yang menarik dibuktikan dengan persentse motivasi belajar peserta didik yang menunjukkan kategori tinggi setelah diberikan model outdoor learning yaitu memperoleh persentase sebesar 47,22%.
Baca Juga: Membentuk Pribadi Anti Korupsi dari Pancasila
Kegiatan yang menarik dapat menarik minat dan semangat peserta didik untuk belajar. Ini membuat peserta didik lebih antusias dan fokus saat belajar. Kegiatan yang menarik dan interaktif dapat memengaruhi keinginan peserta didik untuk belajar.
Kegiatan yang menarik dapat membuat peserta didik merasa lebih senang dan termotivasi untuk belajar. Dengan pemberian kegiatan yang menarik di luar kelas tersebut dapat dilihat bahwa peserta didik memiliki motivasi yang tinggi setelah diberikan pembelajaran berbasis proyek.
Kesimpulan
Dalam dunia pendidikan, motivasi belajar siswa merupakan faktor kunci yang dapat memengaruhi prestasi akademik mereka. Masalah kurangnya motivasi seringkali menjadi tantangan bagi para pendidik dalam mencapai tujuan pembelajaran. Namun, dengan penerapan P5 Kurikulum Merdeka, kita dapat menemukan solusi yang efektif untuk meningkatkan motivasi belajar siswa.
Dengan demikian, implementasi P5 Kurikulum Merdeka bukan hanya sekadar konsep, tetapi merupakan langkah nyata yang dapat menghasilkan perubahan positif dalam dunia pendidikan.
Dengan memanfaatkan pendekatan ini, diharapkan motivasi belajar siswa akan meningkat, prestasi akademik akan terdongkrak, dan tujuan pendidikan dapat tercapai dengan lebih baik. Mari bersama-sama menjadikan P5 Kurikulum Merdeka sebagai solusi untuk membangun generasi penerus yang berprestasi dan berkualitas.
Saran
1. Keterlibatan Aktif
Siswa didorong untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran, meningkatkan minat dan kreativitas mereka.
2. Kemandirian
Kebebasan dalam memilih materi dan metode pembelajaran membantu siswa merasa memiliki kontrol atas proses belajar mereka.
3. Pembelajaran Kontekstual
Proyek berbasis P5 mengaitkan pembelajaran dengan masalah nyata, membuat materi lebih relevan dan menarik bagi siswa
Dengan pendekatan ini, diharapkan siswa menjadi lebih termotivasi dan siap menghadapi tantangan di masa depan.
Penulis:
1. Deklay Nainggolan
2. Melkian Naharia
3. Feynia Telew
Mahasiswa Psikologi Pendidikandan Bimbingan Universitas Negeri Manado
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru di Google News
Daftar Rujukan
Andriani Safitri, Dwi Wulandari, Yusuf Tri Herlambang (2022). htttps://www.neliti.com/publications/451572/proyek-penguatan-profil-pelajar-pancasila-sebuah-orientasi-baru-pendidikan-dalam
Asiati, S., & Hasanah, U. (2022). Implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila di Sekolah Penggerak. Jurnal Lingkar Mutu Pendidikan, 19(2), Article . https://doi.org/10.54124/jlmp.v19i2.78
Rima Yulia Larasati., & Achmad Buchori (2024). Penerapan model olmp (outdoor learning mathematics project) terintegrasi P5 terhadap Motivasi belajar peserta didik https://www.journal.unrika.ac.id/index.php/jurnalphythagoras/article/view/6478/pdf
Auli, A., Hefni, & Melia, Y. (2023). Pengaruh Motivasi Belajar Terhadap Hasil Belajar Peserta Didik Kelas X. Jambura Sports Coaching Academic Journal, 2(2), 63–76. https://doi.org/https://doi.org/10.37905/jscaj.v2i2.21343
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













