Media massa memiliki posisi strategis dalam kehidupan sosial masyarakat. Fungsinya tidak hanya terbatas pada penyampaian informasi, tetapi juga berperan penting dalam membentuk opini, sikap, dan persepsi publik terhadap berbagai isu. Sebagai sarana komunikasi publik, media,seperti surat kabar, televisi, radio, maupun media daring yang menjadi tujuan utama masyarakat untuk memperoleh informasi yang cepat, luas, dan berkelanjutan. Melalui intensitas pemberitaan, media berperan dalam mendistribusikan fakta, laporan, serta perkembangan terkini suatu peristiwa.
Selain sebagai penyampai informasi dan pembentuk opini, media massa juga memiliki fungsi edukatif. Melalui laporan investigatif, artikel analitis, dan program dokumenter, media dapat meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap isu-isu kompleks. Di era digital, media juga berperan sebagai pengawas sosial yang mendorong transparansi dan akuntabilitas, khususnya terkait kinerja pemerintah dan lembaga publik.
Dalam menjalankan perannya, kredibilitas media menjadi aspek fundamental. Informasi yang disampaikan harus akurat, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan agar tidak menyesatkan publik. Namun, media tidak sekadar menyampaikan fakta apa adanya.
Salah satu konsep kunci dalam memahami pengaruh media terhadap opini publik adalah framing. Istilah framing berasal dari kata frame yang berarti bingkai. Dalam konteks komunikasi massa, framing merujuk pada cara media mengemas realitas melalui pemilihan fakta, penyusunan narasi, dan penekanan makna tertentu. Dengan framing, media tidak hanya memberitakan peristiwa, tetapi juga mengarahkan bagaimana publik seharusnya memaknai peristiwa tersebut.

Robert Entman, salah satu tokoh utama dalam teori framing, menjelaskan bahwa framing melibatkan dua proses utama, yaitu selection (pemilihan fakta) dan salience (penonjolan aspek tertentu). Melalui proses ini, media dapat memengaruhi opini publik tanpa harus secara eksplisit menyatakan keberpihakan. Misalnya, dalam pemberitaan konflik, media dapat membingkai satu pihak sebagai korban dan pihak lain sebagai pelaku melalui pilihan narasi atau diksi, visual pendukung, atau kutipan yang digunakan.Proses inilah yang secara tidak langsung membentuk cara masyarakat memahami dan menilai suatu peristiwa.
Baca Juga: Pentingnya Logika dan Berpikir Kritis di Era Media Sosial
Penelitian berjudul “Exploring the Foundations of Media Framing Theory” yang dipublikasikan di ResearchGate menegaskan bahwa media tidak sekadar melaporkan realitas, tetapi turut mengonstruksi realitas sosial. Dengan demikian, framing menjadi instrumen penting bagi media dalam membentuk makna dan interpretasi publik terhadap dunia sosial.
Dalam praktiknya, framing media dapat bersifat positif maupun negatif. Di satu sisi, framing dapat meningkatkan kesadaran sosial, mendorong solidaritas, dan mempercepat respons terhadap persoalan publik. Namun, di sisi lain, framing juga berpotensi digunakan untuk kepentingan politik, penyebaran bias, atau pembentukan opini yang menyesatkan.
Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan framing media kerap menyimpang dari fakta objektif. Pertama, faktor ekonomi. Dalam persaingan industri media yang ketat, media dituntut untuk menarik perhatian audiens demi memperoleh pendapatan iklan. Akibatnya, sisi sensasional suatu peristiwa sering kali lebih ditonjolkan, bahkan dengan mengorbankan kelengkapan informasi.
Kedua, faktor politik. Kepemilikan media oleh individu atau kelompok dengan kepentingan tertentu dapat memengaruhi arah pemberitaan. Ketiga, tekanan sosial, terutama di media sosial, turut memengaruhi framing. Konten yang berpotensi mendapatkan banyak like, share, dan komentar cenderung lebih diutamakan dibandingkan konten yang bersifat informatif namun kurang menarik secara emosional. Dalam konteks media sosial, framing memiliki sejumlah fungsi penting, antara lain:
- Membentuk persepsi dan realitas sosial melalui penonjolan aspek tertentu dari suatu isu;
- Menyusun dan menstrukturkan informasi agar mudah dipahami audiens;
- Mempengaruhi cara audiens menafsirkan peristiwa melalui konteks yang diberikan;
- Menguatkan atau menantang nilai budaya dan ideologi yang berlaku;
- Menciptakan keterikatan emosional melalui narasi personal dan visual yang menyentuh;
- Membantu membentuk agenda publik dengan menentukan isu yang dianggap prioritas;
- Menyampaikan pesan secara terfokus dan efektif melalui visual dan teks yang ringkas;
- Meningkatkan keterlibatan audiens dengan memanfaatkan emosi;
- Membentuk narasi dominan melalui kampanye, konten viral, atau gerakan sosial;
- Menggunakan simbol dan visual sebagai alat penyampai makna;
- Memengaruhi algoritma media sosial sehingga memperluas jangkauan konten;
- Membentuk opini publik melalui pemilihan narasi yang strategis.
Pemahaman terhadap framing media memungkinkan masyarakat untuk melihat bahwa opini publik tidak terbentuk secara netral, melainkan melalui proses konstruksi informasi yang dilakukan oleh media. Maka dari itu, dampak framing media terhadap opini publik dapat dilihat melalui beberapa aspek berikut ini:
Baca Juga: Peran Media Sosial dalam Memperkuat Daya Saing dan Pemasaran UMKM
1. Pengaruh terhadap Penentuan Prioritas Isu Publik
Framing media berperan dalam menentukan isu apa yang dianggap penting oleh masyarakat. Ketika media secara konsisten menyoroti suatu topik dengan intensitas tinggi, isu tersebut akan menempati posisi utama dalam kesadaran publik.
2. Pengaruh terhadap Sikap dan Persepsi Audiens
Cara media membingkai suatu peristiwa dapat membentuk sikap audiens, baik mendukung maupun menolak suatu isu. Framing yang berulang akan memperkuat persepsi tertentu dan memengaruhi penilaian moral audiens.
3. Pengaruh terhadap Emosi Publik
Framing media dapat memicu respons emosional tertentu melalui pemilihan kata, visual, dan sudut pandang narasi. Emosi ini berperan penting dalam membentuk opini dan tindakan masyarakat.
4. Pengaruh terhadap Tingkat Pengetahuan Publik
Media menentukan informasi apa yang disampaikan dan bagaimana informasi tersebut dijelaskan. Framing yang informatif dan kontekstual dapat meningkatkan pemahaman publik, sedangkan framing yang bias atau dangkal dapat menyesatkan. Sehingga media mampu memperkuat streotipe terhadap kelompok tertentu melalui pelabelan yang berulang dan tidak seimbang
5. Pengaruh terhadap Dukungan terhadap Kebijakan Publik
Framing media memiliki peran penting dalam membentuk sikap publik terhadap kebijakan pemerintah. Narasi yang mendukung atau menentang kebijakan akan memengaruhi tingkat penerimaan masyarakat. Framing tidak hanya memengaruhi opini, tetapi juga dapat mendorong tindakan nyata dari masyarakat.
Dalam konteks ini, media dapat dianalogikan sebagai “kacamata” yang digunakan publik untuk melihat realitas. Perbedaan sudut pandang dan penekanan dalam pemberitaan menghasilkan pemahaman yang beragam. Oleh karena itu, literasi media dan pemahaman terhadap framing menjadi hal yang penting agar masyarakat mampu bersikap kritis dan tidak menerima informasi secara pasif.
Penulis: Ayang Tarisna (Nim L100220014)
Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Surakarta
Dosen Pengampu: Mulia Ramdhan Fauzani, S.I.Kom., M.SC.
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












