Peran K3 Housekeeping Menunjang Operasional Perhotelan

K3 Housekeeping
Ilustrasi Housekeeping Department (Sumber: Heart of The House Hospitality)

Dalam ekosistem industri perhotelan, kenyamanan dan keamanan tamu adalah prioritas utama. Di balik kemewahan lobi dan kerapian kamar hotel, terdapat sebuah departemen yang bekerja tanpa lelah untuk memastikan standar tersebut terjaga yaitu Housekeeping Department atau Tata Graha.

Housekeeping merupakan salah satu departemen utama di hotel yang memiliki tanggung jawab terhadap aspek estetika, kerapian, kebersihan, kelengkapan fasilitas, serta kesehatan seluruh kamar tamu dan area publik hotel. Keberadaan departemen ini berperan langsung dalam menjaga kualitas lingkungan hotel agar selalu berada dalam kondisi yang layak huni dan menarik bagi penggunanya (Sulastiyono, 2016).

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Secara umum, tujuan utama Housekeeping adalah menciptakan suasana yang aman, nyaman, dan sehat, baik bagi tamu maupun bagi seluruh karyawan hotel. Kenyamanan tersebut tidak hanya ditentukan oleh kebersihan kamar tidur, tetapi juga oleh kondisi area lain yang digunakan bersama.

Oleh karena itu, ruang lingkup kerja Housekeeping mencakup perencanaan, pemeliharaan, dan pembersihan kamar tamu, ruang administrasi, lobi, teras, koridor, lift, toilet umum, berbagai ruang publik, ruang ganti karyawan, hingga area luar hotel seperti taman, halaman, kolam renang, dan tempat parkir (Rumekso, 2014).

Dalam struktur organisasi operasional, Housekeeping Department berada di bawah kepemimpinan Housekeeping Manager atau Executive Housekeeper yang bertanggung jawab mengatur, mengawasi, dan mengendalikan seluruh aktivitas kerja agar sesuai dengan standar kebersihan dan pelayanan hotel. Untuk menunjang pelaksanaannya, departemen ini dibagi ke dalam beberapa seksi kerja, antara lain Floor Section yang menangani kamar tamu, Public Area Section yang bertanggung jawab atas area umum, Linen and Uniform Section yang mengelola linen dan seragam, serta unit khusus seperti Florist, Gardener, dan Pool Attendant sesuai dengan kebutuhan hotel (Sulastiyono, 2016).

Mengingat sebagian besar pendapatan hotel berasal dari penjualan kamar, kualitas kerja Housekeeping memiliki kontribusi besar terhadap kelancaran operasional dan tingkat keuntungan hotel. Namun, besarnya peran tersebut juga diiringi dengan tingginya risiko kerja yang harus dihadapi oleh para karyawan Housekeeping.

Risiko tersebut meliputi paparan bahan kimia pembersih, kelelahan otot akibat aktivitas fisik berulang dan berat, serta potensi bahaya mekanis dari penggunaan peralatan dan mesin pembersih. Oleh sebab itu, pemahaman dan penerapan standar operasional serta keselamatan kerja menjadi aspek mendasar yang tidak dapat diabaikan dalam aktivitas Housekeeping (Tarwaka, 2017).

Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) merupakan suatu bidang yang berfokus pada upaya perlindungan terhadap kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan tenaga kerja di lingkungan kerja.

Dalam industri perhotelan, penerapan K3 bertujuan untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, serta bebas dari potensi pencemaran lingkungan, sehingga mampu menekan angka kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja, yang pada akhirnya berdampak positif terhadap produktivitas dan efisiensi kerja karyawan (Tarwaka, 2017).

Implementasi K3 di departemen Housekeeping tidak hanya berkaitan dengan perlindungan tenaga kerja, tetapi juga memiliki keterkaitan erat dengan aspek higiene dan sanitasi yang berpengaruh langsung terhadap keselamatan tamu hotel. Hotel yang gagal menjaga standar kebersihan dan keselamatan berisiko menjadi media penyebaran bakteri dan virus, yang tidak hanya membahayakan karyawan, tetapi juga dapat menurunkan kepercayaan dan citra hotel di mata publik (WHO, 2020).

Baca juga: K3 Front Office sebagai Kunci Pelayanan Aman, Nyaman, dan Profesional

 

Aspek Alat Pelindung Diri (APD)

Salah satu aspek penting dalam penerapan K3 adalah penggunaan Alat Pelindung Diri (APD). APD merupakan lapisan perlindungan terakhir dalam hierarki pengendalian bahaya yang berfungsi untuk mengurangi dampak risiko kerja terhadap tubuh pekerja (Ramli, 2013).

Dalam operasional Housekeeping, terdapat beberapa jenis APD yang wajib disediakan dan digunakan sesuai dengan jenis pekerjaan. Sarung tangan digunakan untuk melindungi tangan dari paparan bahan kimia, terutama saat membersihkan toilet atau menangani sampah.

Masker berfungsi melindungi saluran pernapasan dari debu dan uap bahan kimia saat proses pembersihan. Sepatu bot umumnya digunakan di area basah atau oleh Gardener dan Pool Attendant untuk mencegah tergelincir serta melindungi kaki dari benda tajam dan gigitan serangga.

Kacamata pelindung diperlukan saat mencampur atau menuangkan bahan kimia pekat agar mata terhindar dari percikan. Sementara itu, helm dan sabuk pengaman digunakan dalam pekerjaan di ketinggian, seperti pembersihan kaca gedung atau langit-langit tinggi (Ramli, 2013).

Selain APD yang digunakan secara langsung oleh pekerja, alat pengaman lingkungan juga memegang peranan penting. Salah satu contohnya adalah pemasangan tanda peringatan lantai licin (caution wet floor sign) saat dilakukan pembersihan atau perawatan lantai.

Keberadaan tanda ini bertujuan memberikan peringatan dini kepada tamu dan karyawan lain agar lebih berhati-hati. Kelalaian dalam pemasangan tanda peringatan sering menjadi penyebab utama terjadinya kecelakaan terpeleset di area lobi maupun koridor hotel (Sulastiyono, 2016).

 

Aspek Ergonomi

Aspek lain yang tidak kalah penting dalam K3 Housekeeping adalah identifikasi postur tubuh dan ergonomi kerja. Aktivitas Housekeeping menuntut kerja fisik yang tinggi dan dilakukan secara berulang. Room attendant, misalnya, harus membersihkan banyak kamar dalam satu shift, yang melibatkan gerakan membungkuk, menjangkau area tinggi, mendorong trolley dengan beban berat, serta mengangkat kasur.

Jika dilakukan tanpa teknik kerja ergonomis, aktivitas tersebut dapat menimbulkan gangguan muskuloskeletal dalam jangka panjang (Tarwaka, 2017).

Apabila aktivitas mendorong dilakukan tanpa penerapan teknik kerja yang benar, staf Housekeeping berisiko tinggi mengalami cedera punggung bagian bawah serta kelelahan otot pada ekstremitas bawah. Risiko tersebut dapat meningkat seiring dengan tingginya frekuensi kerja dan durasi kerja yang panjang dalam satu shift (Tarwaka, 2017).

Untuk meminimalkan risiko cedera, penerapan teknik pengangkatan manual yang benar menjadi sangat penting. Prinsip dasar yang dianjurkan adalah “bend your knees and squat, not your back”, yaitu mengangkat beban dengan menekuk lutut dan melakukan gerakan jongkok, bukan dengan membungkukkan punggung.

Pengangkatan beban yang bertumpu pada otot punggung merupakan kesalahan umum yang dapat memicu cedera serius pada tulang belakang, khususnya pada bagian cakram intervertebralis (Tarwaka, 2017).

Dalam aktivitas mendorong trolley Housekeeping, posisi tubuh sebaiknya tetap tegap dengan tulang belakang berada pada posisi netral. Gaya dorong dianjurkan berasal dari pemanfaatan berat badan dan kekuatan otot kaki, bukan semata-mata dari kekuatan lengan.

Ketergantungan berlebih pada otot lengan dapat meningkatkan risiko cedera pada bahu dan siku akibat beban statis yang terjadi secara terus-menerus (Hardiningtyas et al., 2017).

Gangguan kesehatan yang timbul akibat penerapan ergonomi kerja yang tidak tepat umumnya ditandai dengan keluhan nyeri pada beberapa bagian tubuh, seperti leher, bahu, punggung bawah, siku, dan lutut.

Apabila keluhan tersebut berlangsung dalam jangka waktu yang lama tanpa penanganan yang memadai, kondisi ini dapat berkembang menjadi Musculoskeletal Disorders (MSDs) yang berpotensi menyebabkan penurunan kemampuan kerja hingga kecacatan permanen (Tarwaka, 2017).

 

Aspek Paparan Bahan Kimia

Departemen Housekeeping dikenal sebagai unit kerja dengan tingkat penggunaan bahan kimia tertinggi di dalam operasional hotel. Berbagai jenis bahan pembersih dimanfaatkan untuk menunjang kegiatan sehari-hari, mulai dari pembersih kaca, pembersih lantai, hingga bahan kimia berkekuatan tinggi yang digunakan pada area laundry dan kolam renang. Intensitas penggunaan bahan kimia tersebut menjadikan Housekeeping sebagai departemen dengan potensi risiko kimia yang cukup besar (Sulastiyono, 2016).

Pada bagian Public Area, petugas Housekeeping menggunakan beragam bahan kimia untuk kegiatan dusting dengan polish cleaner, pengepelan lantai, proses kristalisasi marmer, serta pencucian karpet menggunakan metode shampooing.

Selain itu, pekerjaan pemolesan manual pada permukaan logam atau dinding kamar mandi juga melibatkan bahan kimia tertentu yang berpotensi menimbulkan iritasi apabila tidak ditangani dengan benar (Rumekso, 2014).

Bagian laundry dan linen menangani pencucian linen dalam jumlah besar dan kondisi sangat kotor. Dalam beberapa kasus, ditemukan praktik penggunaan bahan kimia keras seperti Natrium Hidroksida untuk mempercepat penghilangan noda pada linen.

Meskipun efektif secara teknis, zat ini bersifat sangat korosif. Paparan berulang dapat menyebabkan kerusakan jaringan kulit, luka bakar kimia, serta risiko serius apabila uapnya terhirup atau zat tersebut tertelan secara tidak sengaja (Tarwaka, 2017).

Sementara itu, pada area kolam renang, Pool Attendant bertanggung jawab menjaga keseimbangan pH air serta kejernihan kolam. Aktivitas ini melibatkan penggunaan klorin dan bahan kimia penyeimbang pH yang apabila salah penanganan dapat menimbulkan iritasi pada mata, kulit, dan saluran pernapasan, baik bagi petugas maupun tamu hotel (WHO, 2020).

Sebagian besar bahan kimia pembersih memiliki karakteristik yang tidak boleh dicampur secara sembarangan. Contohnya, pencampuran antara pemutih dengan pembersih toilet yang mengandung amonia dapat menghasilkan gas beracun yang berbahaya bagi sistem pernapasan.

Selain itu, aspek penyimpanan bahan kimia juga menjadi perhatian utama. Linen and Uniform Section memiliki tanggung jawab dalam mengawasi proses penerimaan, penyimpanan, dan pendistribusian bahan kimia agar tetap aman. Setiap wadah bahan kimia harus tertutup rapat dan diberi label yang jelas untuk mencegah kesalahan penggunaan (Ramli, 2013).

 

Aspek Peralatan

Dalam operasional modern, Housekeeping sangat bergantung pada peralatan mekanis dan listrik untuk meningkatkan efisiensi kerja. Beberapa mesin yang umum digunakan antara lain dry vacuum dan wet vacuum untuk menyedot debu dan air, mesin polisher untuk pemolesan lantai, mesin shampooing carpet untuk pencucian karpet, blower untuk proses pengeringan, serta high pressure machine yang digunakan untuk membersihkan area luar hotel dengan tekanan air tinggi (Sulastiyono, 2016).

Penggunaan mesin-mesin tersebut memiliki potensi bahaya tertentu. Risiko sengatan listrik dapat muncul akibat kabel yang terkelupas atau penggunaan mesin di area basah, seperti saat wet vacuuming atau shampooing. Selain itu, mesin polisher dengan putaran piringan yang kuat berpotensi menimbulkan bahaya fisik, seperti kaki terjepit atau operator kehilangan kendali apabila tidak memiliki keterampilan yang memadai (Tarwaka, 2017).

Paparan kebisingan dan getaran dari penggunaan vacuum cleaner industri dan blower dalam jangka waktu lama juga berisiko menimbulkan gangguan pendengaran apabila pekerja tidak menggunakan pelindung telinga. Getaran berulang dari mesin polisher bahkan dapat menyebabkan Hand-Arm Vibration Syndrome (HAVS) jika digunakan terus-menerus tanpa jeda istirahat yang cukup (Ramli, 2013).

Selain itu, penggunaan high pressure machine yang tidak terkendali dapat melukai kulit atau merusak permukaan bangunan akibat tekanan air yang sangat tinggi (Tarwaka, 2017).

 

Pengendalian Risiko K3 Housekeeping

Untuk meminimalkan berbagai risiko tersebut, diperlukan pendekatan sistematis yang melibatkan peran aktif manajemen dan seluruh staf Housekeeping, dengan mengacu pada hierarki pengendalian bahaya dan prinsip manajemen operasional (Ramli, 2013).

Standar Operasional Prosedur merupakan fondasi utama dalam penerapan keselamatan kerja. Setiap aktivitas Housekeeping, mulai dari pekerjaan ringan seperti dusting hingga penggunaan mesin berat seperti floor polisher, harus memiliki SOP tertulis yang jelas. SOP idealnya mencakup standar kerja, prosedur operasional, serta petunjuk teknis yang rinci (Sulastiyono, 2016).

Housekeeping Manager bertanggung jawab memastikan seluruh kebijakan dan prosedur tersebut dijalankan secara konsisten, termasuk dalam hal pencampuran bahan kimia dengan rasio yang aman untuk menghindari reaksi berbahaya (Ramli, 2013).

Sebagian besar kecelakaan kerja disebabkan oleh kesalahan manusia yang berakar pada kurangnya pengetahuan dan keterampilan. Oleh karena itu, pelatihan rutin menjadi kebutuhan mutlak. Housekeeping Manager dan Assistant Manager perlu memberikan pelatihan berkala mengenai penggunaan mesin, penanganan bahan kimia, serta teknik kerja ergonomis seperti cara mengangkat beban dengan benar (Tarwaka, 2017).

Kompetensi pekerja dibentuk oleh tiga unsur utama, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Pendekatan coaching dan on-the-job training terbukti efektif dalam memperbaiki kebiasaan kerja yang keliru (Ramli, 2013).

Manajemen hotel memiliki kewajiban untuk menyediakan fasilitas dan peralatan kerja yang aman dan layak. Kerja sama dengan departemen Engineering diperlukan untuk memastikan mesin-mesin pembersih mendapatkan perawatan rutin.

Peralatan dengan kondisi kabel rusak atau tidak layak pakai harus segera dikeluarkan dari operasional. Floor Supervisor juga berperan memastikan bahwa seluruh perlengkapan kerja room boy dan room maid berada dalam kondisi baik sebelum digunakan (Sulastiyono, 2016).

Pengawasan merupakan kunci keberhasilan penerapan K3. Assistant Manager perlu melakukan spot check di area kerja untuk memastikan prosedur keselamatan dipatuhi. Selain itu, briefing pagi dan sore dapat dimanfaatkan sebagai media komunikasi untuk mengingatkan staf mengenai potensi bahaya yang ada, seperti lantai licin atau aktivitas konstruksi di area publik.

Pengendalian penggunaan bahan kimia dan mesin juga harus dilakukan oleh supervisor terkait, sehingga pekerjaan berisiko tinggi hanya ditangani oleh staf yang kompeten (Tarwaka, 2017). Dalam menghadapi risiko biologis seperti bakteri dan virus, Public Area Supervisor harus memastikan bahwa pembersihan karpet dan lantai dilakukan secara rutin sesuai jadwal.

Proses khusus seperti kristalisasi lantai dan shampooing carpet diperlukan untuk membunuh mikroorganisme yang bersarang pada permukaan dan serat kain. Di area kolam renang, Pool Attendant wajib menjaga kualitas air serta kebersihan lingkungan sekitar kolam dari sampah organik yang berpotensi menjadi sumber penyakit (WHO, 2020).

Penerapan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) dalam operasional hotel tidak dapat dipandang sekadar sebagai upaya memenuhi tuntutan regulasi, melainkan sebagai investasi strategis yang berperan penting dalam menjaga keberlangsungan usaha perhotelan.

Perlindungan terhadap karyawan sebagai aset utama hotel mampu mencegah kehilangan jam kerja akibat kecelakaan serta menekan biaya pengobatan dan pemulihan. Lingkungan kerja yang aman dan nyaman juga mendorong terciptanya kerja sama tim yang solid, yang menjadi salah satu tanggung jawab Housekeeping Manager dalam menjaga stabilitas dan kelancaran operasional departemen (Sulastiyono, 2016).

Di sisi lain, penerapan K3 turut menjamin mutu pelayanan kepada tamu. Tamu hotel tidak hanya menuntut kebersihan secara kasat mata, tetapi juga mengharapkan lingkungan yang higienis dan aman dari ancaman bakteri maupun virus.

Melalui penerapan K3 yang tepat, proses pembersihan dapat dilakukan secara efektif sehingga benar-benar menghilangkan sumber penyakit, bukan sekadar memindahkannya ke area lain. Kondisi karyawan yang sehat dan bugar juga memungkinkan pelaksanaan tugas kebersihan secara konsisten sesuai dengan standar pelayanan hotel (WHO, 2020).

Dari aspek finansial, kecelakaan kerja berpotensi menimbulkan biaya langsung maupun tidak langsung, seperti kerusakan peralatan, terganggunya operasional, hingga kebutuhan pelatihan bagi tenaga kerja pengganti. Penerapan K3 yang baik dapat menekan munculnya biaya-biaya tak terduga tersebut sekaligus melindungi keberlangsungan operasional.

Lebih jauh, K3 berperan penting dalam menjaga reputasi hotel, karena insiden seperti penggunaan bahan kimia berbahaya di laundry atau kecelakaan tamu akibat lantai licin dapat dengan cepat menyebar melalui media sosial dan merusak citra hotel di mata publik (Ramli, 2013).

Dengan demikian, penerapan K3 di lingkungan hotel, khususnya pada departemen Housekeeping, merupakan fondasi penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman, pelayanan yang berkualitas, serta citra hotel yang profesional dan terpercaya.

Komitmen manajemen dalam mengintegrasikan K3 ke dalam setiap aktivitas operasional menjadi kunci utama untuk mencapai keberlanjutan usaha perhotelan di tengah persaingan industri yang semakin ketat.

 

Penulis:

  1. Putri Aura Bunga
  2. Farhan Panji
  3. Krisjon Yono Poko Situmorang
  4. Rayhan Arian Herdiawan
  5. Ahmad Khaerul Fajri

Mahasiswa Perhotelan, Politeknik Sahid Jakarta
Dosen Pengampu: Dewi Ayu Kusumaningrum, S.Tp,. M.M

 

Referensi 

Ramli, S. (2013). Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Jakarta: Dian Rakyat.

Rumekso. (2014). Housekeeping Hotel. Yogyakarta: Andi Offset.

Sulastiyono, A. (2016). Manajemen Penyelenggaraan Hotel. Bandung: Alfabeta.

Tarwaka. (2017). Keselamatan dan Kesehatan Kerja: Manajemen dan Implementasi K3 di Tempat Kerja. Surakarta: Harapan Press.

World Health Organization (WHO). (2020). Hygiene and Sanitation in Public Facilities. Geneva: WHO Press.

Hardiningtyas, D., Putri, Y. W., & Efranto, R. Y. (2017). Perbandingan Analisis Biomekanika Gait Cycle pada Postur Mendorong. Prosiding SNTI dan SATELIT 2017. Malang: Jurusan Teknik Industri Universitas Brawijaya.

 

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses