Mengaji dalam tradisi Islam di Indonesia selama ini dikenal sebagai kegiatan pembacaan Al-Qur’an atau kajian kitab-kitab agama secara individu maupun kelompok.
Terkesan biasa, namun kegiatan ini jika dilakukan berkelompok selain dapat memperdalam pemahaman ajaran agama, sekaligus akan mempererat tali silaturahmi, membangun lingkungan yang agamis, melestarikan tradisi serta nilai-nilai keagamaan di tengah masyarakat, yang pada akhirnya dapat meningkatkan toleransi untuk memperkokoh persatuan bangsa.
Selama ini diakui atau tidak posisi perempuan dalam ruang mengaji masih sering dipandang dari ranah domestik.
Padahal jika dikaji lebih dalam peran perempuan dalam kegiatan mengaji sangat signifikan, melampaui pandangan tradisional yang hanya mengikatnya pada ranah domestik.
Perempuan dalam ranah sosial memiliki peran penting sebagai agen perubahan sosial, serta menempati garda depan dalam menjaga keutuhan masyarakat, yang semuanya juga tercermin dalam aktivitas mengaji.
Sebagai agen perubahan sosial, perempuan sebagai subjek aktif yang berhak dan memiliki kemampuan untuk mendakwahkan kebaikan.
Dalam kegiatan mengaji, perempuan bisa berperan sebagai pengajar, organisator pengajian, atau bahkan sebagai pembicara agama, turut serta dalam menyebarkan ilmu agama kepada masyarakat luas.
Keterlibatan perempuan dalam ruang mengaji sangat vital untuk menjaga keutuhan dan tatanan sosial.
Melalui kegiatan tersebut, perempuan dapat saling menguatkan dan membangun komunitas yang agamis dan harmonis.
Aktivitas mengaji bagi perempuan bukan hanya sarana mendekatkan diri kepada Tuhan, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan sikap welas asih, empati, dan penghargaan terhadap sesama.
Dari perenungan ayat-ayat suci, perempuan belajar memaknai keberagaman sebagai bagian dari kehendak Ilahi, sehingga nilai spiritual yang mereka bawa tidak berhenti di ranah pribadi, melainkan meluas menjadi sikap toleran dalam keluarga maupun masyarakat.
Perempuan dengan karakter yang lebih lembut dan memiliki stereotip sebagai sosok yang penuh kasih sayang, memiliki peran strategis dalam meneruskan nilai keislaman yang damai dan penuh kasih.
Perempuan yang aktif di ruang sosial-keagamaan, misalnya melalui kelompok pengajian, komunitas dakwah, atau kegiatan sosial berbasis masjid, maka keterlibatan perempuan dapat memperkuat pemahaman keagamaan perempuan sendiri, tetapi juga membuka ruang bagi terciptanya solidaritas dan kebersamaan.
Dengan kelembutan dan pendekatan yang humanis, perempuan mampu menghadirkan wajah Islam yang penuh kasih, yang menekankan perdamaian dan menghormati perbedaan.
Dari sinilah peran perempuan semakin penting sebagai agen penerus nilai keislaman yang inklusif dan toleran.
Gejolak politik dan pemilihan umum walaupun sudah berlalu, ternyata membawa dampak polarisasi politik di masyarakat yang sampai saat ini masih bisa dirasakan.
Polarisasi membuat masyarakat terpecah belah yang akhirnya menjadikan bangsa rawan akan perpecahan.
Mereka yang peduli akan kondisi bangsa melakukan upaya untuk meminimalisir polarisasi di tengah masyarakat, sehingga muncul fenomena komunitas perempuan mengaji yang menekankan nilai inklusivitas dalam setiap kegiatannya.
Mereka tidak hanya berkumpul untuk mengkaji Al-Qur’an, tetapi juga membuka ruang diskusi tentang isu-isu sosial, pendidikan anak, hingga kehidupan sehari-hari.
Salah satunya adalah komunitas Perempuan Mengaji yang digagas oleh Dewan Takmir dan Nisaul Masjid Al-Fath Karangploso, Malang.
Suasana pengajian yang menekankan inklusivitas ini terasa hangat karena setiap yang datang dihargai, tanpa memandang kelompok atau organisasi yang diikuti, status sosial, usia, atau tingkat pendidikan.
Sebagaimana disampaikan oleh koordinator Nisaul Masjid Al-fath, Aliva, yang menyatakan bahwa Perempuan Mengaji dihadirkan sebagai wadah khusus untuk para perempuan, terutama ibu-ibu, agar bisa belajar dan memperdalam Islam dengan pemahaman yang moderat dan rahmatan lil ‘alamin.

Harapannya, ilmu yang diperoleh bisa menjadi bekal, baik dalam mendidik anak-anak, menjalani peran sebagai seorang istri, maupun membentuk diri sebagai individu yang mampu bermasyarakat dengan baik.
“Kegiatan ini bukan hanya tentang menambah pengetahuan agama, tapi juga bagaimana kita bisa mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, dengan cara yang penuh kasih, seimbang, dan bermanfaat untuk sekitar,” tambah Aliva.
Pemilihan pemateri yaitu Hj. Luluk Farida Muchtar, yang merupakan pengasuh program Merawat Cinta Kasih Radio Madina FM dengan kajian rutin kitab Uqudulujain di Masjid Agung Jami Kota Malang, sebagai tokoh agama yang mampu memberikan kajian dengan bahasa sederhana sekaligus diterima berbagai kalangan menunjukkan semangat inklusivitas kegiatan perempuan mengaji.
Dari ruang sederhana perempuan mengaji, akan diperoleh pelajaran bahwa keberagaman justru memperkaya pengalaman spiritual, sekaligus memperkuat ikatan persaudaraan dan sikap toleransi di tengah masyarakat.
Mengaji bukan sekadar membaca teks suci, tapi juga merenungkan makna universal (rahmatan lil ‘alamin).
Komunitas mengaji yang menekankan inklusivitas dapat menanamkan nilai-nilai kesabaran, empati, kerendahan hati, menghargai perbedaan.
Kegiatan tersebut tidak hanya fokus pada tilawah, tetapi juga diskusi makna ayat dan penerapannya dalam kehidupan sosial.
Interaksi antaranggota yang berasal dari latar belakang beragam, sehingga menjadi ruang latihan toleransi.
Pada akhirnya, kegiatan perempuan mengaji jika dilaksanakan secara rutin sebagaimana yang dilaksanakan setiap bulan di Masjid Al-Fath, akan berdampak bagi keluarga, lingkungan sekitar, dan semangat kebersamaan lintas perbedaan.
Perempuan mengaji yang menekankan inklusivitas dilakukan untuk mengurangi risiko eksklusivitas dalam kelompok keagamaan, ketika pengajian dilakukan sebagai ruang untuk memperkuat identitas kelompok semata.
Tanpa semangat toleransi, pengajian bisa berubah menjadi arena yang menutup diri dari perbedaan, bahkan memunculkan sikap merasa paling benar.
Padahal, semangat Islam yang diajarkan Al-Qur’an justru menekankan kasih sayang dan keterbukaan.
Oleh karena itu, penting bagi komunitas perempuan pengajian untuk meneguhkan bahwa belajar agama harus sejalan dengan penghargaan terhadap keberagaman.
Nilai-nilai yang diperoleh dari ayat-ayat suci dibawa ke dalam keluarga, dan masyarakat sebagai moral yang memancarkan kebaikan di lingkungan sekitar.
Dari ruang pengajian, lahirlah perempuan yang mampu menjadi teladan bagi keluarga dan masyarakat dalam menjalani kehidupan yang harmonis.
Perempuan mengaji sekaligus akan menjadi ruang perjumpaan yang menguatkan persatuan bangsa.
Saat perempuan berkumpul untuk mengkaji Al-Qur’an, mereka sesungguhnya sedang menjalin jejaring sosial lintas latar belakang.
Interaksi itu menumbuhkan rasa kebersamaan dan solidaritas yang melampaui batas-batas pribadi maupun kelompok.
Dengan cara ini, pengajian bukan hanya memperkuat iman, tetapi juga menjadi fondasi kokoh bagi terciptanya kerukunan dan persatuan di tengah keragaman Indonesia.
Sudah saatnya masyarakat, termasuk para tokoh politik, memberikan dukungan penuh bagi keberlangsungan ruang mengaji perempuan.
Aktivitas ini tidak hanya sekedar memperdalam pengetahuan keagamaan, tetapi juga menanamkan nilai toleransi yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dengan peran perempuan sebagai agen perdamaian, pengajian dapat menjadi sumber inspirasi untuk mengelola perbedaan secara bijaksana.
Harapannya, semangat inklusif yang tumbuh dari ruang-ruang mengaji akan memperkokoh persatuan bangsa sekaligus menjadi pelajaran berharga bagi para politisi bahwa toleransi dan keberagaman adalah fondasi utama dalam membangun Indonesia yang adil dan harmonis.
Penulis: Siska Andiati
Ibu Rumah Tangga dan Pengamat Sosial
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













