Tulisan ini lahir bukan sekadar sebagai catatan reflektif menjelang Rapat Anggota Komisariat, melainkan sebagai surat cinta yang ditulis dari lubuk hati terdalam seorang kader. Tulisan ini datang dari seseorang yang menaruh harapan besar pada HMI, yang pernah menghabiskan waktu, tenaga, dan perasaan untuk organisasi ini.
Yapp, HMI adalah organisasi yang berhasil menghabiskan cinta saya. Karena cinta itulah tulisan ini disampaikan dengan jujur, terbuka, dan penuh harap.
Menjelang Rapat Anggota Komisariat (RAK) yang ke XXIX, saya menganggap RAK ini bukan hanya agenda formal organisasi, melainkan ruang refleksi kolektif bagi seluruh kader untuk menengok perjalanan, mengevaluasi capaian, serta merumuskan arah masa depan HMI Komisariat UNSIL.
Pergantian kepemimpinan yang akan terjadi harus dimaknai sebagai proses regenerasi nilai, gagasan, dan tanggung jawab, bukan sekadar pergantian struktur kepengurusan.
Dalam lintasan sejarahnya, HMI dikenal sebagai organisasi kader yang memiliki pengaruh intelektual dan sosial yang kuat di ruang kampus, namun refleksi jujur perlu kita ajukan hari ini.
Posisi hegemonik HMI Komisariat UNSIL dalam wacana, gerakan, dan pengaruh kampus perlahan terasa tertutup dan bahkan kalah saing dari organisasi mahasiswa eksternal lainnya, seperti Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), maupun HIMA Persis.
Kehadiran dan menguatnya organisasi-organisasi tersebut sejatinya bukanlah ancaman, melainkan cerminan bagi HMI untuk senantiasa melakukan evaluasi diri.
Persoalan muncul ketika HMI justru kehilangan daya tawar intelektual, keberanian bersikap, dan konsistensi gerakan, sehingga ruang-ruang strategis dan advokasi mahasiswa lebih banyak diisi oleh organisasi lain.
Situasi ini menegaskan bahwa hegemoni tidak pernah bersifat abadi. Ia harus terus dirawat melalui kualitas kader, kekuatan gagasan, dan keberpihakan yang nyata.
Saya sangat mengapresiasi kerja-kerja kepengurusan sebelumnya yang telah menjaga eksistensi organisasi. Namun, apresiasi tidak boleh menutup ruang kritik.
Baca Juga: HMI Cabang Pontianak Kecam Tindakan Represif Polisi pada Dua Kader HMI dan Tuntut Polri Evaluasi
Kaderisasi yang cenderung administratif, budaya kajian dan diskusi yang melemah, serta minimnya keberlanjutan gerakan intelektual turut berkontribusi pada melemahnya posisi HMI di ruang publik kampus.
Ketika HMI lebih sibuk mengurusi internal tanpa menghadirkan gagasan ke luar, maka wajar jika pengaruhnya perlahan terpinggirkan. Kritik ini tidak lahir dari kebencian, melainkan dari cinta yang belum selesai. Cinta kepada HMI!
Hemat saya, menjadi diam adalah bentuk pengkhianatan, dan kritik ini adalah wujud kesetiaan paling jujur. Seorang kader yang mencintai organisasinya tidak akan membiarkannya berjalan tanpa arah, apalagi kehilangan keberanian untuk bersuara di tengah persoalan-persoalan nyata mahasiswa.
Menatap masa depan, HMI Komisariat UNSIL membutuhkan kepemimpinan yang mampu mengembalikan kepercayaan diri organisasi sebagai kekuatan intelektual kampus.
Ketua dan jajaran pengurus ke depan tidak cukup hanya menjaga stabilitas internal, tetapi harus berani membuka diri pada kompetisi gagasan, menghidupkan kembali tradisi diskursus, serta menempatkan HMI sebagai aktor utama dalam isu-isu kemahasiswaan, kebangsaan, dan keumatan.
Baca Juga: HMI Komisariat Ahmad Dahlan Serukan Aksi Turun ke Jalan
HMI tidak boleh inferior di hadapan organisasi lain, namun juga tidak boleh terjebak pada romantisme masa lalu. Keunggulan HMI hanya dapat dibangun melalui kader yang berpikir kritis, beretika, dan memiliki keberpihakan yang jelas terhadap kepentingan mahasiswa dan masyarakat.
Semoga Rapat Anggota Komisariat kali ini tidak hanya melahirkan kepengurusan baru, tetapi juga menghidupkan kembali harapan seorang kader yang pernah, dan masih, menghabiskan cintanya untuk HMI.
Yakin, usaha, sampai!
Penulis: Muhamad Ilham Maulana
Mahasiswa Ilmu Politik 2024 Universitas Siliwangi (Unsil)
Kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Universitas Siliwangi (Unsil), Cabang Tasikmalaya
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












