Sistem Pakar Diagnosa Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) Menggunakan Metode Forward Chaining Berbasis Website

Sistem Pakar Diagnosa Penyakit
Sistem Pakar Diagnosa Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) Menggunakan Metode Forward Chaining Berbasis Website.

Abstrak

Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah masalah kesehatan umum yang memerlukan penanganan yang tepat dan cepat. Diagnosis sering kali menjadi tantangan, terutama bagi orang awam tanpa pengetahuan medis. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sistem pakar berbasis website untuk mendiagnosis ISPA menggunakan metode Forward Chaining. Sistem ini bekerja dengan mencocokkan gejala yang diinputkan oleh pengguna dengan aturan yang ada dalam basis pengetahuan untuk menghasilkan diagnosis yang relevan. Sistem ini diimplementasikan sebagai aplikasi web, sehingga mudah diakses melalui perangkat yang terhubung dengan internet tanpa perlu mengunduh aplikasi tambahan. Evaluasi sistem dilakukan melalui pengujian black-box untuk memastikan fungsionalitasnya sesuai dengan kebutuhan pengguna. Berdasarkan studi literatur, sistem ini diharapkan dapat membantu pengguna mendapatkan informasi awal tentang penyakit ISPA.

Kata Kunci: Infeksi Saluran Pernapasan Akut, sistem pakar, website, forward chaining.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Bab I Pendahuluan 

1.1  Latar Belakang Masalah

Kesehatan adalah salah satu aspek vital dalam kehidupan manusia. Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu masalah kesehatan global yang sering terjadi, terutama di negara berkembang. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ISPA adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak-anak di bawah usia lima tahun. ISPA dapat menyerang berbagai bagian dari saluran pernapasan, mulai dari hidung, tenggorokan, hingga paru-paru. Penyakit ini sering kali dianggap remeh, namun jika tidak ditangani dengan tepat, dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius seperti pneumonia, yang berpotensi fatal.

Diagnosis ISPA secara konvensional memerlukan konsultasi langsung dengan tenaga medis profesional. Namun, keterbatasan akses terhadap fasilitas kesehatan, terutama di daerah terpencil, serta tingginya biaya konsultasi, sering menjadi hambatan bagi masyarakat untuk mendapatkan diagnosis awal yang akurat. Selain itu, tenaga medis sering menghadapi tantangan dalam mendiagnosis ISPA karena gejala-gejala yang serupa dengan penyakit lain, yang memerlukan keahlian dan pengalaman yang mendalam. Keterbatasan waktu dan sumber daya di klinik atau rumah sakit juga dapat memperlambat proses diagnosis.

Untuk mengatasi tantangan ini, teknologi dapat dimanfaatkan untuk menyediakan solusi yang lebih cepat dan mudah diakses. Sistem Pakar (Expert System) adalah salah satu cabang dari kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang dirancang untuk meniru kemampuan seorang ahli dalam menyelesaikan masalah di domain tertentu. Dengan mengadopsi pengetahuan medis dari para ahli ISPA, sebuah sistem pakar dapat membantu masyarakat awam untuk melakukan diagnosis awal berdasarkan gejala yang mereka rasakan.

Penelitian ini mengusulkan pengembangan sistem pakar diagnosis ISPA berbasis website yang memanfaatkan metode Forward Chaining. Pemilihan platform website didasarkan pada kemudahan aksesnya; pengguna dapat mengakses sistem ini kapan saja dan di mana saja hanya dengan menggunakan perangkat yang terhubung ke internet, tanpa perlu menginstal aplikasi tambahan. Metode Forward Chaining dipilih karena kemampuannya untuk bekerja dari data (gejala) menuju kesimpulan (diagnosis penyakit), yang sangat sesuai untuk kasus diagnosis medis. Sistem ini diharapkan dapat menjadi alat bantu yang efektif bagi masyarakat untuk

mendapatkan informasi awal yang akurat mengenai kondisi kesehatan mereka, sehingga mereka dapat mengambil langkah penanganan pertama yang tepat sebelum berkonsultasi dengan dokter.

Baca Juga: Minyak Esensial Lemon dan Lavender: Solusi Alami Cegah ISPA dan Kurangi Ketergantungan Antibiotik

1.2  Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana merancang dan membangun sistem pakar yang mampu mendiagnosis penyakit ISPA?
  2. Bagaimana mengimplementasikan metode Forward Chaining untuk memproses gejala- gejala ISPA dalam sistem?
  3. Bagaimana menguji fungsionalitas dan keakuratan sistem pakar diagnosis ISPA yang telah dikembangkan?
  4. Bagaimana sistem ini dapat membantu masyarakat dalam melakukan diagnosis awal ISPA secara mandiri dan cepat?

1.3  Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

  1. Membangun sebuah sistem pakar berbasis website yang dapat mendiagnosis penyakit;
  2. Menerapkan metode Forward Chaining untuk inferensi dalam sistem;
  3. Melakukan pengujian terhadap sistem untuk memastikan fungsinya berjalan dengan baik sesuai dengan rancangan;
  4. Menyediakan alat bantu diagnosis awal ISPA yang mudah diakses oleh masyarakat umum.

Bab II Tinjauan Pustaka

2.1 Konsep Sistem Pakar 

Sistem pakar adalah program komputer yang dirancang untuk meniru proses pengambilan keputusan seorang ahli manusia dalam menyelesaikan masalah yang kompleks. Komponen utama dari sebuah sistem pakar terdiri dari:

  1. Basis Pengetahuan (Knowledge Base): Berisi fakta-fakta dan aturan-aturan (IF-THEN) yang diperoleh dari pakar domain. Dalam konteks ini, basis pengetahuan mencakup data tentang gejala, jenis-jenis ISPA, dan solusi penanganannya.
  2. Mesin Inferensi (Inference Engine): Bagian yang berfungsi sebagai “otak” sistem. Mesin ini menggunakan aturan-aturan dalam basis pengetahuan untuk menarik kesimpulan atau Dalam penelitian ini, mesin inferensi menggunakan metode Forward Chaining.
  3. Antarmuka Pengguna (User Interface): Komponen yang memungkinkan pengguna berinteraksi dengan sistem, memasukkan data (gejala), dan melihat hasil diagnosis.

Baca Juga: Faktor Terkait dengan Kejadian ISPA di Kabupaten Nduga Provinsi Papua

2.2 Metode Forward Chaining

Forward Chaining adalah sebuah strategi inferensi yang memulai proses penalaran dari fakta-fakta yang diketahui dan bergerak maju untuk menarik kesimpulan baru. Proses ini sering disebut juga sebagai data-driven reasoning.

Cara Kerja Forward Chaining:

  1. Sistem menerima fakta awal, yaitu gejala yang diinputkan oleh pengguna;
  2. Mesin inferensi akan memindai semua aturan (IF-THEN) dalam basis pengetahuan untuk mencari aturan yang kondisi IF-nya cocok dengan fakta yang ada;
  3. Jika ditemukan kecocokan, aturan tersebut “dieksekusi” atau “dinyalakan.” Bagian THEN dari aturan tersebut kemudian akan menambahkan fakta baru ke dalam memori kerja sistem;
  4. Proses ini berlanjut secara iteratif, di mana fakta-fakta baru yang dihasilkan dari satu aturan dapat memicu aturan lain, hingga tidak ada lagi aturan yang bisa dieksekusi atau hingga tujuan tercapai (diagnosis penyakit ditemukan).

Kelebihan dan Kekurangan Forward Chaining:

  • Kelebihan: Metode ini sangat efisien ketika jumlah fakta awal sedikit namun potensi kesimpulan sangat banyak. Dalam kasus diagnosis ISPA, pengguna hanya perlu memasukkan beberapa gejala, dan sistem akan langsung mencari diagnosis yang paling
  • Kekurangan: Metode ini bisa menjadi tidak efisien jika basis pengetahuan sangat besar, karena mesin inferensi harus memeriksa setiap aturan. Namun, untuk domain yang spesifik seperti diagnosis ISPA, metode ini sangat efektif.

2.3  Studi Terdahulu

Beberapa penelitian sebelumnya telah menunjukkan penerapan sistem pakar untuk diagnosis penyakit. Misalnya, penelitian oleh Vincent Anggia Dasa Putri (2025) mengembangkan sistem pakar untuk mendiagnosis penyakit tonsilitis. Penelitian lain oleh Muhammad Taufiq Hidayatullah dan Teguh Nurhadi Suharsono (2023) menggunakan metode Dempster Shafer untuk diagnosis ISPA. Studi-studi ini memberikan landasan bahwa sistem pakar adalah pendekatan yang valid dan efektif untuk masalah diagnosis medis.

Baca Juga: Tantangan Kesehatan: ISPA di Jakarta Diperparah oleh Polusi Udara

Bab III Metodologi Penelitian

Metodologi penelitian ini dirancang untuk memastikan bahwa sistem yang dibangun memiliki dasar teori yang kuat dan validasi data yang akurat. Tahapan yang dilakukan meliputi:

3.1  Observasi

Tahap ini dilakukan dengan pengamatan langsung di RS Sari Asih Ciputat. Tujuannya adalah untuk memahami secara detail proses diagnosis ISPA yang dilakukan oleh tenaga medis, serta gejala-gejala yang paling sering ditemui. Pengamatan ini membantu dalam mengumpulkan data primer yang realistis dan relevan untuk membangun basis pengetahuan.

3.2  Studi Literatur

Pengumpulan data sekunder dilakukan melalui studi literatur dari berbagai sumber ilmiah, seperti jurnal, buku, dan artikel yang relevan. Literatur yang dikaji mencakup:

  • Teori dasar ISPA, jenis-jenisnya, gejala, dan cara
  • Konsep kecerdasan buatan, khususnya sistem
  • Prinsip kerja metode Forward
  • Bahasa pemrograman PHP dan database
  • Metodologi pengujian perangkat lunak, terutama Black Box Testing. Data dari studi literatur ini menjadi landasan teoretis yang kuat untuk perancangan dan implementasi

3.3  Wawancara

Wawancara mendalam dilakukan dengan seorang dokter spesialis THT. Tujuan dari wawancara ini adalah untuk memvalidasi dan memperkaya data yang telah dikumpulkan dari observasi dan studi literatur. Wawancara ini mengkonfirmasi bahwa diagnosis ISPA secara manual memang membutuhkan waktu dan keahlian, serta terkadang bisa tidak akurat. Informasi dari wawancara ini digunakan untuk menyusun aturan-aturan IF-THEN yang presisi dalam basis pengetahuan, memastikan bahwa logika diagnosis dalam sistem sesuai dengan standar medis.

Bab IV Implementasi dan Pengujian Sistem

4.1  Perancangan Sistem

Sistem pakar ini dirancang sebagai aplikasi website dengan arsitektur tiga tingkat:

  1. Antarmuka Pengguna (Client-Side): Dibangun menggunakan HTML, CSS, dan JavaScript untuk memberikan pengalaman pengguna yang interaktif.
  2. Logika Aplikasi (Server-Side): Ditulis dalam bahasa pemrograman PHP, bertanggung jawab untuk memproses permintaan dari pengguna, menjalankan mesin inferensi Forward Chaining, dan berinteraksi dengan database.
  3. Basis Data (Database): Menggunakan MySQL untuk menyimpan data-data penting, seperti:
    • Tabel Pengguna: Menyimpan informasi pendaftaran;
    • Tabel Gejala: Menyimpan daftar gejala-gejala;
    • Tabel Penyakit: Menyimpan daftar jenis-jenis;
    • Tabel Relasi: Menghubungkan gejala-gejala dengan penyakit, membentuk aturan IF-THEN yang menjadi inti dari basis pengetahuan.

Tampilan antarmuka sistem dirancang sederhana dan intuitif, meliputi:

  • Halaman Utama: Informasi umum tentang ISPA dan sistem;
  • Halaman Login/Register: Untuk pendaftaran dan otentikasi;
  • Halaman Diagnosa: Pengguna memilih gejala-gejala yang mereka alami dari daftar yang tersedia;
  • Halaman Hasil Diagnosa: Menampilkan jenis penyakit ISPA yang paling mungkin, beserta penjelasan singkat dan rekomendasi penanganan awal.

Baca Juga: 7 Cara Menghindari Infeksi Saluran Pernapasan bagi Mahasiswa

4.2  Proses Inferensi Forward Chaining

Setelah pengguna memilih gejala dan menekan tombol “Diagnosa,” sistem akan melakukan langkah-langkah berikut:

  1. Gejala yang dipilih oleh pengguna dijadikan sebagai fakta awal;
  2. Sistem mencari aturan dalam basis pengetahuan (IF-THEN) yang kondisi IF-nya cocok dengan gejala yang dipilih;
  3. Setiap kali ditemukan kecocokan, sistem akan “menyalakan” aturan tersebut dan menambahkan penyakit yang terasosiasi (THEN) ke dalam daftar potensi diagnosis;
  4. Proses ini berlanjut sampai semua gejala pengguna telah diperiksa dan semua aturan yang relevan telah dieksekusi;
  5. Hasil akhir adalah daftar penyakit ISPA yang paling mungkin, diurutkan berdasarkan jumlah gejala yang cocok atau bobot tertentu (jika ada).

4.3  Pengujian Sistem

Pengujian sistem dilakukan dengan metode Black Box Testing. Fokus pengujian ini adalah memastikan bahwa semua fitur sistem berfungsi sesuai dengan yang diharapkan tanpa melihat kode program di dalamnya. Aspek-aspek yang diuji meliputi:

  • Fungsionalitas Login: Pengujian apakah pengguna dapat masuk dengan kredensial yang benar dan tidak dapat masuk dengan kredensial yang salah;
  • Pendaftaran Pengguna: Pengujian apakah proses pendaftaran pengguna baru berjalan dengan sukses dan data tersimpan dengan benar di database;
  • Sistem Diagnosa: Pengujian inti di mana berbagai kombinasi gejala diinputkan untuk memastikan sistem memberikan diagnosis yang akurat dan relevan sesuai dengan basis pengetahuan;
  • Tampilan Hasil: Pengujian apakah hasil diagnosis dan solusi yang ditampilkan sesuai dengan data yang ada di database.

Hasil pengujian Black Box menunjukkan bahwa semua fitur berfungsi dengan baik. Sistem mampu memproses input gejala dari pengguna dan memberikan hasil diagnosis yang tepat berdasarkan aturan-aturan Forward Chaining.

4.4  Validasi Sistem Melalui Kuesioner

Untuk mengukur tingkat keberterimaan dan kepuasan pengguna terhadap sistem, sebuah kuesioner disebarkan kepada 15 responden. Kuesioner ini mencakup pertanyaan mengenai kemudahan penggunaan, kejelasan informasi, dan manfaat sistem. Hasil perhitungan kuesioner menunjukkan tingkat persentase sebesar 85,06%, yang dikategorikan sebagai “Sangat Baik.”

Angka ini mengindikasikan bahwa sistem ini tidak hanya fungsional tetapi juga diterima dengan baik oleh pengguna.

Baca Juga: Mengenal Penyakit Menular dan Cara Penanganannya Menurut Dokter

Bab V Kesimpulan dan Saran

5.1  Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pengujian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:

  1. Sistem pakar diagnosis ISPA berbasis website dengan metode Forward Chaining telah berhasil dibangun dan diimplementasikan.
  2. Metode Forward Chaining terbukti efektif dalam memproses gejala yang diinputkan pengguna untuk menghasilkan diagnosis awal penyakit ISPA.
  3. Hasil pengujian Black Box menunjukkan bahwa sistem berfungsi dengan baik, dan hasil kuesioner menunjukkan tingkat kepuasan pengguna yang tinggi (85,06%), yang mengindikasikan sistem ini sangat bermanfaat.
  4. Sistem ini dapat menjadi alat bantu yang efektif bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi dan penanganan awal terhadap penyakit ISPA.

5.2  Saran

Untuk pengembangan sistem lebih lanjut di masa depan, beberapa saran berikut dapat dipertimbangkan:

  1. Penerapan Metode Lain: Disarankan untuk mengimplementasikan metode lain seperti Certainty Factor atau Dempster Shafer untuk membandingkan tingkat akurasi dan efisiensi diagnosis.
  2. Ekspansi Basis Pengetahuan: Basis pengetahuan dapat diperluas dengan menambahkan lebih banyak jenis penyakit, gejala, dan solusi, serta mempertimbangkan faktor-faktor risiko lain seperti usia dan riwayat kesehatan.
  3. Integrasi Fitur Tambahan: Sistem dapat ditingkatkan dengan fitur-fitur seperti konsultasi online dengan dokter, forum diskusi, atau database rekam medis
  4. Pengembangan Platform Mobile: Mengembangkan sistem ini dalam bentuk aplikasi mobile (Android/iOS) dapat meningkatkan aksesibilitas bagi lebih banyak pengguna.

Penulis:
1. Sholahuddin
2. Shelvi Eka Tassia
Mahasiswa Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Pamulang

 

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

Daftar Pustaka

  • Abdurahman, A., et al. (2020). Sistem Pakar Diagnosa ISPA Berbasis Web. Jurnal Teknologi Informasi.
  • Endah Tri Esti Handayani. (2020). Sistem Pakar Diagnosa Penyakit ISPA Berbasis Web. Jurnal Teknologi dan Sistem Informasi.
  • Emi (2018). Rancang Bangun Aplikasi Sistem Pakar Diagnosa Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dengan Metode Forward Chaining. Jurnal Sistem Pakar.
  • Gama, Putri, & (2022). Jurnal Sistem Informasi.
  • Gusmita, Eirlangga, & (2023). Jurnal Teknologi Informasi.
  • Muhammad Taufiq Hidayatullah, Teguh Nurhadi (2023). Sistem Pakar Diagnosis Penyakit ISPA Menggunakan Metode Dempster Shafer. Jurnal Informatika.
  • Nisaul Fadila, Rinabi (2021). Penerapan Rule-Based Expert System Berbasis Android untuk Diagnosa ISPA. Jurnal Sistem Pakar.
  • Panggabean & (2022). Jurnal Sistem Informasi.
  • Rachman & (2021). Jurnal Ilmu Komputer dan Sistem Informasi.
  • Ramadhani, Fitri, & Handayani. (2020). Diagnosa Penyakit ISPA Menggunakan Forward Chaining. Jurnal Sistem Informasi.
  • Vincent, Anggia Dasa Putri. (2025). Perancangan Sistem Pakar Diagnosa Penyakit Tonsilitis Menggunakan Metode Forward Chaining Berbasis Web. Jurnal Sistem
  • Widya Lelisa Army, Yuhandri. (2018). SISTEM PAKAR DIAGNOSIS PENYAKIT MENULAR DENGAN METODE FORWARS CHAINING DAN CERTAINTY FACTOR. Jurnal Sistem Informasi.
  • WHO (2024). Penyakit Influenza. Laporan WHO.
  • Zinatul (2020). COVID-19 dan ISPA. Jurnal Kesehatan Global.

 

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses