Sterilisasi Anjing: Jaga Kesehatan Organ Reproduksi, Bukan Sekadar Kontrol Populasi

Sterilisasi Anjing
Ilustrasi Anjing Peliharaan (Sumber: MMI)

Bali, pulau dewata yang kerap menjadi destinasi wisata para turis asing juga menjadi pulau dengan populasi anjing tertinggi di Indonesia. Bahkan, pada tahun 2019 Federation Cynologique Internationale (FDI) telah menetapkan anjing Kintamani secara resmi sebagai ras anjing asli dari Indonesia.

Anjing Kintamani sendiri berasal dari pegunungan yang ada di Kintamani, Bali yang keberadaannya sudah ada sejak lebih dari 3000 tahun yang lalu. Lambat laun, berbagai anjing peliharaan dan anjing liar dengan ras yang berbeda-beda sangat mudah ditemui di sepanjang pesisir pantai, jalan raya, hingga pusat perbelanjaan yang ada di Bali.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Namun, sangat disayangkan masih banyak anjing yang tidak terakomodasi dan berkembang biak secara bebas hingga mulai muncul banyak penyakit yang dapat ditularkan kepada manusia. Oleh karena itu, upaya pencegahan harus segera dilakukan guna wabah penyakit tidak menyebar lebih luas dan dapat terkendali.

Organisasi seperti PDHI Bali dan Bali Pet Crusaders telah berkontribusi dalam melakukan upaya pencegahan penyakit menular dari anjing dengan mengadakan sterilisasi massal untuk anjing liar dan anjing peliharaan masyarakat kurang mampu. Selain itu, pemerintah juga turut berpartisipasi rutin menggelar sterilisasi gratis, seperti di Badung yang mendapat respon positif dari masyarakat dengan kuota 100 ekor, terisi cepat pada November 2025.

Banyak orang belum menyadari bahwa tindakan sterilisasi tidak hanya untuk menekan populasi yang membludak. Faktanya, banyak manfaat yang diperoleh setelah anjing disterilisasi seperti peningkatan umur panjang hingga 50% melalui pencegahan infeksi rahim dan prostat.

Bahkan, pada saat anjing mengalami beberapa masalah penyakit yang berhubungan dengan organ reproduksi, tidak sedikit para dokter hewan menyarankan tindakan sterilisasi. Selain itu, setelah melewati sterilisasi anjing akan mengalami perubahan perilaku dari yang agresif, keluyuran, hingga kebiasaan menggonggong yang berlebihan akan berganti menjadi perilaku yang lebih tenang hingga memiliki kesehatan yang optimal.

 

Sterilisasi Sesuai Jenis Kelamin Hewan

Sterilisasi merupakan tindakan medis yang mengangkat organ reproduksi betina maupun jantan untuk mencegah hewan tersebut berkembang biak. Pada anjing betina akan dilakukan pengangkatan indung telur atau rahim, disebut sebagai Ovariohysterectomy.

Sedangkan pada hewan jantan akan dilakukan pengangkatan testis atau kastrasi, sehingga tidak ada produksi spermatozoa, atau dengan cara vasektomi, yaitu dengan cara memotong atau mengikat vas deferens yang merupakan saluran spermatozoa dari testis ke uretra sehingga spermatozoa tidak bisa keluar pada saat terjadi kopulasi (kawin).

Pada anjing yang sehat, kastrasi umumnya dapat dilakukan di umur 8-9 bulan. Bahkan dapat dilakukan saat anjing masih dalam fase puppy, yakni di umur 8 minggu. Namun dengan catatan pada anjing betina, kastrasi sebaiknya tidak dilakukan saat anjing  berada di fase Heat Cycle atau fase birahi.

Baca juga: Steril pada Kucing Bukan Berarti Tidak Sayang

Semua tersebut kembali lagi pada kondisi si anjing seperti ras, riwayat kesehatan dan lainnya. Meskipun kastrasi tergolong aman, pengkastarisan anjing senior, anjing yang obesitas, dan masalah kesehatan lainnya bisa sedikit beresiko. Untuk itu, diperlukan persiapan baik dengan menjaga kesehatan anjing itu sendiri dan berkonsultasi dengan dokter hewan.

 

Resiko Penyakit pada Organ Reproduksi Anjing Jantan

Setiap anjing jantan memiliki kelenjar prostat berukuran kecil yang terletak di bawah kandung kemih, berfungsi memproduksi cairan yang mengandung nutrisi untuk melindungi sperma saat dikeluarkan ke uretra. Anjing yang belum disterilisasi atau kastrasi memiliki resiko lebih tinggi terserang salah satu penyakit pada organ reproduksi kelenjar prostat, yaitu Hiperplasia Prostat Jinak atau Benign Prostatic Hyperplasia (BPH).

Penyakit Hiperplasia Prostat Jinak dapat timbul karena adanya perubahan kadar hormon seks (testosteron) selama bertambahnya usia, biasanya muncul pada anjing yang memiliki usia tua dan belum disterilisasi. Kelenjar prostat dapat bertambah ukuran dan menimbulkan kista kecil yang menyebabkan kondisi kaku dan sakit pada bagian panggul, hingga gangguan saat buang air besar maupun air kecil.

Tindakan sterilisasi dapat menghilangkan produksi testosteron yang membuat kelenjar prostat menyusut kembali, sehingga gangguan pada anjing dapat membaik dalam beberapa minggu. Pemeriksaan tahunan juga perlu dilakukan ketika anjing memasuki umur enam tahun untuk melihat perkembangan prostat pada anjing jantan agar dapat segera dilakukan pengobatan jika muncul gejala penyakit prostat seperti Hiperplasia Prostat Jinak.

 

Resiko Infeksi pada Organ Reproduksi Anjing Betina

Sterilisasi tak hanya selalu mengarah pada anjing jantan saja, karena pada anjing betina pun hal ini juga sangat diperlukan. Anjing betina yang belum disterilisasi memiliki resiko terserang penyakit infeksi rahim seperti pyometra, dimana rahim mengalami infeksi salah satunya disebabkan oleh bakteri Escherichia coli sehingga menyebabkan adanya produksi cairan berlebih di uterus.

Bakteri yang ada di dalam uterus tersebut berkembangbiak dan bertambah banyak sehingga mengakibatkan infeksi pada pada uterus dan terjadinya pyometra. Salah satu contoh nyata adalah kasus yang terjadi pada anjing ras kintamani di Bali.

Anjing betina bernama Sin-sing yang berumur 4 tahun dengan berat 13,74 kg milik ibu Chintya yang berdomisili di Badung, Bali mengalami masalah pada alat kelaminnya yang mengeluarkan cairan kental berwarna kemerahan sejak 8 bulan yang lalu.

Setelah dilakukan observasi secara menyeluruh, solusi terbaik yang disarankan adalah operasi ovariohysterectomy, yaitu pengangkatan rahim. Operasi pengangkatan rahim menjadi solusi terbaik karena mengingat akan kelebihannya yaitu agar tidak terjadi pyometra secara berulang.

Sebenarnya, hal ini dapat dicegah jika anjing telah disterilisasi sebelumnya. Dengan melakukan sterilisasi dini, rasa sakit akibat infeksi dapat dihindari sehingga anjing dapat hidup dengan lebih tenang.

 

Aksi yang Perlu dilakukan sebagai Pemilik Anjing

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan sebagai pemilik anjing jika ingin melakukan sterilisasi.

1. Konsultasikan pada Dokter Hewan

Setiap anjing memiliki kondisi kesehatan yang berbeda beda, ada baiknya melakukan konsultasi aktif atau konsultasi secara rutin dengan dokter hewan. Jika anjing memungkinkan untuk dilakukan sterilisasi, maka harus mengikuti arahan sebelum dan sesudah operasi yang dianjurkan oleh dokter hewan.

2. Persiapkan Tempat yang Bersih, Aman, dan Nyaman

Setelah sterilisasi, anjing bisa beresiko tinggi terkena infeksi pasca operasi. Pastikan anjing merasa aman dan tidak stress selama masa penyembuhan dan rawat luka operasi agar tidak infeksi

3. Pastikan Asupan Cairan dan Makanannya Cukup

Makanan dan cairan yang cukup membantu proses penyembuhan lebih cepat.

4. Pantau Gerak Gerik Anjing selama Masa Penyembuhan

Perhatikan pola makan dan perilaku anjing. Jika terjadi hal seperti penurunan nafsu makan atau lemas berkepanjangan, segera konsultasikan dengan dokter hewan.

Memelihara hewan merupakan tanggung jawab yang besar. Memastikan mereka dapat hidup sehat dan bahagia merupakan bentuk rasa cinta kita kepada mereka. Untuk itu, kita harus mengetahui terlebih dahulu mengenai cara merawat dan memelihara hewan, seperti melakukan sterilisasi sebagai salah satu bentuk upaya mencegah anjing terserang penyakit dan meningkatkan kualitas hidup mereka.

 

Penulis

  1. Allifa Rahmania Agusta
  2. Atika Arifia Rahma Safira
  3. Selvi Rievianti Laura Butar-Butar

Mahasiswa Prodi Kedokteran Hewan, Universitas Udayana
Dosen Pengampu: Eirenne Pridari Sinsya Dewi, S.S., M.Ed.

 

Referensi

Bali Pet Crusaders. (2025). Kenapa Sterilisasi?

(https://www.balipetcrusaders.org/id/kenapa-sterilisasi.​)

Dinas Pertanian Denpasar. (2025). Tahun 2025, Distan Denpasar targetkan vaksinasi rabies sasar 91,13 persen populasi HPR.

(https://www.denpasarkota.go.id/berita/tahun-2025-distan-denpasar-targetkan-vaksinasi-rabies-sasar-9113-persen-populasi-hpr.​)

NusaBali. (2025, Oktober 12). PDHI Bali Steril Puluhan HPR di Gianyar.

(https://www.nusabali.com/berita/178433/pdhi-bali-steril-puluhan-hpr-di-gianyar.)

ASPCA. Spay/Neuter Your Pet (https://www.aspca.org/pet-care/general-pet-care/spayneuter-your-pet)

Dr. Jerry Klein (2024) . What Is the Best Age to Neuter or Spay Your Dog?.  American Kennel Club (https://www.akc.org/expert-advice/vets-corner/neutering-spaying-right-age-dog/

https://albertaanimalhealthsource.ca/content/when-spay-or-neuter-large-dog-breeds#:~:text=An%20age%20of%20six%20to,the%20risk%20of%20excessive%20bleeding)

Putri, N. A., & Sujaya, I. G. N. (2023). Treatment of chronic cystic endometritis with pyometra in 4 Kintamani-Bali dogs. Jurnal Ilmiah Kedokteran Hewan, Volume(Issue), halaman. Diakses dari

(https://ejournal1.unud.ac.id/index.php/jikh/article/download/800/591/3288)

Sharpei-online.com. (n.d.). Enlarged prostate in dogs: Treatment of benign prostatic hyperplasia.

Sharpei-online.com. (n.d.). Enlarged prostate in dogs: Treatment of benign prostatic hyperplasia.

(https://id.sharpei-online.com/enlarged-prostate-in-dogs-treatment-of-benign-prostatic-hyperplasia/)

Halifax Veterinary Centre. (n.d.). Prostate disease in dogs.

(https://halifaxvet.co.nz/prostate-disease-in-dogs/)

 

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses