Di tengah maraknya promosi produk berlebihan, Gen Z memiliki gerakan baru untuk mengurangi konsumerisme yaitu de-influencing.
Jika sebelumnya influencer menggebu-gebu ‘meracuni’ audiens agar produknya dibeli, de-influencing justru mengajak audiens untuk selektif dalam membeli suatu barang.
Mengapa De-influencing Muncul?
Sebagai generasi yang lahir dan besar di tengah perkembangan internet, Gen Z dikenal akan sadarnya terhadap isu-isu sosial, keuangan, dan lingkungan.
Perkembangan digital membuat jual beli dan transaksi bisa dilakukan dengan mudah melalui ponsel.
Cukup dengan beberapa klik, barang yang diinginkan bisa langsung dipesan dan dikirim ke rumah dalam hitungan hari, bahkan jam.
Namun kemudahan ini membuat batas antara kebutuhan dan keinginan hilang. Gen Z pun kerap terjebak dalam pola konsumsi impulsif—membeli sesuatu bukan karena dibutuhkan, melainkan karena sedang viral, trendy, atau dipromosikan oleh influencer favorit mereka.
Gen Z mulai mempertanyakan dampak dari setiap pilihan konsumsi—bukan hanya terhadap diri sendiri, tapi juga terhadap planet dan masyarakat luas.
Baca Juga: Pengaruh Penggunaan E-Commerce terhadap Pola Konsumsi Gen Z di Indonesia
Bagi mereka, menjadi konsumen yang cerdas dan kritis jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti tren.
Gen Z juga sangat menghargai keaslian (authenticity). Mereka mulai jenuh dengan konten promosi yang terasa dibuat-buat atau tidak transparan.
De-influencing menjadi bentuk ekspresi yang lebih jujur dan relatable—bukan hanya mengulas produk secara realistis, tapi juga menawarkan sudut pandang alternatif yang jarang disuarakan.
Bagaimana De-influencing Bekerja di Media Sosial
Dari sinilah lahir gerakan de-influencing, tren yang mendorong orang untuk tidak membeli sesuatu walaupun sedang ramai dibicarakan.
Gerakan ini mulai ramai di TikTok sekitar tahun 2023, lalu pelan-pelan menyebar ke platform lain.
Salah satu bentuk kontennya adalah ketika Gen Z mengunggah foto atau video tentang barang yang mereka inginkan, lalu membiarkan penonton memberikan ulasan dan saran apakah produk tersebut layak dibeli atau tidak.
Ini membuka ruang diskusi yang jujur dan terbuka soal konsumsi.
Baca Juga: Efek Diderot dan Perangkap Konsumsi: Mengapa Satu Pembelian Mengarah ke Lainnya?
Dampak Positif De-influencing
Seiring berjalannya waktu, dampak positif dari de-influencing pun muncul. Banyak Gen Z menjadi lebih hemat, selektif, dan mempertimbangkan nilai dalam setiap pembelian.
Gerakan ini juga mengurangi tekanan dari media sosial untuk membeli barang viral, sekaligus membantu mengurangi limbah dan konsumsi berlebihan.
Pada akhirnya, de-influencing membuktikan bahwa media sosial tidak selalu tentang pamer dan glamor, tapi juga bisa menjadi tempat menyuarakan pemikiran yang lebih kritis.
Ini menandai pergeseran penting dalam budaya konsumsi digital dari sekadar ikut tren, menjadi konsumen yang berani memilih dan menolak.
Penulis: Kinar Rahma Tabitha
Mahasiswa Prodi Komunikasi, LSPR Communication and Business Institute
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












