PTM, singkatan dari penyakit tidak menular merupakan bentuk penyakit degeneratif, yakni kondisi yang ditandai dengan kerusakan sel, jaringan, dan organ yang bersifat progresif dan tidak dapat disembuhkan (Synlab, 2024), akibat tingkat morbiditas (serangan penyakit) dan mortalitas (kematian) tinggi dalam lingkup global.
Menurut WHO (2025) penyakit tidak menular atau noncommunicable diseases, disebut juga sebagai penyakit kronis yang cenderung berlangsung lama dan merupakan hasil dari kombinasi faktor genetik, fisiologis, lingkungan, dan perilaku penderitanya.
Berdasarkan data dari BPS dan WHO, penyakit tidak menular menjadi penyebab utama dalam kasus kematian di seluruh Indonesia bahkan dunia. Pada periode januari 2017 hingga 2020/2022, ada total 7,03 juta kasus dari 8,07 juta kasus, sekitar 87% kematian disebabkan oleh PTM.
Sementara sisanya didominasi oleh penyakit menular, dan faktor lain. Sementara dalam ranah global, PTM menyebabkan 41 juta kematian (74% kematian total), dan mayoritas menyerang warga negara dengan pendapatan menengah kebawah.
Data Kementerian Kesehatan RI mencatat kenaikan tajam kasus kematian akibat PTM, dari yang awalnya 37% pada 1990 menjadi 71% pada 2014, dengan angka tertinggi pada kasus stroke (21,1%) dan jantung koroner (12,9%).
Dari data total kasus PTM tersebut, faktor risiko yang muncul meliputi kurang aktivitas fisik (26,1%), kurang konsumsi sayur dan buah (93,6%), kadar gula darah tinggi (53,1%), kelebihan garam (Natrium) (26,2%), obesitas (55,6%), perokok aktif (36,3%), dan konsumsi alkohol dalam kurun waktu satu tahun (4,4%).
Menurut data dari WHO, penyakit tidak menular di Indonesia mampu menjadi silent killer yang jika terus dibiarkan akan berdampak pada kondisi kesehatan (fisik dan mental) penderitanya, bahkan menyebabkan kematian.
Kementerian Kesehatan bahkan turut menyuarakan kegentingan kasus PTM ini kemudian meluncurkan berbagai program kerja. Hal ini dikarenakan dari total kasus kematian di Indonesia, jumlah kematian akibat PTM mencapai 75% atau setara dengan kurang lebih 43 juta kasus kematian.
Dalam survei dari SKI pada tahun 2023, 1 dari 3 orang dewasa menderita hipertensi di mana hanya sebagian kecil saja yang terkendali. Begitupun dengan kasus diabetes yang disebabkan konsumsi makanan/minuman manis tidak terkendali, yaitu sekitar 47,5% populasi. Bahkan berdasarkan riset dari pakar kesehatan UGM, kasus kematian akibat PTM meningkat selama 2024 hingga 2025 ini.
Dari sekian banyak penyakit ini, penyumbang terbesar berasal dari serangan jantung dan stroke, diabetes mellitus, serta stunting dengan kasus kematian 132 kematian per 100 ribu penduduk. Bahkan di wilayah tertentu, hipertensi juga menyumbang kasus terbanyak penyebab PTM.
Tiap tahunnya, kasus PTM yang menyerang penduduk Indonesia berusaha ditekan pemerintah. Ada banyak upaya yang dilakukan sebagai bentuk realisasi program kerja yang telah ditetapkan misalnya GERMAS, PROLANIS, Posyandu ILP, Program Siklus Hidup, dan banyak lagi.
Namun, di sini GERMAS akan menjadi fokus pembahasan mengingat diantara semua program kesehatan yang ada, GERMAS menjadi program dasar yang bukan hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan, melainkan juga ada keterlibatan aktif dari pemerintah dan masyarakat itu sendiri.
Kehadiran program-program tersebut sebagai sarana pengendali penyakit tidak menular pun dianggap efektif dengan bukti data penderita PTM by name pada Desa S yang dirangkum per tahun, di mana tiap tahunnya angka penderita dapat ditekan bahkan mengalami penurunan hingga data terakhirnya di bulan S eptember 2025.
| 2022 | 2023 | ||||
| Hipertensi | Diabetes Mellitus | Hipertensi | Diabetes Mellitus | ||
| Januari | 87 | 12 | Januari | 65 | 23 |
| Februari | 30 | 29 | Februari | 38 | 21 |
| Maret | 90 | 29 | Maret | 61 | 26 |
| April | 62 | 19 | April | 41 | 17 |
| Mei | 49 | 13 | Mei | 46 | 27 |
| Juni | 47 | 15 | Juni | 51 | 26 |
| Juli | 47 | 36 | Juli | 64 | 26 |
| Agustus | 68 | 27 | Agustus | 59 | 31 |
| September | 59 | 25 | September | 60 | 26 |
| Oktober | 22 | 21 | Oktober | 55 | 40 |
| November | 56 | 28 | November | 56 | 28 |
| Desember | 47 | 15 | Desember | 41 | 19 |
| Total | 664 | 269 | Total | 637 | 310 |
Tabel rekap penderita Hipertensi dan Diabetes Mellitus tahun 2022 & 2023
| 2024 | 2025 | ||||
| Hipertensi | Diabetes Mellitus | Diabetes Mellitus | |||
| Januari | 37 | 3 | Januari | 54 | 3 |
| Februari | 51 | 4 | Februari | 51 | 1 |
| Maret | 47 | 1 | Maret | 51 | 3 |
| April | 55 | 1 | April | 55 | 4 |
| Mei | 42 | 1 | Mei | 42 | 3 |
| Juni | 107 | 3 | Juni | 107 | 3 |
| Juli | 49 | 2 | Juli | 76 | 2 |
| Agustus | 49 | 2 | Agustus | 49 | 2 |
| September | 76 | 2 | September | 76 | 2 |
| Oktober | 76 | 2 | Oktober | – | – |
| November | 19 | 8 | November | – | – |
| Desember | 24 | 2 | Desember | – | – |
| Total | 632 | 31 | Total | 561 | 23 |
Tabel rekap penderita Hipertensi dan Diabetes Mellitus tahun 2024 & 2025
| Hipertensi | Diabetes Mellitus | |
| 2022 | 664 | 269 |
| 2023 | 637 | 310 |
| 2024 | 632 | 31 |
| 2025 | 561 | 23 |
Tabel rekap penderita Hipertensi dan Diabetes Mellitus per tahun
Dari data bulanan selama 4 tahun di Desa S, angka penderita PTM dengan kategori hipertensi dan diabetes mellitus dijadikan sebagai sampel pengukuran. Dalam data, jumlah penderita hipertensi ditekan dengan kenaikan dan penurunan angka kasus berkisar di bawah 120 kasus, membuktikan bahwa program ini mampu menjaga agar kasus tidak mengalami kenaikan angka.
Sementara pada kasus diabetes mellitus sendiri berhasil turun setelah selama 2 tahun (2022-2023) memiliki kasus diabetes mellitus tinggi.
Akhirnya pada 15 November 2016, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan meluncurkan program bernama GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) yang merupakan Solusi nasional untuk mengatasi penyakit menular dan tidak menular melalui upaya peningkatan kesadaran masyarakat (Kemenkes, 2022).
Peraturan perundang-udangan juga telah ditetapkan sebagai dasar peluncuran program ini yang kemudian tertera dalam instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat yang diinstruksikan untuk mempercepat dan mensinergikan tindakan dari upaya propotif dan preventif hidup sehat guna meningkatkan produktivitas penduduk dan menurunkan beban pembiayaan pelayanan kesehatan akibat penyakit.
Fokus utama dari kegiatan GERMAS ini melibatkan seluruh komponen bangsa dengan poin utama kegiatan yang disebut perilaku CERDIK:
- Cek kesehatan secara rutin
- Enyahkan asap rokok
- Rajin aktivitas fisik
- Diet sehat kalori seimbang
- Istirahat cukup
- Kelola stress
Keberadaan GERMAS sebagai program nasional ini tentunya bukan semata-mata tanpa perencanaan. GERMAS sebagai solusi terbilang berhasil menekan angka kasus PTM di Indonesia.
Tingkat efektivitasnya terbilang baik dengan pendekatan utamanya adalah pemberdayaan dan perubahan perilaku masyarakat jangka panjang melalui tenaga kesehatan dan petugas medis setempat di penjuru Indonesia, seperti dengan bidan desa, petugas kesling dan kesmas, ahli gizi, dokter, dan ners.
Secara dampak positif, pelaksanaan GERMAS konsisten menurunkan angka PTM. Meskipun belum secara keseluruhan mampu menurun, tetapi ini justru mejadi langkah awal untuk membawa Indonesia ke kehidupan masyarakat yang lebih sehat dan sejahtera.
Efektivitas program ini juga tentunya tidak lepas dari Tingkat kesadaran masyarakat akan pentingnya kesadaran kesehatan. Peran besar tidak dapat dilimpahkan pada satu pihak saja karena keberhasilan program bergantung pada partisipasi semua pihak.
Pemerintah sebagai pihak berwenang harus tegas dan bijak dalam setiap penerbitan keputusan, tenaga kesehatan berperan pada tindakan lapangan untuk memastikan program berjalan lancar sesuai arahan dari pusat dengan pembagian tugas sesuai profesi yang dijalani, serta masyarakat itu sendiri sebagai objek pelaksanaan program yang harus menumbuhkan kesadaran diri.

Penulis: Reynata Larasati Altafida Wibowo
Mahasiswa Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga
Dosen Pengampu: Tri Nurhariyati, S. Si, M. Kes.
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













