Banjir yang kerap melanda berbagai wilayah di Sumatera seharusnya tidak lagi dianggap sebagai peristiwa musiman yang wajar. Sebagai mahasiswa, saya melihat fenomena banjir ini bukan hanya dari sisi bencana alam, tetapi juga sebagai persoalan pengelolaan lingkungan dan pembangunan yang belum berjalan seimbang.
Kenyataannya, bencana ini terus berulang dengan dampak yang semakin luas dan merugikan masyarakat. Kondisi tersebut menjadi alarm keras bahwa ada masalah serius dalam cara manusia memperlakukan lingkungan, khususnya di Pulau Sumatera.
Menurut saya, banjir di Sumatera tidak semata-mata disebabkan oleh faktor alam seperti curah hujan yang tinggi. Sebagai bagian dari generasi muda yang akan menghadapi dampak jangka panjang dari krisis lingkungan, persoalan ini patut menjadi perhatian serius.
Faktor utama justru berasal dari aktivitas manusia yang kurang bertanggung jawab. Pembukaan hutan secara besar-besaran untuk perkebunan, pertambangan, dan pemukiman telah menghilangkan fungsi hutan sebagai daerah resapan air. Akibatnya, ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, air tidak dapat diserap tanah dan akhirnya menggenangi pemukiman warga.
Selain itu, rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan turut memperparah kondisi banjir. Sungai yang seharusnya menjadi jalur alami aliran air justru berubah menjadi tempat pembuangan sampah. Pendangkalan sungai akibat sedimentasi dan limbah rumah tangga membuat kapasitas sungai semakin berkurang, sehingga mudah meluap saat hujan deras.
Baca juga: Sumatera Darurat: Perspektif Mahasiswa atas Banjir Bandang dan Longsor yang Mengguncang Indonesia
Pemerintah memang telah melakukan berbagai upaya penanggulangan banjir, seperti pembangunan tanggul dan normalisasi sungai. Namun, langkah tersebut sering kali bersifat jangka pendek dan belum menyentuh akar permasalahan. Tanpa kebijakan tegas dalam pengelolaan lingkungan dan penataan ruang, banjir akan terus menjadi ancaman tahunan bagi masyarakat Sumatera.
Oleh karena itu, diperlukan perubahan sikap dari semua pihak. Pemerintah harus lebih tegas dalam menegakkan hukum terhadap perusakan lingkungan, sementara masyarakat perlu meningkatkan kepedulian terhadap kebersihan dan kelestarian alam. Banjir di Sumatera bukan hanya tanggung jawab satu pihak, melainkan masalah bersama yang harus diselesaikan secara kolektif.
Jika tidak ada tindakan nyata sejak sekarang, banjir akan terus menjadi bencana langganan yang merugikan banyak pihak. Kerugian yang ditimbulkan bukan hanya bersifat materiil, tetapi juga sosial dan ekologis. Masyarakat kecil menjadi pihak yang paling terdampak, sementara kerusakan lingkungan terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Selain itu, perubahan iklim global juga tidak dapat diabaikan sebagai faktor pendukung terjadinya banjir. Pola hujan yang semakin tidak menentu dan ekstrem membuat risiko bencana semakin meningkat. Namun, kondisi ini akan jauh lebih terkendali apabila lingkungan alam tetap terjaga dengan baik. Sayangnya, eksploitasi sumber daya alam di Sumatera masih sering mengabaikan prinsip keberlanjutan.
Sudah saatnya Sumatera diperlakukan bukan hanya sebagai sumber ekonomi, tetapi juga sebagai ekosistem yang harus dijaga. Kesadaran akan pentingnya keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian lingkungan harus menjadi prioritas utama. Dengan langkah nyata dan komitmen bersama, banjir tidak lagi menjadi ancaman tahunan, melainkan peringatan untuk membangun masa depan yang lebih berkelanjutan bagi generasi mendatang.
Penulis: Adistri Cahya Safina
Mahasiswa Manajemen, Universitas Pamulang
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












