Budaya Larangan Makanan (Food Taboo) dan Risiko Stunting di Indonesia

Food Taboo
Ilustrasi Food Taboo (Sumber: Media Sosial dari freepik.com)

Stunting adalah keadaan di mana seorang anak mengalami kegagalan pertumbuhan sejak masa awal kandungan hingga usianya mencapai 2 tahun. Anak-anak yang mengalami stunting akan berisiko mengalami pertumbuhan tinggi badan yang tidak sesuai dengan usianya dan mengalami penurunan daya pikir.

Penurunan daya pikir ini bisa berakibat pada kemampuan menyerap ilmu pengetahuan, kemampuan berinteraksi sosial, bahkan bisa berefek pada kemampuannya beradaptasi di dunia kerja ketika usia dewasa [6].

Masalah stunting masih menjadi permasalahan yang mendapat perhatian di seluruh dunia. Data dari WHO menyebutkan, pada tahun 2022, anak-anak yang mengalami stunting mencapai 148.000 orang di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri jumlah anak di bawah usia 5 tahun yang mengalami stunting sebanyak 4.558.899 jiwa [4][6]

Bacaan Lainnya
DONASI

 

Budaya Larangan Makanan (Food Taboo) di Indonesia

Food Taboo atau larangan makanan merupakan kebiasaan membatasi konsumsi jenis makanan tertentu yang dikaitkan dengan kepercayaan suatu masyarakat pada akibat yang timbul dari konsumsi makanan tersebut [10].

Budaya larangan makanan di Indonesia sangat bervariasi. Larangan mengonsumsi makanan tertentu berlaku pada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita di beberapa daerah di Indonesia [1][3][5][8][9].

Sebagai contoh di Madura, terdapat larangan mengonsumsi udang bagi ibu hamil karena dipercaya dapat mempengaruhi fisik bayi yang dikandungnya, yaitu akan melengkung seperti udang. Di Kabupaten Lombok Tengah, terdapat larangan bagi ibu menyusui untuk mengonsumsi ikan karena dipercaya dapat mempengaruhi aroma ASI [1].

Masyarakat kabupaten Timor Tengah Selatan memiliki pantangan bagi ibu yang baru melahirkan untuk mengonsumsi makanan hewani karena dipercaya dapat memperlambat penyembuhan organ dalam. Ibu yang baru melahirkan di sana hanya diperbolehkan mengonsumsi jagung bose selama 40 hari [3].

Suku Rejang di kabupaten Bengkulu Utara mengenal penyakit Sisik, yaitu kondisi kurang gizi dengan salah satu cirinya kulit kering yang menyerupai sisik. Pada masyarakat Suku Rejang, balita tidak diperbolehkan mengonsumsi aneka jenis ikan bersisik baik ikan laut maupun ikan air tawar dan sayur-sayuran karena dianggap dapat memperburuk kondisi balita [8].

 

Food Taboo dan Risiko Stunting

Ketidakpahaman akan kebutuhan zat gizi pada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita di berbagai daerah di Indonesia menyebabkan budaya larangan makanan (food taboo) masih dijalankan hingga saat ini. Berbagai larangan makanan yang dianut justru menyebabkan kondisi kurang gizi pada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, alih-alih berdampak positif pada mereka.

Makanan-makanan yang dilarang untuk dikonsumsi pada umumnya adalah makanan yang mengandung zat gizi yang amat dibutuhkan oleh ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Ikan, daging, telur, sayuran, dan buah-buahan adalah sumber makanan yang justru dilarang.

Sumber makanan hewani dilarang dikonsumsi karena dipercaya dapat memberi pengaruh pada asi, menyebabkan kelainan fisik anak yang menyerupai hewan yang dikonsumsi, dan berdampak pada organ-organ dalam. Buah-buahan dan sayuran tertentu yang memiliki bentuk khusus juga dipercaya dapat berdampak pada fisik anak [1][3][5][8][9].

Pada kenyataannya sumber-sumber makanan yang dilarang tersebut merupakan sumber zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan anak sejak masih di dalam kandungan. Ibu hamil memerlukan banyak protein yang lebih tinggi kandungannya pada bahan makanan hewani untuk pertumbuhan janinnya secara optimal.

Selain itu, berbagai vitamin dan mineral yang terkandung di dalam makanan hewani maupun nabati juga diperlukan untuk pertumbuhan janin di dalam kandungan. Kekurangan asupan makanan bergizi pada ibu hamil berdampak pada kurangnya zat gizi yang diperlukan oleh janin untuk bertumbuh dan berkembang di dalam kandungan. 

Pertumbuhan janin yang tidak optimal, seperti panjang dan berat badan yang tidak sesuai usia kehamilan akan berisiko mengalami stunting di kemudian hari [1][3].

Baca juga: Sumber Nutrisi pada Bayam (Amaranthus tricolor L.) dalam Upaya Pencegahan Stunting di Indonesia

Sementara itu, ibu menyusui perlu melengkapi asupan hariannya dengan aneka ragam makanan agar kandungan gizi dalam ASI dapat mencukupi kebutuhan gizi bayinya. Bayi yang baru dilahirkan hanya memerlukan ASI untuk memenuhi kebutuhan gizi hariannya hingga usia enam bulan. Karena itu, ibu menyusui perlu mendapatkan asupan gizi yang lengkap untuk dapat memenuhi kebutuhan gizi bayinya melalui ASI.

Kandungan gizi pada ASI terbukti dapat memaksimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak. Sehingga, jika ibu menyusui tidak mendapatkan asupan makanan bergizi akibat adanya food taboo dan ASI tidak diberikan secara maksimal, maka risiko stunting dapat meningkat [2][5].

Asupan gizi pada balita juga dipengaruhi oleh ragam makanan yang dikonsumsi. Pemberian aneka ragam makanan sudah dianjurkan sejak bayi usia 6 bulan pada saat awal pemberian makanan pendamping ASI.

Ragam makanan yang diberikan harus mengandung karbohidrat, protein, serta sumber vitamin mineral yang cukup untuk pertumbuhan dan perkembangan balita. Masa pertumbuhan emas balita berlangsung hingga usianya 2 tahun. Pada masa golden age ini balita memerlukan beragam makanan bergizi untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangannya.

Pemberian makanan pada balita harus memenuhi unsur kecukupan porsi makanan, keanekaragaman jenis makanan, keamanan makanan, dan ketepatan pemberian makanan sesuai usia anak. Pelarangan konsumsi jenis makanan tertentu pada balita dapat menyebabkan kurangnya asupan gizi balita dan meningkatkan risiko stunting pada balita di bawah usia 2 tahun [2][7].

 

Edukasi dan Kesadaran Masyarakat

Kecukupan gizi pada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita amat berpengaruh pada risiko terjadinya stunting. Kekurangan zat gizi yang terjadi dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko terjadinya stunting pada balita. Masyarakat perlu mendapatkan edukasi terkait pentingnya memberikan makanan yang cukup gizi pada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

Masyarakat perlu mengetahui pentingnya periode 1000 hari pertama kehidupan untuk mencegah terjadinya stunting [7]. Di mana saat janin masih di dalam kandungan pada periode awal kehamilan hingga anak berusia 2 tahun, membutuhkan asupan gizi yang cukup.

Perlu adanya edukasi dan monitoring di masyarakat untuk memastikan kecukupan gizi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita pada periode 1000 hari pertama kehidupannya tidak dihambat oleh budaya larangan makanan.

 

Penulis: Yunita Wulandari
Mahasiswa Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat (Peminatan Promosi Kesehatan), Universitas Indonesia

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi  

 

Referensi:

[1] Diana R, Rachmayanti RD, Anwar F, Khomsan A, Chistianti DF, Kusuma R.  (2018). Food Taboos and Suggestions among Madurese Pregnant Women: A Qualitative Study. Journal of Ethnic Foods 5(2018): 246-253. DOI Number: 10.1016/j.jef.2018.10.006

[2] Wati, S. K., Kusyani, A., & Fitriyah, E. T. (2021). Pengaruh faktor ibu (pengetahuan ibu, pemberian ASI-eksklusif & MP-ASI) terhadap kejadian stunting pada anak. Journal of Health Science Community, 2(1), 40-52.

[3] Olla, D. I., Romeo, P., & Limbu, R. (2022). Gambaran Budaya Neno Bo’ha pada Ibu Melahirkan di Desa Tobu Kecamatan Tobu Kabupaten Timor Tengah Selatan. Jurnal Pangan Gizi Dan Kesehatan, 11(2), 137-154. https://doi.org/10.51556/ejpazih.v11i2.217

[4] Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan. 2022. Buku Saku Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. 154 hal.

[5] Amri Yasir, L., Putri Isnani Hertin, Arika Martiana, B. D., Nabila, H., & Erniwati, L. (2023). Budaya Pantangan Makanan Pada Ibu Menyusui Terhadap Kejadian Stunting di Dusun Batu Tinggang Desa Labulia Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat. Health Media, 5(1), 19-27. https://doi.org/10.55756/hm.v5i1.163

[6] United Nations Children’s Fund (UNICEF), World Health Organization (WHO), International Bank for Reconstruction and Development/The World Bank. Levels and trends in child malnutrition: UNICEF / WHO / World Bank Group Joint Child Malnutrition Estimates: Key findings of the 2023 edition. New York: UNICEF and WHO; 2023. CC BY-NC-SA 3.0 IGO.

[7] Khalida, B. N., Nasution, M. E. S., & Sinaga, N.  (2023). Optimalisasi Pengasuhan 1000 Hari Pertama Kehidupan sebagai Upaya Pencegahan Stunting di Desa Kacung. Journal Of Human and Education (JAHE), 3(4), 317–321. https://doi.org/10.31004/jh.v3i4.474

[8] Wulandari, W., Rahayu, F., Darmawansyah, D., & Akbar, H. (2023). Multifaset Determinan Stunting Pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Kerkap Kabupaten Bengkulu Utara. Afiasi: Jurnal Kesehatan Masyarakat, 8(1), 413-422.

[9] Ginting, J. A., & Hadi, E. N. (2023). Faktor Sosial Budaya yang Mempengaruhi Kejadian Stunting pada Anak: Literature Review. Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (Mppki), 6(1), 43-50.

[10] Angkasa, D., Iswarawanti, D. N., & Santika, O. (2024). Food taboo, dietary diversity and prevalence of chronic energy deficiency in pregnant women living in rural area Indonesia. Jurnal Keperawatan Padjadjaran, 12(1), 13-22.

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

Kirim Artikel

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI