Pengenalan Singkat Penulis
Nama saya Sabila, dengan nama pena ShiragikuAka. Saya adalah seorang mahasiswa yang masih terus belajar menulis dan mengolah gagasan menjadi karya ilmiah. Bagi saya, menulis bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan juga hobi yang membantu saya memahami cerita, karakter, serta simbol-simbol yang hadir dalam karya sastra dan media visual modern seperti komik dan webtoon. Ketertarikan tersebut mendorong saya untuk mengkaji ulang kisah-kisah klasik yang dihadirkan kembali dalam bentuk baru, salah satunya Prayana: The Eyes of Rahwana karya Ahmad Fadly yang dipublikasikan melalui platform Webtoon.
Ringkasan Singkat Cerita Prayana: The Eyes of Rahwana
Prayana: The Eyes of Rahwana menghadirkan kembali kisah Ramayana dari sudut pandang Rahwana. Cerita dibuka ketika Dewi Sinta sudah berada di Alengka, setelah penculikannya menjadi pemicu konflik besar antara Rahwana dan Rama. Dalam versi Ahmad Fadly, Rahwana tidak digambarkan semata-mata sebagai raksasa penculik, tetapi sebagai sosok penuh kerinduan pada Dewi Widowati—sosok yang ia yakini menitis kembali dalam diri Sinta.
Ketegangan mulai meningkat ketika Jatayu datang untuk menyelamatkan Sinta. Pertarungan Rahwana melawan Jatayu menjadi salah satu bagian penting seri ini. Di tangan Fadly, adegan tersebut dikembangkan lebih panjang dan intens, memperlihatkan sisi gagah, emosional, sekaligus rapuh dari Rahwana. Jatayu yang digambarkan dengan desain futuristik berarmor garuda menjadi lawan yang kuat, namun tetap tumbang oleh kekuatan Rahwana yang didorong oleh rasa kehilangan mendalam.
Cerita kemudian bergerak menuju fase konflik besar ketika Rahwana akhirnya memutuskan menghadapi Rama. Keputusan itu bukan semata tindakan politik maupun wibawa seorang raja, melainkan puncak dari pergulatan batin Rahwana—antara cintanya pada Sinta, obsesinya pada Widowati, serta rasa hancur yang ia sembunyikan di balik kekuasaan Alengka. Pertarungan melawan Rama menjadi titik yang menegaskan tragedi dirinya: semakin ia berusaha mempertahankan cintanya, semakin ia kehilangan segalanya.
Pendahuluan
Prayana: The Eyes of Rahwana karya Ahmad Fadly menawarkan pembacaan ulang terhadap kisah Ramayana yang sudah mengakar dalam tradisi sastra dan pertunjukan Nusantara. Melalui medium webtoon, Fadly menghadirkan kembali kisah epik ini dalam format visual modern yang mudah diakses, terutama oleh pembaca muda. Karya ini sekaligus memperlihatkan bagaimana mitologi klasik dapat bertransformasi dan terus relevan ketika dibaca ulang dalam konteks baru.
Salah satu keunikan utama Prayana adalah reinterpretasinya terhadap sosok Rahwana. Jika dalam Ramayana klasik Rahwana digambarkan sebagai antagonis yang angkuh dan kejam, Fadly justru menempatkannya sebagai tokoh yang penuh luka, rindu, dan pergulatan batin. Perspektif yang lebih intim ini menggiring pembaca untuk melihat Rahwana bukan hanya sebagai musuh Rama, tetapi sebagai individu dengan kompleksitas emosional yang selama ini tersamarkan oleh label “raksasa” dalam teks tradisional.
Baca Juga: Reog Krida Sayekti Sendratari Ramayana “Anoman Obong”
Selain itu, Prayana mengusung elemen futuristik yang mengubah struktur dunia cerita Ramayana. Hadirnya kapal perang melayang, teknologi canggih, serta redesain karakter seperti Jatayu berarmor garuda menunjukkan usaha Fadly membangun hibrida antara mitologi dan fiksi ilmiah. Transformasi ini bukan sekadar estetika visual, tetapi berperan dalam memperkuat dinamika cerita, sehingga konflik klasik dapat berdialog dengan imajinasi modern tanpa kehilangan identitas dasarnya.
Dengan perpaduan reinterpretasi karakter, inovasi visual, dan eksplorasi emosional yang kuat, Prayana membuka ruang analisis sastra yang kaya. Karya ini dapat dibedah melalui pendekatan struktural untuk melihat bagaimana alur, tokoh, dan dunia cerita dibangun ulang; melalui pendekatan psikologi untuk memahami motivasi dan trauma Rahwana; serta melalui kajian gaya bahasa dan simbol visual. Esai ini akan mengkaji ketiga aspek tersebut untuk memahami bagaimana Prayana berhasil membentuk citra Rahwana yang lebih manusiawi sekaligus tragis dalam kemasan narasi modern.
Pembahasan yang diambil dari pendekatan gaya bahasa dan isi fokus cerita yang ada dalam komik Prayana karya Ahmad Fadly.
Pendekatan sastra yang penulis ambil
A. Pendekatan Intrektual
Prayana: The Eyes of Rahwana karya Ahmad Fadly, sosok Rahwana diposisikan jauh dari citra antagonis absolut yang melekat pada versi Ramayana klasik. Jika dalam naskah tradisional ia digambarkan sebagai raksasa angkuh, bengis, dan tiran yang menculik Dewi Sinta, maka Fadly membongkar konstruksi tersebut dan menampilkan Rahwana sebagai figur yang memiliki kedalaman emosional. Ia bukan lagi monster epik yang hanya digerakkan oleh ambisi kekuasaan, tetapi karakter yang memikul beban batin dan masa lalu yang penuh kehilangan. Perubahan ini membuka ruang interpretasi baru yang memandang Rahwana sebagai manusia dengan kompleksitas psikologis, bukan sekadar simbol kejahatan.
Di dalam komik, tindakan Rahwana digerakkan oleh cinta tulus terhadap Sinta, yang ia yakini sebagai titisan Dewi Widowati istrinya yang telah lama tiada. Kerinduan inilah yang menjadi poros emosional cerita, memicu berbagai keputusan besar yang diambilnya. Meskipun demikian, Ahmad Fadly tetap mempertahankan aspek-aspek tradisional Rahwana, seperti kekuasaan, wibawa, dan posisinya sebagai penguasa tiga dunia, sehingga reinterpretasi ini tidak memutus hubungan dengan narasi klasik. Kombinasi antara kelembutan batin dan kegagahan epik ini menghadirkan Rahwana sebagai tokoh tragis: seseorang yang bertindak bukan semata-mata karena keserakahan, melainkan karena luka, cinta, dan kerinduan yang melampaui batas dirinya sendiri.
B. Pendekatan Psikologi Sastra
Dalam komik ini, Ahmad Fadly menonjolkan sisi batin Rahwana sebagai sosok yang digerakkan oleh kerinduan mendalam terhadap Dewi Widowati, cinta masa lalunya yang tidak pernah benar benar ia lepaskan. Kerinduan ini membentuk dasar kondisi psikologis Rahwana ia bukan lagi raksasa antagonis yang dingin dan haus perang, tetapi figur yang rapuh, penuh luka, dan terus mencari pemahaman dari orang lain. Sinta kemudian menjadi pusat proyeksi emosionalnya, karena Rahwana melihat dirinya sebagai satu-satunya sosok yang mampu mengerti perasaannya. Gambaran tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan Rahwana bukan sekadar cinta, melainkan juga penerimaan yang dapat mengisi kekosongan batinnya.
Baca Juga: Keindahan Sastra Hanya Bisa Dinikmati oleh Penikmat Sastra Sejati
Namun, cinta yang pada awalnya tampak tulus perlahan berubah menjadi obsesi ketika Rahwana gagal membaca dan memahami perasaannya sendiri. Ketidakmampuannya membedakan antara cinta dan ilusi membuatnya terjebak dalam bayangan Widowati, sehingga Sinta tidak lagi dilihat sebagai individu, melainkan perpanjangan dari cintanya yang hilang. Distorsi psikologis inilah yang mendorong Rahwana melakukan tindakan destruktif yang semakin merusak dirinya dan orang-orang di sekitarnya. Pada akhirnya, obsesi tersebut mencapai puncaknya dalam kejatuhan Alengka, yang berfungsi sebagai simbol kehancuran batin Rahwana sendiri bahwa kerusakan luar hanyalah cerminan kekacauan yang telah lama tumbuh dalam dirinya.
C. Pendekatan struktual
Prayana menuturkan kembali kisah Rahwana dengan memodifikasi struktur latarnya secara signifikan. Unsur-unsur futuristik seperti kapal perang melayang, teknologi canggih, serta desain karakter yang bergeser ke arah mekanis menempatkan cerita dalam dunia hibrida antara mitologi dan fiksi ilmiah. Transformasi Jatayu dari seekor garuda menjadi manusia berarmor garuda menunjukkan bagaimana elemen karakter klasik dipecah, disusun ulang, dan disesuaikan dengan dunia baru yang dibangun pengarang. Perubahan-perubahan ini tidak sekadar kosmetik visual, tetapi berfungsi membentuk tatanan dunia (worldbuilding) yang mendasari konflik dan dinamika antartokoh dalam cerita.
Secara struktural, trilogi Prayana mengikuti alur yang terfokus pada perspektif Rahwana, yang membuat narasi bergerak linear dari satu titik ketegangan ke titik lainnya. Cerita dimulai dengan peristiwa penculikan Sinta sebagai pemicu konflik, disusul kedatangan Jatayu sebagai benturan awal antara Rahwana dan kekuatan luar, pada episode Anoman Obong sebagai titik eskalasi, dan akhirnya mencapai klimaks pada kekalahan Rahwana walaupun ahmad fadly mengambil porsi saat rahwana melawan jatayu lebih banyak karna latar menceritakan sebelum kejadian inti dari ramayana sendiri. Dengan menempatkan seluruh rangkaian peristiwa melalui sudut pandang Rahwana, struktur naratifnya membentuk kisah yang menekankan pengalaman personal tokoh—membangun kontinuitas antara konflik eksternal dan dinamika internalnya. Hasilnya, pembaca dapat melihat bagaimana runtutan peristiwa terorganisasi untuk membentuk gambaran Rahwana yang lebih manusiawi sekaligus tragis.
Gaya Bahasa yang Digunakan
A. Bahasa Metaforis & Simbolik
Ahmad Fadly membangun dunia Prayana lewat simbol-simbol visual yang nggak cuma sebagai hiasan, tapi bicara tentang batin para tokohnya. Armor Rahwana yang dihiasi beberapa wajah, misalnya, bukan sekadar ornamen yang memperlihatkan kekuasaan rahwana saja namun juga merupakan metafora tentang beban identitasnya sebagai Prabu Dasamuka sesosok raksasa penguasa alengka yang memiliki banyak wajah.
Selain visual, Fadly juga meminjam beberapa ungkapan dari Rahvayana karya Sujiwo Tejo sebagai fondasi emosional ceritanya. Kutipan-kutipan itu dijahit ulang menjadi dialog yang mendalam, memperkuat kesan bahwa perjalanan Rahwana di Prayana bukan sekadar aksi, tetapi memperlihatkan betapa rindu dan rapuhnya rahwana terhadap widowati yang menitis ke sintha. Dengan begitu, komik ini memadukan bahasa metaforis dan simbolik dalam dua medium sekaligus gambar dan kata yang saling menghidupkan makna.
B. Penggunaan Narasi Melankolis
Dalam Prayana, narasi melankolis tidak bergantung pada kata-kata saja, tetapi terutama pada bahasa visualnya. Panel-panel tenang, gestur kecil, dan cara kamera menangkap tubuh para tokoh justru jadi ruang paling lirih untuk membaca batin Rahwana. Gestur halus—seperti cara ia menatap Sinta tanpa menundukkannya sebagai tawanan—membangun kesan bahwa perasaannya bukan sekadar obsesi, tapi kerinduan yang ia sendiri tidak bisa kuasai. Visual itu membuat melankoli hadir sebagai sesuatu yang diam, namun terus berdenyut di balik setiap adegan.
Ketegangan emosional itu meledak di bagian akhir ketika Rahwana menyadari bahwa Sinta tetap memilih Rama, bukan dirinya. Panel yang memecah komposisi, perubahan ekspresi yang tajam, dan dialog yang semakin pendek membuat ledakan emosinya terasa mentah dan menyakitkan. Narasi melankolis di sini bekerja lewat kontras: antara cinta yang ia rawat lembut dalam diam, dan kenyataan pahit yang menolak seluruh harapannya. Dialog yang sesekali muncul hanya memperdalam jurang rindu itu, mengajak pembaca ikut masuk ke ruang batin Rahwana yang penuh kehilangan.
Isi Cerita yang Bisa Dijadikan Fokus
A. Humanisasi Rahwana
Cerita Prayana bergerak jauh dari pola Ramayana klasik. Alih-alih menonjolkan keangkuhan Rahwana seperti dalam kisah asalnya, versi ini memanusiakan dirinya: penculikan Sinta bukan digerakkan oleh ambisi, melainkan oleh rindu yang sudah membatu ribuan tahun kepada mendiang istrinya. Pendekatan ini membuat Rahwana tampil sebagai sosok yang kompleks—kuat, namun rapuh; berkuasa, namun terbelenggu oleh kehilangan.
Komik ini punya napas yang mirip dengan Rahvayana karya Sujiwo Tejo, terutama dalam cara keduanya membaca Rahwana dari sudut pandang baru tanpa memutus hubungan dengan warisan epos ramayana klasik. Prayana tetap mempertahankan unsur aksi, kekuasaan, dan skala megah khas epos. Visualnya menegaskan hal itu: pertarungan besar dan simbol-simbol kekuasaan berjalan berdampingan dengan drama batin Rahwana yang senyap namun menghantam.
B. Visual sebagai Narasi
Dalam Prayana: The Eyes of Rahwana, visual bukan sekadar pelengkap cerita, tetapi justru menjadi narasinya sendiri. Panel-panel disusun layaknya kalimat: ada yang panjang untuk menandai jeda dan kontemplasi, ada yang pecah-pecah untuk menggambarkan ledakan emosi. Gestur halus para tokoh—terutama Rahwana—berfungsi sebagai suara batin yang tidak pernah ia ucapkan. Ekspresi wajah dan close-up mata sering menggantikan paragraf dialog, membiarkan pembaca membaca kecamuk Rahwana melalui tatapannya yang penuh kehilangan.
Warna dan pencahayaan juga bekerja sebagai lapisan naratif yang menentukan suasana emosional setiap adegan. Palet warna teduh muncul pada momen rindu, sementara warna kontras menonjol pada adegan amarah dan konflik. Dengan memadukan “sinematografi” panel, ritme visual, dan simbolisme, Prayana membangun narasi yang bergerak bukan hanya lewat teks, tetapi terutama melalui apa yang terlihat, dirasakan, dan dibaca diam-diam oleh mata pembaca.
Baca Juga: Menilik Soft Power Jepang di Blok M lewat Little Tokyo dan Papaya Fresh Gallery
Kesimpulan
Prayana: The Eyes of Rahwana menawarkan pembacaan ulang yang segar dan mendalam terhadap tokoh Rahwana, jauh dari citranya sebagai antagonis mutlak dalam Ramayana klasik. Melalui pendekatan intelektual, psikologis, dan struktural, Ahmad Fadly membongkar ulang konstruksi lama dan menghadirkan Rahwana sebagai figur tragis yang penuh kerinduan, luka, dan pergulatan batin. Reinterpretasi ini tidak memutus akar mitologisnya, tetapi justru memperluas ruang tafsir dengan menempatkan Rahwana sebagai sosok yang manusiawi dan dapat dipahami secara emosional.
Kekuatan utama Prayana terletak pada perpaduan gaya bahasa metaforis, simbolisme visual, dan narasi melankolis yang terjalin erat melalui panel-panelnya. Visual tidak hanya memperkaya cerita, tetapi menjadi media naratif yang mengungkap kondisi psikologis tokoh secara lebih intim dibandingkan teks. Fokus cerita yang menyoroti sisi manusia Rahwana dan penggunaan visual sebagai narasi menegaskan bahwa komik ini bukan sekadar adaptasi modern, tetapi sebuah rekonstruksi emosional yang menggiring pembaca untuk melihat Rahwana bukan sebagai penguasa angkuh, melainkan sebagai manusia yang tersesat dalam cinta dan kehilangan. Dengan demikian, Prayana berdiri sebagai karya yang memadukan aksi epik dan kedalaman batin sekaligus—menghidupkan kembali mitologi dengan cara yang lebih reflektif, sensitif, dan relevan bagi pembaca masa kini.
Penulis: Sabila Syafaatillah
Mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












